BAB II FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA
G. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Pembiayaan
Terdapat beberapa hal yang menjadi penyebab timbulnya pembiayaan (kredit) bermasalah. Menurut Dona Farida Sinipar, faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya persoalan kredit bermasalah di Astra Credit Companies (ACC) Cabang Medan adalah sebagai berikut:92
1) Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi merupakan faktor yang paling sering menjadi penyebab terjadinya kredit bermasalah. Dalam situasi kemunduran ekonomi, biasanya debitur lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan lain daripada pembayaran cicilan kredit. Apabila usaha atau bisnis yang dijalankan debitur mengalami kesulitan
91Loc.Cit.
92Hasil wawancara dengan Dona Farida Sianipar, Operation Head Astra Credit Companies Cabang Medan 2, 25 November 2012
(penurunan) akan berpengaruh tidak baik secara langsung terhadap cash flow keuangan debitur. Hal ini selanjutnya akan mempengaruhi kemampuan debitur untuk melunasi hutang-hutang jangka pendeknya, termasuk kredit dalam hal pembelian kendaraan bermotor.
Salah satu contoh faktor ekonomi yang mempengaruhi kemampuan debitur adalah terjadinya penurunan harga kelapa sawit (tandan buah segar/TBS), yang menyebabkan penerimaan debitur pengusaha perkebunan kelapa sawit menurun Yang juga pastinya mempengaruhi kemampuan ekonomi lapisan masyarakat yang lain. Penurunan harga TBS ini juga dibarengi dengan kenaikan harga pupuk, sehingga semakin menurunkan kemampuan debitur pengusaha kelapa sawit, khususnya skala kecil. Akibatnya terjadi keterlambatan pembayaran angsuran kredit yang telah jatuh tempo.
2) Unsur penipuan yang dialami debitur
Kasus yang juga dihadapi oleh konsumen adalah terjadinya penipuan oleh pihak ketiga yang menjalankan usahanya. Salah satu ilustrasi yang diberikan oleh Norman Santoso adalah yang dialami oleh beberapa kontraktor. Pada awalnya kontraktor telah melobi dan telah sepakat dengan pihak pemberi kerja (seperti Dinas-dinas di Instansi Pemerintah), misalnya untuk membangun satu ruas jalan. Untuk memenuhi kualifikasi dalam pekerjaan tersebut, kontraktor harus memiliki beberapa peralatan, termasuk truk dan mobil. Dengan adanya kesepakatan dengan pihak pemberi kerja, kontraktor melakukan pembelian kenderaan dimaksud dengan sistem kredit. Namun dalam prosesnya pekerjaan tidak diperoleh, atau
diperoleh tetapi dengan nilai lebih rendah dari perhitungan. Hal ini menyebabkan kontraktor tidak mampu memenuhi kewajibannya dalam membayar angsuran kredit kendaraannya.93
3) Karakter debitur
Karakter debitur memegang peran yang sangat penting dalam hal terjadinya permasalahan kredit. Sejak awal, sebelum aplikasi pembiayaan disetujui, survey atas kapasitas dan kemampuan keuangan pemohon kredit telah dilakukan. Salah satu diantaranya adalah adanya persyaratan foto copy tabungan atau rekening koran 3 bulan terakhir. Dalam prosesnya calon debitur kemudian “mensiasati” persyaratan ini dengan jalan memfotokopi tabungan milik orang lain agar memenuhi nilai tabungan yang dipersyaratkan atau agar cash flow keuangannya terlihat bagus.
Hal-hal seperti ini bukan terjadi tanpa sepengetahuan orang lain, karena sering terjadi wiraniaga dari supplier (dealer) justru menjadi orang yang mendorong hal tersebut dilakukan. Seorang wiraniaga bekerja dengan target tertentu dan mereka berusaha dengan berbagai cara agar dapat menjual kendaraannya. Apalagi dari satu buah aplikasi yang masuk ke lembaga pembiayaan dan disetujui, mereka akan mendapatkanrefundasuransi dalam jumlah yang cukup menggiurkan.
