BAB I PENDAHULUAN
2.1 Kajian Teori
2.1.4. Faktor-faktor Penentu Dalam Penetapan Margin
Faktor penentu dalam penetapan margin Murabahah dipengaruhi oleh
banyak faktor, baik faktor internal bank syariah itu sendiri maupun faktor
eksternal yang berada dilingkungan sekitar bank syariah. Untuk faktor internal
diantaranya: biaya operasional, volume pembiayaan murabahah, target
keuntungan, tingkat keuntungan, bagi hasil DPK, dan lainnya, sedangkan faktor
eksternal diantaranya: BI rate, inflasi, nilai tukar rupiah atau kurs (exchange
rate), suku bunga rata-rata kredit bank konvensional, kebijakan moneter, dan
lainnya (Veithzal dan Rivai, 2008).
Adapun faktor penentu yang didijadikan acuan dalam penelitian ini
sebagai berikut:
1. Biaya Operasional
Biaya operasional adalah biaya-biaya yang berkaitan dengan kegiatan
administratif dan penjualan dari suatu perusahaan (Syahrul dan Nizar, 2012: 17).
Sedangkan menurut Rifai dan Arifin (2010: 821) menjelaskan biaya operasional
atau biaya overhead adalah seluruh beban dana di luar beban dana yang
digunakan dalam menghimpun dana serta beban yang dikeluarkan dalam rangka
24
dikeluarkan harus digunakan dalam kegiatan yang halal dan dapat memberikan
manfaat kepada orang lain atau pihak lain.
Secara umum biaya operasional dapat diartikan seluruh biaya yang
dikeluarkan bank syariah dalam kegiatan operasionalnya dan diukur dengan
satuan uang. Berdassarkan hasil penelitian Nugoho (2005), Zaeburi (2012) dan
Heykal (2014) menyatakan bahwa biaya overhead berpengaruh terhadap margin
murabahah.
Nugroho (2005: 89) menjelaskan operasional bank pada prinsipnya
adalah mengumpulkan dana dan menyalurkan pembiayaan, maka semua biaya
yang dikeluarkan untuk mendukung operasionalnya baik langsung maupun tidak
langsung dapat digolongkan sebagai biaya operasional. Secara rata-rata biaya
operasional perbulan dimasukkan ke dalam margin murabahah yang dibebankan
kepada nasabah debitur.
2. Dana Pihak Ketiga (DPK)
Dana pihak ketiga menurut Umam (2013:156-158) merupakan
penghimpunan dana atau pembiayaan di bank syariah dapat berbentuk giro,
tabungan, dan deposito, namun dalam laporan keuangan bank syariah lebih
dikenal dengan istilah Dana Pihak Ketiga (DPK).
πΏπ_π·ππΎ = Giro+Tabungan+ Deposito
Penyaluran dana bertujuan memperoleh penerimaan yang dapat
dilakukan apabila dana telah dihimpun. Penghimpunan dana dari masyarakat perlu
dilakukan dengan cara-cara tertentu sehingga efisien dan dapat disesuaikan
pada masyarakat dapat berupa giro,tabungan dan deposito. Dari dana yang ditarik
itulah bank memberikan penyaluran dana dan dari penyaluran dana itulah bank
memperoleh penghasilan dalam bentuk bagi hasil. Telah dilakukan beberapa
penelitian mengenai pembiayaan bagi hasil.
Faizal dan Prabawa (2010) serta Siswati (2013), menyatakan bahwa DPK
berpengaruh positif dan signifikan terhadap volume pembiayaan bagi hasil, hal ini
dikarenakan bahwa semakin tinggi Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun oleh
bank, akan mendorong peningkatan volume pembiayaan bagi hasil yang
disalurkan
3. BI Rate (Tingkat Suku Bunga)
a. Pengertian
Pengertian BI Rate berdasarkan definisi dari Bank Indonesia adalah suku
bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang
ditetapkan oleh bank Indonesia dan diumumkan kepada publik. BI Rate
diumumkan oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia setiap Rapat Dewan Gubernur
bulanan dan diimplementasikan pada operasi moneter yang dilakukan Bank
Indonesia melalui pengelolaan likuiditas (liquidity management) di pasar uang
untuk mencapai sasaran operasional kebijakan moneter.
Sasaran operasional kebijakan moneter dicerminkan pada perkembangan
suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N). Pergerakan di suku
bunga PUAB ini diharapkan akan diikuti oleh perkembangan di suku bunga
deposito, dan pada gilirannya suku bunga kredit perbankan. Dengan
26
Bank Indonesia pada umumnya akan menaikkan BI Rate apabila inflasi
ke depan diperkirakan melampaui sasaran yang telah ditetapkan, sebaliknya Bank
Indonesia akan menurunkan BI Rate apabila inflasi ke depan diperkirakan berada
di bawah sasaran yang telah ditetapkan.
b. Jadwal Penetapan dan Penentuan BI Rate
Penetapan respons (stance) kebijakan moneter dilakukan setiap bulan
melalui mekanisme RDG (Rapat Dewan Gubernur) Bulanan dengan cakupan
materi bulanan (BI, 2014).
1) Respon kebijakan moneter (BI Rate) ditetapkan berlaku sampai dengan
RDG berikutnya.
