• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

A. Kepercayaan Diri

4. Faktor-faktor Pembentuk Kepercayaan Diri…

Menurut Hakim (2002) gejala rasa percaya diri dimulai dari adanya kekuatan dalam diri. Kekuatan dalam diri mempunyai pengaruh yang sangat luas dan berkaitan dengan kehidupan di dalam keluarga sejak masa kecil. Rasa percaya diri akan memacu seseorang dalam mencapai berbagai tujuan dalam hidupnya seperti mencapai prestasi dalam bidang tertentu. Iswidharmanjaya (2004) mengemukakan pendapat yang sama dan membuat pembagian secara terpisah dari dua faktor yaitu faktor diri dan faktor lingkungan. Pembagian itu sebagai berikut:

a. Faktor diri:

1) Proses memahami diri; berkembangnya rasa percaya diri mula-mula diawali dengan proses pengenalan diri secara fisik terlebih dahulu seperti bentuk wajah dan postur tubuh.

2) Konsep diri; untuk menjadi pribadi yang percaya diri, memerlukan konsep diri yang positif atau gambaran yang dipegang seseorang menyangkut dirinya sendiri. Orang akan memiliki rasa percaya diri apabila ia mengenal keadaan dirinya sendiri dan memeliharanya sehingga orang itu akan dapat mengevaluasi apa yang telah ia lakukan.

16

b. Faktor lingkungan:

1) Lingkungan keluarga:

a) Pola asuh orangtua; yang meliputi kasih sayang, perhatian, penerimaan dan kelekatan emosi dengan orangtua secara tulus. Orangtua memperhatikan pertumbuhan anak agar anak itu dapat bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang mampu menilai dirinya dan mempunyai harapan nyata terhadap dirinya sendiri. b) Perilaku orangtua; berperan dalam proses pembentukan sikap

percaya diri karena orangtua adalah model yang sering ditiru. c) Harapan orangtua; sering kali orangtua meletakkan standar dan

harapan keluarga terhadap anaknya dan anak berusaha untuk menggapai harapan itu.

2) Lingkungan sosial:

a) Media massa; membuat sebuah opini masa tentang ukuran cantik dan ganteng yang benar-benar ideal, sangat mempengaruhi kepercayaan diri orang yang menikmati media massa itu.

b) Teman sebaya; semakin sering frekuensi pertemuan dengan teman sebaya, semakin besar pula pengaruh teman-teman itu terhadap dirinya. Pengaruh itu bisa muncul dalam wujud beraneka ragam seperti: kecenderungan cara bicara, cara berpakaian dan tingkah laku.

17

5. Usaha-usaha meningkatkan kepercayaan diri

Menurut Angelis (2003), untuk menjadi orang yang percaya diri, orang perlu mengembangkan diri dalam tiga aspek yaitu tingah laku, emosi dan spiritual sehingga orang benar-benar memiliki hidup yang seimbang.

a. Mengembangkan kepercayaan diri pada aspek tingkah laku

Bila seseorang sudah memiliki kepercayaan diri pada aspek tingkah laku maka ia akan selalu yakin untuk melakukan apapun secara maksimal. Dalam kaitan dengan kepercayaan diri ini ada empat ciri penting :

1) Keyakinan atas kemampuan sendiri untuk melakukan sesuatu pekerjaan

2) Keyakinan atas kemampuan untuk menindaklanjuti segala rencana secara konsekuen

3) Keyakinan atas kemampuan pribadi dalam menanggulangi segala kendala

4) Keyakinan atas kemampuan sendiri untuk memperoleh bantuan

b. Mengembangkan kepercayaan diri pada aspek emosi

Dengan kepercayaan diri pada aspek emosi seseorang akan memiliki keyakinan yang kuat untuk menguasai diri sendiri. Ada lima ciri yang berhubungan dengan kepercayaan diri pada aspek emosi ini :

1) Keyakinan terhadap kemampuan untuk mengetahui perasaan diri sendiri. Kemampuan untuk mengidentifikasikan perasaan sendiri ketika perasaan itu sedang muncul merupakan unsur penting dalam

18

diri. Tidak sedikit orang yang setiap saat dijejali dengan berbagai emosi, namun ia tetap tidak menyadarinya. Seseorang tidak akan memiliki kepercayaan diri pada aspek emosi jika ia memandang emosinya sebagai misteri yang tidak ia pahami, dan ia pun tidak akan mempunyai kehidupan sosial yang sehat tanpa kepercayaan diri ini.

2) Keyakinan terhadap kemampuan untuk mengungkapkan perasaan sendiri. Pada awalnya seseorang diharapkan untuk mengenal perasaannya sendiri dan setelah itu ia harus mampu mengungkapkan kepada semua orang yang terkait. Emosi yang tidak disalurkan dapat membendung perasaan sehingga menghalangi orang untuk memberi dan menerima perhatian dan kasih sayang.

