BAB II TINJAUAN TEOR
4. Faktor-faktor Motivasi
Motivasi timbul karena dua faktor yaitu yang berasal dari dalam manusia atau faktor internal dan faktor yang berasala dari luar individu atau faktor eksternal. Faktor dari dalam individu adalah:
a. Minat. Seseorang akan terdorong melakukan sesuatu bila sesuai dengan minat pribadinya.
b. Sifat positif. Seseorang yang mempunyai sifat positif terhadap suatu kegiatan dengan rela ikut dalam kegiatan tersebut dan akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikan tugas tersebut.
c. Kebutuhan. Setiap orang mempunyai kebutuhan tertentu dan akan berusaha melakukan kegiatan apapun asal kegiatan tersebut dapat memenuhi kebutuhannya.39
38
Menurut F Herzberg dalam Simon Devung ada dua faktor utama dalam organisasi (faktor eksternal) yang membuat pegawai merasa puas dan kepuasan tersebut akan mendorong mereka untuk melakukan yang lebih baik lagi dalam bekerja. Faktor tersebut adalah:
a. Motivator.
Motivator adalah prestasi kerja, penghargaan, tanggung jawab yang diberikan, kesempatan untuk mengembangkan diri dan pekerjaannya.
b. Faktor Kesehatan Kerja.
Faktor kesehatan kerja merupakan kebijakan dan administrasi perusahaan yang baik, supervisi yang memadai, gaji yang memuaskan, kondisi kerja yang baik atau iklim yang baik serta perhatian terhadap keselamatan kerja.40
Dalam teori pengharapan yang dikemukakan oleh Victor Vroom, motivasi kerja sangat ditentukan oleh tujuan khusus yang akan dicapai oleh orang yang bersangkutan. Harapan yang ingin dicapai adalah:
a. Gaji yang sesuai.
b. Keamanan kerja yang terjamin. c. Pengakuan atau status.
d. Perlakuan adil.
e. Pimpinan yang jujur dan berwibawa. f. Iklim kerja atau suasana yang menarik.
39
Simon Devung, Pengantar Ilmu Administrasi dan Manajemen (Jakarta: DEPDIKBUD, 1989), h. 108.
40
g. Jabatan yang menarik.
5. Prinsip-Prinsip Dalam Motivasi
Terdapat beberapa prinsip dalam memotivasi pegawai atau pekerja, yaitu: a. Prinsip partisipasi
Dalam upaya memotivasi kerja atau usaha, pegawai atau pekerja perlu diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam menentukan tujuan yang akan dicapai oleh pemimpin.
b. Prinsip komunikasi
Pemimpin mengkomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan usaha pencapaian tugas dengan informasi yang jelas pegawai atau pekerja akan lebih mudah dimotivasi kerjanya.
c. Prinsip mengakui andil bawahan
Pemimpin mengakui bahwa bawahan (pegawai atau pekerja) mempunyai andil didalam usaha pencapaian tujuan. Dengan pengakuan tersebut, pegawai atau pekerja akan lebih mudah dimotivasi kerjanya.
d. Prinsip pendelegasian wewenang
Pemimpin yang memberikan otoritas atau wewenang kepada pegawai atau pekerja untuk sewaktu-waktu dapat mengambil keputusan terhadap pekerjaan yang dilakukannya akan membuat pegawai yang bersangkutan menjadi termotivasi untuk mencapai tujuan yang diharapkan oleh pemimpin.
e. Prinsip memberi perhatian
Pemimpin memberikan perhatian terhadap apa yang diinginkan pegawai bawahan, akan memotivasi pegawai bekerja apa yang diharapkan oleh pemimpin.41
6. Metode Motivasi
Terdapat dua metode motivasi, yaitu motivasi langsung dan motivasi tidak langsung.
a. Motivasi langsung (Direct Motivation)
Motivasi langsung adalah motivasi (materiil dan non materiil) yang diberikan secara langsung kepada setiap individu karyawan utuk memenuhi kebutuhan serta kepuasannnya. Jadi sifatnya khusus, seperti pujian, penghargaan, tunjangan hari raya, bonus dan bintang jasa.
b. Motivasi tak langsung (Indirect Motivation)
Motivasi tak langsung adalah motivasi yang diberikan hanya merupakan fasilitas-fasilitas yang mendukung serta menunjang gairah kerja sehingga para karyawan betah dan bersemangat melakukan pekerjaannya.
Kedua jenis motivasi ini memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mendukung adanya usaha peningkatan produktivitas kerja.
41
A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, Evaluasi Kinerja SDM (Bandung: PT. Refika Aditama, 2005), h. 61.
