• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Elastisitas Aktifitas

3. Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan masih rendah

2.3.1.3 Faktor Elastisitas Aktifitas

Teori ekonomi mikro umumnya menjelaskan bahwa elastisitas dapat dtinjau dari dua sisi. Elastisitas permintaan adalah pengaruh perubahan harga terhadap besar kecilnya jumlah suatu produk yang diminta. Sedangkan elastisitas penawaran adalah sebuah pengaruh perubahan harga terhadap besar kecilnya jumlah produk yang ditawarkan. Dengan lebih sederhana dapat digambarkan bahwa elastisitas aktivitas dalam konteks ini merupakan perbandingan perubahan besaran sebuah variabel ekonomi dibandingkan dengan variabel ekonomi yang lain.

Pada model RUED Kalimantan Barat, variabel yang diambil untuk perbandingan dalam menghitung elastisitas aktivitas adalah pertumbuhan PDRB total dengan pertumbuhan PDRB pada sektor tertentu. Elastisitas aktifitas pada sektor Industri, Transportasi, Komersial dan Lainnya ditunjukkan pada Tabel 2.13. Elatisitas aktivitas untuk industri naik dari 1.19 menjadi 1.33 pada tahun 2025 dan 1.45 pada tahun 2050. Elastisitas aktivitas transportasi turun dari 1.05 menjadi 0.8 pada tahun 2025 dan 0.6 pada tahun 2050.

Tabel 2.13 Elastisitas Aktifitas PDRB 2015

Sektor PDRB Elastisitas

PDRB Industri 1.19

PDRB Transportasi 1.05

PDRB Komersial 1.05

PDRB Lainnya 0.86

Sumber: Permodelan LEAP Provinsi Kalimantan Barat

Selain asumsi kunci diatas, untuk sektor transportasi angkutan jalan raya terdapat asumsi-asumsi kunci khusus yang terkait dengan penggunaan energi di sektor tersebut. Adapun asumsi-asumsi kunci tersebut ditunjukkan pada Tabel 2.14. Proyeksi jumlah kenderaan pada tahun mendatang didasarkan pada relasi nilai asumsi pada tahun berjalan dan pertumbuhan PDRB di tahun tersebut. Sedangkan Jarak Tempuh, Load

Factor dan Operasional diasumsikan tetap selama pemodelan.

Tabel 2.14 Asumsi Kunci Sektor Transportasi Jalan Raya

Asumsi Kunci Unit Mobil Bus Truk Sepeda Motor

Jumlah Tahun 2015 Unit 78.142 4.812 62.988 1.958.512 Jarak Tempuh KM per Tahun 16.000 50.000 50.000 9.000 Load Factor Pnp/unit

*Ton/Unit (Truk)

1,8 42 8,25* 1,3

Operasional % 95 30 40 90

Sumber: Permodelan LEAP Provinsi Kalimantan Barat

Jumlah kendaraan yang ditunjukkan pada Tabel 2.15 di Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2015 – 2050 selalu mengalami peningkatan sehingga kebutuhan energi untuk transportasi terutama bahan bakar juga meningkat. Berdasarkan hasil perhitungan

5,9 ribu unit, truk 78,1 ribu unit, dan sepeda motor 2,9 juta unit. Sedangkan pada tahun 2050 jumlah kendaraan mengalami peningkatan sebesar mobil 242,8 ribu unit, bus 12,6 ribu unit, truk 165,0 ribu unit, dan sepeda motor 3,6 juta unit. Kebutuhan operasional untuk tiap kendaraan di Provinsi Kalimantan Barat yaitu mobil 95%, bus 40%, truk 40%; dan sepeda motor 90%. Load factor tiap kendaraan di Provinsi Kalimantan Barat berdasarkan perhitungan yaitu (dalam Pnp/unit) mobil 1,8, bus 42, sepeda motor 1,3 dan truk 8,25 ton/unit. Jarak tempuh setiap kendaraan di Provinsi Kalimantan Barat yaitu (dalam km/Tahun) mobil 16.000, bus 50.000, truk 50.000; dan sepeda motor 9.000.

