• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.3 Teori Permintaan

2.1.3.2 Faktor-Faktor yang mempengaruh

Permintaan suatu barang ditentukan oleh banyak faktor. Diantaranya adalah (1) Harga barang itu sendiri, (2) Harga barang lain yang berkaitan dengan barang tersebut, (3) Pendapatan masyarakat, (4) konsumsi, (5) Jumlah penduduk, (6) Ketersediaan barang (produksi), (Sukirno, 2004; 76)

(1) Harga barang itu sendiri

Hukum permintaan menjelaskan sifat hubungan antara permintaan suatu barang dengan tingkat harganya. Hukum permintaan pada hakikatnya merupakan suatu hipotesa yang menyatakan makin rendah harga suatu barang maka makin banyak permintaan terhadap suatu barang tersebut. Sebaliknya, makin tinggi harga suatu barang maka semakin sedikit permintaan terhadap barang tersebut (cateris paribus). Harga suatu barang adalah nilai tukar yang dinyatakan atau diukur dengan uang (Gilarso, 2004; 70). Faktor harga sangat menentukan jumlah permintaan, hal tersebut sesuai dengan hukum permintaan dimana jumlah barang

yang diminta berlawanan dengan perubahan harga dengan asumsi faktor lain yang mempengaruhi dianggap tetap.

(2) Harga barang lain sebagai substitusi

Hubungan yang disebabkan karena kenaikan harga menyebabkan para pembeli mencari barang lain yang dapat digunakan sebagai pengganti terhadap barang yang mengalami kenaikan harga. Sebaliknya, apabila harga turun maka orang akan mengurangi pembelian terhadap barang lain yang sama jenisnya dan menambah pembelian terhadap barang yang mengalami penurunan harga. Selain itu kenaikan harga menyebabkan pendapatan riil para pembeli berkurang. Pendapatan yang merosot memaksa para pembeli untuk mengurangi pembelianya terhadap berbagai jenis barang dan terutama barang yang mengalami kenaikan harga (Sukirno, 2003; 66).

(3) Pendapatan masyarakat

Pendapatan para pembeli merupakan faktor yang sangat penting terhadap permintaan berbagai barang. Perubahan pendapatan selalu menimbulkan perubahan permintaan berbagai jenis barang (Sukirno, 2003; 81). Bertambahnya penghasilan akan menyebabkan permintaan barang atau produk bertambah (Rasyaf, 2000; 138), tetapi perubahan dalam pendapatan juga akan mengakibatkan berkurangnya permintaan untuk komoditi yang akan dibeli terutama oleh rumah tangga yang tetap atau berkurang pendapatanya (Lipsey, 1997; 87).

(4) Konsumsi

Menurut Keynes dalam Miller (2006; 21) konsumsi didefinisikan sebagai jumlah total barang dan jasa yang dibeli untuk tujuan konsumsi langsung. Konsumsi merupakan salah satu penentu utama permintaan.

(5) Jumlah penduduk

Pertambahan jumlah penduduk secara umum akan menambah nilai kebutuhanya, seperti makanan, pakaian, rumah, kendaraan, dan lain-lain menyebabkan jumlah barang yang diminta akan bertambah (Hidayat, 2003; 25). Gilarso (2004; 25) mengatakan, jika jumlah pembeli suatu barang tertentu bertambah, maka pada harga yang sama jumlah barang yang dibeli juga akan bertambah, hal ini dapat terjadi karena pertambahan jumlah penduduk dan perbaikan transportasi. Makin banyah jumlah penduduk, semakin besar pula barang yang dikonsumsi (Soekartawi, 2003; 121).

Pertambahan penduduk tidak dengan sendirinya menyebabkan pertambahan permintaan. Pertambahan penduduk diikuti oleh perkembangan dalam kesempatan kerja. Lebih banyak orang yang akan menerima pendapatan menambah daya beli dari masyarakat itu sendiri. Daya beli yang bertambah inilah yang nantinya akan menaikkan atau menurunkan jumlah permintaan (Sukirno, 2003; 72).

