• Tidak ada hasil yang ditemukan

Beberapa faktor risiko yang dianggap mempengaruhi kinerja atau strategi usaha Bank Mutiara adalah sebagai berikut :

A. Risiko Kredit (Credit Risk)

Beberapa langkah Bank untuk mengantisipasi risiko kredit diantaranya adalah :

1. Memperbaiki suatu sistem penilaian (internal credit reviews) yang independen dan berkelanjutan terhadap efektivitas penerapan proses manajemen risiko kredit;

2. Mengembangkan Credit Risk Rating (CRR) atau alat pemantauan risiko kredit lainnya oleh Satuan Kerja atau Petugas yang independen terhadap Satuan Kerja yang melakukan transaksi risiko kredit;

3. Melakukan prinsip dual control yang melibatkan Risk Management Division dalam pemutusan fasilitas kredit di Rapat Komite Kredit;

4. Memperbaiki kebijakan (termasuk batasan-batasan kewenangan), sistem dan prosedur pemutusan kredit;

5. Meningkatkan efektivitas pengendalianintern;

6. Me-review prosedur kredit termasuk sistem deteksi kredit bermasalah, dan meningkatkan skill analisa kredit pada seluruh Account Officer serta Kepala Cabang melalui training dan sosialisasi kebijakan kredit.

B. Risiko Pasar (Market Risk)

Risiko pasar adalah risiko yang timbul karena adanya pergerakan variabel pasar (adverse movement) dari portofolio yang dimiliki oleh Bank yang dapat menimbulkan potensi kerugian, contoh variabel pasar tersebut adalah suku bunga dan nilai tukar.

Risiko Suku Bunga (Interest Rate Risk)

Potensi risiko suku bunga pada Mutiara Bank cukup signifikan karena penyaluran dana selain dalam bentuk kredit, juga berupa portofolio investasi pada surat berharga khususnya surat berharga valas yang rata-rata berjangka waktu panjang dengan suku bunga tetap. Kondisi ini akan menekan Net Interest Margin (NIM) saat suku bunga dana cenderung meningkat. Beberapa antisipasi/strategi dan mitigasi risiko Bank dalam menyikapi kondisi ini adalah:

1. Bank merencanakan untuk melakukan perbaikan terhadap struktur komposisi aktiva produktif dan non produktifnya agar lebih menguntungkan posisi bank;

2. Mengupayakan pengelolaan struktur liabilities bank dalam meningkatkan sumber pendanaan jangka panjang, dengan jalan memberikan suku bunga yang menarik dan kompetitif pada Deposito tiga bulan s/d satu tahun;

d1/May 25, 2010 73 paraf:May 25, 2010 (11:07PM) 3. Meningkatkan Dana Pihak Ketiga dari government funding dengan jangka waktu panjang; 4. Menerapkan floating rate pada pemberian kredit jenis tertentu, sehingga risiko penurunan suku

bunga tidak membebani Bank dan sebaliknya juga tidak akan membebani debitur jika suku bunga meningkat;

5. Memonitor perkembangan market pricing sekaligus memperkokoh kebijakan pricing aktiva maupun pasiva melalui forum rapat Assets Liability Committee (ALCO) dengan membahas beberapa perhitungan penting seperti cost of money, base lending rate dan perhitungan lainnya. Dengan demikian, setiap permasalahan yang terjadi di dalam Bank khususnya yang berkaitan dengan risiko suku bunga dapat diantisipasi sedini mungkin.

Risiko Nilai Tukar (Foreign Exchange Rate Risk)

Sebagai bank devisa, Bank tentunya tidak dapat terlepas dari risiko fluktuasi nilai tukar sebagai akibat belum stabilnya kondisi ekonomi makro Indonesia maupun negara lain akibat krisis keuangan global yang sangat mulai dirasakan dampaknya sejak tahun 2009. Kondisi ini mengharuskan Bank menjaga posisi aktiva dan pasiva valasnya dalam posisi sesuai ketentuan Bank Indonesia, untuk menghindari potensi kerugian jika terjadi fluktuasi nilai tukar.

Pada saat ini posisi valas Bank mengalami short position yang signifikan akibat kerugian penghapusan aktiva produktif terutama surat berharga, sehingga Bank berencana melakukan mitigasi posisi valas diantaranya dengan melakukan upaya konversi Dana Pihak Ketiga valas. Fluktuasi Nilai Pasar

Variabel pasar ini tidak hanya berupa fluktuasi nilai tukar ataupun fluktuasi suku bunga, tetapi juga meliputi fluktuasi nilai pasar dari portofolio yang dimiliki Bank, seperti diantaranya adalah portofolio surat berharga yang diperdagangkan.

Strategi Bank untuk memitigasi risiko ini adalah sebagai berikut:

1. Senantiasa melakukan monitoring pergerakan harga dari portofolio investasi Bank, sehingga dapat segera diambil tindakan sedini mungkin jika terjadi indikasi merugikan;

2. Mengelola dan melakukan mitigasi risiko konsentrasi dengan membuat aturan yang lebih jelas mengenai limit transaksi mulai dari limit pemutus, limit antar bank, limit dealer, limit per sektor ekonomi dan geografi dan lain-lain;

3. Melakukan analisa yang mendalam (rating, maturity, issuer, underlying transaction, listed & market price) sebelum melakukan investasi.