Perusahaan pembiayaan biasanya tidak mengetahui terjadinya hal ini mengingat biasanya fotocopi tabungan atau rekening koran sudah dipersiapkan
93Hasil wawancara dengan Dona Farida Sianipar, Operation Head Astra Credit Companies Cabang Medan 2, 25 November 2012
debitur, dan karena dipandang debitur layak mendapatkan fasilitas pembiayaan kendaraan maka aplikasinya disetujui. Pada jangka waktu kredit debitur mengalami kesulitan melakukan pembayaran karena pada kenyataannya debitur tidak layak untuk mendapatkan fasilitas kreditnya.94
4) Prioritas penggunaan lain yang mendesak
Pada beberapa kasus, debitur tidak dapat membayar angsuran kreditnya sesuai dengan tenggat waktu yang ditentukan, karena keterbatasan dana yang dimiliki dan adanya faktor lain yang memaksa (urgent) untuk penggunaan dana tersebut. Misalnya untuk membiayai pengobatan atas sakitnya debitur atau anggota keluarga lainnya dan membutuhkan banyak biaya, sehingga uang yang seharusnya digunakan untuk membayar angsuran dipakai lebih dahulu untuk membayar biaya rumah sakit.95
Faktor-faktor penyebab timbulnya kredit bermasalah di Astra Credit Companies (ACC) Cabang Medan sebagaimana diuraikan di atas sebenarnya dapat dibedakan sebagai faktor penyebab intern dan faktor penyebab ekstern, dari debitur. Karakter konsumen dan dana yang terpakai untuk hal-hal lain adalah faktor penyebab intern yang berasal dari diri debitur. Semestinya seorang debitur dalam mengambil tindakan yang berhubungan dengan hukum lebih mempertimbangkan akibat hukum yang akan ditimbulkan jika melakukan sesuatu. Berhubungan dengan karakter, 94Hasil wawancara dengan Edy Tribowo, Account Receivable Management Head (ARMH), Astra Credit Companies Cabang Medan 2, tgl 15 September 2012
95Hasil wawancara dengan Edy Tribowo, Account Receivable Management Head (ARMH), Astra Credit Companies Cabang Medan 2, tgl 15 September 2012
memang hanya berdasarkan kesadaran hukum dari debitur, tetapi juga dapat dilakukan dengan mencari informasi dari beberapa pihak, khususnya yang mengenal debitur dimaksud. Dalam perjanjian pembiayaan dengan jaminan fidusia, seorang debitur berkewajiban memberikan semua data, informasi dan dokumen yang berkaitan dengan perjanjian pembiayaan dimaksud sesuai dengan permintaan kreditor, serta menjamin kebenaran dan keaslian data, informasi, serta dokumen tersebut. Debitur juga berkewajiban mendahulukan setiap kewajiban berdasarkan perjanjian ini, termasuk tidak terbatas membayar angsuran yang jatuh tempo tepat pada waktunya, dalam jumlah yang penuh sesuai dengan perjanjian ini, dan debitur tidak dapat menggunakan alasan atau peristiwa-peristiwa apapun juga yang termasuk karena keadaan memaksa (force majeure) yang terjadi pada debitur untuk menunda pembayaran angsuran tersebut.
BAB III
PROSES TERJADINYA PEMBIAYAAN BERMASALAH DAN ALTERNATIF PENYELESAIANNYA
A. Bentuk dan Isi Perjanjian Pembiayaan Konsumen
Di dalam praktek perjanjian konsumen umumnya dibuat dalam bentuk perjanjian baku atau disebut juga perjanjian standar (standard contract, standard agreemeent). Menurut Purwahid Patrik perjanjian baku adalah “suatu perjanjian yang di dalamnya terdapat syart-syarat tertentu yang dibuat oleh salah satu pihak.96 Selanjutnya J. Satrio merumuskan perjanjian standar sebagai “perjanjian tertulis, yang bentuk dan isinya telah dipersiapkan terlebih dahulu, yang mengandung syarat-syarat baku, yang oleh salah satu pihak kemudian disodorkan kepada pihak lain untuk disetujui”.97 Ciri dari perjanjian standar adalah adanya sifat uniform atau keseragaman dari syarat-syarat perjanjian untuk semua perjanjian untuk sifat yang sama. Syarat-syarat baku dalam perjanjian adalah syarat-syarat konsep tertulis yang dimuat dalam beberapa perjanjian yang masih akan dimuat, yang jumlahnya tidak tertentu, tanpa merundingkan lebih dahulu isinya98
Dalam perjanjian standar ada kalanya konsumen bertemu dengan klausula, membebaskan diri atau membatasi diri dari tanggung jawab yang timbul sebagai
96 Purwahid Patrik, Peranan Perjanjian Baku dalam Masyarakat (Makalah dalam seminar masalah standar Kontrak dalam Perjanjian Kredit, Surabaya, 11 Desember 1993) hal 1
97J. Satrio,Beberapa Segi Hukum Standarisasi Perjanjian Kredit, (Seminar Masalah standar kontrak dalam Perjanjian Kredit, Surabaya : 11 Desember 1993) hal 1
akibat peristiwa tertentu, yang sebenarnya menurut hukum menjadi tanggungannya. Klausula pembebanan seperti disebut klausulaeksenoratie”.99
Di dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999, tentang perlindungan konsumen istilah syarat eksonerasi dipakai dengan istilah klausula baku Menurut Pasal 18 Undang-Undang Perlindungan Konsumen, pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku,
yaitu:
a. Bahwa para pelaku usaha dalam menawarkan barang dan atau jasa yang dibutuhkan untuk diperdagangkan dilarang untuk mencantukan klausula baku pada setiap dokumen dan atau perjanjian dimana klausula baku tersebut mempunyai akibat.
b. Isi dari perjanjian tentunya dibuat secara baku.