(6) Ketersediaan Barang (Produksi)

Produk peternakan umumnya memiliki harga yang relatif tinggi dibandingkan dengan komoditas pertanian lainya, permintaan produk peternakan berkaitan erat dengan daya beli konsumen. Semakin meningkatnya pendapatan

masyarakat menyebabkan permintaan akan produk-produk yang bermutu tinggi semakin meningkat. Seiring dengan meningkatnya penghasilan masyarakat menyebabkan peningkatan pembelian terhadap suatu barang atau produk yang lebih baik (Rasyaf, 2000; 145).

2.1.3.3 Keinginan, Kebutuhan, dan Permintaan

Awal dari suatu pemasaran bermula dalam upaya pemenuhan kebutuhan yang mendasar serta diikuti dengan semakin bertambahnya keinginan dan berbagai permintaan manusia yang didapatkan pada penawaran barang yang relatif terbatas. Menurut Kotler (2000; 6) pengertian kebutuhan manusia adalah suatu keadaan akan sebagian dari pemuasan dasar yang di rasakan atau disadari. Sedangkan pengertian keinginan manusia adalah hasrat untuk memperoleh pemuas-pemuas tertentu untuk kebutuhan yang lebih dalam.

Menurut Kotler (2000; 23) Kebutuhan manusia merupakan sesuatu yang telah ada dalam diri manusia, sehingga secara naluri manusia akan lebih cenderung bergerak searah upaya pemenuhan kebutuhanya, sedangkan keinginan manusia cenderung kearah upaya pemenuhan tingkat kepuasan manusia.

Adapun jenis kebutuhan menurut Kotler (2000; 23) yaitu : 1. Kebutuhan yang dinyatakan

2. Kebutuhan riil

3. Kebutuhan yang tidak dinyatakan 4. Kebutuhan kesenangan

5. Kebutuhan rahasia

Refleksi dari berbagai kebutuhan dan keinginan tersebut tercermin dalam bentuk permintaan. Konsep permintaan dicerminkan dalam hubungan antara barang yang diinginkan dan harga (Sukirno 2002; 30). Khusus untuk komoditas pertanian dalam hal ini daging sapi maka proyek permintaan akan sangat di pengaruhi oleh banyak hal.

Menurut Soekartawi (2003; 114), permintaan komoditas pertanian secara umum merupakan suatu permintaan yang dibutuhkan dan dibeli konsumen dalam waktu tertentu dan dengan harga yang berlaku saat itu. Oleh karena itu, permintaan akan sangat dipengaruhi oleh harga suatu produk.

2.1.4 Pengertian Harga

Istilah mengenai harga untuk berbagai produk tidak selalu sama dan dengan berbagai nama. Harga adalah ukuran atau nilai dari suatu barang maupun jasa yang dinominalkan dalam bentuk angka. Harga merupakan satu-satunya unsur dalam bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan penjualan (Kotler, 2000; 53).

Harga merupakan salah satu unsur terpenting dalam menentukan pangsa pasar dan profitabilitas. Umumnya pelanggan paling peka terhadap harga untuk produk yang bernilai tinggi atau sering dibeli. Mereka kurang peka terhadap harga untuk barang yang bernilai rendah atau barang yang jarang dibeli (Kottler, 2000, 215).

Produk peternakan umumnya memiliki harga yang relatif tinggi dibandingkan dengan komoditas pertanian lainya. Permintaan produk peternakan

berkaitan erat dengan kemampuan daya beli konsumen. Semakin meningkatnya pendapatan masyarakat menyebabkan permintaan akan produk-produk yang bermutu tinggi semakin meningkat. Seiring dengan meningkatnya penghasilan masyarakat menyebabkan peningkatan pembelian terhadap suatu barang atau produk yang lebih baik (Rasyaf, 2000; 145).

