• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-faktor Yang Memengaruhi Status Gizi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Status Gizi

2.4.2 Faktor-faktor Yang Memengaruhi Status Gizi

Simarmata (2009) mengatakan terdapat dua faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang, yaitu;

1. Faktor yang berpengaruh secara langsung; meliputi asupan makanan dan infeksi 2. Faktor yang berpengaruh secara tidak langsung; ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak dan lingkungan kesehatan yang tepat termasuk akses terhadap pelayanan kesehatan.

Status gizi juga dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini (Zuhdy, 2015) 1. Jenis Kelamin

Kejadian obesitas lebih banyak ditemui pada perempuan terutama saat remaja.

Hal ini disebabkan oleh faktor endokrin dan perubahan hormonal pada remaja.

2. Umur

Obesitas yang terjadi pada tahun-tahun pertama kehidupan umumnya diikuti oleh perkembangan rangka yang cepat. Anak-anak yang ketika masih kecil mengalami obesitas maka ketika remaja juga akan mengalami obesitas, terus sampai ke masa lansia. Terdapat empat periode kritis terjadinya obesitas pada seseorang yaitu masa prenatal, masa bayi, masa adiposity rebound dan masa remaja. Obesitas yang terjadi ketika masa remaja akan menjadi obesitas persisten ketika dewasa dan akan sulit ditanggulangi dengan cara-cara konvensional seperti dengan diet dan olahraga.

3. Tingkat sosial ekonomi

Tingkat sosial ekonomi mampu mempengaruhi status gizi karena berkaitan dengan pemilihan jenis makanan dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Makanan yang siap saji apabila dikonsumsi secara terus menerus dan tidak terbatas akan dapat mengakibatkan kelebihan kalori di dalam tubuh yang pada akhirnya dapat menyebabkan obesitas.

4. Lingkungan

Masa remaja merupakan masa dimana belum seutuhnya matang dan umumnya mudah terpengaruh oleh lingkungan di sekitar mereka. Banyaknya kegiatan yang mereka lakukan menyebabkan remaja sering menkonsumsi jajanan yang tidak sehat. Kebiasan ini dipengaruhi oleh keluarga, teman dan iklan-iklan di televisi.

Faktor yang paling berpengaruh adalah teman, apabila tidak mengikuti teman-temannya mereka takut akan dikucilkan dan akan merusak kepercayaan dirinya, terutama mengenai pilihan jenis makanan.

5. Genetik

Faktor genetik mempunyai pengaruh besar terhadap berat dan komposisi tubuh seseorang. Apabila kedua orang tua mengalami obesitas, maka 75-80%

anak juga akan mengalami obesitas. Jika salah satu orang tua mengalami obesitas, maka 40% anak akan mengalami obesitas. Namun, apabila kedua orang tua tidak mengalami obesitas, maka peluang anak untuk mengalami obesitas relative sangat kecil yaitu kurang dari 10%.

6. Metabolisme basal

Metabolisme basal adalah metabolisme yang dilakukan oleh organ-organ tubuh ketika tubuh sedang istirahat total (tidur). Setiap orang mengalami kecepatan metabolisme basal yang tidak sama. Orang yang mempunyai kecepatan metabolisme basal rendah cenderung akan mengalami kegemukan, daripada orang yang mempunyai kecepatan metabolisme tinggi.

7. Enzim tubuh dan hormon

Enzim adipose tissue lipoprotein mempunyai peran yang sangat penting dalam meningkatkan berat badan. Fungsi enzim ini adalah untuk mengontrol kecepatan pemecahan triglisida dalam darah menjadi asam-asam lemak dan menyalurkannya ke dalam sel-sel di dalam tubuh untuk disimpan. Ketika seseorang memerlukan bahan bakar untuk melakukan oksidasi, dibutuhkan beberapa energi dan tubuh akan memilih glikogen atau lemak sebagai sumber energinya. Penggunaan glikogen ini mampu menurunkan glukosa dalam darah sehingga menyebabkan orang merasa lapar. Selain enzim di atas, insulin juga dapat menyebabkan obesitas. Orang yang mengalami kenaikan insulin dapat menimbulkan peningkatan lemak. Gangguan hormon hipotiroidisme dan hipopituitorism juga dapat menyebabkan obesitas. Orang-orang yang mengalami gangguan hormon ini, biasanya sudah mengalami kegemukan sejak kecil.

