• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.6. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Budaya Kerja

Darodjat (2015:33) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi budaya kerja adalah sebagai berikut :

1. Perilaku Pemimpin

Seorang pemimpin harus memberikan tindakan nyata yang akan menjadi cermin penting bagi para pegawai. Pemimpin sebagai seorang yang memberikan pengaruh besar dan menjadi patokan harus dapat menunjukkan bahwa setiap ucapannya harus selaras dengan tindakannya sebab para pegawai akan menjadikannya sebagai panutan dalam bekerja. Selain itu, kemampuan dalam memimpin para pegawainya harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Kepemimpinan pimpinan akan menentukan pencapaian tujuan organisasi sebab dengan adanya pengaruh kekuasaanya dapat mengarahkan aktivitas para pegawai. Menurut Wibowo (2013:308) bahwa seorang pemimpin juga harus memilki sifat yang paling penting dalam memimpin yaitu :

a. motivasi untuk mempengaruhi orang lain merupakan salah satu keinginan untuk menjadi pemimpin

b. memiliki semangat tingkat tinggi yang ditandai oleh energi, pertimbangan, kekuatan keinginan dan kepemilikan

c. perasaan etika, kejujuran, dan kebenaran merupakan integrasi personal yang harus ditunjukkan oleh pemimpin

d. pemimpin harus percaya diri yang ditunjuk melalui optimisme, keyakinan dan efikasi

2. Seleksi Para Pekerja

Penempatan pegawai pada posisi yang tepat akan menumbuhkembangkan rasa memiliki dari para pegawai. Seleksi para pekerja menurut Irawan (Yullyanti, 2009: 132) yaitu proses yang dilakukan untuk mendapatkan tenaga yang berkualitas guna bekerja pada organisasi atau instansi. Untuk memutuskan pelamar mana yang akan diterima melalui proses melamar pekerjaan sampai pada keputusan penerimaan maka dilakukan proses seleksi.

Pada proses seleksi pegawai dilakukan sebenarnya tidak hanya berfokus pada penerimaan karyawan baru saja, tetapi juga untuk pengembangan atau penerimaan karena adanya peluang jabatan.

3. Budaya Organisasi

Budaya kerja sejak lama telah dibangun oleh setiap organisasi. Awal dari budaya organisasi yaitu dari kebiasaan saat ini, tradisi dan cara umum untuk melaksanakan pekerjaan dan keyakinan para anggotanya. Dalam budaya organisasi terdapat pola-pola budaya seperti nilai yaitu kode etik yang

dipercayai didalam organisasi. Nilai menunjukkan kepada kita tentang bagaimana kita sekarang dan akan datang; Norma yaitu konsep tentang perilaku rata-rata (averange behevior), tipikal atau perilaku yang sering muncul atau apa yang secara aktual dilakukan orang serta norma ideal (ideal norm) harapan dari semua orang dalam menunjukkan aturan atau standar

perilaku di suatu siuasi tertentu atau yang berlaku secara umum; Kepercayaan merupakan upaya dalam menerima sebuah kebenaran tentang sesuatu yang dipelajari. Penerimaan nilai-nilai merupakan dasar dari kepercayaan sehingga menjadi pusat dari tindakan yang menunjukkan bagaimana berperilaku; dan bahasa sebagai simbol yang mewakili sesuatu karena kata-kata dapat kita artikan sebagai simbol karena kata-kata merupakan wakil dari suatu objek, peristiwa, atau hal lain apapun.

4. Budaya Luar

Budaya luar organisasi dapat memberikan pengaruh seperti komunitas budaya luar yang mengelilinginya. Politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, teknologi, dll dapat memberikan pengaruh terhadap budaya organisasi.

Pengaruh budaya luar ini tidak hanya mempengaruhi organisasi tertentu tetapi juga terhadap semua organisasi yang ada di masyarakat. Seperti politik akan memberikan dampak terhadap organisasi karena berhubungan dengan pemerintahan, hukum juga akan memberikan dampak terhadap organisasi kerena harus menaati hukum yang berlaku.

5. Kejelasan Misi Organisasi

Pemahaman misi organisasi secara jelas membuat para pegawai mengetahui secara utuh dan jelas sesuatu pekerjaan yang harus mereka lakukan.