2) Penetapan respon kebijakan moneter (BI Rate) dilakukan dengan
memperhatikan efek tunda kebijakan moneter (lag of monetary policy)
dalam memengaruhi inflasi.
3) Dalam hal terjadi perkembangan di luar prakiraan semula, penetapan
stance Kebijakan Moneter dapat dilakukan sebelum RDG Bulanan
melalui RDG Mingguan.
c. Besar Perubahan BI Rate
Respon kebijakan moneter dinyatakan dalam perubahan BI Rate (secara
konsisten dan bertahap dalam kelipatan 25 basis poin (bps). Dalam kondisi untuk
menunjukkan intensi Bank Indonesia yang lebih besar terhadap pencapaian
sasaran inflasi, maka perubahan BI Rate dapat dilakukan lebih dari 25 bps dalam
Beberapa penelitian tentang kaitan BI rate dengan margin mrabaha
seperti penelitian oleh Zaenuri (2012) dengan hasil variabel BI rate berpengaruh
terhadap margin murabahah. Hal yang sama juga dijelaskan oleh penelitiaan Sari
dan Safitri (2012) Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia (BI rate) masih dapat
mempengaruhi Pendapatan Margin Murabahah pada PT Bank Syariah Mandiri
Cabang Ilir Timur II Palembang tahun 2008-2012. Hal yang berbeda ditemukan
pada Arumdani (2011) dengan hasil secara parsial bahwa variabel BI rate tidak
berpengaruh terhadap margin murabahah.
4. Kurs (Nilai Tukar) Rupiah
a. Pengertian
Nilai tukar menurut Greenwald (dalam Karim 2007: 157) adalah catatan
(quotation) harga pasar dari mata uang asing (foreign currency) dalam harga mata
uang domestic atau resiprokalnya, yaitu harga mata uang domestik dalam mata
uang asing. Sedangkan menurut Mankiw (2006: 128), kurs (exchange rate) antara
dua negara adalah tingkat harga yang disepakati penduduk kedua negara untuk
saling melakukan perdagangan. Dapat simpulkan kurs rupiah adalah
perbandingan antara nilai mata uang Indonesia terhadap nilai mata uang asing.
Para ekonom membedakan kurs menjadi dua, yaitu: kurs riil dan kurs
nominal. Penjelasan tentang kedua kurs tersebut sebagai berikut:
1) Kurs riil (real exchange rate) adalah harga relatif dari barang-barang di
antara dua negara. Kurs riil menyatakan tingkat dimana kita bias
memperdagangkan barang-barang dari suatu negara untuk barang-barang
28
2) Kurs nominal (nominal exchange rate) adalah harga relatif dari mata uang
dua negara.
Hasibuan (2008: 15) menerangkan bahwa kurs ini dibedakan dalam 3
(tiga) sistem kurs, yaitu sistem kurs tetap, kurs mengambang, dan kurs
mengambang terkendali. Sistem kurs diterapkan pada setiap negara tidaklah sama,
tergantung kepada kebijakan moneter negara yang bersangkutan. Untuk di
Indonesia sepertinya menggunakan sistem kurs mengambang terkendali, karena
sistem kurs ini ditentukan terlebih dahulu nilai tukar tetapnya terhadap mata uang
asing dan kemudian dibiarkan mengambang terhadap mata uang asing lainnya.
b. Kurs dalam Perspektif Islam
Kurs dalam Perspektif Islam menurut Karim(2008: 167-176)
menjelaskan kurs atau nilai tukar suatu mata uang di dalam Islam digolongkan
dalam dua kelompok, yaitu: Natural dan Human Error. Dalam pembahasan kurs
menurut Islam akan dipakai dua skenario, yaitu:
1) Terjadi perubahan-perubahan harga dalam negeri yang mempengaruhi nilai
tukar uang. Sebab-sebab fluktuasi sebuah mata uang dikelompokkan sebagai
berikut:
a) Natural Exchange Rate Fluctuation (Fluktuasi nilai tukar uang akibat
dari perubahan-perubahan yang terjadi pada permintaan agregatif dan
penawaran agregatif).
b) Human Error Exchange Rate Fluctuation (Fluktuasi nilai tukar uang
corruption and bad administration, excessive tax, dan excessive seignorage).
2) Perubahan harga yang terjadi diluar negeri, dikelompokkan karena dua sebab,
yaitu:
a) Non Engineered/ non manifulated changes (perubahan nilai tukar uang
yang terjadi bukan disebabkan oleh manipulasi yang dimaksudkan
untuk merugikan pihak-pihak tertentu.
b) 2) Engineered / Manifulated Changes (perubahan nilai tukar uang yang
terjadi disebabkan oleh manipulasi yang dilakukan oleh pihak-pihak
tertentu yang dimaksudkan untuk merugikan pihak lain).
Penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan nilai tukar rupiah dapat
mempengaruhi margi murabaha. Hal ini sesusi dengan penelitian Jihad dan
Hosen (2009) yang menjelaskan exchange rate (nilai tukar) berpengaruh terhadap
margin murabahah. Hasil penelitian Rustika (2016) menjelaskan Nilai Tukar
(IDR/USD) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Non Performing
30