8. Status tinggal

Status tinggal ini bersangkutan terhadap, status dengan siapa remaja tinggal, apakah bersama orang tua atau tidak. Apabila remaja tinggal bersama orang tua, ibu mempunyai peran penting untuk menyediakan asupan makanan bagi keluarga, sehingga mempunyai pengaruh terhadap status gizi anak.

9. Aktivitas fisik

Asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh pada remaja ataupun orang dewasa digunakan untuk melakukan aktivitas fisik. Orang yang jarang atau kurang melakukan aktivitas fisik cenderung akan menjadi gemuk, karena energi tersimpan menjadi lemak.

10. Pola makan

Pola makan merupakan faktor dominan yang mendorong terjadinya obesitas.

Seseorang yang mempunyai kebiasaan banyak makan cenderung akan mengalami kegemukan. Selain itu, kebiasaan mengonsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat dapat menunjang pula terjadinya kegemukan.

Tidak diteliti 2.5 KERANKA TEORI

Diteliti

Gambar 2 1. Kerangka Teori

Kebiasan konsumsi sarapan pagi

Pola Makan

- Faktor yang memengaruhi pola makan

Kebiasan Makan Kebiasan konsumsi buah

dan sayur

Kebiasan mengonsumsi makanan cepat saji

Pengetahuan, Sikap, Perilaku

Status Gizi

2.6. KERANGKA KONSEP

Kerang konsep penelitian ini terdiri dari dua variabel , yaitu satu variabel bebas (independen) dan satu variabel terikat (dependen).

variabel independen variabel dependen

Gambar 2 2 Kerangka Konsep

2.7 HIPOTESIS

1. Tidak didapatkan hubungan antara status gizi dengan pengetahuan 2. Tidak didapatkan hubungan antara status gizi dengan sikap

3. Didapatkan hubungan antara status gizi dengan perilaku Pengetahuan, Sikap, Perilaku Status Gizi

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 RANCANGAN PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara secara daring. Sampel diambil secara acak dengan menggunakan teknik probability sampling yaitu proportionate stratified random. Sampel penelitian adalah Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

3.2 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Jl. Dr.T. Mansur No.5, Padang Bulan, Kota Medan, Sumatera Utara. Waktu yang digunakan untuk penelitian ini dimulai sejak bulan April 2020 sampai bulan Desember 2020 yang meliputi pengajuan judul, penelusuran kepustakaan, pembacaan proposal, pengolahan data dan pembahasan hasil.

3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.3.1 Populasi Penelitian

Populasi adalah keseluruhan subjek yang akan diteliti (Sastroasmoro, 2014).

Populasi penelitian ini adalah Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

3.3.2 Sampel Penelitian

Sampel pada penelitian ini adalah seluruh Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2017-2019 yang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi penelitian.

3.4 KRITERIA INKLUSI DAN EKSKLUSI 3.4.1 Kriteria Inklusi Sampel Penelitian

1. Seluruh Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2017-2019.

2. Mahasiswa yang terdaftar dan masih aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar.

3.4.2 Kriteria Eksklusi Sampel Penelitian

1. Mahasiswa yang tidak bersedia menandatangani lembar informed consent dan mengisi kuesioner.

3.5 PERKIRAAN BESAR SAMPEL PENELITIAN

Adapun besar sampel dalam penelitian ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus berdasarkan (Nursalam,2011) :

( )

( ) ( )

