• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV STRATEGI DAKWAH MELALUI TIGA BAHASA

C. Faktor-Faktor Melatar Belakangi Santri Belum Mampu

Pada dasarnya strategi dakwah yang digunakan di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah Ngatabaru sudah bagus, namun peneliti yang juga merupakan alumni dari Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah Ngatabaru sadar bahwa masih banyaknya santri yang benar-benar belum mampu memahami materi dakwah dengan baik dalam latihan berdakwah (muhadharah), bahkan berdampak masih banyaknya alumni yang yang belum siap berbicara ataupun tampil di depan masyarakat ketika telah lulus dari pesantren.

Oleh karena itu, setelah diteliti, peneliti menemukan beberapa faktor yang melatar belakangi santri belum mampu memahami materi dakwah dengan baik.

Berikut faktor-faktor tersebut:

1. Kegiatan yang sangat padat

Kegiatan di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah Ngatabaru memang sangatlah padat, seluruh kegiatan telah terjadwalkan 24 jam mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Berikut jadwal harian dan mingguan santri di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah Ngatabaru:

a. Jadwal Harian

Jam Kegiatan

04.15 Bangun tidur, Jama‟ah shubuh, bimbingan bahasa Arab/Inggris lewat kosa kata (mufradaat) dan muhadasah

05.30 Mengulangi Pelajaran

06.15 Mandi, Sarapan, Persiapan belajar di Kelas 07.00 Belajar di kelas

12.30 Jama‟ah Dzuhur, makan siang 13.45 Belajar di Kelas

15.30 Jama‟ah Ashar, Tadarus Al-Qur‟an 16.00 Aktifitas organisasi pelajar, Olahraga 17.00 Mandi, Persiapan ke Masjid

18.00 Jama‟ah Magrib, Tadarrus Al-Qur‟an 19.20 Jama‟ah Isya, Makan Malam

20.00 Mengulang Pelajaran 22.00 Istirahat/Tidur

67

b. Jadwal Mingguan

Hari Kegiatan

Ahad Malam Latihan Pidato Bahasa Inggris

Senin Malam Musyawarah Kerja Organisasi Pelajar Selasa Pagi Muhadatsah/Conversation

Rabu Pagi Senam Santri

Kamis Siang Latihan Pidato Bahasa Arab Kamis Sore Latihan Kepanduan (Pramuka) Kamis Malam Latihan Pidato Bahasa Inggris

Jum‟at Pagi Muhadatsah (Conversation), Lari Pagi, Latihan keterampilan

Jum‟at Malam Musyawarah Kerja Organisasi Pelajar (Bagian Bahasa) Sabtu Malam Musyawarah GUDEP Pramuka

Semakin padatnya kegiatan santri di Pondok berdampak semakin berkurang pula waktu bagi pengurus OPPM untuk memberikan motivasi untuk santri, hal ini selaras dengan perkataan dari Khairun Nizam selaku ketua bagian Pengasuhan santri Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah Ngatabaru:

“Sekarang ini yang saya lihat, badan pengurus OPPM sudah jarang untuk berbicara di depan santri (memotivasi/arahan), hal tersebut terjadi karena waktu yang makin padat, biasanya kan kalau selesai sholat ashar disitu para pengurus banyak yang berbicara di depan santri, namun beberapa tahun belakangan ini sangat sempit waktunya karena setelah ashar selalu diisi dengan bacaan Asmaul Husna berjamaah”23

23 Khairul Nizam (26), Ketua Bagian Pengasuhan Pondok Modern Al-Istiqamah Ngatabaru, Wawancara, Ngatabaru-Sigi, 1 Maret 2022.

Waktu yang tepat memotivasi ataupun bemberikan arahan santri tentunya setelah shalat karena waktu itulah santri-santri terkumpul disatu tempat, namun peneliti menemukan dari hasil wawancara bersama bagian pengasuhan santri bahwa beberapa tahun belakangan ini memotivasi tersebut mulai berkurang karena waktunya yang makin padat. Dalam kasus lain peneliti menemukan santri kelelahan karena jadwal yang sangat padat sehingga ia tidak mempunyai waktu mempersiapkan I‟dat (materi) dakwah yang harus ia bawakan ketika kegiatan dakwah.

2. Kurangnya sumber daya manusia (SDM) pembina yang profesional

Jumlah ustadz di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah Ngatabaru ialah 87 orang namun terbagi lagi beberapa bagian yang memiliki tugas masing-masing.