Tabel 2.15. Jumlah Kendaraan Tahun 2015-2050

Kendaraan Unit 2015 2025 2030 2040 2050 Mobil Ribu Unit 78.1 114.8 133.6 182.4 242.9

Bus Ribu Unit 4.8 6.0 6.9 9.5 12.6

Truk Ribu Unit 63.0 78.2 90.8 124.0 165.1

Sepeda Motor Ribu Unit 1,958.5 2,903.4 3,185.3 3,477.9 3,570.0 Sumber: Permodelan LEAP Provinsi Kalimantan Barat

2.3.2 Hasil Pemodelan Energi

Pada bagian ini akan diuraikan mengenai hasil pemodelan bauran permintaan energi primer, penyediaan energi primer, kebutuhan energi per sektor dan per jenis energi, serta kebutuhan listrik.

2.3.2.1 Proyeksi Bauran Energi Primer

Sumber energi primer merupakan sumber energi yang masih harus ditransformasikan menjadi sumber energi final. Energi primer ini dapat bersumber dari fosil maupun dari sumber energi terbarukan. Sumber energi fosil dikelompokkan menjadi batubara, Gas dan Minyak. Bauran energi primer untuk tahun 2025 dan 2050 ditunjukkan pada Tabel 2.16sebagai pembanding digunakan bauran energi primer pada tahun dasar (2015).

Tabel 2.16 Proyeksi Bauran Sumber Energi Primer

Sumber Energi Primer 2015 2025 2050

Batubara 1.2% 15.3% 16.2%

Gas 8.3% 12.7% 22.0%

Minyak 90.1% 50.5% 18.7%

Energi Baru Terbarukan 0.3% 21.6% 43.1%

Total 100% 100% 100%

Porsi energi baru terbarukan (EBT) pada tahun dasar sebesar 0,3%, meningkat pada tahun 2025 menjadi 21,6% dan pada tahun 2050 diharapkan porsi EBT menjadi 43,1%. Porsi sumber energi batubara diperkirakan akan meningkat, dari 1,2% pada tahun 2015, menjadi 15,3% pada tahun 2025 dan meningkat pada tahun 2050 sebesar 16,2%. Penggunaan batubara meningkat cukup signifikan hingga 2025 dikarenakan adanya permintaan tinggi terhadap pengembangan pembangkit listrik berbahan bakar batubara untuk mencukupi kebutuhan listrik pada industri di Provinsi Kalimantan Barat. Sedangkan sumber energi minyak, porsinya akan turun menjadi 18,7% pada tahun 2050 dari 90,2% pada tahun 2015. Untuk menutupi kebutuhan permintaan energi, maka penggunaan sumber energi gas akan diperbesar, dari 8,3% pada tahun 2015, menjadi 22% pada tahun 2050.

2.3.2.2 Proyeksi Elastisitas dan Intensitas Energi

Dalam tabel Tabel 2.17 ditunjukkan proyeksi indikator energi yaitu terdiri dari elastisitas energi, intensitas energi, dan pemakaian energi per kapita, pemakaian listrik per kapita dan rasio elektrifikasi Provinsi Kalimantan Barat.

Tabel2.17 Proyeksi Indikator Energi 2015-2050

Sumber: Pemodelan LEAP Provinsi Kalimantan Barat

Sebagaimana tabel di atas, elastisitas energi di provinsi Kalimantan Barat mengalami penurunan dari pada tahun 2015 sebesar 1,25 turun menjadi sebesar 1,01 pada tahun 2020, mengalami kenaikan pada tahun 2025 sebesar 1,16 dan menjadi 0,55 pada tahun 2050. Sedangkan intensitas energi mengalami peningkatan pada tahun 2020 sebesar 12,19 TOE/Miliar Rupiah dari sebelumnya sebesar 11,90 TOE/Miliar Rupiah. Hal tersebut terjadi dikarenakan adanya pertumbuhan energi yang cukup pesat pada periode 2015 sampai dengan 2020 dengan adanya pembangunan industri smelter. Intensitas energi

