• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-faktor Yang Melekat Pada Wajib Pajak PBB

Faktor-faktor yang mempengruhi keberhasilan perpajakan, termasuk PBB yaitu, tax law (Undang undang perpajakan ), tax Administration (Administrasi perpajakan ) dan tax payer (faktor yang dilihat dari sisis wajib pajak). Menurut Dirjen pajak faktor faktor tersebut relative uncontrollable, artinya untuk mengetahui berapa besar jmlah pajak yang terhutang butuh kerja sama antara wajib pajak dan fiskus. Faktor faktor yang yang melekat pada wajib pajak bumi dan bangunan merupakan input penting bagi focus dan sangat penting bagisetiap peningkatan perpajakan.

Faktor faktor yang melekat pada wajib pajak PBB yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah sebagaiberikut:

1. Sikap Wajib Pajak Terhadap Pelayanan Fiskus

Tingkat keberhasilan penerimaan PBB dapat dipengaruhi oleh faktor yang dikendalikan oleh Fiskus itu sendiri. Sehingga pendapat wajib pajak terhadap fiskus merupakan variabel penting dalam penelitian ini yang memepengaruhi keberhasilan penerimaan PBB Fraternesi (2002). Dengan demikian fiskus diharapkan mempunyai kompetensi seperti , keahlian, pengetahuan , dan pengalaman . Selain itu fiskus harus termotivasi dan melaksanakan tugas sebagai pelayanan publik. Dari uraian diatas dikatakan bahwa sikap wajib pajak dalam

hal ini adalah wajib pajak tentang mutu pelayanan petugas pajak yang digunakan akan berpengaruh terhadap pengaruh wajib pajak dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan.

2. Persepsi Wajib Pajak Tentang Pelaksanaan Sanksi Denda PBB

Persepsi Wajib Pajak Tentang Pelaksanaan Sanksi Denda PBB adalah pandangan responden tentang pelaksanaan sanksi denda PBB terhadap responden sendiri dan orang lain sekitar responden. Sebagai pandangan seseorang mengenai suatu kondisi tertentu, dimana dalam hal ini mengenai pelaksanaan sanksi denda PBB. Masyarakat akan memiliki sikap sadar terhadap fungsi pajak yang pada akhirnya mematuhi pembayaran PBB, jika persepsi mereka terhadap sanksi khususnya sanksi denda PBB yang dilaksanakan secara tegas. Kesadaran perpajakan biasanya dapat terwujud tidak hanya disebabkan oleh bentuknya pemahaman tentang pajak dalam diri seseorang, melainkan juga diikuti oleh penerapan sanksi.

3. Sikap Wajib Pajak terhadap kesadaran perpajakan

Kesadaran perpajakan masyarakat yang rendah seringkali menjadi salah satu sebab banyaknya potensi pajak yang tidak dapat dijaring. Lerche (1980) juga mengemukakan bahwa kesadaran perpajakan seringkali menjadi kendala dalam masalah pengumpulan pajak dari masyarakat. Kesadaran wajib pajak atas perpajakan amatlah diperlukan guna meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Secara empiris juga telah di buktikan bahwa makin tinggi kesadaran perpajakan wajib pajak maka makin tinggi tingkat kepatuhan wajib pajak.

M. Kerangka Pikir

Keberhasilan perpajakan sangat ditentukan oleh kesadaran perpajakan wajib pajak. Faktor tax payer merupakan faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan perpajakan, yang tercermin dari kepatuhan wajib pajak yang dibentuk oleh peningkatan kesadaran perpajakan pada diri setiap wajib pajak apalagi terkait denagn sanksi. Di sisi lain, perlunya peningkatan pelayanan yang maksimal.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat dibuat bagan kerangka pikiran sebagai berikut:

Sikap WP Terhadap Pelayanan Fiskus

Persepsi Wajib PajakTentang Pelaksanaan

Sanksi Denda PBB

Sikap Wajib Pajak Terhadap Kesadaran Perpajakan

Wajib Pajak

44 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Metode Penelitian

Tempat penelitian dilaksanakan di Kabupaten Majene Sulawesi Barat.