Bagian Pengasuhan santri dan bagian Tarbiyatu-l-mu‟allimin al-islamiyyah (TMI) ialah yang bertanggung jawab dalam kegiatan muhadharah. Jumlah ustadz dari bagian pengasuhan santri ialah 5 orang dan 7 orang dari bagian TMI. Namun hasil observasi lapangan peneliti menemukan hanya beberapa ustadz yang profesional dan terjun langsung mengontrol badan pengurus OPPM dan kegiatan muhadharah ini.

Bagian pengajaran Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) merupakan yang memiliki peran terpenting dalam kegiatan muhadharah ini, karena merekalah yang bertanggung jawab seluruh aspek kegiatan ini. Dengan hanya 3 orang dari bagian pengajaran OPPM tentu bukanlah hal yang mudah mengontrol 475 santri putra yang terbagi menjadi lima kelompok dan satu kelompok khusus. Ketika tiga orang dari bagian pengajaran OPPM ini lalai dari tugasnya maka tahapan-tahapan

69

strategi dakwah nya tidak akan berjalan dengan efektif, maka bisa saja ketika tiba jadwalnya untuk ceramah maka santri tersebut membawakan materi yang amburadul sehingga kualitas santri dalam berdakwah tidak akan berkembang.

Hal di atas relevan dengan hasil wawancara peneliti bersama Khairullah Syarif selaku ketua bagian pengajaran OPPM bahwa:

“Ada beberapa tahapan yang harus dipenuhi santri sebelum tampil ceramah ketika muhadharah, memang berjalan beberapa minggu hingga beberapa bulan tapi setelah itu mulai menurun, bisa dibilang kurang konsisten. Hal ini karena kami dari bagian pengajaran hanya 3 orang dan harus mengontrol I‟dat (materi dakwah) santri dan geladi santri, kadang kami kewalahan karena tidak bias membendung seluruh santri”.24

Pengurus OPPM dan pengurus kelompok muhadharah memiliki peran yang sangatlah penting dalam membina santri-santri karena merekalah yang terjun langsung dengan santri. Namun lagi-lagi masih banyak para pengurus yang mengikuti kegiatan muhadharah sebatas hadir dalam Virqoh agar tidak mendapatkan hukuman dari bagian pengasuhan santri maupun bagian Tarbiyatu-l-Mu‟allimin Al-Islamiyyah .

3. Kurang kesadaran santri

Sebagus apapun Pembinanya namun jika santri tersebut tidak memiliki kesadaran untuk meningkatkan kualitasnya dalam berdakwah maka percuma saja.

Untuk meningkatkan semangat dalam belajar harusnya mulai dari diri masing-masing yaitu membangkitkan motivasi yang berasal dari dalam diri individu.

24 Khairullah Syarif (17), Ketua Bagian Pengajaran Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) Al-Istiqamah Ngatabaru, Wawancara, Ngatabaru-Sigi, 1 Maret 2022.

Menurut Muhammad Yusuf , santri kelas 1 MB bahwa:

“Bagian pengajaran OPPM selalu mengingatkan kami untuk membuat materi, geladi, dll. tapi memang kita (santri) yang sering lalai dalam menjalankan tugas kami”25

Peneliti menemukan kesadaran santri untuk belajar dakwah masih sangatlah kurang, salah satu bukti masih kurangnya minat santri yaitu banyaknya santri yang berpura-pura sakit ketika latihan dakwah (muhadharah) telah tiba. Contoh lain yaitu banyak santri yang dihukum di akhir kegiatan muhadharah yang bertanda banyaknya santri yang tidak menguasai materinya dengan baik, hal ini selaras dengan perkataan dari Khairullah Syarif, bagian pengajaran organisasi pelajar pondok modern (OPPM) pondok modern Al-Istiqamah Ngatabaru:

“Minat belajar dakwah dari santri ini masih kurang, sering terjadi kalau telah tiba jadwalnya untuk ceramah mereka sering mempunyai banyak alasan agar tidak mengikuti kegiatan muhadharah”26

Seharusnya pembina benar-benar memperhatikan masalah ini, jika santri selalu memiliki alasan untuk tidak mengikuti kegiatan muhadharah, hal tersebut akan membiasakan santri untuk lari dari tanggung jawabnya, selain itu akan berdampak pada kegiatan santri lainnya yang akan muncul pula santri yang hilang-hilang ketika kegiatan berlangsung.

