BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teoritis
2.1.2 Faktor-Faktor Fundamental yang Memengaruh
Jika dikaitkan dengan kredit yang disalurkan oleh perbankan, maka analisis fundamental adalah suatu teknik yang mencoba untuk menentukan atau menetapkan besarnya kredit yang disalurkan oleh Bank Umum dengan memfokuskan pada faktor-faktor dasar (fundamental) yang memengaruhi secara nyata usaha atau kinerja perbankan dilihat dari laporan keuangannya. Faktor- faktor fundamental yang akan dikaji pada penelitian ini meliputi CAR, ROA, DPK, serta NPL. Selanjutnya akan disajikan penjelasan masing-masing faktor tersebut secara lebih rinci, serta keterkaitannya dengan kredit perbankan
a. Keterkaitan Capital Adequancy Ratio (CAR) dan Kredit Perbankan
Rasio utama permodalan yaitu Capital Adequancy Ratio (CAR), angka rasio tersebut menunjukkan kecukupan modal suatu bank. Nilai CAR diperoleh dari hasil perbandingan modal terhadap aktiva tertimbang menurut risiko atau ATMR (Djoko, 2006:78). Selain itu, Capital Adequency Ratio juga dapat
menunjukkan sejauh mana penurunan aset bank masih dapat ditutup oleh equity
bank yang tersedia, sehingga semakin besar nilai rasionya, maka semakin baik pula banknya. Saryadi (2013) menyatakan bahwa CAR merupakan rasio permodalan yang menunjukkan kemampuan bank dalam menyediakan dana untuk keperluan pengembangan usaha dan menampung risiko kerugian dana yang diakibatkan oleh kegiatan operasi bank, salah satunya pemberian kredit yang dilakukan oleh perbankan. Semakin tinggi CAR yang dimiliki suatu bank, maka semakin besar kredit yang disalurkannya, begitu pula sebaliknya. Hal ini dikarenakan semakin tinggi CAR, maka semakin besar sumber daya financial
yang dapat digunakan untuk mengantisipasi potensi kerugian yang diakibatkan oleh penyaluran kredit, sehingga pihak perbankan lebih percaya diri dalam menyalurkan kreditnya.
Saryadi (2013) menyatakan bahwa sejak oktober tahun 1998 besarnya CAR diklasifikasikan dalam 3 kelompok. Kelompok tersebut yaitu Bank sehat dengan klasifikasi A, jika memiliki CAR 4% atau lebih, Bank take over atau dalam penyehatan oleh BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) dengan klasifikasi B, jika bank tersebut memiliki CAR antara -25% sampai 4%, serta Bank Beku Operasi (BBO) dengan klasifikasi C, jika memiliki CAR kurang dari - 25%. Bank dengan klasifikasi C inilah yang dilikuidasi.
b. Keterkaitan Return on Asset (ROA) dan Kredit Perbankan
Rasio utama rentabilitas salah satunya adalah Return on Asset (ROA). ROA adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. Rasio ini merupakan rasio laba bersih terhadap total aset (Brigham dan Houston, 2006: 148). Nilai ROA suatu bank dapat mengindikasi besarnya tingkat keuntungan yang dicapainya, serta mencerminkan penggunaan aset yang semakin baik. Keuntungan tersebut kemudian dibagi menjadi 2 macam, yaitu laba ditahan dan laba yang dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk deviden.
Secara tidak langsung, jumlah laba yang diperoleh oleh bank dapat dijadikan sebagai penilaian kinerja bank, yang akhirnya dapat memengaruhi
investasi serta minat masyarakat dalam menggunakan produk bank tersebut (Titia, 2015). Laba yang tinggi menyebabkan tingkat kepercayaan masyarakat kepada bank semakin tinggi. Kepercayaan masyarakat terhadap bank dapat dicerminkan dari besarnya dana yang ditempatkan di Bank. Jadi, semakin besar jumlah simpanan atau dana yang berhasil dihimpun oleh perbankan akan memungkinkan bank untuk menyalurkan dana tersebut dalam bentuk kredit dengan jumlah yang lebih banyak, karena peningkatan kepercayaan masyarakat menyebabkan permintaan kredit bertambah.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa semakin besar nilai ROA dapat menyebabkan peningkatan kepercayaan masyarakat kepada perbankan. Hal ini akan memengaruhi meningkatkan jumlah permintaan kredit oleh masyarakat, sehingga semakin tinggi nilai ROA, maka jumlah kredit yang disalurkan semakin meningkat.
c. Keterkaitan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan Kredit Perbankan
DPK adalah kewajiban bank kepada penduduk dan bukan penduduk yang biasanya disebut dengan nasabah bank, dalam rupiah dan valuta asing (Ahmad, 2010:225). SE BI No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 menyatakan bahwa dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank dapat berupa giro, tabungan, dan deposito. Giro adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya, atau dengan pemindah bukuan. Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. Deposito merupakan simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan dengan bank.
Tugas bank setelah menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, giro, tabungan, dan deposito adalah menyalurkan dana tersebut kepada masyarakat yang membutuhkannya, sesuai dengan fungsi utama pebankan sebagai lembaga intermedian. Titia (2015) menyatakan bahwa Dana Pihak Ketiga dianggap sebagai supply kredit, sebab salah satu sumber dana kredit berasal dari
tabungan, deposito dan giro yang masuk dalam Dana Pihak Ketiga (DPK). Jadi semakin banyak jumlah Dana Pihak Ketiga yang berhasil dihimpun oleh bank, akan diikuti penyaluran kredit yang semakin tinggi, begitu pula sebaliknya.
d. Keterkaitan Non Performing Loan (NPL) dan Kredit Perbankan
Rasio pendukung kualitas aktiva produktif salah satunya adalah Non Performing Loan (NPL). NPL adalah angka yang menunjukkan persentase kredit atau pembiayaan yang macet di bank tersebut. Pembiayaan yang macet tentunya sangat tidak baik bagi bank, karena akan menyebabkan kerugian bagi bank, jika kreditnya macet dan tidak dapat dikembalikan lagi. Semakin kecil NPL, semakin baik juga banknya. Suatu bank akan dianggap baik jika NPL-nya berada dibawah 5% (Ahmad, 2004:48). Risiko dari kredit dalam perbankan dapat tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL).
Titia (2015) menyatakan bahwa kredit macet merupakan gambaran risiko kredit yang ditimbulkan dari dana yang tidak dibayarkan melebihi masa jatuh temponya atau bahkan tidak dibayarkan sama sekali. Peningkatan pada rasio NPL ini membuat bank mengurangi jumlah penyaluan dananya dalam bentuk kredit, sebab bank perlu mencadangkan sejumlah dana untuk mengcover timbulnya kredit macet ini. Tomak (2012) menyatakan bahwa kredit bermasalah yang tinggi terhadap total kredit memiliki pengaruh yang negatif terhadap kapasitas pinjaman secara keseluruhan pada bank. Bank dengan rasio NPL yang tinggi akan menurunkan total kredit yang disalurkan. Jadi, semakin besar rasio NPL pada bank, akan diikuti oleh penurunan jumlah kredit yang disalurkan oleh perbankan.
2.1.3 Faktor-Faktor Makro yang Memengaruhi Penyaluran Kredit