Data diperoleh dengan melakukan penelitian pada Kantor Pajak yang menjadi objek penelitian yaitu pada KPP. Pratama Majene Sul-Bar.

Sedangkan waktu penelitian sampai dengan penyusunaan laporan diperkirakan kurang lebih 2 (dua) bulan.

B. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan jenis penelitian diskriptif. Penelitian deskriptif merupakan metode yang didasarkan pada data masa sekarang.

Penjelasan pengertian penelitian deskriptif adalah salah satu cara penelitian dengan menggambarkan serta menginterpretasi suatu objek sesuai dengan kenyataan yang ada tanpa dilebih-lebihkan. Penelitian deskriptif sering disebut sebagai noneksperimen, dikatakan demikian karena penelitian ini seseorang yang meneliti tidak melakukan manipulasi variabel dan juga selalu mengutamakan fakta, sehingga peneliti ini murni menjelaskan dan menggambarkannya. Penelitian deskriptif dijalankan dengan cara mengumpulkan data yang kemudian data tersebut guna mengetes pertanyaan atau hipotesis dengan kejadian yang dialami saat ini. hal ini dilakukan agar peneliti dapat mengerti fakta yang terjadi pada suatu masalah yang terjadi. Setelah objek tersebut telah diteliti, maka mereka melaporkan data tersebut apa adanya sesuai kenyataan.

C. Metode Pengumpulan Data

1. Metode Angket

Pengertian metode angket menurut Suharsimi Arikunto (2002:140), adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden. Angket yang digunakan penulis termasuk jenis angket tertutup.

Penulis memberikan pertanyaan-pertanyaan dengan menyediakan alternative jawaban sehingga responden tinggal member tanda pada jawaban yang dipilih.

2. Metode Interview

Interview digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal responden yang lebih mendalam. Metode ini digunakan untuk memperkuat perolehan informasi tentang kesadaran perpajakan, pengetahuan WP tentang pajak, pelayanan petugas pajak, pengenaan sanksi pajak dan manfaat pajak bagi WP.

D. Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah wajib pajak dalam wilayah kabupaten Majene. Dari populasi ditarik sampel berdasarkan kecamatan yang jumlahnya ada 8 (delapan) kecamatan di Majene yang terdiri dari Banggae Timur, Banggae, Pamboang, Sendana, Tammerodo, Tubo, Malunda, dan Ulumanda. Sampel penelitian ini diperoleh secara acak dengan persentase 50%, berarti jumlah kecamatan yang jadi sasaran penelitian adalah empat kecamatan. Dari setiap

kecamatan yang terpilih diambil responden sebanyak 25 orang, jadi jumlah responden adalah 100 orang.

Peneliti mengambil data dengan cara interview dan penyebaran angket.

No Kecamatan Angket yang disebar Angket yang diterima

1 Banggae Timur 25 25

2 Banggae 25 25

3 Pamboang 25 25

4 Sendana 25 25

Jumlah 100 100

E. Definisi Operasional Variabel

1. Sikap Wajib Pajak Terhadap Pelayanan Fiskus

Kesadaran perpajakan sering menjadi kendala dalam masalah pemungutan pajak dari masyarakat. Jika fiskus tidak memberikan pelayanan yang baik, maka ada kecendrungan wajib pajak akan melalaikan kewajibannya. Kesadaran wajib pajak atas perpajakan sangat penting agar meningkatkan kepatuhan pajak, serta terciptanya kesejahteraan bangsa secara keseluruhan.

2. Persepsi Wajib Pajak Tentang Pelaksanaan Sanksi Denda PBB

Wajib pajak akan mematuhi pembayaran PBB karena sanksi denda akan merugikan wajib pajak tersebut. Kesadaran perpajakan tidak hanya dengan pemahaman tentang pajak tetapi juga adanya penerapan sanksi yang diterapkan secara tegas.