B. Pengertian Produktivitas
Setiap organisasi baik itu berbentuk perusahaan maupun lainnya akan berusaha agar para anggota atau pegawainya yang terlibat dalam kegiatan organisasi dapat membantu memberikan prestasi dalam bentuk produktivitas kerja yang tingi untuk mewujudkan target bersama yang telah ditetapkan. Pengertian produktivitas itu sendiri dapat dibahas dari berbagai perspektif. Produktivitas kerja merupakan istilah yang sering digunakan dalam perencanaan pengembangan industri pada khususnya dan perencanaan pengembangan nasional pada umumnya. Pengertian produktivitas pada umumnya lebih dikaitkan dengan pandangan produksi dan ekonomi. Tidak dapat diingkari bahwa pada akhirnya apapun yang dihasilkan melalui kegiatan organisasi dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat termasuk didalamnya tenaga kerja itu sendiri.
Kopelman secara lebih luas mengartikan produktivitas sebagai suatu konsepsi sistem, yang di dalam wujudnya diekspresikan sebagai rasio yang merefleksikan bagaimana sumberdaya-sumberdaya yang ada dimanfaatkan secara efisien untuk menghasilkan keluaran. Konsepsi ini bersifat kontekstual sehingga dapat diterapkan pada berbagai kondisi, baik pada suatu organisasi, industri, maupun pada perekonomian secara nasional.
Konsepsi mengenai produktivitas hendaknya tidak saja mengacu kepada jumlah keluaran, melainkan juga terhadap berbagai faktor yang dapat mempengaruhi proses pencapaian produktivitas itu sendiri sehingga antara
produktivitas, efisiensi, dan efektivitas merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan. Produktivitas bukan saja hasil akan tetapi juga sumbangan proses yang efektif dan efisien.
Agama mengajarkan dan menganjurkan produktivitas yang tinggi untuk meraih keberuntungan dunia dan akhirat. Produktivitas dibangun di atas sembilan prinsip secara integratif yaitu niat (motivasi) yang benar, kejujuran, amanah, menepati janji, disiplin, taat aturan, memiliki etos kerja yang tinggi, visioner dan sabar. Manusia yang produktif dalam pandangan Agama adalah manusia yang memiliki niat (motivasi) kerja yang benar, jujur, amanah, menepati janji, disiplin, taat peraturan, memiliki etos kerja yang tinggi, visioner dan sabar.42
Kita semua membutuhkan produktivitas. Organisasi pemerintah, organisasi sosial, organisasi politik, organisasi rumah tangga, terlebih organisasi bisnis sangat menginginkan organisasinya dapat berjalan secara produktif menghasilkan barang, jasa, pelayanan bagi semua pihak (stake holder). Oleh sebab itu menjadi tuntutan setiap pemimpin organisasi harus membuat semua faktor produksi atau kekayaan organisasi dikelola secara baik dan benar yang akhirnya didapatkan hasil yang efektif dan efisien atau yang produktif.
Menurut Basu Swastha dan Ibnu Sukotjo produktivitas adalah sebuah proses yang menggambarkan hubungan antara hasil baik berupa barang atau pun jasa dengan sumber yaitu jumlah tenaga kerja, modal, tanah, energi dan sebagainya yang dipakai untuk menghasilkan hasil tersebut.43
42
http://www.supardi-siho.com/produktivitas-kerja.html 43
Basu Swastha. Dh dan Ibnu Sukotjo W, Pengantar Bisnis Modern (Yogyakarta: Liberti, 1995), h. 281.
Sedangkan George J. Washinis berpendapat dalam buku Rusli Syarif memberi pendapat bahwa produktivitas mencakup dua konsep dasar yaitu daya guna dan hasil guna. Daya guna menggambarkan tingkat sumber-sumber manusia, dana dan alam yang diperlukan untuk mengusahakan hasil tertentu. Sedangkan hasil guna menggambarkan akibat dan kualitas dari hasil yang diusahakan.44
Lalu konsep produktivitas menurut Komarudin adalah pada hakekatnya meliputi yang senantiasa mempunyai pandangan bahwa metode kerja hari ini harus lebih baik dari metode kerja kemarin dan hal yang harus diraih esok secara kuantitas harus lebih banyak dan lebih bermutu dari pada hari kemarin.45
Menurut Sondang P. Siagian, produktivitas kerja adalah kemampuan memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari sarana dan prasarana yang tersedia dengan menghasilkan output yang optimal.46
Menurut Handari Nawawi dan Kartini Handari, menjelaskan secara konkrit konsep produktivitas kerja sebagai berikut:
1. Produktivitas kerja merupakan perbandingan terbaik antara hasil yang diperoleh dengan jumlah kerja yang dikeluarkan. Produktivitas kerja dikatakan tinggi jika hasil yang diperoleh lebih besar dari pada sumber tenaga kerja yang digunakan atau sebaliknya.