Kejelasan misi akan menjadi sebuah alasan bahwa atau menjadi latar belakang berdirinya dan menjadi petunjuk arah untuk mencapai tujuan oraganisasi. Pembentukan misi perusahaan harusnya dibuat singkat sehingga mudah untuk diingat dan dipahami oleh para anggotanya.

6. Kepastian Misi Organisasi

Setiap pemimpin harus dapat memastikan bahwa misi harus berjalan jika tujuan suatu organisasi sudah ditetapkan. Sebagus apapun misi dari sebuah organisasi jika tidak dilaksakan dengan baik oleh pimpinannya dan pegawai maka misi tersebut hanya tinggal sebuah kata-kata dan tujuan organisasi tidak akan tercapai.

7. Keteladanan Pemimpin

Seorang pemimpin harus memberikan contoh budaya semangat kerja kepada bawahannya. Keteladan pemimpin merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mencapai kesuksesan organisasi. Seorang pemimipin harus memberikan keteladanan, sebab hal tersebut merupakan upaya atau cara yang dilaksanakan oleh pemimpin dengan tujuan agar pegawai mau meniru segala perbuatan yang dilakukannya dengan tujuan selain untuk peniruan pegawai terhadap perbuatan-perbuatannya juga untuk meningkatkan kepercayaan yang diberikan oleh pegawai, dengan adanya kepercayaan tersebut pegawai tidak ragu-ragu lagi ketika ada ajakan untuk melakukan sesuatu (Sofyan, 2015:102-103).

8. Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran pegawai harus tetap berlanjut. Agar mengahasilkan budaya kerja yang sesuai, pengembangan keahlian dan pengetahuan sangat dibutuhkan oleh para pegawai. Pembelajaran menurut McShane (2010:82) merupakan suatu perubahan dalam perilaku yang relatif permanen (atau kecenderungan perilaku) yang terjadi sebagai hasil dari interaksi seorang secara berkelanjutan dengan lingkungan, pengalaman dan pelatihan.

Pentingnya pembelajaran dan pelatihan bagi para pegawai menurut Fatoni (Nurmayanti, 2015:2) adalah untuk dapat meningkatkan kepribadian dan semangat pengabdian kepada organisasi masyarakat; melatih dan meningktakan mekanisme kerja dan kepekaan dalam melaksankan tugas;

meningkatkan mutu dan kemampuan, serta keterampilan baik dalam melaksanakan tugasnya maupun kepemimpinannya; melatih dan meningkatkan kerja dalam perencanaan; dan meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan kerja.

9. Motivasi

Motavasi adalah dorongan atau keinginan untuk bertindak. Para pegawai membutuhkan dorongan untuk turut memecahakan masalah organisasi lebih inovatif. Setiap pegawai memiliki motivasi yang berbeda dalam bekerja sehingga seorang pemimpin harus dapat mempengaruhi para pegawainya agar menyelaraskan motivasi pegawai dengan kebutuhan organisasi. Pendorong motivasi pegawai tentu berbeda-beda seperti yang dijelaskan oleh Newstrom

(Wibowo, 2015:112-113) dari penelitian McClelland menyatakan bahwa pendorong motivasi bersumber dari

a. Motivasi berprestasi (Achievement Motivation) adalah dorongan untuk mengejar dan mencapai tujuan menantang yang ada pada setiap individu. Motivasi ini akan memberikan harapan kepada individu untuk mencapai sasaran dan menaiki anak tangga keberhasilan.

b. Motivasi berafiliasi (Affiliation Motuvation) merupakan suatu motivasi dalam memberikan dorongan untuk kepada setiap individu untuk berhubungan dengan orang atas dasar sosial, bekerja dengan orang yang cocok dan berpengalaman dengan perasaan sebagai komunitas.

c. Motivasi akan kekuasaan (Power Motibation) merupakan suatu dorongan untuk dapat memengaruhi orang, mengubah situasi dan melakukan pengawasan. Orang yang termotivasi atas dasar kekuasaan mengharapkan akan menciptakan dampak pada organisasi dan bersedia mengambil resiko dengan melakukannya.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa budaya kerja organisasi adalah nilai, norma, atau suatu keseluruhan dari pola perilaku anggotanya dalam menjalankan suatu pekerjaan dan dipengaruhi dari berbagai faktor, baik dari dalam maupun dari luar organisasi tersebut.