3. Sikap Wajib Pajak terhadap kesadaran perpajakan

kesadaran adalah keadaan mengetahui atau mengerti, sedangkan perpajakan adalah perihal pajak. Sehingga kesadaran perpajakan adalah keadaan mengetahui atau mengerti perihal pajak. Penilaian positif masyarakat wajib pajak terhadap pelaksanaan fungsi negara oleh pemerintah akan menggerakkan masyarakat untuk mematuhi kewajibannya untuk memmbayar pajak.

F. Metode Analisis 1. Analisis Deskriptif

Penelitian ini dianalisis secara deskriptif yaitu dengan menggambarkan keadaan responden tentang kewajiban atau kesadaran dalam membayar pajak, khususnya Pajak Bumi dan Bangunan secara kualitatif dan kuantitatif, yaitu dengan menghitung persentase dari wajib pajak berupa :

a. Sikap wajib pajak terhadap pelayanan fiskus

b. Persepsi wajib pajak tentang pelaksanaan sanksi denda PBB c. Sikap wajib pajak terhadap kesadaran perpajakan

2. Analisis Regresi Linear Berganda

Analisis Regresi Linier Berganda, digunakan untuk mengetahui pengaruh dari factor-faktor yang diidentifikasi sebagai variabel yang mempengaruhi wajib pajak dalam memenuhi kewajiban pembayaran pajak Pada KPP Pratama Majene.

Rumus yang digunakan adalah:

Y = a +bX1 + bX2 + bX3 + e Y = wajib pajak

a = kepatuhan pajak

b = koefisien regresi untuk X X1 = pelayanan fiskus/pajak X2 = sanksi pajak

X3 = kesadaran wajib pajak e = standar eror

G. Uji Asumsi Klasik

Pengujian distribusi data menggunakan uji normalitas untuk mengetahui alat analisis yang seharusnya digunakan berdasarkan kriteria tertentu. Sedangkan pengujian asumsi klasik dilakukan untuk mendiagnosis model persamaan regresi berganda berdasar multikolinieritas, autokolerasi dan heteroskedostisitas.

Setelah data diuji validitas dan rentabilitas, maka data tersebut diuji normalitas, multikolinieritas, autokolerasi dan heteroskedostisitas.

1. Uji Normalitas, bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal (Ghozali, 2007).

Uji statistik yang digunakan adalah “normal probability plots” yaitu grafik menunjuk titik yang menyebar berhimpit di sekitar diagonal menunjukkan residual terdistribusi secara normal.

2. Uji Multikolinieritas, bertujuan untuk mengetahui apakah Pada model regresi yang diajukan ditemukan adanya kolerasi kuat antar variabel independen (Ghozali, 2007 dan Husein, 2008). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi kolerasi diantara variabel independen. Terjadinya multikolinieritas jika nilai kolerasinya tinggi, yaitu melebihi 0.80 (Husein, 2008) sedangkan menurut

Ghozali (2007) adalah 0.90. untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinieritas di dalam regresi dengan menggunakan nilai Variance Inflation Factor (VIF) yaitu lebih besar dari 10 (Ghozali, 2007).

3. Uji Autokolerasi, bertujuan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi linier terdapat hubungan yang kuat baik positif maupun negatif antar data yang ada Pada variabel penelitian (Husein, 2008).

4. Uji Heteroskedastisitas, bertujuan untuk mengukur apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dan residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah heteroskedastisitas (Ghozali, 2007).

Unruk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas maka akan dilakukan dengan melihat Grafik Plot, yaitu hasil dari grafik scatterplots dilihat, jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar diatas maupun dibawah angka 0 Pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2007).

48 BAB IV

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Sejarah Singkat Kantor Pelayanan Pajak Pratama Majene

Organisasi Direktorat Jendral Pajak pada mulanya merupakan perpaduan dari beberapa unit organisasi yaitu :

1. Jawatan pajak yang bertugas melaksanakan pemungutan pajak berdasarkan perundang-undangan dan melakukan tugas pemeriksaan kas bendahrawan pemerintah.