Kategori :

n = Jumlah sampel

N = Jumlah populasi = 724

Z12 /2 : Nilai Z pada yaitu 1,96

p = Proporsi suatu kasus tertentu terhadap populasi, bila tidak diketahui proporsinya, ditetapkan 50% (0,5)

d = Derajat penyimpangan terhadap populasi yang diinginkan: 10% (0,1)

Perhitungan Besar Sampel :

( )

( ) ( )

n = (1,96)2.. 0,5 (1-0,5) 724 0,12 (724-1) + (1.96)2 .0,5 (1- 0,5)

n = 3,8416 . 0,5. 0,5. 724

0,01 . 723 + 3,8416 . 0,5 . 0,5

n = 695,3296 7,23 + 0,9604

n = 695,3296 8,1904

n = 84,8956 = 85 orang

Dengan demikian, besar sampel yang diperlukan dalam penelitian ini dibulatkan menjadi 85 orang.

3.6 METODE PENGUMPULAN DATA 3.6.1 Jenis Data

Metode pengumpulan data menggunakan data primer. Data primer dalam penelitian ini adalah pengisian kuesioner oleh responden. Responden diminta untuk menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti melalui lembar kuesioner agar dapat dilakukan proses anlisis data.

3.7 METODE ANALISIS DATA

Pengolahan dan analisis data menggunakan program statistik komputer.

Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Kegiatan analisis data yaitu mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan pengujian hipotesis. Data yang telah dikumpulkan dimasukkan ke dalam komputer dan akan dianalisis secara univariat untuk melihat gambaran deskritif.

Ada 2 analisis hasil yaitu:

a. Analisis Univariat

Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase dari tiap variabel data (Notoatmodjo, 2012).

b. Analisis Bivariat

Analisis bivariat digunakan untuk menguji hubungan pengetahuan, sikap dan perilaku dengan status gizi pada mahasiswa fakultas kedokteran universitas sumatera utara. Dan data diolah dengan uji statistik Chi Square karena data dari variable berskala ordinal dan nominal (Notoatmodjo, 2012).

3.8 DEFINISI OPERASIONAL

Tabel 3. 1 Definisi Operasional

No Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Skala Ukur Hasil Ukur 1. Jenis

Kuesioner Nominal 1. Perempuan 2. laki-laki

Kuesioner Interval 1.<19 thn 2. 19-22 thn

Kuesioner Ordinal Skor 40-50 (setiap benar

Kuesioner Ordinal Skor 40-50 (setiap benar

:Cukup

Kuesioner Ordinal Skor 40-50 (setiap benar

3.9.1 HASIL UJI VALIDITAS KUESIONER

Validitas pada dasarnya menunjuk kepada derajat fungsi pengukuran suatu tes, atau derajat kecermatan ukuran suatu tes. Validitas suatu tes mempermasalahkan apakah tes tersebut benar mengukur apa yang hendak diukur.

Maksud dari pernyataan ini adalah seberapa jauh suatu tes mampu mengungkapkan dengan tepat ciri atau keadaan sesungguhnya objek ukur, tergantung dari tingkat validitas yang didapat tes yang bersangkutan (Suryabrata, 2004). Dari hasil perhitungan korelasi, akan didapatkan suatu koefisien korelasi yang akan digunakan untuk mengukur tingkat validitas suatu item dan untuk menentukan apakah item tersebut layak digunakan atau tidak. Jika rhitung didapat

lebih besar dari rtabel, maka butir-butir pertanyaan berkorelasi signifikan terhadap skor total, sehingga butir pertanyaan tersebut dinyatakan valid.

Tabel 3. 2 Uji validitas setiap butir pertanyaan kuesioner pengetahuan.

Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa masing-masing rhitung yang didapat selalu lebih besar dari rtabel yang tertera. Hal ini menunjukkan bahwa tiap butir pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner pengetahuan adalah valid.

Tabel 3. 3. Uji validitas setiap butir pertanyaan kuesioner perilaku.

Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa masing-masing rhitung yang didapat selalu lebih besar dari rtabel yang tertera. Hal ini menunjukkan bahwa tiap butir pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner perilaku adalah valid.

NO Item Rhitung rtabel 5% (30) Keterangan

3.9.2. HASIL UJI RELIABILITAS KUESIONER

Sugiharto dan Sitinjak (2006) menyatakan bahwa, reliabilitas merupakan suatu instrumen yang digunakan dalam penelitian untuk memperoleh informasi yang digunakan dapat dipercaya sebagai alat pengumpulan data dan mampu mengungkap informasi yang sebenarnya dilapangan. Pengujian reliabilitas kuesioner pada penelitian ini mengikuti ketentuan skor konsistensi dari Cronbach’s Alpha, yaitu jika nilai alpha berada diatas atau sama dengan 0,7, maka instrumen tersebut telah memenuhi batas reliabilitas yang mencukupi (Acceptable).

Tabel 3. 4. Hasil uji reliabilitas kuesioner pengetahuan

Dari hasil uji reliabilitas yang dilakukan pada kuesioner pengetahuan didapatkan bahwa nilai Alphanya adalah 0,881, sehingga menunjukkan bahwa tingkat reliabilitas kuesioner ini Verry Good.

Tabel 3. 5. Hasil uji reliabilitas kuesioner perilaku.

Dari hasil uji reliabilitas yang dilakukan pada kuesioner perilaku didapatkan bahwa nilai Alphanya adalah 0,770, sehingga menunjukkan bahwa tingkat reliabilitas kuesioner ini Good.

Cronbach’s Alpha N of items Reliability

0,881 10 Verry Good

Cronbach’s Alpha N of items Reliability

0,770 10 Good

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Karakteristik Sample Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Jl. Dr.T. Mansur No.5, Padang Bulan, Kota Medan, Sumatera Utara, pada bulan September hingga November 2020, dengan jumlah sampel sebanyak 85 mahasiswa Fakultas Kedokteran dengan menggunakan metode proportionate stratified random dan telah memenuhi kriteria inklusi sehingga dapat diikutsertakan dalam penelitian. Responden Sebagian besar berusia 19-22 tahun yaitu 77 responden (90,6%). Responden dengan jenis kelamin laki-laki yaitu 34 responden (34%), sedangkan jenis kelamin perempuan yaitu 51 responden (60,0%). Indeks Massa Tubuh (IMT) sebagian besar BB Normal yaitu 48 responden (56,5%). Selengkapnya, karakteristik demografi seluruh subjek ditampilkan dalam Tabel 4.1.1

Tabel 4.1 1 Gambaran Responden Berdasarkan Usia, Jenis Kelamin, Indeks Massa Tubuh (IMT) (n=85)

Variabel Kategori Frekuensi (n) Presentase (%)

Usia <19 Tahun 6 7.1%

Berdasarkan hasil pada tabel 4.1.2 bahwa sebagian besar responden mengonsumsi makanan cepat saji dengan kategori sangat sering adalah chicken nugget (11,8%), dan sebagain besar pada kategori sering yaitu chicken nugget (27,1%) dan kategori jarang yaitu fried chicken (98.8%), serta sebagain besar dengan kategori tidak pernah yaitu hot dog (49.4%).

Tabel 4.1 2 Gambaran Jenis Makanan Cepat Saji Yang Dikonsumsi (n=85)

Berdasarkan hasil pada tabel 4.1.3, diketahui sebagian besar responden dengan status gizi sangat kurus memiliki kebiasaan mengonsumsi kategori jarang yaitu 5 responden (5,9%), sebagian besar responden dengan status gizi kurus memiliki kebiasan mengonsumsi makanan cepat saji kategori jarang 8 responden (9,4%), sebagian besar responden dengan status gizi normal memiliki kebiasaan mengonsusmsi makanan cepat saji kategori jarang yaitu 43 responden (50,6%),sebagian besar responden dengan status gizi gemuk memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji pada kategori jarang yaitu 11 responden (12,9%) dan sebagian besar responden dengan status gizi obesitas memiliki

