• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KEHARMONISAN KELUARGA

Karakteristik Contoh dan Keluarga

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KEHARMONISAN KELUARGA

Uji regresi linear berganda digunakan untuk melihat variabel yang berpengaruh terhadap keharmonisan keluarga. Model persamaan regresi yang disusun memiliki adjusted R square sebesar 0,329 yang berarti 32,9 persen varian keharmonisan keluarga dapat dijelaskan oleh perubahan dalam variabel- variabel yang ada di dalam model. Variabel yang dimasukkan dalam model adalah lama pernikahan, usia menikah, besar keluarga, usia contoh, lama pendidikan, pendapatan, pola komunikasi, dan penyesuaian. Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa dari delapan variabel yang diduga berpengaruh pada keharmonisan keluarga, hanya ada dua variabel yang berpengaruh signifikan yaitu pola komunikasi dan penyesuaian dengan nilai (sig<0,05) (Tabel 26).

.

Tabel 26 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keharmonisan keluarga

Keterangan: *) signifikan pada p<0,05  

Model persamaan regresi yang disusun pada keluarga beda suku memiliki adjusted R square sebesar 0,656 yang berarti 65,6 persen varian keharmonisan keluarga dapat dijelaskan oleh perubahan dalam variabel-variabel yang ada di dalam model. Variabel yang dimasukkan dalam model adalah lama pernikahan, usia menikah, besar keluarga, usia contoh, lama pendidikan, pendapatan, pola komunikasi, dan penyesuaian. Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa dari delapan variabel yang diduga berpengaruh pada keharmonisan keluarga, hanya ada dua variabel yang berpengaruh

Variabel Tidak terstandarisasi Standarisasi Sig

B B

Konstanta -,138 ,697

Dummy (0=beda suku,1 =sama

suku) ,092 ,046 ,683

Lama pernikahan (tahun) -,675 -,675 ,163

Usia menikah (tahun) -.354 -.354 ,203

Besar keluarga (orang) -,022 -,022 ,864

Usia contoh (tahun) ,486 ,486 ,286

Lama pendidikan (tahun) ,111 ,111 ,338

Pendapatan (Rp) -,094 -,094 ,457

Pola komunikasi (skor) ,258 ,258 ,043*

Penyesuaian (skor) ,443 ,443 ,001*

F 4,212

R Square 0,431

signifikan yaitu pendapatan dan penyesuaian dengan nilai (sig<0,05). Sedangkan pada keluarga sama suku model persamaan regresi yang disusun memiliki nilai adjusted R square sebesar 0,385 yang berarti 38,5 persen varian keharmonisan keluarga dapat dijelaskan oleh perubahan dalam variabel-variabel yang ada di dalam model. Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa dari delapan variabel yang diduga berpengaruh pada keharmonisan keluarga, hanya ada satu variabel yang berpengaruh signifikan yaitu penyesuaian dengan nilai (sig<0,05) (Tabel 27).

 

Tabel 27 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keharmonisan keluarga pada keluarga beda suku dan sama suku

Variabel

Beda suku Sama suku

Standarisasi Sig Standarisasi Sig B B

Lama pernikahan (tahun) -0,281 0,278 -0,724 0,379

Usia menikah (tahun) -0,351 0,061 -0,258 0,525

Besar keluarga (orang) -0,133 0,251 0,192 0,167

Usia contoh (tahun) 0,169 0,526 0,391 0,580

Lama pendidikan (tahun) -0,001 0,990 0,049 0,700

Pendapatan (Rp) -0,213 0,028* 0,121 0,481

Pola komunikasi (skor) 0,002 0,982 0,108 0,451

Penyesuaian (skor) 0,655 0,000* 0,521 0,000*

F 12,159 3,986

R Square 0,656 0,385

Adjusted R Square 0,602 0,288

Keterangan: *) signifikan pada p<0,05  

PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan secara keseluruhan pola komunikasi suami istri tergolong pada kategori baik, baik pada keluarga beda suku maupun sama suku. Di setiap sisi kehidupan, manusia tidak akan pernah terlepas dari komunikasi. Hal ini disebabkan karena setiap saat manusia selalu melakukan interaksi dengan orang lain (Paruntu 1998). Komunikasi yang baik antara suami istri adalah bagian yang penting dalam kualitas perkawinan (Kammeyer 1987).