2. Jawatan lelang bertugas melakukan pelelangan terhadap barang-barang sitaan guna pelunasan piutang pajak negara

3. Jawatan akuntan pajak yang bertugas membantu jawatan pajak untuk melaksankan pemeriksaan pajak terhadapa pembukuan wajib pajak badan 4. Jawatan pajak hasil bumi yang bertugas melakukan pungutan pajak hasil bumi

dan pajak atas tanah yang pada tahun 1963 diubah menjadi Direktorat Pajak Hasil Bumi dan kemudian pada tahun 1965 berubah lagi menjadi Direktorat Iuran Pembangunan Daerah

Dengan keputusan Presiden RI No.12 Tahun 1976 tanggal 27 Maret 1976, Direktorat Ipeda diserahkan dari Direktorat Jendral Moneter kepada Direktora Jendral Pajak. Pada tanggal 27 Desember 1985 melalui undang-undang RI No. 12 tahun 1985 Direktorat IPEDA berganti nama menjadi Direktorat Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Demikian juga unit kantor di daerah yang semula bernama

49

inspeksi Ipeda diganti menjadi Inspeksi Pajak Bumi dan Bangunan, dan kantor dinas luar Ipeda di ganti menjadi kantor dinas luar PBB.

B. Tugas Unit dan Jabatan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Majene 1. Sekretariat Direktorat Jendral melaksankan koordinasi pelaksanaan tugas

serta pembinaan dan pemberian dukungan administrasi kepada semua unsur di Direktorat Jemdral Pajak.

2. Direktorat Peraturan Perpajakan I merumuskan serta melaksanakan

kebijakan dan standardisasi teknis di bidang peraturan ketentuan umum dan tata cara perpajakan (KUP), penagihan pajak dengan surat paksan, pajak pertambahan nilai (PPN), dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM).

3. Direktorat pemeriksaandan penagihan merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis bidang pemeriksaan dan penagihan pajak

4. Direktorat intelijen dan penyidikan merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis bidang intelijen dan penyidikan Pajak 5. Direktorat keberatan dan banding merumuskan serta melaksanakan

kebijakan dan standardisasi teknis bidang keberatan dan banding 6. Direktorat potensi, kepatuhan dan penerimaan merumuskan serta

melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis bidang potensi, kepatuhan dan peneriamaan

7. Direktorat penyuluhan, pelayanan dan hubungan masyarakat merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis bidang penyuluhan, pelayanan dan hubungan masyarakat

8. Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis bidang Teknologi Informasi Perpajakan

9. Direktorat Kepatuhan Internal dan Transformasi Sumber Daya Aparatur (Dit. KITSDA) merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan

standardisasi teknis bidang kepatuhan internal dan transformasi sumber daya aparatur

10. Direktorat Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi

merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis bidang Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi

11. Direktorat Transformasi Proses Bisnis merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis bidang transformasi proses bisnis 12. Tenaga Pengkaji Bidang Ekstensifikasi dan Intensifikasi Pajak mengkaji

dan menelaah masalah di bidang ekstensifikasi dan intensifikasi pajak, serta memberikan penalaran pemecahan konsepsional secara keahlian 13. Tenaga Pengkaji Bidang Pengawasan dan Penegakan Hukum Perpajakan

mengkaji dan menelaah masalah di bidang Pengawasan dan Penegakan Hukum Perpajakan, serta memberikan penalaran pemecahan konsepsional secara keahlian

14. Tenaga Pengkaji Bidang Pembinaan dan Penertiban Sumber Daya Manusia mengkaji dan menelaah masalah di bidang Pembinaan dan Penertiban Sumber Daya Manusia, serta memberikan penalaran pemecahan konsepsional secara keahlian

15. Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan Perpajakan mengkaji dan menelaah masalah di bidang Pelayanan Perpajakan, serta memberikan penalaran pemecahan konsepsional secara keahlian

52 BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Sikap Wajib Pajak Terhadap Pelayanan Fiskus

Kepatuhan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajibannya membayar pajak tergantung pada bagaimana petugas pajak memberikan mutu pelayanan terbaik kepada wajib pajak. Selama ini peranan yang fiskus miliki lebih banyak pada peran seorang pemeriksa. Padahal untuk menjaga agar wajib pajak tetap patuh terhadap kewajiban perpajakan dibutuhkan peran yang lebih dari sekedar pemeriksa. Oleh karena itu, pelayanan fiskus harus lebih memperhatikan segi kebutuhan wajib pajak. Efektifitas pelayanan fiskus akan berdampak pada sikap wajib pajak dalam memenuhi kewajibannya.

