dan Interaksi Sosial
3. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Proses Sosialisas
Pada intinya, setiap manusia melakukan proses sosialisasi tanpa terkecuali. Terlebih kita sebagai makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan orang lain, menuntut kita untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar melalui sosialisasi. Secara tidak langsung, proses sosialisasi mampu membentuk kepribadian individu. Menurut F.G. Robins (sebagaimana dikutip Arif Rohman dkk.; 2003), terdapat lima faktor yang memengaruhi perkembangan kepribadian manusia sebagai hasil sosialisasi. Faktor-faktor tersebut antara lain: a. sifat dasar, b. lingkungan prenatal, c. perbedaan perorangan, d. lingkungan, dan e. motivasi.
Sifat dasar merupakan keseluruhan potensi yang diwarisi seseorang dari ayah dan ibunya. Sifat dasar ini berupa karakter, watak serta sifat emosional. Sifat dasar dalam diri seseorang terbentuk melalui proses pembuahan. Proses di mana sel jantan dan sel betina bertemu sehingga membentuk embrio yang mewarisi sifat-sifat ayah dan ibu. Sel telur yang dibuahi berkembang menjadi embrio dan berada dalam rahim ibu untuk beberapa waktu. Lingkungan inilah yang disebut lingkungan prenatal. Pada masa ini, seseorang mendapat pengaruh-pengaruh baik langsung maupun tidak langsung dari sang ibu. Pengaruh-pengaruh langsung misalnya, ibu hamil mengonsumsi susu dengan maksud untuk mencerdaskan otak bayi atau mengajak
Sumber:Dokumen Penulis
Gambar 4.3Permainan di atas tidak akan terjadi tanpa komunikasi dan interaksi.
Sumber:Dokumen Penulis
Gambar 4.4Adanya perbedaan proses sosialisasi antara laki-laki dan perempuan.
komunikasi sang bayi saat berada dalam kandungan. Sedangkan pengaruh-pengaruh tidak langsung secara sederhana dapat berupa penyakit sang ibu yang dapat memengaruhi sang bayi, gangguan endoktrin yang mampu memengaruhi keterbelakangan dan emosional bayi, penyakit bawaan karena faktor keturunan serta shock pada saat kelahiran.
Perbedaan perorangan dimiliki setiap manusia, artinya satu orang dengan orang lainnya tidak ada yang sama, misalnya: ciri-ciri fisik (bentuk badan, warna kulit, warna mata, bentuk rambut, dan lain- lain), ciri-ciri mental, emosional personal dan sosial.
Lingkungan yang dimaksud yaitu kondisi di sekitar individu baik lingkungan alam, kebudayaan, dan masyarakat yang dapat me- mengaruhi proses sosialisasi. Kondisi lingkungan tidak menentukan dalam proses sosialisasi, namun dapat memengaruhi dan membatasi proses sosialisasi.
Motivasi merupakan kekuatan-kekuatan dalam diri individu yang menggerakkan individu untuk berbuat sesuatu. Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu dorongan dan kebutuhan. Dorongan adalah keadaan yang tidak seimbang bagi individu karena pengaruh baik dari dalam maupun dari luar, sehingga memengaruhi individu untuk bergerak mencapai keseimbangan kembali. Sedangkan kebutuhan adalah dorongan yang telah terpola baik secara personal, sosial, maupun kebudayaan.
Tiga teori yang menjelaskan proses pembelajaran dalam sosialisasi, antara lain: • Teori pembelajaran sosial
(social learning theory). • Teori perkembangan
individu (development theory).
• Teori interaksi simbolis (symbolic interaction theory).
Bebebong sebagai Proses Sosialisasi di Lingkungan Keluarga Orang Rimba
Proses sosialisasi selalu terjadi dalam kehidupan sosial seorang individu di mana pun mereka berada. Sebagai contohnya, pada orang Rimba atau masyarakat umum lebih mengenalnya dengan sebutan kubu, sebuah komunitas masyarakat asli (indigenous people) yang tinggal di dalam hutan dan hidupnya bersifat nomaden. Proses sosialisasi terhadap nilai telah diajarkan sejak individu masih bayi oleh sang ibu.
”Den lahukna tidurlah ngana lahu sokupe Biray tidur lah ngana tidur kupe Biray tidur . . . tidur ngana au au anak . . . anak sokupe Biray tidurlah ngana au au sokupe Biray jangan meratop anak, tidurlah ngana kupe Biray tidurlah ngana tidurlah ngana tidurlah kupe Biray”
Sepintas kalimat di atas bagi orang awam yang tidak mengetahui artinya mungkin hanya diterjemahkan sebagai sebuah kalimat biasa atau percakapan pendek tanpa makna. Namun penggalan kalimat di atas ternyata lebih dari sekadar mengandung makna tapi juga ritme nada, suatu bentuk kesenian berupa nyanyian yang biasa digunakan oleh seorang ibu untuk menidurkan anaknya (balita) yang menangis pada komunitas Orang Rimba. Bebebong, begitu Orang Rimba menyebut nyanyian tradisional ini, nyanyian bernada melankolis di atas tidak hanya dilakukan oleh seorang ibu, tetapi bisa juga dinyanyikan oleh ayah, kakak, atau nenek dan kakek dari anak balita itu. Pada saat membebong budak (anak) seorang ibu atau anggota keluarga yang lain melakukannya sambil menggendong anak itu, baik digendong di belalakang (didukung), di depan (didahamban), maupun di ayun di atas tempat tidurnya yang terbuat dari kain dan diikatkan pada kayu genah (rumah) mereka bagian atas. Nyanyian tradisional ini merupakan salah satu cara bagi Orang Rimba dalam melakukan pola pengasuhan anak
atau tahapan dari proses sosialisasi yang harus dijalani setiap individu baru untuk memperoleh nilai-nilai dan pengetahuan mengenai kelompok tempat di mana ia lahir dan berinteraksi hingga dewasa bahkan sampai tua sekalipun.
Sebagai salah satu cara dari pola pengasuhan anak yang merupakan proses sosialisasi pada Orang Rimba, Bebebong menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dalam memperkenalkan adat budaya Orang Rimba pada seorang anak ketika ia masih kecil dan dianggap menjadi anggota baru dari suatu komunitas adat masyarakat mereka. Hal ini adalah sebagai proses pewarisan budaya dan pembelajaran panjang (internalisasi) pada diri si anak untuk membentuk karakter ataupun sikap dalam dirinya, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan nilai serta norma yang diterapkan dalam masyarakat adatnya untuk meminimalisir deviasi sosial. Keluarga sebagai unit sosial terkecil, tempat di mana seorang anak tumbuh dan berinteraksi di awal hidupnya memegang peran yang penting menuju proses sosialisasi yang lebih luas ketika ia beranjak dewasa dan bergaul dengan individu lainnya di dalam maupun luar masyarakatnya.
Sumber:www.warsi.or.id