C. Risiko Operasional (Operational Risk)

Risiko operasional adalah risiko yang antara lain disebabkan ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional Bank.

Beberapa langkah yang telah dilakukan adalah

1. Mengkaji ulang prosedur, dokumentasi, sistem pemrosesan data, contingency plan, dan praktik operasional lainnya guna mengurangi kemungkinan terjadinya human error;

2. Menindaklanjuti hasil temuan audit internal dan eksternal terhadap proses penerapan manajemen risiko operasional dengan melakukan serangkaian tindakan korektif;

3. Melakukan Disaster Recovery Plan yaitu rencana yang dilakukan jika terjadi masalah pada lingkungan IT (Information Technology) misalnya terjadi bencana alam atau karena faktor lain dimana bisnis harus tetap berjalan sebagaimana biasanya;

4. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan meningkatkan frekuensi pelatihan internal di bidang perkreditan, pemasaran produk dan motivasi kerja;

d1/May 25, 2010 74 paraf:May 25, 2010 (11:07PM)

5. Melakukan persiapan pengembangan sandi neraca sesuai Basel II untuk mendukung perhitungan penyediaan modal risiko operasional.

D. Risiko Likuiditas (Liquidity Risk)

Risiko likuiditas adalah risiko ketidakmampuan bank dalam memenuhi kewajiban yang telah jatuh waktu. Beberapa strategi yang dilakukan Bank untuk mengantisipasi adalah:

1. Untuk memenuhi ketentuan Bank Indonesia mengupayakan adanya tambahan setoran modal dari pemegang saham, sewaktu-waktu jika diperlukan;

2. Melakukan portofolio investasi ke arah investasi yang lebih likuid;

3. Meningkatkan efektifitas pengelolaan gap likuiditas (maturity gap, proyeksi cash flow) untuk mengantisipasi risiko likuiditas sedini mungkin;

4. Melakukan upaya pembukaan kembali credit line dan commercial line dari counterparty; 5. Mengintensifkan collection terhadap kredit bermasalah sehingga dapat lebih ditingkatkan; dan 6. Mempercepat proses likuidasi aktiva tidak produktif yakni Agunan Yang Diambil Alih (AYDA). E. Risiko Hukum (Legal Risk)

Bank telah melakukan pengelolaan risiko hukum sesuai dengan tingkat kompleksitas usahanya, dimana beberapa aspek penting pengelolaan risiko hukum telah dilakukan seperti adanya pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi, kebijakan dan prosedur, proses identifikasi, pemantauan serta pengendalian risiko hukum.

Salah satu hal penting lainnya adalah perlunya kejelasan status yang berkaitan dengan kasus-kasus yang ada seperti investasi discretionary fund antaboga, kredit bermasalah, penyimpangan investasi surat berharga dan aset yang diambil alih oleh bank. Hal ini penting karena manajemen Bank sangat membutuhkan kepastian hukum sebagai pijakan yang jelas dalam menetapkan action plan selanjutnya.

F. Risiko Reputasi (Reputation Risk)

Bank telah bekerjasama dengan lembaga konsultan Public Relation dan mengembangkan marketing communication untuk memulihkan citra Bank yang negatif di masyarakat akibat kasus investasi discretionary fund Antaboga. Bank menyakini bahwa setiap aspek efektifitas pelaksanaan manajemen Bank yang baik (termasuk manajemen risiko dan sistem pengendalian internal) dalam kaitannya dengan Good Corporate Governanance (GCG) akan memperbaiki reputasi. Statement dukungan dari Pemerintah sebagai pemegang saham pengendali Bank terhadap upaya positif yang telah dilakukan oleh manajemen baru yang lebih profesional, sangat dibutuhkan oleh Bank, karena setiap langkah keberhasilan dalam upaya penyelesaian kasus di Bank akan berimbas secara tidak langsung kepada perbankan nasional secara keseluruhan.

G. Risiko Strategik (Strategic Risk)

Risiko strategik adalah risiko yang antara lain disebabkan adanya penetapan dan pelaksanaan strategik Bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang tidak tepat atau kurang responsifnya Bank terhadap perubahan eksternal.

Beberapa langkah yang dilakukan untuk mengatisipasi risiko ini dengan cara:

1. Melakukan pemantauan atas kinerja keuangan dengan membandingkan antara realisasi dengan target-target yang ingin dicapai oleh Bank sesuai dengan Rencana Bisnis Bank;

2. Melakukan revisi dan pengkinian atas strategi yang ingin dicapai sesuai dengan perkembangan kondisi internal maupun eksternal, sehingga akan menjadi realistis dengan pencapaian target Bank;

d1/May 25, 2010 75 paraf:May 25, 2010 (11:07PM) H. Risiko Kepatuhan (Compliance Risk)

Risiko kepatuhan disebabkan Bank tidak mematuhi atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku.

Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengantisipasi risiko ini adalah dengan melakukan:

1. Menetapkan langkah-langkah untuk memantau kepatuhan terhadap perundang-undangan dan peraturan yang berlaku antara lain dengan cara melakukan Compliance Review, seperti melibatkan Compliance Division pada saat dilakukan Rapat Komite Kredit atau pada saat pengajuan produk dan aktivitas baru Bank;

2. Melakukan pemantauan atas pelaksanaan suatu perundang-undangan dan peraturan yang berlaku, dengan cara melakukan uji kepatuhan (ComplianceTest).

Dokumen terkait