Jenis makanan cepat saji

Sangat Sering Sering Jarang Tidak Pernah

n % n % n % n %

Mie kemasan 6 7.1% 10 11.8% 66 77.6% 3 3.5%

Sarden kaleng 3 3.5% 2 2.4% 51 60.0% 29 34.1%

Hamburger 5 5.9% 6 7.1% 71 83.5% 3 3.5%

Fried Chicken 0 0% 1 1.2% 84 98.8% 0 0%

Hot dog 4 4.7% 1 1.2% 38 44.7% 42 49.4%

Pizza 4 4.7% 8 9.4% 68 80.0% 5 5.9%

Sandwich 4 4.7% 0 0% 51 60.0% 30 35.3%

Chicken nugget 10 11.8% 23 27.1% 42 49.4% 10 11.8%

Kentang goreng 4 4.7% 6 7.1% 67 78.8% 8 9.4%

Sosis 6 7.1% 10 11.8% 57 67.1% 12 14.1%

kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji pada kategori jarang yaitu 9 responden (10,6%).

Tabel 4.1 3 Gambaran Status Gizi Berdasarkan kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji pada responden (n=85)

Pada tabel 4.1.4, memperlihatkan gambaran tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku kepada responden, sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik yaitu 72 responden (84,7), sebagian besar responden memiliki sikap baik yaitu 75 responden (88,2%), dan sebagian besar memiliki perilaku kurang yaitu 48 responden (56,5%).

Tabel 4.1 4 Gambaran Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan, Sikap, Perilaku (n=85)

Variabel Kategori Frekuensi (n) Persentasi (%)

Tingkat

Status Gizi Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji

Sangat Sering Sering Jarang

n % n % n %

Pada tabel 4.1.5, memperlihatkan gambaran antara usia,jenis kelamin,dan IMT dengan tingkat pengetahun, dan didapatkan sebagian besar pada usia 19-22 tahun yaitu 65 responden (76,5%) memiliki tingkat penetahuan baik, pada sebagian besar responden dengan jenis kelamin perempuan memiliki tingkat pengetahuan baik yaitu 49 reponden (57,6%), dan sebagian besar IMT dengan berat badan normal yaitu 39 responden (45,9%) memiliki tingkat pengetahuan baik.

Tabel 4.1 5 Gambaran Usia, Jenis Kelamin, Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Pengetahuan (n=85)

Variabel Kategori Pengetahuan

Baik Cukup Kurang

n % n % n %

Usia <19 Tahun 5 5,9% 1 1,2% 0 0%

19-22 Tahun 65 76,5% 11 12,9% 1 1,2%

>22 Tahun 2 2,4% 0 0% 0 0%

Jenis Laki-laki 23 27% 10 11,8% 1 1,2%

kelamin Perempuan 49 57,6 2 2,3% 0 0%

IMT sangat kurus 6 7,0% 0 0% 0 0%

kurus 8 9,4% 0 0% 0 0%

normal 39 45,9% 8 9,4% 1 1,2%

gemuk 10 11,8% 1 1,2% 0 0%

Obesitas 9 10,6% 3 3,5% 0 0%

Pada tabel 4.1.6, memperlihatkan gambaran antara usia, jenis kelamin,dan IMT dengan sikap, dan didapatkan sebagian besar pada usia 19-22 tahun yaitu 67 responden (78,8%) memiliki sikap baik, pada sebagian besar responden dengan jenis kelamin perempuan memiliki sikap baik yaitu 47 reponden (55,3%), dan sebagian besar IMT dengan berat badan normal yaitu 40 responden (47%) memiliki sikap baik.

