• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

A. Penyesuaian Diri

2. Faktor-Faktor Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja yang

Setiap remaja mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Menurut Mappiare (1982) pertumbuhan diartikan sebagai suatu penambahan dalam ukuran bentuk, berat, atau ukuran demensif tubuh serta bagian-bagiannya. Perkembangan merupakan perubahan-perubahan dalam bentuk/bagian tubuh dan integrasi pelbagai bagiannya ke dalam satu kesatuan fungsional bila pertumbuhan itu berlangsung.

Santrock (2003) mengungkapkan remaja sebagai masa transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional. Proses penyesuaian diri perkembangannya juga dipengaruhi oleh empat faktor yaitu fisik, psikis, kognitif dan psikososial.

a. Fisik

Menurut Sarwono (1989) perubahan fisik yang terjadi pada masa remaja merupakan gejalah primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan fisik memiliki pengaruh terhadap perkembangan jiwa remaja. Perubahan fisik mencakup pertumbuhan tubuh, dimana mulai berfungsinya alat reproduksi dan mulai tumbuhnya tanda-tanda seksual. Perubahan fisik itu menyebabkan kacanggungan bagi remaja karena ia harus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam dirinya.

Remaja memasuki tahapan perkembangan fisik dimana organ-organ tubuh remaja bertumbuh. Pada tahapan ini sering kali penampilan fisik yang

indah dan sempurna akan membuat remaja merasa yakin bahwa dia bisa diterima dan diakui oleh lingkungan dan teman sebaya.

Faktor fisik tidak hanya menentukan kesehatan biologis seseorang tetapi juga membutuhkan reaksi dan tanggapan dari orang lain. Hal ini menjadi faktor penting apakah para remaja diterima atau tidak. Adanya penerimaan membutuhkan tingkat penyesuaian diri yang baik, sehingga para remaja sering kali berpandangan seorang dengan penampilan fisik sempurna maka tingkat penyesuaian dirinya baik.

b. Psikis

Menurut Mappiare (1982) perkembangan psikis telah ada dan berkembang semenjak individu bergaul dengan lingkungannya. Perasaan yang berkembangan merupakan produk pengamatan dari pengalaman individu secara unik dengan lingkungan, dengan orang tua dan saudara-saudara, serta pergaulan sosial yang lebih luas. Pada perkembangan emosi remaja, sebagian besar dipengaruhi sikap sosial yang berhubungan dengan teman sebaya, pandangan tentang dirinya dan usaha para remaja bersikap sesuai dengan tuntutan aturan norma sosial yang berlaku. Perkembangan psikis atau emosi meliputi rasa senang, tidak senang, rasa benci, sayang, suka, dan sebagainya yang relatif cepat berubah.

Faktor psikis merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan para remaja. Menurut

Piaget (Hurlock, 1980:206) secara psikologis, masa remaja adalah usia di mana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Penjelasan di atas secara terperinci menegaskan masalah integrasi dengan masyarakat, namun penekanan integrasi para remaja tidak hanya terhadap masyarakat dewasa namun juga terhadap rekan sebaya dan lingkungan. Usaha integrasi menjelaskan bahwa setiap remaja tidak terlepas dari hubungan dengan lingkungan sosialnya. Para remaja berusaha untuk masuk dan diterima oleh kelompok sosial. Upaya ini menunjukkan pada keinginan-keinginan memperoleh rasa senang dan nyaman jika dia diterima oleh lingkungan sosial. Rasa takut juga muncul dalam diri para remaja sebagai akibat munculnya pikiran terkucil akibat tidak diterima atau dikucilkan oleh kelompok sosial.

Menurut Ali dan Asrori (2004:190), ada 5 faktor psikologi dasar yang memiliki pengaruh kuat terhadap dinamika penyesuaian diri, yaitu: 1) Kebutuhan (need)

Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan yang bersifat internal. Dari faktor ini, penyesuaian diri ditafsirkan sebagai suatu jenis respon yang diarahkan untuk memenuhi tuntutan yang harus diatasi individu. Tuntutan-tuntutan untuk mengatasinya dalam sebuah proses didorong secara dinamis oleh kebutuhan internal yang disebut need.

2) Motivasi (motivation)

Motivasi menjadi salah satu faktor penting terhadap proses penyesuaian diri. Ada lima teori motivasi yang dapat digunakan untuk menerangkan dinamika penyesuiaian diri antara lain teori stimulus-respon, teori fisiologis, teori intrinstik, teori motivasi tak sadar, dan teori hedonistik.

3) Persepsi (perception)

Persepsi merupakan proses menginterpretasikan dan mengorganisasikan pola-pola stimulus yang berasal dari luar. Proses terjadinya persepsi tergantung pada pengalaman masa lalu dan pendidikan yang telah diperoleh individu, perangsang spesifik yang menimbulkan reaksi alat-alat indra pada waktu itu dan interpretasi individu dalam menafsirkan informasi yang diterima.

4) Kemampuan (capacity)

Perkembangan kemampuan remaja dalam aspek kognitif, afeksi dan psikomotorik, juga dapat mewarnai dinamika penyesuaian diri remaja. Aspek kognitif berfungsi sebagai sarana dasar untuk pengambilan keputusan dalam melakukan penyesuaian diri. Aspek afeksi seperti perasaan, emosi dan penghayatan terhadap nilai-nilai dan moral akan menjadi dasar pertimbangan bagi kognisi dalam proses penyesuaian diri remaja. Kemampuan psikomotorik menjadi sumber

kekuatan yang mendorong remaja untuk melakukan penyesuaian diri disesuaikan dengan dorongan dan kebutuhannya.