2015 2020 2025 2050

Elastisitas Pemakaian Energi Final 1,25 1,01 1,16 0,55

Pemakaian Energi Final per PDRB (TOE/miliar rupiah) 11,90 12,19 12,21 7,41

Pemakaian Energi Final per kapita (TOE/kapita/tahun) 0,28 0,35 0,47 1,22

Pemakaian listrik per kapita (kWh/kapita/tahun) 413,89 862,66 1.981,20 7.544,37

Rasio Elektrifikasi (%) 82,40 10,00 10,00 10,00

Tahun Indikator

pada tahun berikutnya akan mengalami penurunan pada tahun 2025 sebesar 12,21 TOE/Miliar Rupiah dan tahun 2050 menjadi sebesar 7,41 TOE/Miliar Rupiah, selaras dengan semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kalimantan Barat.

Selain itu, pemakaian energi final per kapita mengalami peningkatan dari pada tahun 2015 sebesar 0,28 TOE/Kapita menjadi sebesar 0,47 TOE/Kapita pada tahun 2025 dan terus meningkat menjadi 1,22 TOE/Kapita pada tahun 2050.

2.3.2.3 Proyeksi Permintaan dan Penyediaan Energi

Tahun dasar yang digunakan untuk proyeksi permintaan energi per sektor pengguna energi adalah tahun 2015. Proyeksi permintaan energi sampai dengan tahun 2050 menggunakan skenario RUED yang merupakan skenario daerah yang dimaksudkan untuk pencapaian target-target KEN/RUEN.

Sumber: Pemodelan LEAP Provinsi Kalimantan Barat

Gambar 2.8Porsi Permintaan Energi Per Sektor

Peningkatan porsi terbesar permintaan energi per sektor untuk skenario RUED dimiliki oleh sektor industri sebesar 18% pada tahun 2015 menjadi 60% pada tahun 2050. Sedangkan sektor ekonomi lain seperti rumah tangga, transportasi, komersial dan lainnya mengalami peningkatan konsumsi energi namun tidak terlalu besar. Pada tahun 2050 porsi penggunaan energi terbesar setelah sektor industri adalah sektor transportasi

1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 6.000 7.000 8.000 9.000 2020 2025 2030 2035 2040 2045 2050 Ri b u T O E Sektor Lainnya Komersial Rumah Tangga Transportasi Industri

sebesar 18%, sektor rumah tangga sebesar 11%, sektor komersial sebesar 7% dan sektor lainnya sebesar 4%.

Permintaan energi juga dapat dilihat dari sudut pandang jenis energi final yang digunakan oleh setiap sektor aktifitas. Bila dilihat dari jenis energi final(Tabel 2.18), pada tahun 2050 permintaan energiterbesar berasal dari energi listrik, yaitu 4.246,2 Ribu TOE, diikuti oleh Biodiesel, Bioetanol, gas bumi dan LPG.

Tabel2.18Proyeksi permintaan Energi Per Jenis Energi Final (Ribu TOE)

Sumber: Permodelan LEAP RUED Provinsi Kalimantan Barat

Proses penyediaan energi mencakup transformasi sumber energi primer menjadi energi final yang dapat langsung dimanfaatkan oleh pengguna. Proses transformasi energi dapat berlangsung dengan beberapa proses, bergantung pada sumber energi primer dan hasil akhir energi yang diinginkan.

Setelah mengetahui jumlah permintaan energi yang diperlukan untuk melaksanakan aktifitas-aktifitas perekonomian, maka analisis penyediaan energi dapat dilakukan. Penyediaan energi primer dapat dilihat pada Tabel 2.19