Tabel 4.1 6 Gambaran Usia, Jenis Kelamin, Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Sikap (n=85)

Pada tabel 4.1.7, memperlihatkan gambaran antara usia,jenis kelamin,dan IMT dengan perilaku, dan didapatkan sebagian besar pada usia 19-22 tahun yaitu 44 responden (51,8%) memiliki perilaku kurang, pada sebagian besar responden dengan jenis kelamin perempuan memiliki sikap cukup yaitu 28 reponden (32,9%), dan sebagian besar IMT dengan berat badan normal memiliki perilaku kurang sebesar 31 responden (36,5%).

Variabel Kategori Sikap

Baik Cukup Kurang

n % n % n %

Usia <19 Tahun 6 7,1% 0 0% 0 0%

19-22 Tahun 67 78,8% 10 11,8% 0 0%

>22 Tahun 2 2,3% 0 0% 0 0%

Jenis Laki-laki 28 32,9% 6 7,1% 0 0%

kelamin Perempuan 47 55,3% 4 4,7% 0 0%

IMT sangat kurus 5 5,9% 1 1,2% 0 0%

kurus 8 9,4% 0 0% 0 0%

normal 40 47% 8 9,4% 0 0%

gemuk 11 12,9% 0 0% 0 0%

Obesitas 11 12,9% 1 1,2% 0 0%

Tabel 4.1 7 Gambaran Usia, Jenis Kelamin, Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Perilaku (n=85)

4.1.2 Analisis Bivariat

pada tabel 4.1.8 ditemukan bahwa tidak didapatkan hubungan antara status gizi dengan pengetahuan responden p=0,778 (<0,05), responden dengan status gizi sangat kurus yang memiliki pengetahuan baik yaitu 6 responden (7,1%), responden dengan status gizi kurus yang memiliki pengetahuan baik yaitu 8 rresponden (9,4%), responden dengan status gizi normal yang memiliki pengetahuan baik yaitu 39 responden (45,9%), yang memiliki pengetahuan cukup yaitu 8 responden (9,4%), dan memiliki pengetahuan kurang yaitu 1 responden (1,2%), responden dengan status gizi gemuk yang memiliki pengetahuan baik yaitu 10 responden (11,8%), memiliki pengetahuan cukup yaitu 1 responden (1,2%), dan responden dengan status gizi obesitas yang memiliki pengetahuan baik yaitu 9 responden (10,6), memiliki pengetahuan cukup yaitu 3 responden (3,5%).

Variabel Kategori Perilaku

Baik Cukup Kurang

n % n % n %

Usia <19 Tahun 0 0% 4 4,7% 2 2,4%

19-22 Tahun 0 0% 33 38,2% 44 51,8%

>22 Tahun 0 0% 0 0% 2 2,4%

Jenis Laki-laki 0 0% 9 10,6% 25 29,4%

kelamin Perempuan 0 0% 28 32,9% 23 27,1%

IMT sangat kurus 0 0% 4 4,7% 2 3,3%

kurus 0 0% 6 7% 2 2,3%

normal 0 0% 17 20% 31 36,5%

gemuk 0 0% 2 2,3% 9 10,6%

Obesitas 0 0% 8 9,4% 4 4,7%

Tabel 4.1 8 Hubungan Status Gizi dengan Pengetahuan responden (n=85)

pada tabel 4.1.9 ditemukan bahwa tidak didapatkan hubungan antara status gizi dengan sikap responden p=0,417 (<0,05), responden dengan status gizi sangat kurus yang memiliki sikap baik yaitu 5 responden (5,9%),memiliki sikap cukup yaitu 1 responden (1,2%), responden dengan status gizi kurus yang memiliki sikap baik yaitu 8 rresponden (9,4%), responden dengan status gizi normal yang memiliki sikap baik yaitu 40 responden (47,1%), yang memiliki sikap cukup yaitu 8 responden (9,4%), responden dengan status gizi gemuk yang memiliki sikap baik yaitu 11 responden (12,9%), dan responden dengan status gizi obesitas yang memiliki sikap baik yaitu 11 responden (12,9%), memiliki sikap cukup yaitu 1 responden (1,2%).