Jika dilihat berdasarkan aspek pola komunikasi, pada keluarga beda suku terdapat aspek pola komunikasi istri yang berada pada kategori kurang antara lain aspek ekonomi (3,3%), aspek cinta kasih (3,3%), aspek reproduksi (6,7%),

aspek sosial dan budaya (10%), serta aspek pembinaan lingkungan (10%). Sedangkan pada keluarga sama suku, aspek pola komunikasi istri yang terdapat kategori kurang antara lain aspek keagamaan (3,3%), aspek reproduksi (3,3%), serta aspek sosial dan budaya (6,7%). Pola komunikasi istri pada aspek reproduksi serta sosial dan budaya pada keluarga beda suku dan sama suku, sama-sama terdapat kategori kurang. Hal ini diduga karena istri tidak mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan reproduksi serta sosial dan budaya secara langsung pada suami.

Lain halnya dengan pola komunikasi suami, aspek pola komunikasi suami yang tidak terdapat kategori kurang pada keluarga beda suku hanya aspek sosialisasi dan pendidikan, sisanya terdapat kategori kurang. Sedangkan pada keluarga sama suku, pola komunikasi suami yang terdapat kategori kurang yaitu pada aspek ekonomi, aspek perlindungan, dan aspek pembinaan lingkungan, sisanya terdapat kategori kurang. Pada aspek reproduksi serta aspek sosial dan budaya pola komunikasi suami dan istri pada keluarga beda suku dan sama suku, keduanya terdapat kategori kurang. Hal ini diduga karena item pertanyaan aspek reproduksi yang diajukan pada contoh, tidak dikomunikasikan secara langsung pada pasangan, seperti mendiskusikan jumlah dan jarak kelahiran anak, dan mendiskusikan tentang KB (Keluarga Berencana). Sedangkan pada aspek sosial dan budaya item pertanyaannya menggambarkan bagaimana suami atau istri mensosialisasikan dan mengkomunikasikan budaya masing-masing kepada pasangannya. Pada penelitian ini terlihat bahwa suami atau istri sudah mengetahui budaya pasangannya masing-masing melalui pengamatan dan kebiasaannya sehari-hari, sehingga tidak ada komunikasi yang dilakukan secara langsung dan khusus untuk membicarakan budaya.

Penyesuaian contoh secara keseluruhan tergolong ke dalam kategori sedang baik pada keluarga beda suku maupun keluarga sama suku. Jika dilihat berdasarkan aspek penyesuaian, pada aspek penyesuaian dengan pasangan, baik istri maupun suami pada keluarga beda suku dan sama suku tidak ada yang berada pada kategori kurang. Hal ini diduga karena pasangan sudah dapat menyesuaikan diri dengan pasangannya, terkait dengan usia pernikahan contoh pada keluarga beda suku dan sama suku telah berjalan lebih dari 13 tahun. Sehingga pasangan sudah cukup lama mengetahui kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Hal yang lebih penting dalam penyesuaian perkawinan adalah

kesanggupan dan kemampuan suami dan istri untuk berhubungan dengan mesra, serta saling memberi dan menerima cinta pasangan (Hurlock 2002).

