HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Deskripsi Penerimaan Diri
2. Faktor – Faktor yang mempengaruhi penerimaan diri
Penerimaan diri positif kelima subjek ditinjau dari upaya
menerima diri yang subjek lakukan dalam bentuk emotion focused coping hingga mampu memiliki penerimaan diri.
Pada penelitian ini emotion focused coping sebagai upaya penerimaan diri yang dilakukan subjek dipengaruhi oleh dukungan
sosial emosional dan pola asuh demokratis di masa kecil.
Berdasarkan hasil analisis, ditemukan bahwa ada subjek yang
memperoleh lebih dari tiga jenis dukungan sosial, yaitu dukungan
sosial informasi, emosional, dan instrumental. Akan tetapi, dukungan
sosial emosional lah yang paling berkontribusi dalam emotion focused coping maupun penerimaan diri kelima subjek.
Dukungan sosial emosional yang diterima kelima subjek ini
sesuai dengan yang diutarakan Cohen dan Syme ( dalam Gottlieb,
1988 ). Dimana mereka yang memperoleh dukungan sosial emosional
ini memdapatkan wujud empati dari lingkungan sosialnya berupa
pemahaman, pengertian akan kondisi dan keadaan, serta wujud
ekspresi kasih sayang lainnya seperti nasehat, kepedulian, saran, dan
pemberian semangat. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan positif antara dukungan
sosial keluarga dengan penerimaan diri.
Hal ini sesuai dengan dukungan sosial yang diperoleh S1,
dimana istri dan orangtuanya memahami apa yang ia alami, memberi
nasehat, perhatian, serta pedui dengan harapan yang ia miliki. Dengan
begitu S1 merasa keluarga mempedulikannya sehingga dengan
nasehat yang diberikan seperti mengingatkannya untuk berdoa
membuat subjek menjadi tenang menghadapi sakitnya.
Pada S2, dukungan sosial emosional yang diperolehnya dari
lingkungan berbentuk sebuah pengertian akan perasaan yang subjek
alami dan membantunya agar mampu menerima diri, nasehat untuk
bersabar menghadapi sakitnya.
S3 juga memperoleh dukungan sosial emosional seperti anak – anaknya yang menasehati subjek agar tenang dalam menghadapi sakit,
ketenangan lain juga diperoleh subjek didoakan oleh teman gereja
sehingga ia menjadi kuat menghadapi sakit. Nasehat dari anak – anak membuat subjek menerima keadaan karena keluarga mengajarkannya
untuk lebih ikhlas.
Pada S4,dukungan sosial emosional yang diperolehnya adalah
nasehat dan support dari orangtua dan teman – teman, yang membuatnya merasa dipedulikan, dipahami, dan mengajarkan agar
Lain halnya dengan S5, perhatian dan kepedulian keluarga
membuat rasa takutnya menghadapi masa depan menjadi berkurang.
Dukungan sosial yang kelima subjek terima mampu membuat
para subjek merasa berharga, nyaman, dan disayangi. Hal ini lah yang
membuat mereka menjadi mampu mengelola emosi,perasaan, dan
pikiran negatif sehingga mampu menerima diri.
Selain itu , emotion focused coping salah satu subjek yaitu S3 dipengaruhi oleh pola asuh demokratis di masa kecil, dimana pola
asuh di masa kecilnya inilah yang membuatnya menjadi pribadi yang
mandiri, kuat, dan tidak cengeng sehingga mampu menerima kondisi
yang dialami. Dengan begitu, subjek mampu mengurangi dampak
psikososial dan penilaian negatif atas diri yang dialaminya.
Setelah melakukan emotion focused coping sebagai upaya subjek dalam menerima diri dan mengurangi dampak psikososial yang
kelima subjek alami, maka mereka dapat menerima diri dan kondisi
yang mereka alami. Kemampuan penerimaan diri yang kelima subjek
miliki dipengaruhi oleh :
a. Dukungan Sosial Emosional
Dukungan sosial emosional mempengaruhi harapan yang kelima
subjek miliki. Tidak adanya hambatan dari lingkungan atas harapan
yang subjek miliki sesuai dengan yang Hurlock ( 1974 ) utarakan
dimana dukungan dan kesempatan dari lingkungan sekitar
tidak adanya halangan dari lingkungan sekitar, maka harapan orang
tersebut akan mudah tercapai.
b. Konsep Diri Stabil
Konsep diri yang stabil ini hanya dimiliki oleh dua dari lima subjek
dalam penelitian ini. Dimana menurut Hurlock ( 1974 ), mereka
memiliki konsep diri stabil tidak akan terkadang menyukai dirinya
dan terkadang tidak menyukainya. Hal ini ditegaskan oleh Feist dan
Feist ( 2010 ) , karena konsep diri yang sudah terbagun tidak
mungkin mengalami perubahan karena adanya penerimaan orang
lain. Konsep diri yang stabil dari kedua subjek yaitu S1 dan S4 ini
dapat dilihat dari konsep diri mereka yang tetap sama dari sebelum
mengalami sakit hingga saat ini sudah mengalami sakit glaukoma.
