• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2.2 Faktor-Faktor Eksternal Dalam Pengembangan MKRPL

Faktor-faktor eksternal merupakan semua faktor yang berasal luar dalam MKRPL itu sendiri yang berhubungan dan berpengaruh langsung dalam penerapannya. Faktor eksternal dibagi menjadi dua bagian yaitu: peluang dan ancaman. Berikut adalah faktor-faktor eksternal dalam mengembangkan MKRPL. 5.2.2.1 Peluang

Berikut ini merupakan faktor-faktor yang menjadi kesempatan/peluang di dalam pengembangan MKRPL, yaitu :

a) Banyaknya peminat sayuran organik

Tren organik merupakan salah satu isu pada tahun ini yang mendapat perhatian banyak masyarakat. Salah satu pemicunya adalah kesadaran akan hidup sehat yang semakin meningkat. Oleh karena itu semakin banyak konsumen yang tertarik dengan produk-produk (tidak hanya sayur-sayuran) organik. Tetapi memang sampai sekarang masih belum semua masyarakat Indonesia sadar akan pentingnya mengkonsumsi produk organik, hal ini terbukti dengan hanya kalangan ekonomi menengah ke ataslah yang menjadi konsumen terbesar produk organik.

b) Adanya program dari pemerintah

Penerapan MKRPL di lingkungan IV Kelurahan Terjun merupakan program dari pemerintah dalam hal ini Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Sumatera Utara sebagai pelaksana teknis. Program ini diterapkan pada tahun 2011 dan merupakan penerapan program pertama untuk daerah Sumatera Utara.

c) Ada pasar untuk menjual hasil panen

Berastagi supermarket merupakan swalayan yang menampung hasil-hasil panen dari MKRPL di lingkungan IV Kelurahan Terjun sehingga tidak perlu khawatir atau repot mencari untuk pedagang pengumpul. Memang menjual bukan tujuan utama diterapkannya MKRPL, tapi ini adalah bonusnya.

d) Mudah untuk mengakses informasi cara bertanam organik

Pada zaman modern sekarang ini, untuk mendapatkan berbagai informasi yang kita inginkan sangatlah mudah. Hal ini disebabkan semakin pesatnya perkembangan teknologi khususnya Teknologi Informasi (TI), yaitu internet yang menyebabkan buku tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi. Hanya dengan menggunakan PC (personal computer)/leptop plus modem atau bahkan menggunakan jasa Warnet (Warung Internet), dalam sekejap kita dapat memperoleh informasi dari seluruh penjuru dunia. Terkhusus untuk informasi yang terkait dengan cara bertanam organik yang saat ini merupakan topik yang sedang banyak dibicarakan, kita dapat dengan mudah mencari informasinya baik melalui buku, internet maupun melalui media elektronik (televisi) serta media cetak (majalah dan surat kabar). Untuk kondisi lingkungan IV, Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, sebagian besar tidak pernah mencari informasi

mengenai hal tersebut, hal ini disebabkan ketidaktahuan mereka dalam mengakses internet, tingkat pendidikan yang rendah, serta ketidakseriusan mereka dalam menerapkan MKRPL.

5.2.2.2 Ancaman

Berikut merupakan faktor-faktor yang menjadi penghambat/ancaman di dalam pengembangan MKRPL, yaitu :

a) Bantuan dari pemerintah yang kurang jelas sosialisasinya

Pemerintah dalam hal ini Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) sebagai instansi pelaksana program ini di Lingkungan IV, Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan memberikan bantuan tidak berupa dana melainkan bantuan sarana produksi meliputi : tanah top soil, rak vertkultur, polybag, dan bibit. Program ini hanya berjangka waktu satu tahun, yang berarti semua bantuan diberikan pemerintah hanya dalam jangka waktu satu tahun dan tahun berikutnya adalah swadaya sendiri. Ketergantungan ibu-ibu yang menerapkan MKRPL terhadap bantuan dari pemerintahlah yang membuat mereka beropini bahwa bantuan yang mereka terima masih kurang dan juga sosialisasi pemerintah terkait bantuan yang tidak jelas sehingga banyak juga yang tidak lagi menerapkan karena ketidakadaan bantuan lagi secara cuma-cuma.

b) Pengawasan dari pemerintah kurang

Berdasarkan penuturan responden, pemerintah hanya mengawasi ketika ada dari pemerintah atau dari luar provinsi yang datang mengunjungi kawasan MKRPL. Di luar itu, pemerintah dalam hal ini pihak BPTP hanya pernah sekali mengunjungi dan mengawasi kawasan MKRPL. Menurut Pak Marioto (Ketua

Kelompok Tani Sedar), ini merupakan salah satu kekurangan dalam penerapan program ini sehingga adopsi masyarakat dalam penerapan teknologi ini masih belum maksimal.

