BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
B. Pengertia n Stres Kerja
1. Faktor-faktor sumber stres kerja
Stres kerja sangat besar pengaruhnya dalam perilaku kerja dan pada proses organisasi secara keseluruhan. Penelitian tentang stres kerja tersebut sudah banyak dilakukan oleh para ahli. Secara umum semua kondisi kerja dapat menimbulkan stres kerja, tetapi ada kondisi-kondisi tertentu yang dianggap sering menimbulkan stres kerja karyawannya.
French et al (dalam Shin et al, 1984) mempelajari bahwa sumber-sumber stres kerja termasuk didalamnya beban pekerjaan, konflik peran, hubungan antara pekerja, pengawas, bawahan yang kurang baik dan ketidaksesuaian antara individu dengan lingkungannya.
Davis (1981) mengatakan bahwa sumber-sumber stres kerja terdiri dari dua hal, yaitu kondisi yang berasal dari dalam pekerjaan (misalnya kondisi kerja) dan kondisi yang berasal dari luar pekerjaan (misalnya , kematian anggota keluarga) selanjutnya disebabkan bahwa salah satu sumber utama stres kerja
adalah pekerjaan dan lingkungan kerjanya. Stres kerja dapat terjadi jika pekerjaan tersebut mempunyai tuntutan yang tinggi, misalnya adanya dead line, beban pekerjaan yang besar, adanya sumber-sumber terbatas, standar performance yang rendah, adanya control terhadap lingkungan serta adanya perubahan-perubahan lingkungan.
Mambu (1985) menyebutkan faktor- faktor stres kerja dalam organisasi terdiri dari:
(a) Faktor-faktor instrinsik dalam pekerjaan
1) beban kerja yang berlebihan; berkembang ketika seseorang merasa tidak mampu, baik secara ketrampilan maupun dengan sumber daya yang dimilikinya untuk mengerjakan dan menerima tugas-tugas dalam jangka waktu tertentu.
2) kekurangan beban kerja, ketika seseorang memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sumber daya tetapi tidak mendapat tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan dalam pemenuhan tujuan pekerjaan.
(b) Peran dalam organisasi
1) peran yang rancu, yaitu ketika hak atau kewajiban pekerjaan seseorang dan tujuan pekerjaan tidak didefinisikan organisasi dengan jelas. 2) konflik peran, yaitu ketika tujuan pekerjaan dengan apa yang
dipikirkan yang seharusnya dapat dikerjakan tidak dapat sesuai dengan pekerjaan yang sebenarnya dapat dilakukan.
3) tanggung jawab, yaitu ketika indivivu tidak mampu untuk mempertanggungjawabkan proses maupun hasil pekerjaan yang berlebihan atau sekaligus kurang dalam organisasi.
4) sumber-sumber stres peran yang lain, yaitu ketika individu tersebut hanya memiliki sed ikit input yang bisa disumbangkan ke organisasi. (c) Hubungan dalam pekerjaan
1) hubungan dengan atasan, ketika individu merasa tidak mampu untuk melakukan semua tanggung jawab, beban kerja maupun harapan pekerjaan yang diinstruksikan dari pimpinan menuju bawaha n.
2) hubungan dengan para bawahan, terjadi ketika individu merasa tidak dihargai dalam setiap pengambilan keputusan, penjelasan pekerjaan terhadap struktur organisasi yang dibawahnya.
3) hubungan dengan teman kerja, terjadi ketika individu mengalami kegagalan kompetitif maupun hubungan yang cenderung personal dengan teman kerjanya.
(d) Perkembangan karier, yaitu ketidaknyamanan dalam bekerja dan kurangnya kesempatan untuk berkembang, peningkatan kerja ataupun promosi kerja. (e) Iklim atau Struktur Organisasi, yaitu kurangnya partisipasi dalam membuat
keputusan, kurangnya komunikasi dalam berorganisasi, dan kesulitan untuk menerima kebijakan yang diterapkan oleh pimpinan terhadap bawahan. (f) Sumber-sumber stres di luar organisasi, yaitu berbagai situasi yang terjadi di
Sementara itu Howard dan Gillhman (1981) mengemukakan beberapa faktor lingkungan yang dapat menimbulkan stres kerja, yaitu:
(a) Lingkungan fisik seperti kebisingan, kesepian yang sangat, panas atau dingin yang berlebihan, kurangnya penerangan, tempat kerja yang lembab, dan lain sebagainya.
(b) Karakteristik tugas, misalnya beban kerja dan target produksi yang terlalu tinggi dan pekerjaan yang repetitif.
(c) Lingkungan psikososial dalam organisasi yang meliputi tugas, peran dan tanggungjawab yang tidak jelas. Promosi dan kesempatan untuk mengembangkan inisiatif yang terbatas.
