MENYEBAB-KAN ISTERI BERTAHAN DALAM
PERKAWINAN POLIGINI
Ada beberapa faktor yang menyebabkan para subjek bertahan dalam perkawinan poligini. Faktor-faktor tersebut ada faktor utama dan faktor pendukung. Untuk lebih jelasnya apa yang menjadi faktor utama dan faktor pendukung dapat dipaparkan sebagai berikut:
1. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Subjek 1 Bertahan dalam Perkawinan Poligini
Ada beberapa faktor yang
menyebabkan subjek 1 bertahan dalam perkawinan poligini. Pemahaman subjek 1 tentang poligini yang dianggapnya sebagai
92
hak suaminya. Poligini itu diperbolehkan
asalkan sanggup. Agama juga
memperbolehkan poligini asalkan suami bisa adil terhadap isteri-isteri dan anak-anaknya. Subjek 1 juga mengangap bahwa ia ikhlas dengan ketentuan Allah, subjek 1 berharap, mudah-mudahan kesabaran dan keikhlasan akan membawanya ke surga.
Perkawinan subjek 1 dengan suaminya sudah berlangsung 21 tahun. Mereka memiliki 7 (tujuh) orang anak, 4 (empat) putera dan 3 (tiga) puteri. Ketujuh anak-anak mereka inilah agaknya yang juga menjadi perekat perkawinan mereka. subjek 1 mengaku kasian kalau anak-anaknya tidak memiliki orangtua lengkap (ayah dan ibu). Kasian juga kalau mereka diolok-olok teman-temannya bila orangtuanya bercerai. Anak pertama sudah sekolah di tingkat aliyah, sedang yang kecil masih usia 7 (tujuh) bulan. Dari anak-anaknya, anak kedua sering menghindar dari bapaknya, menurut subjek 1, anaknya ini malu dengan poligini yang dijalani bapaknya. Ia pendiam dan sering murung. Anak-anaknya yang lain sepertinya biasa saja. Di samping itu
93
suaminya sangat sayang kepada anak-anak mereka.
Selain masalah anak, faktor ekonomi juga menjadi salah satu faktor subjek 1 bertahan dalam perkawinan poligini. Secara ekonomi, subjek 1 merasa nyaman dengan kehidupan sekarang. Suaminya memberikan
kepercayaan penuh kepadanya untuk
mengelola usaha dagang mereka, bahkan
madunya sekarang atau isteri muda
suaminya sekarang tinggal dalam satu rumah dan ikut pula berdagang bersamanya. Kalau harus bercerai subjek 1 mengaku bingung untuk bekerja apa, sementara ia dan anak-anak membutuhkan banyak biaya untuk keperluan hidup dan pendidikan bagi anak-anaknya.
Pada akhir pembicaraan subjek 1 mengaku tidak siap menjadi janda karena perceraian. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa menjadi janda itu banyak susahnya. Selain urusan anak-anak dan masalah nafkah. Janda juga sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat sekitar. Pulang malam salah, ada tamu laki-laki ke rumah salah, ya serba salah.
94
Subjek 1 juga mengaku cinta dan sayang kepada suaminya, sekalipun suami sudah menyakitinya berkali-kali, tetapi subjek 1 dapat memaafkan. Menurutnya, cinta itu merupakan hal yang sulit
dimengerti, karena cinta dan kasih
sayangnya kepada suami ia rela dimadu di samping beberapa faktor di atas.
Dengan demikan kita dapat
mengetahui bahwa faktor utama yang menyebabkan subjek 1 bertahan dalam perkawinan poligini adalah faktor agama, faktor anak dan faktor ekonomi, sedang faktor pendukungnya adalah faktor masih cinta dan faktor status janda yang disandang bila terjadi perceraian.
2. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Subjek 2 Bertahan dalam Perkawinan Poligini
Apa sebenarnya yang menyebabkan
subjek 2 mampu bertahan dalam
perkawinan poligini. Menurutnya, setiap ibu pasti sayang kepada anak-anaknya. Kasian anak-anak, bapaknya sudah begitu. Tetapi lebih kasihan lagi kalau anak-anak tidak ada bapaknya. Untuk itu subjek 2
95
berusaha untuk bertahan, sabar, tabah, ikhlas dalam menjalani hidup berpoligini.
Subjek 2 juga sangat sayang dan hormat kepada orangtua dan mertua yang selalu menasehati dan menyabarinya, serta adik-adik kandung dan adik-adik iparnya
yang membutuhkannya. Kalau bukan
karena mereka, mungkin subjek 2 sudah lama berpisah dengan suaminya. Mertuanya bahkan sangat marah kepada suaminya. Mertuanya menyatakan bahwa yang anak kami itu adalah subjek 2. Makanya, kalau bukan karena mereka subjek 2 mengaku mungkin ia dan anak-anaknya akan pergi jauh meninggalkan suami dan keluarga besarnya.