c) Banyaknya sayuran non-organik dengan harga murah

Berikut adalah perbandingan beberapa harga sayuran organik dan non-organik :

No. Komoditi Non-Organik Organik

1. Kangkung Rp.2.500/Ikat Rp.3.000/Ikat

2. Kacang Panjang Rp.4.000/Ikat Rp.5.000/Ikat

3. Timun Rp. 2.300/Kg Rp.4.000/Kg

Dari perbandingan harga diatas, dapat kiat simpulkan harga sayuran non-organik Rp.500-1700 lebih murah dari sayuran non-organik. Hal ini dapat menjadi ancaman pengembangan MKRPL karena konsumen lebih memilih sayuran non-organik yang harganya lebih murah padahal kalau dilihat dari kualitasnya, sayuran organik jauh lebih berkualitas dibandingkan sayuran non-organik.

5.3 Strategi Pengembangan MKRPL

Strategi merupakan rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus dengan menggunakan semua sumber daya yang ada. Dengan melihat faktor-faktor internal dan eksternal MKRPL, maka kita dapat menentukan strategi yang tepat dan baik agar dapat mencapai hasil yang optimal.

Tabel 16. Matrik Faktor Strategi Internal (IFAS)

Faktor-Faktor Strategi Internal Rating Bobot Skor

Pembobotan Kekuatan :

a) Lahan milik sendiri

b) Tidak membutuhkan pengalaman tani yang lama c) Bisa mengurangi biaya belanja

d) Tidak membutuhkan lahan yang luas e) Hasil panen bersifat organik

f) Tidak membutuhkan tenaga kerja yang banyak g) Harga sayuran organik mahal

4 3 4 4 4 4 4 7,41 5,56 7,41 7,41 7,41 7,41 7,41 29,64 16,68 29,64 29,64 29,64 29,64 29,64 Total 27 50 194,52 Kelemahan :

a) Hasil panen tidak banyak

b) Rentan serangan hama dan penyakit

3 4 21,43 28,57 64,29 114,28 Total 7 50 178,57

Sumber : Data lampiran 2 & 3 diolah.

Total margin kekuatan dan kelemahan = 194,52-178,57 = 15,95

Tabel 17. Matrik Faktor Strategi Eksternal (EFAS)

Faktor-Faktor Strategi Internal Rating Bobot Skor

Pembobotan Peluang :

a) Adanya program pemerintah

b) Banyaknya peminat sayuran organik

c) Ada pasar untuk menjual hasil panen

d) Mudah untuk mengakses informasi cara bertanam organik 4 4 4 4 12,5 12,5 12,5 12,5 50 50 50 50 Total 16 50 200 Ancaman :

a) Bantuan dari pemerintah yang kurang jelas sosialisasinya

b) Kurangnya pengawasan dari pemerintah c) Banyaknya sayuran non-organik dengan

harga murah 5 5 5 16,67 16,67 16,67 83,35 83,35 83,35 Total 15 50 250,05

Sumber : Data lampiran 4 & 5 diolah.

Total margin peluang dan ancaman = 200-250,05 = -50,05 Diagram Analisis SWOT

Setelah menggunakan matriks IFAS dan EFAS, data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan diagram matrik posisi. Variabel yang digunakan adalah

variabel X dan Y. X adalah total margin kekuatan dan kelemahan (matrik internal) dan Y adalah total margin peluang dan ancaman (matrik eksternal)

Y

Kuadran III Kuadran I

Strategi Turn Around Strategi Agresif

15,95 X

Kuadran IV Kuadran II

Strategi Defensif Strategi Diversifikasi

-50,05

Gambar 3 Matrik Posisi SWOT

Gambar diatas menunjukkan bahwa kondisi MKRPL ada di kuadran II yang berarti bahwa dari segi internal, kekuatan menjadi sektor yang dapat diandalkan. Sedangkan dari segi eksternal, ancaman menjadi sektor yang harus diperhatikan. Strategi SO (Strength Opportunities) dapat menjadi pilihan untuk kondisi ini, yaitu dengan menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi diversifikasi (produk/pasar).

Tahap Analisis Data Tabel 18. Matrik SWOT

IFAS

EFAS

Strengths (S) 1. Lahan milik sendiri

2. Tidak memerlukan pengalaman tani yang lama

3. Bisa mengurangi biaya belanja 4. Tidak membutuhkan lahan yang

luas

5. Hasil panen tidak mengandung bahan kimia

6. Tidak membutuhkan banyak tenaga kerja

7. Harga sayuran organik mahal

Weaknesses (W) 1. Hasil panen tidak banyak 2. Rentan serangan hama dan

penyakit Opportunities (O) 1. Adanya program pemerintah 2. Banyaknya peminat sayuran organik 3. Ada pasar untuk menjual hasil panen 4. Mudah untuk mengakses informasi cara bertanam organik 1. Menjadikan MKRPL sebagai peluang usaha dengan melihat banyak demand terhadap sayuran organik (S7, O2,3)

