BAB II PERJANJIAN KREDIT DAN KREDIT MACET
B. Tinjauan Umum tentang Kredit Macet
2. Faktor-faktor Penyebab Munculnya Kredit Macet
Faktor yang menyebabkan nasabah tidak melaksanakan kewajibannya melunasi utangnya menurut Salim H.S adalah sebagai berikut:29
a. Kondisi ekonomi nasabah/debitur
Pada umumnya, yang meminjam uang pada lembaga perbankan / non bank adalah nasabah/debitur menengah ke bawah. Mereka pada umumnya adalah para petani tembakau, pengusaha kecil, dan menengah. Sehingga
28
Mantayborbir, S., dkk.,Hukum Piutang dan Lelang Negara di Indonesia, Pustaka Bangsa, Medan: 2002, hlm. 23.
29
Salim HS, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia,Raja Grafindo Persada, Jakarta: 2005, hlm. 270-274.
dalam mengembangkan usahanya selalu tergantung pada harga pasar yang berlaku. Di dalam prinsip ekonomi, bahwa semakin banyak barang yang dijual dipasar, maka semakin rendah harga barang tersebut. Hal ini tampak dari kebijakan petani tembakau, dimana mereka semua menanam tembakau. Tembakau ini melimpah, sehingga harga anjlok, sementara kebutuhan perusahaan sangat terbatas. Maka dengan sangat terpaksa mereka menjual harga tembakau dengan harga yang rendah. Sehingga pada gilirannya mereka tidak mampu membayar utang kredit pada lembaga perbankan, sementara uang yang diterima hanya cukup untuk membayar biaya pengelolaannya;
b. Kemauan debitur untuk membayar hutangnya sangat rendah
Rendahnya kemauan debitur untuk membayar hutang – hutangnya ini disebabkan karena jaminan yang digunakan oleh mereka adalah tanah milik orang lain. Terjadinya penggunaan tanah milik orang lain adalah disebabkan pemilik tanah membutuhkan uang, misalnya Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah). Untuk mendapatkan uang tersebut, maka yang bersangkutan menyuruh orang lain untuk memperoleh kredit tersebut. Di dalam mengajukan permohonan kredit, debitur ini meminjam kredit dalam jumlah yang besar, misalnya Rp50.000.000,- (lima puluh juta rupiah), sehingga pada gilirannya ia tidak mampu membayar pinjaman pokok dan bunga kreditnya.
c. Nilai jaminan lebih kecil dari jumlah hutang pokok dan bunga
Pada saat dilakukan penilaian oleh lembaga perbankan/ non bank, bahwa objek jaminan yang dimiliki oleh nasabah dianggap cukup untuk membayar hutang pokok dan bunga, manakala ia tidak mampu membayar hutang. Namun, dalam kenyataan ternyata pada saat dilakukan pelelangan nilai jaminan itu tidak cukup untuk membayar hutang –hutangnya.
d. Usaha nasabah bangkrut
Setiap nasabah yang mengembangkan bisnis tidak menginginkan usahanya bangkrut. Mereka tetap menginginkan supaya usaha dagangnya tetap berjalan dan mendapat keuntungan sebanyak – banyaknya. Bangkrutnya usaha debitur ini disebabkan bisnis yang dikembangkan sangat banyak dan adanya pengaruh krisis ekonomi dan moneter. Misalnya, usaha yang utama mereka berdagang, tetapi mereka juga mengembangkan usaha di bidang transportasi, perkayuan, dan lain – lain. Banyaknya usaha yang dikembangkan nasabah ini membuat biaya yang dikeluarkan untuk mengembangkan usaha tersebut menjadi bertambah. Setiap penambah sebuah kegiatan usaha, maka akan bertambah modal yang dibutuhkan untuk itu. Krisis ekonomi dan moneter yang berkepanjangan berdampak negatif terhadap pengembangan usaha dari debitur, dimana debitur tidak mampu bersaing untuk mengembangkan usahanya karena besarnya biaya yang dikeluarkan untuk itu, sedangkan daya beli masyarakat sangat kurang/rendah.
e. Kredit yang diterima nasabah disalahgunakan
Di dalam usulan yang disampaikan kepada bank/non bank, nasabah telah menentukan tujuan kredit yang diajukannya, misalnya untuk investasi usaha, pengembangan usaha, pembangunan sarana dan prasarana investasi, dan lain-lain. Namun, mereka tidak menggunakan uang itu sebagaimana
mestinya. Mereka menggunakan kredit yang diterima untuk membeli mobil mewah, rumah, dan lain-lain.
f. Manajemen usaha nasabah sangat lemah
Pengelolaan bisnis harus disertai dengan manajemen yang baik. Artinya, nasabah di dalam mengembangkan usahanya mempunyai pengetahuan dan
skill yang berkaitan dengan pengelolaan usaha. Tanpa adanya hal itu, maka usaha nasabah/debitur tidak dapat berkembang dengan baik. Suatu manajemen dikatakan baik, apabila nasabah tersebut mempunyai catatan yang berkaitan dengan debit dan kredit (pemasukan dan pengeluaran). Umumnya, pengusaha ekonomi lemah di dalam mengembangkan usahanya tidak mempunyai catatan-catatan seperti tersebut di atas, sehingga mereka tidak mampu menghitung berapa jumlah keuntungan dan kerugian yang dideritanya.
