• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor – Faktor yang mempengaruhi penerimaan diri

Dalam dokumen Penerimaan diri pada penderita glaukoma (Halaman 139-145)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Deskripsi Penerimaan Diri

2. Faktor – Faktor yang mempengaruhi penerimaan diri

Penerimaan diri positif kelima subjek ditinjau dari upaya

menerima diri yang subjek lakukan dalam bentuk emotion focused coping hingga mampu memiliki penerimaan diri.

Pada penelitian ini emotion focused coping sebagai upaya penerimaan diri yang dilakukan subjek dipengaruhi oleh dukungan

sosial emosional dan pola asuh demokratis di masa kecil.

Berdasarkan hasil analisis, ditemukan bahwa ada subjek yang

memperoleh lebih dari tiga jenis dukungan sosial, yaitu dukungan

sosial informasi, emosional, dan instrumental. Akan tetapi, dukungan

sosial emosional lah yang paling berkontribusi dalam emotion focused coping maupun penerimaan diri kelima subjek.

Dukungan sosial emosional yang diterima kelima subjek ini

sesuai dengan yang diutarakan Cohen dan Syme ( dalam Gottlieb,

1988 ). Dimana mereka yang memperoleh dukungan sosial emosional

ini memdapatkan wujud empati dari lingkungan sosialnya berupa

pemahaman, pengertian akan kondisi dan keadaan, serta wujud

ekspresi kasih sayang lainnya seperti nasehat, kepedulian, saran, dan

pemberian semangat. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh

diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan positif antara dukungan

sosial keluarga dengan penerimaan diri.

Hal ini sesuai dengan dukungan sosial yang diperoleh S1,

dimana istri dan orangtuanya memahami apa yang ia alami, memberi

nasehat, perhatian, serta pedui dengan harapan yang ia miliki. Dengan

begitu S1 merasa keluarga mempedulikannya sehingga dengan

nasehat yang diberikan seperti mengingatkannya untuk berdoa

membuat subjek menjadi tenang menghadapi sakitnya.

Pada S2, dukungan sosial emosional yang diperolehnya dari

lingkungan berbentuk sebuah pengertian akan perasaan yang subjek

alami dan membantunya agar mampu menerima diri, nasehat untuk

bersabar menghadapi sakitnya.

S3 juga memperoleh dukungan sosial emosional seperti anak – anaknya yang menasehati subjek agar tenang dalam menghadapi sakit,

ketenangan lain juga diperoleh subjek didoakan oleh teman gereja

sehingga ia menjadi kuat menghadapi sakit. Nasehat dari anak – anak membuat subjek menerima keadaan karena keluarga mengajarkannya

untuk lebih ikhlas.

Pada S4,dukungan sosial emosional yang diperolehnya adalah

nasehat dan support dari orangtua dan teman – teman, yang membuatnya merasa dipedulikan, dipahami, dan mengajarkan agar

Lain halnya dengan S5, perhatian dan kepedulian keluarga

membuat rasa takutnya menghadapi masa depan menjadi berkurang.

Dukungan sosial yang kelima subjek terima mampu membuat

para subjek merasa berharga, nyaman, dan disayangi. Hal ini lah yang

membuat mereka menjadi mampu mengelola emosi,perasaan, dan

pikiran negatif sehingga mampu menerima diri.

Selain itu , emotion focused coping salah satu subjek yaitu S3 dipengaruhi oleh pola asuh demokratis di masa kecil, dimana pola

asuh di masa kecilnya inilah yang membuatnya menjadi pribadi yang

mandiri, kuat, dan tidak cengeng sehingga mampu menerima kondisi

yang dialami. Dengan begitu, subjek mampu mengurangi dampak

psikososial dan penilaian negatif atas diri yang dialaminya.

Setelah melakukan emotion focused coping sebagai upaya subjek dalam menerima diri dan mengurangi dampak psikososial yang

kelima subjek alami, maka mereka dapat menerima diri dan kondisi

yang mereka alami. Kemampuan penerimaan diri yang kelima subjek

miliki dipengaruhi oleh :

a. Dukungan Sosial Emosional

Dukungan sosial emosional mempengaruhi harapan yang kelima

subjek miliki. Tidak adanya hambatan dari lingkungan atas harapan

yang subjek miliki sesuai dengan yang Hurlock ( 1974 ) utarakan

dimana dukungan dan kesempatan dari lingkungan sekitar

tidak adanya halangan dari lingkungan sekitar, maka harapan orang

tersebut akan mudah tercapai.

b. Konsep Diri Stabil

Konsep diri yang stabil ini hanya dimiliki oleh dua dari lima subjek

dalam penelitian ini. Dimana menurut Hurlock ( 1974 ), mereka

memiliki konsep diri stabil tidak akan terkadang menyukai dirinya

dan terkadang tidak menyukainya. Hal ini ditegaskan oleh Feist dan

Feist ( 2010 ) , karena konsep diri yang sudah terbagun tidak

mungkin mengalami perubahan karena adanya penerimaan orang

lain. Konsep diri yang stabil dari kedua subjek yaitu S1 dan S4 ini

dapat dilihat dari konsep diri mereka yang tetap sama dari sebelum

mengalami sakit hingga saat ini sudah mengalami sakit glaukoma.