Mereka sama – sama tidak memiliki penilaian negatif atas diri mereka meskipun secara fisik mereka mengalami kekurangan.
c. Kesuksesan atau keberhasilan
Keberhasilan yang dialami subjek ini jelas mempengaruhi
kemampuan dan usaha mereka dalam menerima diri dan
kondisinya, sesuai teori yang diungkapkan Hurlock ( 1974 ), bahwa
keberhasilan yang pernah dialami seseorang dapat menimbulkan
penerimaan diri,sedanglan kegagalan yang dialami dapat
menimbulkan penolakan atas diri. Hal ini juga dialami oleh S2 dan
S4, dimana penilaian atas kesuksesan yang mereka alami membuat
merasa dibatasi karena merasa meskipun mengalami sakit, mereka
tetap bisa meraih kesuksesan. Kemampuan yang terwujud dari
kesuksesan inilah yang menjadi tolak ukur mereka untuk lebih
mengembangkan kemampuan yang dimiliki.
d. Pola asuh demokratis
Pola asuh di masa kecil memberi pengaruh pada penerimaan diri
seseorang senada yang diungkapkan oleh Hurlock ( 1974 ), bahwa
mereka yang diasuh dengan gaya pengasuhan demokratis membuat
individu menjadi percaya diri, bertanggungjawab secara sosial, dan
cenderung menghargai diri sendiri. Seperti pada penelitian yang
pernah dilakukan oleh Rizkiana dan Rernaningsih tentang
penerimaan diri namun pada subjek penderita leukemia. Pada
penelitian tersebut dinyatakan bahwa pola asuh demokratis
berperan pada penerimaan diri sesorang dalam menghadapi kondisi
tertentu. Hal ini tampaknya sesuai dengan yang S1 dan S4 alami.
Seperti yang dialami oleh S1 dan S4 dimana dengan pola asuh
demokratis yang mereka terima, mampu menjadikan mereka
pribadi yang mandiri dan percaya diri sehingga mampu menerima
129 BAB V PENUTUP
A.Kesimpulan
Secara keseluruhan, semua subjek penderita glaukoma dalam
penelitian ini mengalami dampak secara fisik dan psikososial. Semua subjek
mengalami perubahan pada kondisi mata dan kemampuan penglihatan. Akibat
glaukoma, mereka juga mengalami permasalahan secara psikologis dimana
para subjek mengalami perasaan – perasaan negatif dan memiliki penilaian negatif terhadap diri. Hal ini merupakan bentuk dari penerimaan diri negatif
dari kelima subjek. Selain itu mereka juga mengalami permasalahan sosial
terkait dengan perubahan pola kerja dan aktivitas. Meski demikian, mereka
tetap berupaya untuk menerima diri dan kondisi yang mereka alami.
Kelima subjek melakukan emotion focused coping untuk mengurangi dampak psikososial yang dialami dan sebagai upaya penerimaan atas diri.
Bentuk emotion focused coping terkait dengan religiusitas dan perubahan pola pikir menjadi upaya penting terkait dengan proses penerimaan diri yang
mereka lakukan. Berbagai bentuk emotion focused coping yang dilakukan kelima subjek mampu membuat mereka mengalami perubahan secara positif
dalam hal perasaan dan pemikiran. Hal inilah yang membuat para subjek
seberjalannya dengan waktu mampu menerima diri dan kondisi yang mereka
alami. Emotion focused coping yang kelima subjek lakukan sebagai upaya dalam menerima dairi dan mengurangi dampak psikososial yang mereka alami,
dipengaruhi oleh dukungan sosial yang mereka peroleh, serta pada salah satu
subjek juga dipengaruhi oleh pola asuh demokratis di masa kecilnya.
Bentuk penerimaan diri positif atas kondisi mereka alami tampak dari
kemampuan mereka dalam mengevaluasi diri, kemampuan mengatur emosi
yang dirasakan, perilaku sosial yang baik, pengakuan atas kelemahan dan
kelebihan dalam diri, serta adanya harapan realistis yang mereka miliki.
Kemampuan penerimaan diri yang mereka miliki juga berdampak pada
penyesuaian terhadap diri dan penyesuaian secara sosial.
Penerimaan diri yang mereka miliki dipengaruhi oleh beberapa hal
yang berbeda, antara lain : dukungan sosial emosional terkait dengan harapan
yang subjek miliki, konsep diri yang stabil, kesuksesan atau keberhasilan, serta
pola asuh demokratis di masa kecil.