Jenis Energi 2015 2020 2025 2030 2035 2040 2045 2050 Listrik 170,5 380,9 925,5 1.300,7 1.841,4 2.612,7 3.483,5 4.246,2 Gas Bumi 25,0 56,3 126,0 202,0 326,2 534,0 828,4 1.199,1 Bensin 458,6 484,4 432,3 357,4 268,2 175,3 84,7 -Avtur 28,0 32,0 34,9 37,9 37,7 33,3 21,6 -Minyak Tanah 0,0 0,0 - - - - - -Minyak Solar 320,7 250,2 179,7 195,2 194,7 176,0 123,5 27,7 Minyak Bakar 179,1 179,1 82,2 100,9 120,0 130,6 100,4 -LPG 127,7 167,4 182,4 185,4 188,0 192,5 198,7 205,6 Batubara 1,7 1,8 2,0 2,2 2,5 2,5 1,7 -Biogas 0,0 5,7 11,5 18,1 24,2 30,2 35,7 40,6 Biodiesel 23,0 175,4 406,1 535,0 707,8 948,0 1.234,3 1.545,2 Bioetanol - 53,3 111,5 195,9 276,2 348,7 411,6 464,1 Biomassa 2,4 3,2 4,5 6,4 8,7 11,3 14,0 17,1 Bioavtur - 3,1 11,6 25,2 46,0 77,7 122,3 182,5 Dimethyl Ether - 10,5 23,6 26,1 28,8 31,2 33,8 36,6 Total 1.336,7 1.803,2 2.533,7 3.188,3 4.070,3 5.303,9 6.694,0 7.964,7

Tabel 2.19 Proyeksi Penyediaan Energi Primer (Ribu TOE)

Sumber: Permodelan LEAP RUED Provinsi Kalimantan Barat

2.3.2.4 Kebutuhan dan Penyediaan Listrik

Konsumsi energi dan konsumsi listrik per kapita umumnya digunakan sebagai indikator kemajuan sebuah negara. Hal ini disebabkan oleh asumsi bahwa negara tersebut menggunakan energi dan listrik untuk menghasilkan kegiatan yang memiliki nilai tambah secara ekonomi. Pada tahun 2015, berdasarkan perhitungan LEAP, rata-rata konsumsi listrik per kapita Indonesia mencapai 890 kWh per kapita. Dengan angka tersebut, konsumsi listrik per kapita provinsi Kalimantan Barat yang mencapai 413,9 kWh perkapita masih berada di bawah rata-rata nasional. Berdasarkan RUEN target nasional untuk konsumsi listrik per kapita pada tahun 2025 adalah 2.500 kWh per kapita. Pada tahun tersebutpemakaian listrik perkapita di Provinsi Kalimantan Barat diproyeksikan mengalami peningkatan yang cukup signifikan dikarenakan munculnya industri-industri pengolahan terutama industri smelter yang mengkonsumsi listrik dalam jumlah yang cukup besar yang tumbuh menjadi sebesar 1.981 KWh/Kapita pada tahun 2025 dan menjadi sebesar sekitar 7.544 KWh/Kapita pada tahun 2050.

Tabel 2.20 Proyeksi Pemakaian Listrik per Kapita

Tahun Konsumsi Listrik

2015 413,9 kWh per Kapita 2020 862,7kWh per Kapita 2025 1.981kWh per Kapita 2050 7.544kWh per Kapita Sumber:Pemodelan LEAP

Untuk memenuhi kebutuhan listrikProvinsi Kalimantan Barat sampai dengan 2050 sebesar 7.544 KWh per kapita maka proyeksi kebutuhan pembangkit listrik ditunjukkan oleh Tabel 2.21. Total Pembangkit listrik pada tahun 2025 di Provinsi Kalimantan Baratsebesar 788 MW dengan komposisi terbesar adalah PLTD sebesar

Sumber Energi Primer 2015 2020 2025 2030 2035 2040 2045 2050 Batubara 22.9 300.1 424.2 623.1 775.2 918.2 1,045.8 1,165.9 Gas 152.7 591.6 352.7 453.5 606.2 852.8 1,192.6 1,587.6 Minyak 1,652.2 1,482.1 1,402.6 1,488.7 1,548.0 1,551.3 1,511.4 1,344.9 Energi Baru Terbarukan 5.9 166.2 599.2 1,034.8 1,491.3 2,087.6 2,461.4 3,105.7 Total 1,833.5 2,540.1 2,778.7 3,600.1 4,420.7 5,409.9 6,211.2 7,204.0

312 MW. Pada tahun 2050, total pembangkit lsitrik sebesar 1.957 MW dengan komposisi terbesar adalah PLTU Batubara sebesar 700 MW.