Tabel 4.1 9 Hubungan Status Gizi dengan Sikap responden (n=85)

pada tabel 4.1.10 ditemukan bahwa didapatkan hubungan antara status gizi dengan perilaku responden p=0,023 (<0,05), responden dengan status gizi sangat

Status Gizi Pengetahuan

kurus yang memiliki perilaku cukup yaitu 4 responden (4,7%), memiliki sikap kurang yaitu 2 responden (2,4%), responden dengan status gizi kurus yang memiliki perilaku cukup yaitu 6 responden (7,1%), yang memiliki perilaku kurang yaitu 2 responden (2,4%), responden dengan status gizi normal yang memiliki perilaku cukup yaitu 17 responden (20%), yang memiliki perilaku kurang yaitu 31 responden (36,5%), responden dengan status gizi gemuk yang memiliki perilaku cuju yaitu 2 responden (2,4%), yang mamiliki perilaku kurang yaitu 9 responden (10,6%) dan responden dengan status gizi obesitas yang memiliki perilaku cukup yaitu 8 responden (9,4%), memiliki perilaku kurang yaitu 4 responden (4,7%).

Tabel 4.1 10 Hubungan Status Gizi dengan Perilaku responden (n=85)

Status Gizi Perilaku

Baik Cukup Kurang sig

n % n % n %

sangat kurus 0 0% 4 4,7% 2 2,4% 0,023

kurus 0 0% 6 7,1% 2 2,4%

normal 0 0% 17 20% 31 36,5%

gemuk 0 0% 2 2,4% 9 10,6%

Obesitas 0 0% 8 9,4% 4 4,7%

4.2 Pembahasan Penelitian 4.2.1 Karakteristik Responden

Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Jl. Dr.T. Mansur No.5, Padang Bulan, Kota Medan, Sumatera Utara, pada bulan September hingga November 2020, dengan jumlah sampel sebanyak 85 mahasiswa Fakultas Kedokteran dengan menggunakan metode simple random sampling dan telah memenuhi kriteria inklusi sehingga dapat diikutsertakan dalam penelitian. Responden Sebagian besar berusia 19-22 tahun yaitu 77 responden (90,6%). Responden dengan jenis kelamin laki-laki yaitu 34 responden (34%), sedangkan jenis kelamin perempuan yaitu 51 responden (60,0%). Indeks Massa Tubuh (IMT) sebagian besar BB Normal yaitu 48 responden (56,5%).

4.2.2 Jenis Makanan Cepat Saji Yang Sering Dikonsumsi Oleh Responden Makanan cepat saji merupakan makanan yang sangat praktis dan sangat mudah dijumpai sehingga dapat dikonsumsi disela-sela waktu kosong. Makanan cepat saji dengan jenis Chicken Nugget menjadi makanan cepat saji yang sangat sering dikonsumsi oleh responden. Namun pada penelitian (widawati,2017), mengatakan Fried chicken, bakso dan mie instant menjadi makan cepat saji (fast food) yang paling sering dikonsumsi oleh siswa SMAN1 Kampar.

4.2.3 Status Gizi Responden Yang Mengonsumsi Makanan Cepat Saji

Berdasarkan hasil pada tabel 4.1.3, diketahui sebagian besar responden dengan status gizi normal memiliki kebiasaan mengonsusmsi makanan cepat saji kategori jarang yaitu 43 responden (50,6%).

4.2.4 Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Responden

Berdasarkan dari hasil penelitian didapatkan bahwa 72 responden (84,7%).

Dari hasil tersebut, didapatkan bahwa sebagian besar Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara memiliki pengetahuan yang baik tentang makanan cepat saji, hal tesebut berikatan dengan tingkat pendidikan responden, yaitu mahasiswa kedokteran, sehingga diharapkan tingkat pengetahuan terhadap

Berdasarkan dari hasil penelitian didapatkan bahwa, 75 responden (88,2%) memiliki sikap yang baik. Dari hasil tersebut maka sebagian besar Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara memiliki sikap yang baik.