g. Pembinaan kreditur terhadap nasabah sangat kurang
Keberhasilan nasabah di dalam pengembangan usahanya tidaklah terlepas dari usaha pembinaan yang dilakukan oleh kreditur terhadap nasabahnya. Pembinaan nasabah ini mencakup pembinaan skill, pembinaan manajemen, marketing, negosiasi. Selama ini kita melihat bahwa pembinaan yang dilakukan oleh lembaga perbankan terhadap nasabahnya sangat kurang. Pembinaan baru dilakukan oleh kreditur setelah debitur mengalami masalah di dalam pengembalian kreditnya. Para nasabah seharusnya diberikan keterampilan, baik skill, manajemen, marketing dan negosiasi. Sedangkan Bagir Manan berpendapat bahwa faktor-faktor yang merupakan sumber-sumber munculnya kredit macet dapat dikategorikan sebagai berikut:30
a. Faktor debitur
Ada kemungkinan debitur tertentu memang tidak memperhitungkan dengan cermat kemungkinan pelunasan pinjaman dengan teratur dan tepat waktu. Pinjaman dilakukan sekadar memanfaatkan berbagai peluang yang tidak begitu terjamin atau tidak dapat diketahui secara tepat kelangsungannya. Bahkan untuk debitur semacam ini sejak semula ada unsur spekulasi berlebihan bahkan kemungkinan itikad kurang baik untuk memenuhi segala kewajiban yang diperjanjikan. Tetapi kesulitan pelunasan pinjaman tidak semata-mata pada debitur yang kurang cermat atau yang serba berspekulasi. Debitur yang beritikad baik juga dapat terperosok pada kesulitan pengembalian pinjaman karena berbagai kondisi, baik yang ditimbulkan oleh debitur itu sendiri atau faktor – faktor di luarnya seperti kelesuan ekonomi, dan lain sebagainya.
b. Faktor kreditur
30
Gatot Supramono, sebagaimana dikutip dari Bagir Manan, Sarana Penanggulangan Kredit Macet Perbankan (Makalah), disampaikan pada acara Diskusi Terbuka Penyelesaian Kredit Macet Perbankan, diselenggarakan oleh Bank Indonesia, Jakarta, 4 dan 5 Oktober 1993, hlm. 269-271.
Kekurangcermatan kreditur pada saat memberikan pinjaman juga dapat menjadi sumber kredit macet. Kekurangcermatan tersebut dapat terjadi karena didorong melakukan ekspansi kegiatan yang berlebihan atau dorongan persaingan antara kreditur. Dorongan – dorongan ini menimbulkan kebijaksanaan (beleid) yang memberikan berbagai kemudahan sehingga menjadi kurang cermat dalam menilai jaminan (agunan atau penjamin), prospek usaha dan lain sebagainya. Keadaan ini akan makin diperburuk apabila aparat kreditur tidak menjaga integritas
dengan baik sehingga mudah “dibelai” calon debitur.
c. Faktor pemerintah
Kemacetan pengembalian pinjaman dapat pula bersumber dari berbagai tindakan atau kebijaksanaan pemerintah. Kebijaksanaan uang ketat (tight money policy), atau berbagai kebijaksanaan yang mempengaruhi kegiatan ekonomi tidak jarang menjadi sebab kesulitan mengembalikan pinjaman. Dalam hal benar-benar terbukti kebijaksanaan pemerintah merupakan penyebab kesulitan debitur melunasi pinjamannya. Maka sudah semestinya pemerintah ikut bertanggung jawab dan wajib berupaya memberikan kebijaksanaan yang tidak akan lebih menekan debitur.
d. Faktor masyarakat-khususnya kegiatan ekonomi masyarakat
Piutang negara adalah kredit yang diberikan atau diperoleh untuk menjalankan berbagai kegiatan ekonomi-perdagangan, industri dan sebagainya. Krisis ekonomi, kelesuan ekonomi, baik yang bersifat nasional maupun internasional (global) akan berakibat pula pada kemampuan debitur untuk memenuhi kewajibannya.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa yang menjadi faktor munculnya kredit macet adalah faktor debitur itu sendiri yaitu para debitur kurang memiliki kesadaran dalam melaksanakan tanggung-jawabnya untuk melunasi utang kreditnya, faktor kreditur yaitu kurangnya ketelitian kreditur dalam memberikan pinjaman kepada calon debitur dan juga kurangnya pembinaan terhadap debitur dalam hal menjalankan usahanya, serta faktor pemerintah dalam berbagai kebijaksanaanya yang pada umumnya sering memberatkan masyarakat yang otomatis memberatkan debitur dalam hal pengembalian pinjaman kredit.