Subjek 2 juga menjaga harga dirinya dan suaminya di tengah masyarakat. Bertahan dalam kehidupan poligini lebih baik bagi subjek 2 dibandingkan bercerai. Bagi masyarakat kalau perceraian terjadi berarti suaminya tak mampu mendidik dan bertanggung jawab terhadap keluarganya. Kalau bercerai berarti juga subjek 2 kalah terhadap madunya. Ini bukan memalukan bagi subjek 2 dan suaminya, tetapi juga memalukan bagi keluarganya besarnya.
96
Tidak hanya itu, subjek 2 juga mengaku malu dengan predikat janda. Menjadi janda sangat tidak enak dan serba salah, walaupun kita orang baik-baik saja. Apalagi di kampung, janda dianggap ancaman bagi para isteri, karena banyak isteri yang takut kalau suami mereka tergoda oleh janda.
Subjek 2 pada akhirnya menyatakan bahwa hal yang utama adalah ikhlas dan sabar dalam kehidupan perkawinan poligini
karena Allah membolehkan laki-laki
berpoligini dengan syarat adil. Tetapi pada kasusnya, ia tidak mempermasalahkan masalah itu lagi. Yang penting baginya ia berbuat baik pada suami dan madunya
semampu ia bisa. Subjek 2 juga
menyatakan kasih dan sayang kepada suaminya, walaupun dulu ia sempat marah dan membencinya.
Faktor utama yang menyebabkan
subjek 2 mampu bertahan dalam
perkawinan poligini adalah faktor anak dan faktor agama, sedangkan faktor ketidak sanggupan menyandang status janda dan faktor masih kasih dan sayang kepada
97
suami sebagai faktor pendukung subjek 2 bertahan dalam perkawinan poligini.
3. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Subjek 3 Bertahan dalam Perkawinan Poligini
Seperti disebutkan di atas bahwa subjek 3 adalah seorang perempuan
berhijab tamatan MAN. Dengan
pengetahuan yang dimilikinya subjek 3 memahami bahwa agama memperbolehkan untuk berpoligini. Di samping itu agama juga mewajibkan seorang isteri untuk taat kepada suami. Maka ketika suaminya meminta untuk berpoligini subjek 3 dapat menerima dan bertahan dalam perkawinan poligami.
Sebagai seorang bapak suaminya sangat menyayangi anak-anak. Seperti halnya subjek 3, madunya sebagai ibu tiri banyak terlibat di dalam menjaga dan mengasuh anak-anak. Anak-anak sendiri
sayang kepada ibu tirinya dan
memanggilnya dengan sebutan kakak. Bagi subjek 3 kenyataan ini menjadi salah satu
alasan untuk mempertahankan rumah
tangganya dalam perkawinan poligini yang dilakukan suaminya.
98
Secara ekonomi kehidupan keluarga subjek 3 jauh lebih baik dari sebelumnya. Sekarang kedua isteri suaminya masing sudah memiliki rumah masing-masing yang jaraknya berdekatan. Memiliki mobil dan motor untuk alat transportasi bersama. Terpenuhinya kebutuhan ekonomi keluarga ini membuat subjek 3 mensyukuri dan merasa nyaman dalam kehidupan perkawinan poligini. Menurut subjek 3, dalam kehidupan poligini banyak nikmat yang Allah berikan kepada keluarganya. Kalau kita melaksanakan agama Allah dan menolong sesama, maka Allah pun pasti menolong kita.
Bersuamikan seorang PNS (dosen) sekaligus da’i atau penceramah membuat
subjek 3 mempertimbangkan status
suaminya di mata jamaah dan masyarakat secara umum. Menjaga nama baik suami di mata umat adalah kewajiban isteri. Selama suami tidak melakukan hal yang dilarang agama subjek 3 menyatakan akan nerusaha untuk selalu mendukung, sekalipun dalam
masalah yang sangat sulit seperti
permintaan berpoligini. Dengan kesabaran dan keikhlasan dalam taat dan patuh kepada
99
suami, subjek 3 merasakan suami lebih
sayang kepadanya dan begitu pula
sebaliknya, sehingga subjek 3 merasakan lebih bahagia dari sebelumnya.
subjek 3 menyatakan ikhlas berbagi kebahagiaan dengan madunya. Madunya sendiri memang perempuan yang baik dan tahu posisinya serta dapat menempatkan diri dengan tepat di dalam perkawinan poligini mereka. Keluarga ini memang terlihat bahagia. Subjek 3 tidak pernah
membayangkan untuk meminta cerai
dirinya atau meminta suami menceraikan madunya.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa subjek 3 bertahan dalam perkawinan poligini disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor utama adalah faktor agama, faktor anak dan faktor ekonomi, sedang faktor pendukungnya adalah faktor cinta dan sayang kepada suaminya dan faktor status suaminya sebagai PNS (dosen) sekaligus da’i atau penceramah.