(Elisa,2017) mengatakan, sikap merupakan ketentuan dari perasaan, pemikiran seseorang dalam berinteraksi sosial. Seseorang yang memiliki pengetahuan yang baik maka kemungkinan besar bersikap baik dan bahkan perilaku yang baik pula (Notoatmodjo, 2007). Dari pernyataan tersebut maka sesuai dengan hasil penelitian ini, dimana responden sebagian besar memiliki sikap yang baik.

Berdasarkan dari hasil penelitian didapatkan bahwa, 48 responden (56,5%) memiliki perilaku kurang. Dari hasil tersebut, didapatkan bahwa sebagian besar mahasiswa Fakultas Universitas Sumatera Utara memiliki perilaku yang kurang baik, hal tersebut berlawaan dengan gambaran pengetahuan dan sikap ,kemungkinan besar ada faktor-faktor yang lain sehingga dapat mempengaruhi perilaku responden , serta mungkin dapat diteliti lebih lanjut dan dalam lagi kepada peneliti berikutnya, dengan diketahuinya faktor-faktor tersebut memungkinkan dapat mencegah perilaku yang kurang baik. Dengan pengetahuan yang baik dan sikap yang baik pula maka diharapkan dapat menjadi landasan untuk meningkatkan perilaku yang lebih baik.

4.2.5 Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Perilaku dengan Status Gizi Responden

Dari hasil penelitian, maka tidak didapatkan hubungan antara status gizi dengan pengetahuan responden p=0,778 (<0,05), responden dengan status gizi sangat kurus yang memiliki pengetahuan baik yaitu 6 responden (7,1%), responden dengan status gizi kurus yang memiliki pengetahuan baik yaitu 8 rresponden (9,4%), responden dengan status gizi normal yang memiliki pengetahuan baik yaitu 39 responden (45,9%), yang memiliki pengetahuan cukup yaitu 8 responden (9,4%), dan memiliki pengetahuan kurang yaitu 1 responden (1,2%), responden dengan status gizi gemuk yang memiliki pengetahuan baik yaitu 10 responden (11,8%), memiliki pengetahuan cukup yaitu 1 responden (1,2%), dan responden dengan status gizi obesitas yang memiliki pengetahuan

baik yaitu 9 responden (10,6), memiliki pengetahuan cukup yaitu 3 responden (3,5%). Dikarenakan masih banyak responden yang berpengetahuan baik tapi tidak tergolong dalam status gizi normal, yaitu sebanyak 6 responden (7,1%) dengan status gizi kurus, 8 responden (9,4%) dengan status gizi kurus, 10 responden (11,8%) dengan status gizi gemuk, dan 9 responden (10,6%) dengan status gizi obesitas, walaupun banyak responden yang bergizi baik dengan pengetahuan baik namun tidak melebih 50% dari total sampel. (Budiyanto,2013), Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu pengalaman, tingkat pendidikan, keyakinan, fasilitas sumber informasi, penghasilan dan sosial budaya.

Hasil dari penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Christan C.

Maharibe pada tahun 2014 di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi.

Penelitian ini mengambil 252 mahasiswa kedokteran angkatan 2013 yang masih aktif kuliah. Dalam penelitiannya Christan memperoleh hasil tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan gizi seimbang dengan praktik gizi seimbang dengan ρ = 0,871 > 0,05. 9.

Dari hasil penelitian maka ditemukan tidak didapatkan hubungan antara status gizi dengan sikap responden p=0,417 (<0,05), responden dengan status gizi

Dari hasil penelitian maka ditemukan tidak didapatkan hubungan antara status gizi dengan sikap responden p=0,417 (<0,05), responden dengan status gizi

Dokumen terkait