4. Kegiatan kurang menarik/membosankan

kegiatan muhadharah tidak menarik minat dari santri-santri karena kegiatan ini tidak memiliki perkembangan dari tahun ketahun, hasil observasi di lapangan

25 Muhammad Yusuf (13) Santri Kelas 1 Masculine B (MB) Tarbiyatu-l-mu‟allimin al-Islamiyyah (TMI), Wawancara, Ngatabaru-Sigi, 1 Maret 2022

26 Khairullah Syarif (17), Bagian Pengajaran Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) Al-Istiqamah Ngatabaru, Wawancara, Ngatabaru-Sigi, 1 Maret 2022

71

peneliti menemukan kegiatan muhadharah ini dari semasa peneliti masih menjadi santri hingga kini telah menjadi alumni selama empat tahun, kegiatan ini masih sama seperti dahulu tanpa adanya perkembangan yang signifikan. Bahkan peneliti menemukan beberapa santri mengikuti kegiatan ini hanya sebatas agar tidak mendapatkan hukuman dari badan pengurus OPPM.

Kegiatan ini hanya selalu melihat kepada santri-santri yang lebih menonjol saja, sehingga mereka yang menonjol akan berkembang sedangkan santri yang tidak menonjol hanya akan tetap tidak akan berkembang.

Menurut Moh. Demitri Attaturk santri kelas 1 Mb:

“Muhadharah kegiatannya tiap minggu selalu sama, kadang kita-kita yang menonjol selalu dipilih menjadi istinbat (memberikan intisari) dari ceramah-ceramah santri yang telah naik di panggung”27

Seorang Pembina (Ustadz/pengurus OPPM) seharusnya mampu menciptakan suasana kegiatan dakwah 3 bahasa ini lebih unik dan menarik yang tidak membosankan. Dengan kegiatan yang unik dan menarik yang tidak membosankan maka santri-santri akan benar-benar mengikuti kegiatan bahasa ini karena memang mereka “cinta” terhadap kegiatan tersebut.

5. Hukuman yang tidak relevan

Menurut Khairulah Syarif selaku ketua bagian Penjaran Santri OPPM, dia mengungkapkan bahwa:

27 Moh. Demitri Attaturk (13), Santri Kelas 1 Masculine B (MB) Tarbiyatu-l-mu‟allimin al-Islamiyyah, Wawancara, Ngatabaru-Sigi, 1 Maret 2022

“Hukuman yang diberikan itu bermacam-macam, ada yan berupa teguran, hukuman ringan hingga hukuman berat. Hukuman di pondok ini tidak tertulis jadi hukuman berasal dari pengurus masing-masing sesuai besaran pelanggaran ia lakukan”28

Hasil observasi di lapangan bahwa peneliti menemukan hukuman yang diterapkan oleh pengurus kelompok muhadharah tidak bersifat edukatif atau mendidik. Artinya adalah dalam pemberian hukuman tersebut harus ada arti yang berguna bagi santri. Hukuman di sini sebagai alat untuk meningkatkan kedisiplinan harus dapat meninggalkan pesan bagi santri.

Peneliti menemukan bahwa dalam beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh santri, hukuman yang diberikan ialah diberdirikan selama kegiatan berlangsung.

Bahkan dalam beberapa kasus peneliti menemukan beberapa santri yang lebih memilih diberdirikan selama kegiatan berlangsung dari pada mempersiapkan materi dakwah dan membawakan materi tersebut di depan teman-temannya ketika kegiatan berlangsung.

Hal ini tentunya tidak memberikan efek jera kepada santri karena ia tidak menyadari kesalahan yang telah diperbuat sehingga bisa diperbaiki dan tidak akan terulang kembali masa yang akan datang.

Dalam mendidik para santri, tidak selamanya tepat jika para pembina menerapkan pola-pola pendisiplinan yang keras. Pola semacam ini mungkin cocok untuk hal-hal yang sifatnya fisik, misalnya bangun pagi, shalat, makan, olahraga dan sebagainya. Akan tetapi, ia tidak cocok untuk hal-hal yang membutuhkan

28 Khairullah Syarif (17), Ketua Bagian Pengajaran Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) Al-Istiqamah Ngatabaru, Wawancara, Ngatabaru-Sigi, 1 Maret 2022.

73

konsentrasi, perenungan, dan pemikiran, misalnya belajar. Hal ini dikarenakan proses perkembangan pemikiran, pemahaman, dan internalisasi nilai yang terdapat pada diri seseorang, termasuk santri-santri membutuhkan adanya kebebasan, cinta, dan ketertarikan.

74 BAB V PENUTUP

Dokumen terkait