2. Menjual produk dalam bentuk utuh maupun olahan ke berbagai pasar (S7, O2,3)

3. Meningkatkan penggunan teknologi informasi untuk menambah kualitas dan kuantitas produk (S5, O4)

1. Program pemerintah tidak hanya sekedar memuat model percontohan, tapi memperlengkapi pelaku MKRPL dengan berbagai penyuluhan terkait budidaya sampai kepada penjualan dan pemanfaatan teknologi informasi (W1,2, O1,4) 2. Menggunakan berbagai

media informasi untuk mencari solusi produktivitas dan serangan hama & penyakit (W1,2, O4) Threats (T) 1. Kurangnya bantuan dari pemerintah 2. Kurangnya pengawasan dari pemerintah 3. Banyaknya sayuran non-organik dengan harga murah

1. Keuntungan yang diperoleh dari penjualan produk digunakan sebagai modal tambahan untuk menambah sarana produksi dengan maksud mengurangi ketergantungan bantuan dari pemerintah (S7, T1)

1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas produk sehingga dapat bersaing dengan sayur-sayuran non-organik (W1, T3)

2. Memanfaatkan sumber daya yang ada dan mencari alernatif solusi lain untuk mengatasi serangan hama & penyakit tanpa tergantung pada bantuan pemerintah (W2, T1)

STRATEGI SO

1. Menjadikan MKRPL sebagai peluang usaha dengan melihat banyak demand terhadap sayuran organik (S7, O2,3)

2. Menjual produk dalam bentuk utuh maupun olahan ke berbagai pasar (S7, O2,3)

3. Meningkatkan penggunan teknologi informasi untuk menambah kualitas dan kuantitas produk (S5, O4)

STRATEGI WO

1. Program pemerintah tidak hanya sekedar memuat model percontohan, tapi memperlengkapi pelaku MKRPL dengan berbagai penyuluhan terkait budidaya sampai kepada penjualan dan pemanfaatan teknologi informasi (W1,2, O1,4)

2. Menggunakan berbagai media informasi untuk mencari solusi produktivitas dan serangan hama & penyakit (W1,2, O4)

STRATEGI ST

1. Keuntungan yang diperoleh dari penjualan produk digunakan sebagai modal tambahan untuk menambah sarana produksi dengan maksud mengurangi ketergantungan bantuan dari pemerintah (S7, T1)

STRATEGI WT

1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas produk sehingga dapat bersaing dengan sayur-sayuran non-organik (W1, T3)

2. Memanfaatkan sumber daya yang ada dan mencari alernatif solusi lain untuk mengatasi serangan hama & penyakit tanpa tergantung pada bantuan pemerintah (W2, T1)

Dari hasil analisis diatas maka dapat disimpulkan strategi dalam pengembangan MKRPL adalah sebagai berikut :

1. Peluang bisnis

Fungsi utama dalam penerapan MKRPL adalah menjaga stabilitas ketahanan pangan dalam rumah tangga, tapi selain itu MKRPL juga dapat dijadikan peluang bisnis yang menguntungkan. Ditengah masih belum cukupnya supply pangan dari pertanian lokal, MKRPL dapat menjadi solusinya. Selain itu, peluang ini juga ditunjang harga sayuran organik yang relatif cukup mahal dan permintaan yang cukup tinggi.

2. Diversifikasi produk olahan

Kebiasaan petani yang langsung menjual hasil produk secara utuh (mentah) juga terjadi di daerah penelitian. Hal tersebut mengakibatkan kurang maksimalnya pendapatan yang didapat dari penjualan produk. Proses pengolahan (agroindustri) menjadi salah satu solusi untuk memaksimalkan pendapatan. Mengolah hasil produk mentah menjadi hasil produk setengah jadi atau produk jadi. Misalnya : pengolahan bayam organik menjadi kerupuk bayam organik dan sebagainya.

3. Penggunaan teknologi Informasi

Rendahnya tingkat pendidikan, usia, serta tidak adanya penyuluhan tentang penggunaan teknologi informasi menyebabkan banyak pelaku MKRPL yang tidak memanfaatkan teknologi ini untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas MKRPL mereka. Setidaknya hal ini memudahkan mereka ketika mengalami permasalahan dalam budidaya serta dapat menambah wawasan dan meningkatkan kreativitas.

4. Membangun jiwa enterpreneurship

Ketergantungan kepada bantuan pemerintah dan kurangnya kesadaran serta melihat peluang bisnis yang ada menyebabkan MKRPL di lingkungan IV, Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelanstagnan (tidak berkembang) malahan semakin menurun perkembangannya. Untuk itu dibutuhkan pelatihan atau penyuluhan yang bertujuan untuk membangun jiwa enterpreneurship (wirausaha) pelaku MKRPL.

BAB VI

Dokumen terkait