Untuk mengetahui bagaimana sikap wajib pajak terhadap pelayanan fiskus penulis meneliti dengan kuisioner yang disebarkan dibeberapa area wajib pajak yang meliputi empat kecamatan yaitu, Kecamatan Banggae Timur, Kecamatan Banggae, Kecamatan Pamboang, dan Kecamatan Sendana.

Kuisioner mengenai sikap wajib pajak terhadap pelayanan fiskus terdapat nilai persepsi (skala 1-5) yang menunjukkan tingkat kepuasaan Bapak/Ibu/Saudara/Saudari terhadap empat pernyataan dalam kuisioner tersebut.

Berikut ini adalah keterangan nialai persepsi:

1 = sangat tidak setuju (STS) 2 = tidak setuju (TS)

3 = kurang setuju (KS) 4 = setuju (S)

5 = sangat setuju (SS)

Pernyataan kuisioner mengenai sikap wajib pajak terhadap pelayanan fiskus dan hasil rekapan penilaian dari kuisioner mengenai pelayanan fiskus telah terlampir.

B. Analisis Persepsi Wajib Pajak Tentang Pelaksanaan Sanksi Denda PBB Undang-undang pajak dan peraturan pelaksanaannya tidak memuat jenis penghargaan bagi wajib pajak yang taat dalam melaksanakan kewajiban perpajakan baik berupa prioritas untuk mendapatkan pelayanan publik ataupun piagam penghargaan. Walaupun wajib pajak tidak mendapatkan penghargaan atas kepatuhannya dalam melaksanakan kewajiban perpajakan, wajib pajak akan dikenakan banyak hukuman apabila alfa atau sengaja tidak melaksanakan kewajiban perpajakannya.

Untuk mengetahui bagaimana persepsi wajib pajak tentang pelaksanaan sanksi denda PBB penulis meneliti dengan kuisioner yang disebarkan dibeberapa area wajib pajak yang meliputi empat kecamatan yaitu, Kecamatan Banggae Timur, Kecamatan Banggae, Kecamatan Pamboang, dan Kecamatan Sendana.

Kuisioner mengenai persepsi wajib pajak tentang pelaksanaan sanksi denda PBB terdapat nilai persepsi (skala 1-5) yang menunjukkan tingkat kepuasaan Bapak/Ibu/Saudara/Saudari terhadap empat pernyataan dalam kuisioner tersebut.

Berikut ini adalah keterangan nialai persepsi : 1 = sangat tidak setuju (STS)

2 = tidak setuju (TS) 3 = kurang setuju (KS)

4 = setuju (S)

5 = sangat setuju (SS)

Pernyataan kuisioner mengenai persepsi wajib pajak tentang pelaksanaan sanksi denda PBB dan hasil rekapan penilaian dari kuisioner mengenai persepsi wajib pajak tentang pelaksanaan sanksi denda PBB telah terlampir.

C. Analisis Sikap Wajib Pajak terhadap kesadaran perpajakan

Sebagaimana diketahui bahwa dalam sistem perpajakan yang baru, wajib pajak diberikan kepercayaan untuk melaksanakan kegotongroyongan nasional melalui sistem menghitung, memperhitungkan, membayar, melaporkan sendiri pajak yang terutang. Besarnya pajak dihitung sendiri oleh wajib pajak, kemudian membayar pajak yang terutang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Dengan sistem perpajakan yang baru diharapkan akan tercipta unsur keadilan dan kebenaran mengingat pada wajib pajak yang bersangkutanlah yang sebenarnya mengetahui besarnya pajak yang terutang.