2. Produktivitas yang diukur dari daya guna (efisiensi penggunaan tenaga kerja atau pegawai). Produktivitas ini digambarkan dari ketepatan penggunaan metode cara kerja dan alat penunjang lainnya, sehingga volume dan beban
44
Rusli Syarif, Produktivitas (Jakarta: DEPDIKBUD, 1991), h. 1. 45
Komaruddin, Manajemen Pengawasan Kualitas Terpadu Suatu Pengantar (Jakarta: Rajawali Press, 1992),h. 121.
46
Sondang P. Siagian, Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h. 15.
kerja dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang tersedia. Hasil yang diperoleh bersifat non material yang tidak dapat diukur dengan uang, sehingga produktivitas hanya digambarkan melalui efisiensi personal dalam pelaksanaan tugas-tugas pokoknya.
Produktivitas mengandung pengertian berkenaan dengan konsep ekonomis dan filosofis, produktivitas berkenaan dengan usahauntuk menghasilkan barang maupun jasa yang berguna untuk pemenuhan hidup manusia.
Sebagai konsep filosofis, produktivitas mengandung pandangan hidup dan sikap mental yang selalu berusaha untuk meningkatkan mutu kehidupan dimana keadaan hari ini harus lebih baik dari kemarin. Hal ini yang memberi untuk mendorong untuk berusaha dan mengembangkan diri.47
Produktivitas pada umumnya mencakup sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa kehidupan hari ini harus lebih baik dari yang kemarin begitu juga dengan cara kerja yang harus lebih baik dari hari kemarin dan hasil kerja yang harus dicapai esok harus lebih baik dari pada hari ini.48 Sehingga dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa didalam produktivitas kerja terdapat unsur pokok yang merupkan kriteria untuk menilainya. Ketiga unsur tersebut adalah semangat kerja, cara kerja dan hasil kerja.
Semangat kerja dapat diartikan sebagai sikap mental para pegawai dalam melaksanakan tugasnya, dimana sikap mental ini ditunjukan seseorang dengan kegairahan dalam melaksanakan tugas sehingga mereka lebih bekerja produktif.
47
Handari Nawawi, Administrasi Personil Untuk Peningkatan Produksi Kerja (Jakarta: Haji Masagung, 1990) h. 97-98.
48
Payman J. Simanjuntak, Tenaga Kerja, Produktivitas dan Kecenderungan (Jakarta: Siup, 1987), h. 34-35.
Bila hal demikian dijaga secara berkesinambungan maka akan lebih meningkatkan produktivitas. Dan untuk menilai semangat kerja seseorang dapat dilihat dari tanggung jawabnya. Alfred R. Lateiner dan LE. Levine mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mempunyai semangat kerja yaitu kesadaran akan tanggung jawab akan pekerjaannya.49
Unsur kedua dari produktivitas kerja adala cara kerja seseorang. Cara kerja atau metode kerja seseorang dapat dilihat dari kesediaan pegawai melaksanakan pekerjaan secara efisien dan efektif.
Unsur ketiga dari produktivitas adalah hasil kerja. Hasil merupakan hasil yang diperoleh dari pekerjaan yang dilaksanakan pegawai berupa frekuensi kuota diatas standar yang ditetapkan. Hal ini menandakan bahwa pegawai tersebut produktif dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Hasil kerja merupakan sebuah prestasi.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa produktivitas kerja pegawai dapat diukur dari semangat yang tercermin dari pegawai untuk setiap pekerjaan atau tugas yang dibebankan kepadanya dengan selalu berdasarkan keefektifan dan efisiensi sehingga mendapatkan hasil optimal.
Sedangkan menurut Whitemore:
Productivity is measure of the use of resources of an organization and is usually expressed as a ratio of the output obtained by the use resource to the amount of resources employed.
49
Alfred R Lateiner dan JE. Lavine, Teknik Memimpin Pegawai dan Pekerja (Jakarta: Aksara Baru, 1983), h. 57.
Jadi Whitemore memandang produktivitas sebagai suatu ukuran atas penggunaan sumber daya dalam suatu organisasi yang biasanya dinyatakan sebagai rasio dari keluaran yang dicapai dengan sumber daya yang digunakan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa pengertian produktivitas memiliki dua dimensi, yakni efektivitas dan efisiensi. Dimensi pertama berkaitan dengan pencapaian unjuk kerja yang maksimal yang berarti berkaitan dengan pencapaian unjuk kerja yang maksimal, dalam artian pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas dan waktu. Sedangkan dimensi kedua berkaitan dengan upaya membandingkan masukan dengan realisasi penggunaan atau bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan atau direalisasikan.50
Dari beberapa teori diatas dapat peneliti simpulkan bahwa produktivitas kerja adalah suatu sikap atau kemampuan untuk melakukan kegiatan sehingga menghasilkan suatu barang atau jasa dengan standar mutu yang ditetapkan, volume yang melebihi target dan dengan waktu yang relatif lebih singkat.