implementasi kebijakan dan environmental factors; unsur- unsur-unsur di dalam lingkungan yang mempengaruhi implementasi
G. Faktor-faktor Penentu Implementasi Kebijakan Pendidikan
Edwar III (1980;1) mengemukakan bahwa policy implementation is the stage of policy making between establishment of a policy…and the consequences of the policy for the people whom it affects”. Ada beberapa faktor penentu kebijakan, bidang pendidikan, antara lain 1) komunikasi, 2) sumber daya, 3) disposisi dan 4) struktur birokrasi.
Faktor-faktor ini saling berhubungan satu sama lainnya, keterkaitan faktor-faktor tersebut dapat diuraikan melalui diagram gambar 4.7 berikut ini.
(Sumber George C. Edward III, Implementing Public Policy, 1980) Gambar 4.7 Keterkaitan faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi
kebijakan
Kebijakan pendidikan akan bisa dilaksanakan dengan baik, jika terdapat komunikasi efektif antara pelaksana program (kebijakan) dengan para kelompok sasaran. Tujuan dan sasaran dari program dapat disosialisasikan secara baik sehingga dapat menghindari adanya distorsi atas kebijakan dan program. Ini sangat penting karena semakin tinggi pengetahuan kelompok sasaran atas program maka akan mengurangi tingkat penolakan dan kekeliruan dalam mengimplementasikan kebijakan yang sesungguhnya.
Begitu juga setiap kebijakan pendidikan harus didukung oleh sumber daya yang memadai, baik sumber daya manusia, maupun sumber daya financial. Sumber daya manusia adalah kecukupan kualitas pengetahuan, karakter, dan keterampilan maupun kuantitas implementor yang dapat melingkupi seluruh kelompok sasaran.
Kecukupan sumber daya financial juga memperlihatkan kecukupan modal investasi atas kebijakan yang diambil. Keduanya harus
saling mendukung dan menjadi perhatian dalam implementasi / kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. Misalnya kebijakan menjadi guru professional minimal pendidikan S1, didukung dengan tunjangan sertfikasi. Sangat riskan dan beresiko jika kebijakan tanpa kehandalan implementor akan menghasilkan kebijakan yang kurang enerjik, berjalan lambat dan seadanya. Sedangkan sumber daya financial menjamin keberlangsungan program/kebijakan. Tanpa dukungan financial yang memadai program tidak akan berjalan efektif dan cepat dalam mencapai tujuan dan sasaran
Disposisi atau sikap pelaksana merupakan komitmen implementor dalam mewujudka kebijakan. Karakteristik sikap pelaksana menempel erat pada implementor kebijakan berupan kejujuran, komitmen dan demokratis. Implementor yang memiliki komitmen yang tinggi dan jujur akan senantiasa bertahan diantara hambatan yang ditemui dalam program/kebijakan. Kejujuran mengarahkan implementor untuk tetap berada dalam aras program yang telah digariskan dalam guideline kebijakan. Komitmen dan kejujuran yang membawanya senantiasa antusias dalam melaksanakan tahap- tahap kebijakan secara konsisten. Sikap yang demokratis akan meningkatkan kesan baik implementor dan kebijakan dihadapan anggota kelompok sasaran. Sikap ini akan menurunkan resistensi dari masyarakat dan menumbuhkan rasa percaya serta kepedulian kelompok sasaran terhadap implementor dalam program/kebijakan pendidikan itu sendiri.
Struktur birokrasi menjadi penting dalam implementasi kebijakan pendidikan. Aspek struktur birokrasi mencakup dua hal yang penting, pertama adalah mekanisme dan struktur organisasi pelaksana itu sendiri. Mekanisme implementasi program biasanya sudah ditetapkan melalui standar operating prosedur (SOP) yang dicantumkan dalam guideline program/kebijakan. SOP yang baik mencantumkan kerangka kerja yang jelas, sistematis, tidak berbelit dan mudah dipahami oleh siapapun, karena akan menjadi acuan dalam bekerjanya implementor. Sedangkan struktur organisasi pelaksanapun sejauh mungkin menghindari hal yang berbelit,
panjang dan komplek. Struktur organisasi pelaksana harus dapat menjamin adanya pengambilan keputusan atas kejadian luar biasa dalam program secara cepat. Struktur organisasi yang baik juga mencerminkan pembagian kerja dan tanggungjawab dalam implementasi kebijakan pendidikan, sehingga alur koordinasi dan komunikasi terlihat dan terjadi dengan jelas, terhindar dari salah sangka dan salah pemahaman.
Keempat variabel di atas dalam model yang dibangun oleh Edward III memiliki keterkaitan satu sama yang lain dalam mencapai tujuan dan sasaran program/kebijakan. Semuanya saling bersinergi dalam mencapai tujuan dan satu variabel akan mempengaruhi variabel yang lain. Misalnya; implementor yang tidak jujur akan mudah sekali melakukan mark up dan korupsi atas dana program/kebijakan dan program tidak akan optimal dalam mencapai tujuan program.