Menurut Swastha (2004; 25), harga adalah jumlah uang (ditambah beberapa barang kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya. Dari kedua definisi tentang harga tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa harga adalah nilai suatu barang atau jasa yang diukur dengan sejumlah uang yang dikeluarkan oleh pembeli untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang atau jasa berikut pelayanannya. Dalam menyusun kebijakan penetapan harga, perusahaan mengikuti prosedur enam tahap penetapan harga yaitu : (Swastha, 2004; 55):

1. Perusahaan memilih tinjauan penetapan harga

2. Perusahaan memperkirakan kurva permintaan, probabilitas kuantitas yang akan terjual pada tiap kemungkinan harga

3. Perusahaan memperkirakan bagaimana biaya bervariasi pada berbagai level produksi dan pada berbagai level akumulasi pengalaman produksi

4. Perusahaan menganalisa biaya, harga, dan tawaran pesaing. 5. Perusahaan menyeleksi metode penetapan harga

2.1.5 Pendapatan

Lipsey (1997; 63) mengemukakan bahwa kenaikan pendapatan rumah tangga akan menyebabkan lebih banyak komoditi yang akan diminta pada setiap tingkat harga. Kenaikan pendapatan konsumen biasanya akan menaikan permintaan terhadap suatu barang, keadaan ini berlaku bagi barang-barang pada umumnya/barang normal, pengecualian terjadi pada barang inferior, dimana kenaikan pendapatan akan menurunkan permintaan barang tersebut.

Perubahan dalam distribusi pendapatan akan menyebabkan naiknya permintaan untuk komoditi yang dibeli terutama oleh rumah tangga yang memperoleh tambahan pendapatan. Namun perubahan dalam distribusi pendapatan akan mengakibatkan berkurangnya permintaan untuk komoditi yang akan dibeli terutama oleh rumah tangga yang berkurang pendapatanya.

2.1.6 Pengertian Konsumsi

Konsumsi adalah suatu aktifitas memakai atau menggunakan suatu produk barang atau jasa yang dihasilkan oleh para produsen. Perusahaan atau perseorangan yang melakukan kegiatan konsumsi disebut konsumen. Menurut Chaney (2003; 54) konsumsi adalah seluruh tipe aktifitas sosial yang orang lakukan sehingga dapat dipakai untuk mencirikan dan mengenal mereka, selain (sebagai tambahan) apa yang mungkin mereka lakukan untuk hidup. Gagasan bahwa konsumsi telah menjadi atau sedang menjadi fokus utama kehidupan sosial dan nilai-nilai kultural mendasari gagasan lebih umum dari budaya konsumen.

Konsumsi adalah takaran jumlah suatu barang maupun jasa yang dipergunakan atau dipakai oleh konsumen, dan tingkat konsumsi yakni kuantitas suatu produk yang sudah paten, atau jadi yang dibeli oleh konsumen per satuan waktu satu bulan yang lalu (Sukirno, 2004; 113). Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi suatu produk ialah variabel-variabel yang ikut menentukan naik dan turunnya dan seberapa besar pengaruhnya terhadap tingkat konsumsi produk tersebut (Kottler, 2000; 108).

Menurut Braudrillard (2004; 87), konsumsi adalah sistem yang menjalankan urutan tanda-tanda dan penyatuan kelompok. Jadi konsumsi itu sekaligus sebagai moral (sebuah sistem ideologi) dan sistem komunikasi, struktur pertukaran. Dengan konsumsi sebagai moral, maka akan menjadi fungsi sosial yang memiliki organisasi yang terstruktur yang kemudian memaksa mereka mengikuti paksaan sosial yang tak disadari.

Chaney (2003; 47) menambahkan, gagasan bahwa konsumsi telah menjadi atau sedang menjadi fokus utama kehidupan sosial dan nilai-nilai kultural mendasari gagasan lebih umum dari budaya konsumen. Menurut Baudrillard, (2004; 30) kita hidup dalam era di mana masyarakat tidak lagi didasarkan pada pertukaran barang materi yang berdaya guna, melainkan pada komoditas sebagai tanda dan simbol yang signifikansinya sewenang-wenang dan tergantung kesepakatan dalam apa yang disebutnya kode. Pada saat ini telah terbentuk masyarakat konsumen, yaitu masyarakat dimana orang-orang berusaha menginformasikan, meneguhkan identitas dan perbedaannya, serta mengalami kenikmatan melalui tindakan membeli dan mengkonsumsi sistem tanda bersama.