Mereka sama – sama tidak memiliki penilaian negatif atas diri mereka meskipun secara fisik mereka mengalami kekurangan.

c. Kesuksesan atau keberhasilan

Keberhasilan yang dialami subjek ini jelas mempengaruhi

kemampuan dan usaha mereka dalam menerima diri dan

kondisinya, sesuai teori yang diungkapkan Hurlock ( 1974 ), bahwa

keberhasilan yang pernah dialami seseorang dapat menimbulkan

penerimaan diri,sedanglan kegagalan yang dialami dapat

menimbulkan penolakan atas diri. Hal ini juga dialami oleh S2 dan

S4, dimana penilaian atas kesuksesan yang mereka alami membuat

merasa dibatasi karena merasa meskipun mengalami sakit, mereka

tetap bisa meraih kesuksesan. Kemampuan yang terwujud dari

kesuksesan inilah yang menjadi tolak ukur mereka untuk lebih

mengembangkan kemampuan yang dimiliki.

d. Pola asuh demokratis

Pola asuh di masa kecil memberi pengaruh pada penerimaan diri

seseorang senada yang diungkapkan oleh Hurlock ( 1974 ), bahwa

mereka yang diasuh dengan gaya pengasuhan demokratis membuat

individu menjadi percaya diri, bertanggungjawab secara sosial, dan

cenderung menghargai diri sendiri. Seperti pada penelitian yang

pernah dilakukan oleh Rizkiana dan Rernaningsih tentang

penerimaan diri namun pada subjek penderita leukemia. Pada

penelitian tersebut dinyatakan bahwa pola asuh demokratis

berperan pada penerimaan diri sesorang dalam menghadapi kondisi

tertentu. Hal ini tampaknya sesuai dengan yang S1 dan S4 alami.

Seperti yang dialami oleh S1 dan S4 dimana dengan pola asuh

demokratis yang mereka terima, mampu menjadikan mereka

pribadi yang mandiri dan percaya diri sehingga mampu menerima

129 BAB V PENUTUP

A.Kesimpulan

Secara keseluruhan, semua subjek penderita glaukoma dalam

penelitian ini mengalami dampak secara fisik dan psikososial. Semua subjek

mengalami perubahan pada kondisi mata dan kemampuan penglihatan. Akibat

glaukoma, mereka juga mengalami permasalahan secara psikologis dimana

para subjek mengalami perasaan – perasaan negatif dan memiliki penilaian negatif terhadap diri. Hal ini merupakan bentuk dari penerimaan diri negatif

dari kelima subjek. Selain itu mereka juga mengalami permasalahan sosial

terkait dengan perubahan pola kerja dan aktivitas. Meski demikian, mereka

tetap berupaya untuk menerima diri dan kondisi yang mereka alami.

Kelima subjek melakukan emotion focused coping untuk mengurangi dampak psikososial yang dialami dan sebagai upaya penerimaan atas diri.

Bentuk emotion focused coping terkait dengan religiusitas dan perubahan pola pikir menjadi upaya penting terkait dengan proses penerimaan diri yang

mereka lakukan. Berbagai bentuk emotion focused coping yang dilakukan kelima subjek mampu membuat mereka mengalami perubahan secara positif

dalam hal perasaan dan pemikiran. Hal inilah yang membuat para subjek

seberjalannya dengan waktu mampu menerima diri dan kondisi yang mereka

alami. Emotion focused coping yang kelima subjek lakukan sebagai upaya dalam menerima dairi dan mengurangi dampak psikososial yang mereka alami,

dipengaruhi oleh dukungan sosial yang mereka peroleh, serta pada salah satu

subjek juga dipengaruhi oleh pola asuh demokratis di masa kecilnya.

Bentuk penerimaan diri positif atas kondisi mereka alami tampak dari

kemampuan mereka dalam mengevaluasi diri, kemampuan mengatur emosi

yang dirasakan, perilaku sosial yang baik, pengakuan atas kelemahan dan

kelebihan dalam diri, serta adanya harapan realistis yang mereka miliki.

Kemampuan penerimaan diri yang mereka miliki juga berdampak pada

penyesuaian terhadap diri dan penyesuaian secara sosial.

Penerimaan diri yang mereka miliki dipengaruhi oleh beberapa hal

yang berbeda, antara lain : dukungan sosial emosional terkait dengan harapan

yang subjek miliki, konsep diri yang stabil, kesuksesan atau keberhasilan, serta

pola asuh demokratis di masa kecil.

Dalam dokumen Penerimaan diri pada penderita glaukoma (Halaman 139-145)

Dokumen terkait