Pada aspek penyesuaian seksual lebih dari separuh penyesuaian suami dan istri pada keluarga beda suku dan sama suku berada pada kategori sedang. Menurut Hurlock (2002) masalah penyesuaian seksual merupakan salah satu masalah yang paling sulit dalam perkawinan serta salah satu penyebab yang mengakibatkan pertengkaran dan ketidakbahagiaan dalam perkawinan, jika kesepakatan tidak dapat dicapai dengan memuaskan. Sedangkan pada aspek keuangan lebih dari separuh penyesuain suami dan istri pada keluarga beda suku dan sama suku berada pada kategori baik. Hal ini diduga karena jika dilihat dari item pertanyaan aspek keuangan seperti mengatur dan mengelola keuangan keluarga, perencanaan tabungan untuk pengeluaran masa depan, memberikan dan menghargai pendapatan pasangan, serta memecahkan masalah keuangan, suami istri tidak terlalu merasa kesulitan melakukan hal-hal tersebut pada pasangannya. Jika suami atau istri mengalami kesulitan dalam hal keuangan maka pasangan akan segera mencari bantuan pinjaman kepada teman, saudara, atau bank untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sehingga pasangan mudah mengatasi masalah tersebut dan mudah melakukan penyesuaian.

Pada aspek penyesuaian dengan keluarga pasangan, lebih dari separuh penyesuaian suami dan istri (53,3% dan 60%) pada keluarga beda suku tergolong dalam kategori sedang. Sedangkan pada keluarga sama suku, lebih dari separuh (53,3%) penyesuaian istri berada pada kategori sedang, lain halnya dengan penyesuaian suami, kurang dari separuh contoh (46,7%) berada pada kategori baik. Hal ini diduga karena adanya perbedaan budaya antar dua keluarga pasangan, sehingga suami atau istri merasa kesulitan menyesuaikan dengan anggota keluarga pasangan, selain itu disebabkan karena jarak tempat tinggal contoh dengan anggota keluarga pasangan yang jauh membuat contoh sulit untuk mengunjungi dan bertemu dengan keluarga pasangannya. Suami dan istri harus mampu mempelajari dan menyesuaiakan diri dengan anggota keluarga pasangan yang memiliki perbedaan usia, minat, nilai, pendidikan, budaya, dan latar belakang sosialnya dengan dirinya. Masalah penyesuaian dengan pihak keluarga pasangan menjadi serius pada tahun-tahun awal perkawinan (Hurlock 2002). Keharmonisan keluarga pada keluarga beda suku dan sama suku secara keseluruhan lebih dari separuh contoh berada pada kategori sedang. Hal ini diduga karena sebagian besar contoh telah merasa

cukup puas dengan apa yang telah dilakukan, hanya sedikit contoh yang merasa sangat puas terhadap apa yang telah dilakukan untuk keluarga. Berdasarkan hasil uji beda tidak terdapat perbedaan yang signifikan pola komunikasi suami istri, penyesuaian suami istri, dan keharmonisan keluarga baik pada keluarga beda suku maupun keluarga sama suku.

Pada keluarga beda suku terdapat hubungan negatif dan signifikan antara usia contoh, usia ketika menikah, dan pendapatan dengan keharmonisan keluarga. Menurut Gottman dan Notarius (2000) dalam Prasetya (2007) terdapat hubungan negatif antara usia dengan kepuasan perkawinan, meningkatnya usia biasanya disertai dengan kemunduran secara fisik. Kemunduran fisik dapat menimbulkan berbagai persoalan seperti depresi, kemunduran rasa percaya diri dan harga diri. Persoalan-persoalan tersebut akan membuat kepuasan seseorang terhadap perkawinan menjadi semakin berkurang.

Menurut Anjani dan Suryanto (2006) masalah keuangan pun berpengaruh kuat terhadap penyesuaian perkawinan. Berdasarkan hasil penelitiannya beberapa subjek yang diteliti menyatakan bahwa dalam hal keuangan biasanya suami lebih menyerahkan semua hal keuangan kepada istrinya dan suami merasa kewajibannya hanya mencari uang saja. Banyak suami yang merasa sulit untuk menyesuaikan diri dengan keuangan. Apabila suami tidak mampu menyediakan barang-barang keperluan, maka dapat menimbulkan perasaan tersinggung yang dirasakan oleh istri, dimana perasaan ini dapat berkembang ke arah pertengkaran (Hurlock 2002). Kesulitan suami istri dalam menyesuaikan diri dengan masalah keuangan akan berdampak pada keharmonisan keluarga