Keterangan yang lebih lengkap dikemukakan oleh Schultz (1976) mengenai sumber-sumber yang bisa menimbulkan stres kerja, yaitu:
(a) Sarat beban kuantitatif, yaitu terlalu banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan oleh karyawan dalam suatu kerja.
(b) Sarat beban kualitatif, yaitu tingginya tingkat kesulitan tugas yang harus diselesaikan oleh karyawan meskipun banyaknya peke rjaan yang dilakukan tidak berlebihan.
(c) Evaluasi kerja, adanya evaluasi ini dapat menimbulkan kekhawatiran karyawan, sebab akan dirasakan berhubungan dengan kelangsungan hidup karirnya di perusahaan/instansi/organisasi tersebut.
(d) Ambiquitas peran dapat menimbulkan stres bagi karyawan karena mereka bingung tentang peran apa yang harus mereka kerjakan. Padahal ini berhubungan dengan tanggung jawab kerja.
(e) Pertentangan peran. Hal ini timbul karena adanya perbedaan tuntutan tugas dengan pedoman nilai karyawan.
(f) Masalah perkembangan karir. Stres muncul karena karyawan gagal untuk mendapatkan promosi ke jenjang yang lebih tinggi.
(g) Adanya pengaruh dari pembawa tekanan, yaitu adanya orang lain atau kerabat kerja yang terkena stres dapat menyebabkan orang lain terpengaruh ikut menjadi stres.
(h) Kerja senada dan pengulangan. Cara kerja demikian akan menimbulkan kebosanan kerja, karena kurangnya tantangan kerja.
(i) Sistem upah harian, dimana pekerja hanya mendapatkan upah sesuai dengan jumlah yang telah dicapainya setiap hari. Sistem upah yang sedemikian akan dapat menimbulkan stres pada karyawan karena mereka akan selalu memikirkan kelanjutan setelah menerima upah.
Numerof (1983) yang menggabungkan faktor-faktor individual dengan lingkungan kerja sebagai sumber stres kerja, berpendapat bahwa sumber-sumber stres kerja adalah sebagai berikut:
(a) lingkungan fisik, seperti ventilasi, penerangan, suhu, kebisingan, dan sebagainya.
(b) Lingkungan sosial, seperti sikap tidak bersahabat dari rekan-rekan kerja, komunikasi antar pekerja, atasan, bawahan yang kurang baik dan sebagainya.
(c) Stres organisasional, yaitu kurang jelasnya tugas, konflik antar unit kerja, tuntutan tugas dan sebagainya .
(d) Faktor individual, terjadi jika individu tidak mampu mencapai standar pribadinya sehingga menimbulkan frustrasi dan dapat merusak performance kerja.
Dari pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa sumber-sumber stres kerja meliputi aspek-aspek:
(a) faktor individual, adanya tuntutan dari dalam diri sendiri dan harapan mencapai performance yang baik dapat menjadi sumber stres kerja, jika individu merasa tidak mampu untuk mencapai standar pribadinya, dan kemudian muncul rasa tidak mampu dan frustrasi sehingga dapat merusak penampilan kerja.
(b) Faktor-faktor intrinsik dalam pekerjaan, misalnya kelebihan atau kekurangan beban pekerjaan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, dan adanya pekerjaan yang bersifat repetitif.
(c) Karakteristik peran, seperti konflik peran, peran yang rancu, tanggung jawab yang tidak jelas.
(d) Karakteristik lingkungan sosial, misalnya hubungan antara pekerja, pengawas-bawahan yang kurang baik. Kontrol terhadap lingkungan kerja, kurangnya dukungan sosial dan adanya konflik kelompok.
(e) Iklim organisasi, yaitu sifat atau ciri-ciri yang relatif tetap pada lingkungan intern organisasi yang membedakannya dari organisasi lain, misalnya sistem penggajian, disiplin kerja, pengambilan kebijaksanaan dan sebagainya.
(f) Karakterisasi fisik lingkungan kerja, seperti ventilasi, suhu, penerangan, kebisingan dan sebagainya.
Dari berbagai penuturan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa faktor- faktor sumber stres kerja meliputi dua aspek besar, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal ini mencakup beberapa penyebab yang berhubungan langsung dengan individu, yaitu ketrampilan kerja, ambiquitas kerja, beban kerja (kuantitatif dan kualitatif kerja), evaluasi kerja, standar kerja dan performance kerja. Sedangkan faktor ekternal sumber stres kerja ini adalah pengaruh afiliasi dengan keluarga (misalnya, kematian anggota keluarga), struktur dan birokrasi perusahaan, lingkungan fisik tempat kerja (suhu, peralatan, penerangan, ventilasi dan lain sebagainya), lingkungan psikososial kerja, promosi kerja dan sistem pengupahan yang terjadi di tempat kerja. Semua elemen faktor sumber stres kerja ini akan sangat potensial untuk menimbulkan stres kerja apabila tidak diatur oleh individu dan struktur/birokrasi dengan baik.