Untuk mengetahui bagaimana sikap wajib pajak terhadap kesadaran perpajakan penulis meneliti dengan kuisioner yang disebarkan dibeberapa area wajib pajak yang meliputi empat kecamatan yaitu, Kecamatan Banggae Timur, Kecamatan Banggae, Kecamatan Pamboang, dan Kecamatan Sendana.

Pernyataan kuisioner mengenai sikap wajib pajak terhadap kesadaran perpajakan terdapat nilai persepsi (skala 1-5) yang menunjukkan tingkat kepuasaan Bapak/Ibu/Saudara/Saudari terhadap empat pernyataan dalam kuisioner tersebut.

Berikut ini adalah keterangan nialai persepsi : 1 = sangat tidak setuju (STS)

2 = tidak setuju (TS) 3 = kurang setuju (KS) 4 = setuju (S)

5 = sangat setuju (SS)

Kuisioner mengenai sikap wajib pajak terhadap kesadaran perpajakan dan hasil rekapan penilaian dari kuisioner mengenai sikap wajib pajak terhadap kesadaran perpajakan telah terlampir.

D. Analisis Pengaruh Pelayan Fiskus, Sanksi Denda dan Kesadaran perpajakan terhadap kewajiban Wajib Pajak membayar pajak

Bersdasarkan perhitungan regresi linear berganda dengan menggunakan bantuan SPSS 16.0 for windows di peroleh nilai koefisien determinasi R2 sebesar 0,098 menunjukkan bahwa ketiga variabel bebas (pelayan fiskus, sanksi denda dan kesadaran perpajakan) berpengaruh secara simultan terhadap kewajiban membayar pajak. Wajib pajak dengan variasi pengaruh sebesar 9,8%, sedangkan sisanya 90,2% di jelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak diteliti. Adapun persamaan yang diperoleh adalah sebagai berikut :

Y = 8,638 + 0,175X1 + 0,071X2 + 0,204X3 + e

Konstanta bernilai 8,638 artinya kemauan membayar pajak akan bernilai 8,638 apabila variabel pelayan fiskus, sanksi denda dan kesadaran perpajakan konstan.

Nilai koefisien regresi untuk variabel pelayanan fiskus sebesar 0,175 menyatakan apabila terjadi penigkatan pada variabel pelayanan fiskus sebesar satu satuan sedangkan variabel lain tetap, makahal tersebut akan meningktakan kemauan membayar pajak sebesar 0,175.

Nilai koefisien regresi untuk variabel sanksi denda sebesar 0.071

menyatakan apabila terjadi penigkatan pada variabel sanksi denda sebesar satu satuan sedangkan variabel lain tetap, makahal tersebut akan meningktakan kemauan membayar pajak sebesar 0,071.

Nilai koefisien regresi untuk variabel kesadaran perpajakan sebesar 0,204 menyatakan apabila terjadi penigkatan pada variabel kesadaran perpajakan sebesar satu satuan sedangkan variabel lain tetap, makahal tersebut akan meningktakan kemauan membayar pajak sebesar 0,204.

E. Uji Kualitas Data

Uji Validitas dan Uji Reliabilitas

Uji validitas dilakukan untuk menguji keakuratan instrumen kuesioner.

Item pertanyaan untuk masing-masing variabel menunjukkan bahwa nilai rhitung korelasi product moment > rtabel (0,377) dengan tingkat kepercayaan 95% sehingga semua item pertanyaan dalam kuesioner dinyatakan valid. Uji reliabilitas digunakan untuk menguji konsistensi data yang dikumpulkan.

Pengujian reliabilitas kuesioner menggunakan rumus cronbach’s alpha. Dari hasil perhitungan dalam penelitian ini setiap variabel memberikan nilai cronbach’s alpha > 0,60. Maka dapat dikatakan reliable (Imam, 2005).