3) Keyakinan terhadap kemampuan untuk menyatukan diri dengan kehidupan orang-orang lain dalam pergaulan yang positif dan penuh pengertian. Kita berada di dunia untuk belajar bersosialisasi. Kita tidak mungkin punya kepercayaan diri, jika kita enggan bertemu dengan orang lain. Keyakinan akan kemampuan bersosialisasi yang baik bagi kita maupun pihak lain, itu akan menambah kepercayaan diri kita serta memberi perhatian dan cinta yang besar pada hidup ini. 4) Keyakinan terhadap kemampuan untuk memperoleh rasa sayang,

pengertian dan perhatian dalam segala situasi, khususnya di saat mengalami kesulitan. Salah satu cara untuk menciptakan hubungan

19

yang baik adalah bertahan melawan emosi-emosi yang buruk. Dalam hidup ini manusia dicoba dengan berbagai macam hal yang menimbulkan emosi dengan kadar yang berbeda pula. Karena itu tidak cukup hanya untuk mengetahui perasaan itu dan mengungkapkannya, melainkan kita perlu mempunyai keyakinan bahwa kita mampu menelusuri perasaan sendiri dan mengelolanya secara baik pula.

5) Keyakinan terhadap kemampuan mengetahui manfaat apa yang dapat disumbangkan kepada orang lain. Mengenal diri sendiri dan tahu apa yang bisa kita berikan, adalah bagian dari kepercayaan diri pada aspek emosi. Dengan memahami dan menghargai keunikan diri, kita akan menghargai betapa berharganya diri kita bagi orang lain.

c. Mengembangkan kepercayaan diri pada aspek spiritual

Syukur (1985) menyebut aspek spiritual sebagai pengalaman keagamaan, sedangkan Angelis (2003) menggunakan istilah spiritual, tetapi apapun sebutannya keduanya sama-sama membahas tentang pengalaman yang timbul berkenaan dengan jagat raya, ada yang timbul sehubungan dengan peristiwa tertentu dalam hidup manusia dan ada yang berkaitan dengan moralitas. Pengalaman spiritual ini dapat dilukiskan sebagai berikut: 1) Pengalaman religius berkenaan dengan alam raya. Keyakinan bahwa

alam raya ini adalah suatu misteri yang terus berubah dan setiap perubahannya merupakan bagian dari ciptaan. Kita bisa melihat bahwa

20

semua makluk diciptakan untuk berkembang sesuai dengan kodratnya masing-masing. Kita adalah bagian dari misteri tersebut. Kepercayaan diri spiritual berawal dari pemahaman terhadap adanya suatu tujuan dalam lintas alam semesta, serta kesadaran bahwa meskipun kita tidak selalu mengerti tetapi hidup kita berjalan dalam alur perkembangan tersebut dan segala yang terjadi seakan-akan berjalan dengan wajar. Kepercayaan diri spiritual berkembang dimana kita mengamati siklus secara alami dan mekanisme penciptaan. Kita akan menyadari kebenaran bahwa keberadaan manusia sudah diatur oleh Tuhan dan Dia berada diambang kemampuan manusia untuk dipahami. Jika kita dapat menangkap kebenaran hakiki dalam semesta ini dan menerjemahkannya ke dalam semua pengalaman pribadi, maka kepercayaan diri spiritual akan tumbuh dalam diri kita. Kepercayaan terhadap alam semesta yang maha luas dapat dibuktikan dari kekaguman kita kepada gunung yang tinggi, laut yang luas dan udara yang kita hirup setiap saat lalu dihembuskan kembali, matahari terbit dan tenggelam dan kita akan takjub oleh keperkasaan Sang Pencipta. 2) Pengalaman religius berkenaan dengan peristiwa dan kejadian dalam

kehidupan manusia. Peristiwa dan kejadian yang dimaksud adalah peristiwa keberhasilan dan kegagalan, sakit dan sembuh, celaka dan selamat, kelahiran dan kematian, penjajahan dan pembebasan, perang dan perdamaian dan masih banyak lagi peristiwa yang mengena pada

21

manusia. Kesan atau perasaan yang ditimbulkan dalam hati orang yang mengalami, menyaksikan atau mendengar tentang peristiwa itu dapat bermacam-macam. Peristiwa itu kadang kala dihayati sebagai peristiwa yang bersifat keduniaan tetapi ada juga yang menghayati peristiwa itu sebagai anugerah atau peringatan, ganjaran atau hukuman, yang datang dari suatu kuasa atau daya kekuatan yang lebih tinggi daripada segala daya kekuatan duniawi.

3) Pengalaman religius berkenaan dengan hati nurani. Setiap orang mengalami konflik batin yang selalu ditandai dengan bermacam-macam pikiran, pertimbangan dan pergumulan dalam batin. Orang selalu bingung jika dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama menyenangkan atau sama-sama menyakitkan, atau juga kesadaran penuh akan apa yang menjadi kewajiban dalam situasi yang dihadapi misalnya sebagai seorang biarawan yang ditugaskan untuk studi lanjut mempunyai kewajiban untuk menyelesaikan studi tepat pada waktunya, atau orang harus memutuskan jalan mana yang harus ditempuh dalam kehidupan terpanggil untuk hidup membiara atau hidup berkeluarga. Semua situasi yang telah dilukiskan di atas baik konflik batin maupun keinsafan akan kewajiban mutlak atau keharusan untuk mengambil keputusan demi masa depan, semua situasi itu dapat dihayati sebagai tuntutan hati nurani yang didalamnya terdapat bisikan pribadi Ilahi. Dalam situasi seperti disebutkan di atas, orang dapat menyadari bahwa

22

pada akhirnya ia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan atas segala keputusan dan tingkah lakunya. Kalau demikian hati nurani dapat menjadi tempat pertemuan antara manusia dengan Tuhan.

Dokumen terkait