SYARIAH DI KOTA MEDAN A. Proses Perkembangan Asuransi Syariah
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Perkembangan Asuransi Syariah di Kota Medan Perusahaan asuransi syariah di kota Medan ber-kembang secara cukup signifikan dalam empat tahun terakhir. Berdasarkan hasil wawancara peneliti, terdapat 8 (delapan) faktor yang mempengaruhi perkembangan asuransi syariah di kota Medan, yaitu:
1. Jumlah penduduk yang besar dan mayoritas muslim
Medan sebagai salah satu kota besar dengan jumlah penduduk yang besar dan mayoritasnya beragama Islam nampaknya menjadi salah satu faktor pendukung berkembangnya asuransi syariah. Jumlah perusahaan dalam bentuk pembukaan kantor cabang asuransi syariah, kantor layanan asuransi syariah, maupun keagenan yang menjual produk asuransi syariah yang terus bertambah menunjukkan adanya hubungan yang positif antara pertumbuhan asuransi syariah dengan pasar yang masih terbuka luas. Data Depkeu menunjukkan bahwa asuransi syariah baru dapat menggarap 1,2% sampai 1,5% dari pangsa pasar asuransi nasional yang mencapai 10%-20% dari jumlah penduduk Indonesia. Menurut para informan, kota Medan termasuk dalam skala maksimal bila diukur dari pencapaian market share asuransi syariah secara nasional.
2. Peranan ulama dalam membantu sosialisasi asuransi syariah
Sebagai salah satu lembaga keuangan syariah, asuransi syariah tidak terlepas dari peran ulama sebagai pemilik otoritas di bidang syariah. Salah satu ciri dari lembaga keuangan syariah adalah kewajiban adanya Dewan Pengawas Syariah (DPS) di lembaga tersebut.
Dalam hal ini, salah seorang informan menegaskan, “Menurut saya mas yang utama itu faktor ulama. Kita nggak boleh jauh-jauh dari ulama, asuransi syariah ini
gak lepas dari urusan syariah, dan ulama berperan di situ. Makanya peran MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan DPS (Dewan Pengawas Syariah) sangat kuat di situ”.
DPS bertugas mengawasi kegiatan usaha lembaga keuangan syari’ah agar sesuai dengan ketentuan dan prinsip syari’ah yang telah difatwakan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI). Sedangkan fungsi utamanya adalah sebagai penasehat dan pemberi saran kepada direksi, pimpinan unit usaha syari`ah dan pimpinan kantor cabang syari`ah mengenai hal-hal yang terkait dengan aspek syari`ah dan sebagai mediator antara LKS dengan DSN dalam mengkomunikasikan usul dan saran pengembangan produk dan jasa dari LKS yang memerlukan kajian dan fatwa dari DSN. DPS ini secara organisasi bertanggung jawab kepada DSN MUI pusat, kredibilitasnya kepada masyarakat, dan secara moral bertanggung jawab kepada Allah Swt.43
3. Faktor Regulasi
Salah satu pendukung pertumbuhan asuransi syariah juga berkaitan dengan ketentuan Pasal 6 ayat (2) PP No. 39 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas PP No. 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian, yaitu modal minimum bagi pendirian perusahaan asuransi berdasarkan prinsip syariah adalah Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah), modal pendirian ini lebih kecil daripada modal pendirian perusahaan asuransi secara konvensional sebesar Rp. 100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah). Modal
43Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta: Prenada Kencana Media Group, Cetakan Keempat, 2014), h. 43.
pendirian yang lebih sedikit ini membuat pertumbuhan asuransi syariah mempunyai peluang lebih besar, karena dimungkinkan bagi munculnya perusahaan-perusahaan baru di bidang asuransi syariah.
Terbukanya peluang membuka agency tanpa terlebih dahulu membuka kantor cabang membuat penetrasi bisa segera dilakukan tanpa menunggu pembukaan kantor cabang di daerah. Realitas inilah yang ternyata cukup mendominasi pertambahan perusahaan asuransi syariah di kota Medan setelah kehadiran PT. Asuransi Takaful Keluarga dan PT. Asuransi Takaful Umum. Berdasarkan hasil wawancara dengan para praktisi asuransi syariah,di Medan, beberapa di antara perusahaan asuransi yang membuka kantor cabang di Medan telah terlebih dahulu menjual produk asuransi syariahnya dengan sistem keagenan (agency system), termasuk di antaranya AJB Bumi Putera Syariah 1912.
4. Jiwa enterprenuer para pelaku asuransi syariah yang kuat
Bisnis asuransi membutuhkan pemasar (marketer) yang memiliki jiwa entrepreneur yang tangguh dan tidak pantang menyerah. Salah satu di antara faktor pendukung perkembangan asuransi syariah di kota Medan adalah jiwa enterpreneur pada pelaku asuransi syariah yang kuat. Kekuatan enterprenuer para pelaku asuransi syariah tidak sekedar didasarkan pada motif memburu profit sebesarbesarnya, tetapi juga didasarkan pada semangat dakwah memperjuangkan amalan syariah Islam.
Oleh karenanya, pelaku asuransi syariah tidak melihat usaha asuransi ini sekadar bisnis hampa tanpa nilai, melainkan juga terselip di dalamnya misi dakwah yang cukup menantang. Hal ini seperti pernyataan salah seorang informan, “Dari Jakarta mas, imagenya Medan ini non muslim, jadi katanya gak mungkin asuransi syariah bisa dikembangkan di sini. Tapi kita kan tahu tahu sendiri Medan ini macam mana. Ini tantangan juga buat kita. Kita melihat selama ini sistem konvensional aja bisa berkembang, masak sistem dari Tuhan tidak bisa jalan. Jadi kita juga ya bismillah aja. Pokoknya kita yakin aja mas”.