F. Uji Asumsi Klasik -Uji Normalitas

Berdasarkan hasil analisis dengan Kol mogrov-Smirnov dengan

menggunakan bantuan SPSS 16.0 for windows dengan kriteria pengujian nilai asympotic significant (two tailed) > alpha (α = 0,05), maka nilai residual

memenuhi asumsi klasik atau berdistribusi normal. Diperoleh nilai Assymp. Sig sebesar 0,997 atau lebih besar dari alphanya (α = 0,05), sehingga distribusi

data pada variabel penelitian adalah normal, dan bisa dilanjutkan ke analisis selanjutnya.

-Uji Multikolinearitas

Berdasarkan hasil output SPSS 16.0 for Windows pada lampiran 4 diketahui bahwa nilai tolerance value ≥ 0,1 dan nilai VIF < 10 yang berarti tidak terjadi gejala multikolinearitas.

-Uji Heteroskedastisitas

Berdasarkan tabel hasil uji heteroskedastisitas menggunakan SPSS 16.0 for Windows yang ada pada lampiran, diperoleh nilai signifikansi untuk semua variabel pada masing-masing persamaan > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas.

-Uji Autokorelasi

Berdasarkan hasil uji Durbin Watson dengan bantuan software SPSS 16.0 for Windows, diperoleh nilai Durbin Watson sebesar 2,038 (lampiran).

Nilai tersebut dibandingkan dengan nilai Durbin Watson tabel untuk n = 100 dan k = 4 dengan (α) 0,05 atau 5%, maka nilai dU = 1,7582 dan dL = 1,5922.

Jadi nilai uji Durbin Watson berada di antara nilai dU s.d 4 - dU. Hal ini merupakan bukti tidak adanya autokorelasi positif maupun negatif.

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka penulis memberikan kesimpulan tasa masalah tersebut yaitu :

1. Pelayanan Fiskus memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kewajiban membayar pajak. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik pelayan fiskus maka semakin tinggi pula kemauan membayar pajak.

2. Sanksi denda berpengaruh positid dan signifikan terhadap kewajiban membayar pajak. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pemahaman wajib pajak tentang sanksi denda maka tingkat kemauan untuk mebayar pajakpun akan semakin meningkat.

3. Kesadaran Perpajakan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kewajiban membayar pajak. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik kesadaran perpajakan maka semakin tinggi pula kemauan membayar pajak.

B. Saran

Dari hasil penelitian dan pengujian hipotesis yang dilakukan pada bab terdahulu serta kesimpulan penelitian yang diperoleh, maka dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut :

1. Fiskus harus bertindak profesional dan memiliki mental yang siap melayani para wajib pajak dengan sebaik-baiknya. Pihak Direktorat Jendral Pajak dapat melakukan pelatihan pelayanan wajib pajak agar dapat meningkatkan pelayanan fiskus bagi wajib pajak.

2. Sanksi denda harus disosialisasikan dengan baik kepada para wajib pajak agar wajib pajak dapat memahami hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan sanksi denda serta penyebab-penyebab dikenakannya suatu sanksi denda terhadap wajib pajak.

3. Perlu disosialisasikan sikap sadar membayar pajak di masyarakat. Sosialisasi ini dapat melalui iklan di telivisi, radio maupun surat kabar serta media-media lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. Undang-undang Pajak Lengkap. Jakarta : Mitra Wacana Media Mardiasmo. 2011. Perpajakan. Yogyakarta : CV. Andi Offs

.2013. Perpajakan. Yogyakarta : CV. Andi Offset

Siahan, Marihot P. 2013. Pajak Daerah & Retribusi Daerah. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

Suprianto, Edy, 2012, Akuntansi Perpajakan, Yogyakarta : Graha Ilmu

Suryabrata, Sumadi, 2013, Metodologi Penelitian, Jakarta : Rajagrafindo Persada Prastowo, Yustinus, dkk, 2011, Buku Pintar Menghitung Pajak Profesi, Badan

Suryabrata, Sumadi, 2013, Metodologi Penelitian, Jakarta : Rajagrafindo Persada Prastowo, Yustinus, dkk, 2011, Buku Pintar Menghitung Pajak Profesi, Badan

Dokumen terkait