Begitu juga watak dari implementor kurang demokratis akan sangat mempengaruhi proses komunikasi dengan kelompok sasaran.
Disamping itu Weimar dan Aidan R. Vinning (1999) menjelaskan ada beberapa yang menentukan keberhasilan dan kegagalan dari implementasi kebijakan, antara lain 1) logika yang digunakan dalam suatu kebijakan, yaitu sampai berapa benar teori yang menjadi landasan kebijakan atau seberapa jauh hubungan logika antara kegiatan-kegiatan yang dilakukan dengan tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan;
2) hakikat kerjasama yang dibutuhkan, yaitu apakah semua pihak yang terlibat dalam kerjasama telah merupakan suatu assembling produktif dan 3) ketersediaan sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan dan komitmen untuk mengelola pelaksanaannya (Harbani Pasolong:2008, Muhammad Jumhadi dan Warijo;2008).
Faktor-faktor yang turut serta menentukan keberhasilan implementasi kebijakan pendidikan, antara lain; 1) tiadanya hambatan eksternal, 2) tersedianya sumber daya (resources) yang memadai, 3) kebijakan pendidikan yang bagus (good education policy), 4) hubungan ketergantungan yang minimum, 5) adanya kesepahaman, 6) kesepakatan terhadap tujuan pendidikan, 7) tugas ditetapkan dengan urutan yang tepat dan 9) komunikasi dan koordinasi lancar,
10) ada dukungan otoritas
Kegagalan implementasi analisis kebijakan pendidikan, bisa disebabkan beberapa hal: 1) tak bisa diimplementasikan, 2) unsucsessfull implementation, penyebab kegagalan kebijakan: a) bad policy: perumusannya asal-asalan, kondisi internal belum siap, kondisi eksternal tak memungkinkan, b) bad implementation:
pelaksana tak memahami petunjuk pelaksanaan (juklak), terjadi implementation gap dan sebagainya, c) bad luck
Implementasi merupakan tahapan pelaksanaan atas sebuah kebijakan. Interaksi merupakan konsep penting dalam implementasi, yang mengacu pada suatu hubungan yang terkadang kompleks.
Dalam implementasi terdapat dua hal yang harus diperhatikan, yaitu a) formulasi tujuan kebijakan harus jelas termasuk kelompok sasaran; siapa yang berperan; dan bagaimana kebijakan tersebut harus dilaksanakan; dan b) dana pendukung yang proporsional.
Tanpa dana kebijakan tidak akan pernah terealisir.
Implementasi kebijakan dalam kenyataannya tidak selalu berjalan dengan baik, beberapa faktor diantaranya adalah 1) faktor organisasi, suatu kebijakan dalam implementasinya memerlukan keterlibatan dan dukunngan banyak organisasi (aktor), diantaranya memiliki persepsi dan interest yang berlainan, baik dalam organisasi pemerintah maupun antara organisasi pemerintah maupun swasta.
Untuk itu perlu koordinasi dan ketaatan (compliance) organisasi di bawah pada instansi yang lebih tinggi, 2) faktor politik, sering disebit sebagai faktor non teknis, mencakup: a) legislasi tentang isu yang masih kabur sebagai akibat dari tujuan yang belum jelas. Misalnya kebijakan Full Daya School (FDS) tujuannya belum disepakati, akibatnya regulasi belum kuat, b) log-rolling, dimaksudkan sebagai gagalnya implementasi suatu program diakibatkan kesalahan saat proses legitimasi, proses bargaining yang dilakukan aktor perumus kebijakan dengan cara setuju atau ketidaksetujuan terhadap usulan kebijakan dilakukan dengan tukar tambah atau modifikasi usulan, sehingga akibatnya setelah usulan ditetapkan menjadi kebijakan tidak jelas (vague).
Daftar Pustaka
Agustino, Leo. (2006), Dasar-Dasar Kebijakan Publik, Bandung: CV Alfabeta.
Anderson, James E. (2006), Public Policy Making, Holt Rinehart &
Winston, New York.
Baedhowi. (2004), Implementasi Kebijakan Otonomi Daerah Bidang Pendidikan: Studi Kasus di Kabupaten Kendal dan Kota Surakarta, Disertasi Departemen Ilmu Administrasi FISIP Universitas Indonesia, Jakarta.
Bardach, E. (2006). Policy dynamics. New York: The Oxford handbook of public policy.
Chustz, M. H., & Larson, J. S. (2006). Implementing change on the front lines: A management case study of West Feliciana Paris Hospital. Paris: Public Administration Review, 66(5), 725-729.
Edward III, George C., (1980), Implementation Public Policy, Washington DC: Congresional Quarter Press.