Pengembangan jiwa enterprenur memang sangat dibutuhkan, apalagi bisnis ini juga membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat kota Medan di tengah kesulitan mencari pekerjaan. Jenjang karir di perusahaan asuransi memang secara umum bertingkat mulai dari tingkat paling bawah sebagai marketer (agen). Setelah itu secara alami akan terseleksi dan bisa masuk ke birokrasi perusahaan sesuai dengan kebijakan perusahaan.
Para praktisi asuransi syariah menegaskan bahwa peluang bekerja di asuransi syariah masih terbuka lebar, mengingat tidak mudah mencari pekerjaan di masa sekarang ini. Hal ini senada dengan ungkapan salah seorang informan yang menegaskan, “Semangat enterpreneur juga kita kembangkan. Inikan lapangan pekerjaan juga. Banyak anggota saya ini yang dulu gak kepikiran kerja di asuransi tapi sekarang mereka udah keenakan kerja di sini.”
5. Dukungan dari kantor pusat
Faktor pendukung lainnya yang ikut mendorong pertumbuhan asuransi syariah di kota Medan, adalah adanya dukungan yang kuat dari kantor pusat. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa dalam pembukaan kantor cabang asuransi syariah di kota Medan, dukungan kantor pusat dalam hal penyediaan fasilitas kantor dan berbagai insentif lainnya juga diakui memberikan kontribusi yang cukup penting bagi pengembangan usaha asuransi syariah. Selain itu, kantor pusat juga memberikan fasilitas pengembangan Sumber Daya Insani (SDI) di bidang pemahaman asuransi syariah melalui pelatihan yang umumnya berlangsung selama 3 (tiga) bulan. Demikian pula di beberapa asuransi syariah, biasa terjadi mutasi di tingkat manajer yang umumnya berasal dari kantor pusat untuk diperbantukan mengembangkan cabang asuransi syariah di kota Medan.
6. Keragaman produk dan inovasi yang tidak kalah bersaing dengan produk asuransi konvensional.
Produk yang beragam dan inovasi yang diciptakan dalam memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam memanfaatkan jasa asuransi syariah diakui menjadi salah satu faktor yang mendukung pengembangan asuransi syariah.
Produk-produk dasar dan produk berdasarkan obyek dalam asuransi syariah, masih terus dikembangkan agar senantiasa mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Oleh karenanya makin beragam produknya makin terbuka peluang untuk memperluas segmentasi pasarnya. Inovasi juga menjadi salah satu kunci untuk memberikan kemudahan kepada para peserta agar mampu memberikan layanan prima. Salah seorang informan menuturkan, “Salah satu inovasi kita menerbitkan kartu Swap. Kartu ini kartu askes yang bentuknya seperti kartu ATM. Jadi kalau peserta kita masuk rumah sakit, dia tinggal gesek aja ke counter yang sudah disediakan di rumah sakit rekanan kita.” Berbagai inovasi yang memberikan kemudahan yang dirasakan oleh peserta, tentu saja diharapkan akan mampu meningkatkan market share asuransi syariah.
7. Adanya sinergi dengan perbankan
Praktisi asuransi syariah juga menegaskan bahwa salah satu faktor pendukung perkembangan asuransi syariah di kota Medan adalah adanya sinergi dengan perbankan. Dalam hal ini salah seorang informan menyebutkan, “Kita juga menyediakan beberapa produk yang bekerjasama dengan perbankan. Ada produk kita yang bisa dibuka di bank, jadi peserta cukup menyetor dananya (iuran) di bank. Bank juga bisa dapat keuntungan dari dana peserta yang mengendap di sana.”
Sinergi dengan perbankan juga dapat dilakukan dalam bentuk kuasa untuk mendebet secara langsung rekening peserta, sehingga peserta tidak lagi repot harus datang ke kantor cabang asuransi syariah untuk membayarkan iuran bulanannya. Secara otomatis pihak perbankan di mana rekening tabungan peserta berada mendebetkan iuran peserta untuk ditransfer
ke perusahaan asuransi syariah. Kemudahan ini tentu akan memberikan rasa nyaman peserta dan bagian dari layanan prima yang diberikan kepada peserta.
Ada pula program asuransi yang secara khusus dirancang bagi debitur suatu lembaga pemberi pembiayaan seperti bank atau Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Manfaat yang diberikan adalah jaminan pelunasan pembiayaan/kredit seperti Kredit Kepemilikan Rumah (KPR), Kredit Kepemilikan Mobil (KPM), Pinjaman Modal Kerja, apabila peserta mengalami musibah yang menyebabkan meninggal dunia dalam masa asuransi.
Sinergi yang dibangun ini memperkuat sosialisasi asuransi syariah ke tengah-tengah masyarakat. Dengan adanya sinergi dengan perbankan, maka kedua belah pihak bisa sama-sama memperluas pasar masing-masing.
8. Kondisi Ekonomi Nasional dan Lokal
Salah seorang informan mengakui bahwa kondisi ekonomi baik nasional maupun lokal turut mempengaruhi perkembangan asuransi syariah di kota Medan. Salah seorang informan menegaskan, “Dari sisi ekonomi juga kalau PAD (Pendapatan Asli Daerah) bagus, secara otomatis perkembangan asuransi jiwa juga akan bagus, jadi ada hubungan positif di situ.”
Dengan demikian, apabila daya beli masyarakat baik tentu permintaan terhadap asuransi syariah juga diharapkan akan juga baik. Perbaikan daya beli masyarakat tentu saja ditentukan dari tingkat
pendapatan. Bila kondisi ekonomi nasional dan lokal bagus, maka tingkat pendapatan masyarakat juga bagus yang juga menjadi indikasi daya beli masyarakat juga baik.
D. A