Selain itu pada keluarga beda suku dan sama suku terdapat hubungan positif dan signifikan antara pola komunikasi dan penyesuaian dengan keharmonisan keluarga. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan komunikasi yang efektif akan mengarah pada kualitas perkawinan yang baik (Lewis & Spanier 1979 dalam Kammeyer 1987). Menurut Hurlock (2002) keberhasilan perkawinan tercermin pada besar kecilnya hubungan interpersonal dan pola perilaku. Ada beberapa kriteria keberhasilan penyesuaian perkawinan antara lain: kebahagiaan suami istri, hubungan yang baik antara anak dan orangtua, penyesuaian yang baik dari anak-anak, kemampuan untuk memperoleh kepuasan dari perbedaan pendapat, kebersamaan, penyesuaian yang baik dalam masalah keluarga, dan penyesuaian yang baik dari pihak keluarga pasangan.

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gottman, Carrere, dan Swanton (1998) dalam Wisnubroto (2009) yang menyatakan adanya hubungan positif antara penyesuaian diri pada pasangan suami istri dengan kebahagiaan perkawinan. Penelitian tersebut dilakukan terhadap 70 pasangan suami istri. Gottman menemukan bahwa pasangan suami istri yang memiliki penyesuaian diri yang tinggi cenderung merasakan kebahagian perkawinan yang tinggi pula. Pasangan suami istri cenderung dapat menghindari perilaku-perilaku yang mengancam keutuhan perkawinannya.

Selain itu juga terdapat hubungan positif dan signifikan antara pola komunikasi suami, pola komunikasi istri, penyesuaian suami, penyesuaian istri, keharmonisan suami, keharmonisan istri, pola komunikasi suami istri, dan penyesuaian suami istri dengan keharmonisan keluarga. Hal ini berarti semakin baik pola komunikasi dan penyesuaian yang dilakukan oleh suami dan istri, serta semakin harmonis suami dan istri maka akan semakin harmonis sebuah keluarga.

Adapun faktor yang berpengaruh terhadap keharmonisan keluarga yaitu pola komunikasi dan penyesuaian. Apabila sebuah keluarga memiliki pola komunikasi yang baik dengan anggota keluarganya, terutama komunikasi antar suami istri, serta memiliki penyesuaian yang baik maka keharmonisan keluarga akan tercapai. Berdasarkan hasil uji beda tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara keharmonisan keluarga pada keluarga beda suku dengan keluarga sama suku dengan nilai (p>0,05). Hal ini berarti keharmonisan sebuah keluarga tidak dilihat dari adanya perbedaan suku maupun kesamaan suku pasangan, melainkan dipengaruhi oleh pola komunikasi dan penyesuaian. Sadarjoen (2005) dalam Sumpani (2008) menyatakan bahwa komunikasi merupakan titik pusat cara pasangan suami istri untuk hidup harmonis satu sama lain. Hurlock (2002) menyatakan bahwa pada dasarnya keberhasilan sebuah perkawinan adalah keberhasilan suami istri dalam mewujudkan penyesuaian perkawinan.

Jika dilihat berdasarkan perbedaan dan kesamaan suku, faktor yang berpengaruh terhadap keharmonisan keluarga pada keluarga beda suku yaitu pendapatan dan penyesuaian. Sedangkan pada keluarga sama suku, faktor yang berpengaruh terhadap keharmonisan keluarga hanya variabel penyesuaian. Hal ini diduga pada keluarga beda suku istri lebih banyak yang tidak bekerja

dibandingkan istri pada keluarga sama suku. Sehingga pendapatan pada keluarga beda suku berpengaruh terhadap keharmonisan keluarga.

                                                 

 

Dokumen terkait