Feis Imronah (2009). Implementasi Kebijakan: Perspektif, Model dan Kriteria Pengukurannya. Demak, Jawa Tengah: Gema Eksos, 5(1).
Gaffar, Afan. (1997), Publik Policy : State Of The Disipline, Model and Proses. Yogyakarta : Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada.
Goggin, Malcolm L et al (1990), Implementation, Theory and Practice;
Toward a Third Generation, USA; Scott, Foresmann and Company.
Grindle, Merilee S. (1980). Politics and Policy Implementation in The Third World, Princnton University Press, New Jersey.
Hanisy, Asmad. (2013). Konsep dasar analisis kebijakan. Al Qodiri:
Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan, 4(1), 48-63.
Islamy, Irfan M., (2003) Prinsip-prinsip perumusan kebijakan negara, Jakarta: Penerbit bumi aksara.
Jumhadi Muhammad dan Warijo (2018), Implementasi Penyediaan dana Daerah Urusan Bersama (DDUB) untuk Pembiayaan PNPM Mandiri Perkotaan di Kota Medan Tahun Anggaran 2009-2011, Jurnal Administrasi Publik (Public Administration Journal) JAP Vol. 1 No.2 Desember 2013.
Nakamura, Rober T and Frank Smallwood, (1980) The Politics of Policy Implementation, New York St. Martin Press.
Nisa Agistiani Rachman, (2014), Pengukuran Kinerja Implementasi Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan di Desa Wisata Brayut, Yogyakarta: Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik JKAP Vo, 18 No. 2 November 2014.
Nugroho, Riant Dwijowijoto, (2009), Kebijakan Publik Formulasi,Implementasi, dan Evaluasi. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Parsons, Wayne, (1997), Public Policy: An introduction to the theory and practice of policy analysis, Edward 27 Edgar Publishing, LTD and Lansdown Place, Cheltenham, UK, Lyme, Us.
Pasolong, Harbani, (2008), Teori Administrasi Publik, Bandung: CV.
Alfabeta
Puluhulawa, Jusdin, and Puluhulawa, Moh. Rusdiyanto, (2013) Implementation of Free Education Policy (Case Study in Gorontalo Province), Gorontalo: Fakultas Ilmu Sosial Universias Negeri Gorontalo.
Purwanto, E.A., dan Sulistyastuti, D.R. 2012. Implementasi Kebijakan Publik: Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Penerbit Gava Media. Yogyakarta.
Putt, Allen J and J Fred Springer (1989). Policy Research. New Jersey:
Prentice Hall.
Quade, E.S., (1984), Analysis for Public decision. Elsevier Science Publishing, New York.
Rahman, N. A. (2014). Pengukuran Kinerja Implementasi Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan di Desa Wisata Brayut. JKAP (Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik), 18(2), 147-160.
Riadi, Muchlisin, (21 Maret 2016), Pengertian dan Implementasi Kebijakan, https://www.kajianpustaka.com/2016/03/
pengertian-dan-implementasi-kebijakan.html, diakses 5 Oktober 2018
Ripley, Rendal B. and Grace A. Franklin. (1986). Policy Implementation and Bureaucracy, second edition, the Dorsey Press, Chicago-Illionis.
Smith, T. B. (1973), The Policy Implementation Process. Policy Sciences, 4(2), 197-209.
Solichin, M. (2015). Implementasi Kebijakan Pendidikan dan Peran Birokrasi. Religi: Jurnal Studi Islam, 6(2), 148-178.
Syafaruddin (2008), Efektivitas Kebijakan Pendidikan. Konsep, Strategi dan Alikasi Kebijakan Menuju Organisasi Sekolah Efektif. Penerbit Rineka Cipta.
Tachjan, (2006), Implementasi Kebijakan Publik, Bandung: Lemlit UNPAD.
Tarigan, Antonius. (2000). Implementasi Kebijakan Jaring Pengaman Sosial: Studi Kasus Program Pengembangan Kecamatan di Kabupaten Dati II Lebak, Jawa Barat, Tesis Masigter Administrasi Publik UGM Yogyakarta
Wagner, P. Brian. (2008.) The Principal’s Perception of Character Education Implementation in California Middle Schools Based on The Eleven Principles of Character Education.
USA: Proquest LLC.
Wahab Solichin, Abdul, (2004), Pengantar Studi Analisis Kebijakan Negara, Jakarta; Rineka Cipta.
Weimer, David, and Aidan Vining, (1999), Policy Analysis: Concepts and Practice. Upper Saddle River, New York: Princeton University Press.
Wibawa, Samodra. (1994), Kebijakan Publik, Jakarta; Intermedia Widodo, Joko, (2001), Good Governance, telaah dari dimensi
Akuntabilitas dan Kontrol Birokrasi, pada era Desentralisasi dan Otonomi daerah, Insan Cendekia, Surabaya.