2.1.7 Subtitusi

Menurut Sukirno (2000; 80), sesuatu barang dinamakan barang pengganti kepada sesuatu barang lain apabila ia dapat menggantikan fungsi dari barang lain tersebut. Harga barang pengganti dapat mempengaruhi permintaan barang yang dapat digantikannya. Sekiranya harga barang pengganti bertambah murah, maka barang yang digantikannya akan mengalami pengurangan dalam permintaan.

2.1.8 Pengertian Produksi

Pengertian produksi dapat diartikan sebagai usaha untuk menciptakan atau menambah faedah ekonomi suatu benda dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sedangkan orang, badan usaha, atau organisasi yang menghasilkan barang dan jasa disebut produsen (Rasyaf, 2000; 201).

Produksi adalah suatu kegiatan yang menghasilkan output dalam bentuk barang maupun jasa. Menurut Sugiarto (2005; 75), produksi adalah suatu kegiatan yang mengubah input menjadi output. Kegiatan tersebut dalam ekonomis biasa dinyatakan dalam fungsi produksi. Sedangkan menurut Suparmoko (2000; 92), Produksi adalah hubungan teknis antara faktor produksi dan barang produksi yang dihasilkan dalam proses produksi. Dalam bentuk umumnya pada jumlah faktor produksi yang digunakan.

2.2 Kerangka pemikiran

Dalam kebutuhan manusia tidak terlepas akan kebutuhan sandang dan pangan. Salah satunya adalah kebutuhan mengkonsumsi daging untuk memenuhi kebutuhan protein dalam tubuh manusia. Oleh karena itu, tingkat permintaan daging sapi di Indonesia dipengaruhi oleh faktor-faktor produksi, konsumsi, harga daging sapi, harga barang substitusi, jumlah penduduk dan pendapatan. Faktor- faktor tersebut diperoleh dari data sekunder. Untuk mengetahui pengaruhnya antara faktor-faktor tersebut maka dilakukan analisis korelasi dan regresi berganda, dengan menggunakan uji signifikansi individual (uji t) untuk mengidentifikasi secara satu per satu tiap faktornya (t hitung > t tabel, atau Sig <

α). Untuk menganalisis apakah faktor-faktor tersebut berpengaruh secara serentak terhadap permintaan daging sapi dengan menggunakan uji signifikansi simultan atau uji F (Fhitung > Ftabel, atau sig < α). Secara rinci, kerangka penulis dapat dilihat pada Gambar 2.

Analisis Data

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan Daging Sapi di Indonesia: a. Produksi

b. Konsumsi

c. Harga Daging Sapi d. Harga Barang Subtitusi e. Jumlah Penduduk f. Pendapatan

Data Sekunder

Analisis Korelasi dan Regresi Berganda:

a. Uji koefisien

b. Uji Signifikansi Individual (Uji t)

Hasil Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Daging Sapi di

Indonesia Permintaan Daging

Sapi

Gambar 2. Kerangka Pemikiran

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan data sekunder yang berbentuk data time series

(data deret waktu). Data tersebut diperoleh dari Badan Pusat Statistik, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, serta Departemen Perdagangan dan Perindustrian, untuk memperoleh data sekunder berupa informasi statistika. Sebagai bahan referensi data diperoleh dari Biro Pusat Statistik, literatur-literatur, penelitian terdahulu, internet serta laporan tahunan. Data yang diperoleh adalah data tahunan selama kurun waktu 10 tahun (2000- 2009).

Tabel 3. Informasi Data Sekunder Penelitian Permintaan Daging Sapi Menurut Data dan Satuanya.

No Informasi Data Satuan Sumber Data

1. Harga Daging Rupiah/Kg Deptan/BPS

2. Konsumsi daging sapi Ton/tahun BPS

3. Jumlah Penduduk Jiwa/tahun BPS/Internet

4. Produksi Daging Ton/tahun BPS/nternet

5. Harga daging ayam Rupiah/Kg BPS

6. Tingkat pendapatan Rupiah/tahun Deperindag

3.2 Metode Pengolahan dan Analisis Data

Dokumen terkait