5) Kepribadian (personality)

Remaja yang sedang mengalami perkembangan pesat dalam segala aspeknya, kepribadiannya juga menjadi sangat dinamis. Kedinamisan kepribadian remaja juga akan sangat mewarnai dinamika penyesuaian diri remaja.

c.Kognitif

Menurut Piaget (Santrock, 2003) remaja memiliki dorongan untuk memahami dunianya karena tindakannya itu merupakan penyesuaian diri biologis. Dalam pandangan Piaget, remaja membangun dunia kognitifnya sendiri, informasi tidak hanya tercurah ke dalam benak mereka dari lingkungan. Mereka bukan hanya mengorganisasikan pengamatan dan pengalaman mereka, tetapi juga menyesuaikan cara berpikir untuk menyertakan gagasan baru. Piaget percaya bahwa remaja menyesuaikan diri dengan dua cara yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi ketika seseorang mengabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan yang sudah dimilikinya. Akomodasi terjadi ketika seseorang menyesuaikan dirinya terhadap hal baru.

d. Psikososial

Proses psikososial meliputi perubahan hubungan individu dengan manusia lain, yang didalamnya terdapat pekembangan psikis dan hubungan sosial dengan individu lainnya. Pada faktor psikososial, remaja mengalami gejolak perkembangan dimana perkembangan sosial dipengaruhi oleh faktor psikis. Secara terpisah dapat digambarkan bagaimana pandangan para remaja tentang masalah sosial. Pandangan ini dapat mengacu pada istilah kognisi sosial. Kognisi sosial mengacu pada bagaimana seseorang memandang dan berpikir mengenai dunia sosial mereka, orang-orang yang mereka amati dan yang berinteraksi dengan mereka, hubungan dengan orang-orang tersebut, kelompok tempat mereka bergabung, dan bagaimana mereka berpikir mengenai diri mereka sendiri dan orang lain (Santrock, 2003:119).

Salah satu tugas perkembangan remaja yang sulit adalah berhubungan dengan penyesuaian sosial. Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dan harus menyesuaikan diri dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah. Untuk mencapai pola sosialisasi dewasa, remaja harus membuat banyak penyesuaian diri baru. Proses terpenting dan tersulit adalah menyesuaikan diri dengan meningkatnya pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, pengelompokan sosial yang baru, nilai-nilai baru dalam seleksi persahabatan, nilai-nilai baru dalam dukungan dan penolakan sosial.

Berikut merupakan pola sosialisasi remaja menyangkut penyesuaian diri yang baru:

1) Pengaruh Kelompok sebaya

Horrocks dan Benimoff (Hurlock, 1980) menjelaskan kelompok sebaya merupakan dunia nyata kawula muda, yang menyiapkan pangung dimana ia dapat menguji diri sendiri dan orang lain. Kelompok sebaya memberikan tempat bagi kawula muda untuk dapat melakukan sosialisasi dalam suasana dimana nilai-nilai yang berlaku bukanlah nilai-nilai yang ditetapkan oleh orang dewasa melainkan oleh teman-teman seusianya.

2) Perubahan Dalam Perilaku Sosial

Pada tahapan ini, perubahan yang paling menonjol adalah remaja lebih menyukai teman lawan jenisnya daripada teman sejenisnya. Perubahan lain yang semakin menonjol adalah meningkatnya wawasan sosial, sehingga penyesuaian sosial semakin baik, meningkatknya kompetensi sosial serta bertambah dan berkurangnya prasangka dan diskriminasi.

3) Pengelompokan Sosial Baru

Pada masa remaja, terbentuk beberapa kelompok sosial remaja, antara lain:

a) Teman Dekat

Remaja biasanya mempunyai dua atau tiga orang teman dekat, atau sahabat karib, yang memiliki minat dan kemampuan yang sama. Teman dekat akan saling mempengaruhi satu sama lain meskipun kadang-kadang juga bertengkar.

b) Kelompok Kecil

Kelompok ini biasanya terdiri dari kelompok teman-teman dekat. Pada mulanya tediri dari sesama jenis tetapi kemudian meliputi lawan jenis.

c) Kelompok Besar

Kelompok ini terdiri dari beberapa kelompok kecil dan kelompok teman dekat. Pada kelompok besar jumlah anggota yang dimiliki juga besar, maka penyesuaian minat berkurang sehingga terdapat jarak sosial yang lebih besar di antara mereka. d) Kelompok Yang Terorganisir

Kelompok pemuda yang dibina oleh orang dewasa dibentuk oleh sekolah dan organisasi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sosial.

e) Kelompok Geng

Remaja yang tidak termasuk kelompok besar dan yang merasa tidak puas dengan kelompok yang terorganisasi mungkin mengikuti kelompok “geng”. Anggota “geng” terdiri atas remaja

yang sejenis dan minat utama mereka adalah untuk menghadapi penolakan teman-teman melalui perilaku antisosial.

4) Nilai-Nilai Baru Dalam Memilih Teman

Pada masa remaja, mereka tidak hanya memilih teman-teman berdasarkan kemudahannya baik di sekolah atau di lingkungan tetangga dan kegemarannya pada kegiatan yang sama. Remaja membutuhkan teman yang memiliki minat dan nilai yang sama. Remaja membutuhkan rasa aman dan kepercayaan. Kedua hal tersebut merupakan nilai baru yang digunakan remaja ketika memilih teman. Selain nilai kepercayaan, ada juga nilai kejujuran dan kesetiaan.

5) Nilai Baru Dalam Penerimaan Sosial

Nilai baru dalam penerimaan sosial didasarkan pada nilai kelompok sebaya yang digunakan untuk menilai anggota-anggota kelompok. Tidak satu sifat atau pola perilaku khas yang menjamin penerimaan sosial semasa remaja. Penerimaan bergantung pada sekumpulan sifat dan pola perilaku yaitu sindroma penerimaan.

Dokumen terkait