Tabel 2.21 Proyeksi kebutuhan pembangkit listrik (MW)

Sumber: Permodelan LEAP RUED Provinsi Kalimantan Barat

Porsi energi baru terbarukan (EBT) pada pembangkit listrik pada tahun dasar sebesar 0,3% yang diharapkan meningkat pada tahun 2025 menjadi 33,6% dan pada tahun 2050 diharapkan porsi EBT menjadi 61,3%. Porsi gas juga diperkirakan akan meningkat sebesar 3,8% pada tahun 2025 menjadi 5,2% pada tahun 2050. Selain itu,untuk menutupi kebutuhan permintaan energi, maka penggunaan sumber energi batubara juga diperkirakan akan meningkat yaitu pada tahun 2015 sebesar 3,2% menjadi 36,1% pada tahun 2025 dan menjadi 33,5% pada tahun 2050. Sedangkan porsi sumber energi minyak diperkirakan akan menurun dari 96,6% pada tahun 2015 menjadi 26,6% pada tahun 2025 dan menjadi 0,05% pada tahun 2050.

Jenis Pembangkit 2015 2020 2025 2030 2035 2040 2045 2050 PLTU Batubara 14 125 190 300 400 500 600 700 PLTG Minyak 34 34 - - - - - -PLTMG Gas - 40 50 60 70 80 90 100 PLTD Minyak 436 374 312 249 187 125 62 -PLTA - - 100 200 300 400 400 500 PLT Mini_Mikrohidro - 20 25 30 40 50 50 62 PLT Biomasa - 35 50 100 150 200 250 300 PLT Biogas - - 50 50 50 50 50 50 PLT Surya_PLTS - - 10 30 50 100 150 200 PLT Bayu_PLTB - - 1 1 1 1 1 45 Total 484 628 788 1,020 1,248 1,506 1,653 1,957

Sumber: Permodelan LEAP RUED Provinsi Kalimantan Barat

Gambar 2.9 Bauran Energi Primer Pembangkit

2.2.2.5 Proyeksi Emisi Gas Rumah Kaca

Proyeksi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari kegiatan pembakaran bahan bakar yang digunakan untuk semua sektor ekonomi meningkat dari 5,4 juta ton CO2 pada tahun 2015 menjadi 6,9 juta ton CO2 pada tahun 2025 dan 13,5 juta ton CO2 tahun 2050. Sektor transportasi merupakan sektor penyumbang emisi terbesar pada tahun 2015 sedangkan sektor industri merupakan penyumbang emisi terbesar pada tahun 2050. Besaran emisi gas rumah kaca di Provinsi Kalimantan Barat ditunjukkan pada Tabel 2.22.

Tabel 2.22. Proyeksi Emisi Gas Rumah Kaca per sektor pengguna (ribu ton CO2)

Sumber: Permodelan LEAP RUED Provinsi Kalimantan Barat

Jenis Energi 2015 2020 2025 2030 2035 2040 2045 2050 Batubara 92.5 1,213.7 1,715.4 2,519.8 3,134.8 3,713.1 4,228.9 4,714.6 Gas 396.3 1,440.0 882.8 1,120.4 1,480.2 2,061.2 2,862.0 3,792.6 Minyak 4,995.1 4,464.9 4,304.3 4,651.4 4,937.1 5,222.0 5,273.3 4,927.8 Energi Baru Terbarukan 0.2 28.1 62.8 69.7 76.8 83.5 90.7 98.3 Total 5,484.0 7,146.7 6,965.2 8,361.3 9,628.9 11,079.9 12,454.9 13,533.3

BAB III

VISI, MISI, SASARAN, DAN TUJUAN ENERGI DAERAH

3.1 Visi Energi Daerah

Dengan mempertimbangkan isu dan permasalahan energi daerah, tantangan pembangunan yang dihadapi, dan capaian pembangunan daerah selama ini, maka visi pengelolaan energi Provinsi Kalimantan Barat adalah:

“TERCIPTANYA KEANDALAN DAN KEMANDIRIAN ENERGI DENGAN

MENGOPTIMALKAN PEMANFAATAN POTENSI ENERGI SETEMPAT YANG

Dokumen terkait