MEMAHAMI MAKNA PENDIDIKAN ISLAM
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan
Djamarah & Zain Aswan (1996:123) berpendapat, jika ada guru yang mengatakan bahwa dia tidak ingin berhasil dalam mengajar, adalah ungkapan seorang guru yang sudah putus asa dan jauh dari kepribadian seorang guru. Mustahil setiap guru tidak ingin berhasil dalam mengajar. Apalagi jika guru itu hadir kedalam dunia pendidikan berdasarkan tuntunan hati nurani. Panggilan jiwanya pasti merintih atas kegagalan mendidik dan membina anak didiknya.
Betapa tingginya nilai suatu keberhasilan, sampai-sampai seorang guru berusaha sekuat tenaga dan fikiran mempersiapkan program pengajarannya dengan baik dan sistematik. Namun terkadang keberhasilannya yang dicita-citakan, tetapi kegagalan yang ditemui; disebabkan oleh beberapa faktor sebagai penghambatnya. Sebaliknya, jika keberhasilan itu ingin menjadi kenyataan, maka berbagai faktor itu juga sebagai pendukungnya, Berbagai faktor yang dimaksud adalah :
1. Tujuan.
Tujuan adalah pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Kepastian dari perjalanan proses
belajar mengajar berpangkal tolak dari jelas tidaknya perumusan tujuan pengajaran. Tercapainya tujuan sama halnya keberhasilan pengajaran.
2. Guru.
Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik di sekolah. Guru adalah orang yang berpengalaman dalam bidang profesinya. Dengan keilmuan yang dimilikinya, dia menjadi anak didik menjadi orang yang cerdas. Latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar adalah dua aspek yang mempengaruhi kopetensi seorang guru dibidang pendidikan dan pengajaran.
3. Anak Didik.
Anak didik adalah orang yang dengan sengaja datang ke sekolah. Orang tuanyalah yang memasukkannya untuk dididik agar menjadi orang yang berilmu pengetahuan dikemudian hari. Kepercayaan orang tua anak diterima oleh guru dengan kesadaran dan penuh keikhlasan. Maka jadilah guru sebagai pengemban tangung jawab yang diserahkan itu.
4. Kegiatan pengajaran.
Pola umum kegiatan pegajaran adalah terjadinya interaksi antara guru dengan anak didik dengan bahan sebagai perantaranya. Guru yang mengajar. Anak didik yang belajar. Maka guru adalah orang yang menciptakan lingkungan belajar bagi kepentingan belajar anak didik. Anak didik adalah orang yang digiring kedalam lingkungan belajar yang telah diciptakan oleh guru. Gaya mengajar guru berusaha mempengaruhi gaya belajar anak didik. Tetapi disini gaya mengajar guru lebih dominan mempengaruhi gaya belajar anak didik.
5. Bahan dan Alat Evaluasi.
Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat didalam kurikulum yang sudah dipelajari oleh anak didik guna kepentingan ulangan. Bila tiba masa ulangan, semua bahan yang telah diprogramkan dan harus selesai dalam jangka waktu tertentu dijadikan sebagai bahan untuk pembuatan item-item soal evaluasi.
6. Suasana Evaluasi.
bahan dan alat evaluasi, faktor evaluasi juga merupakan fakor yang mempengaruhi kebersilan belajar mengajar.
7. Teknik-Teknik Pendidikan.
Sementara menurut Muhammad Quthub (1988:325), memberi komentar, tetapi lebih dari itu, Islam belum pernah pula kehabisan persediaan dalam hal teknik-teknik pendidikan dan masih banyak lagi persediaan anak-anak panah didalam kantongnya. Ia melakukan pendidikan melalui teladan, melalui teguran, melalui hukuman, melalui cerita-cerita, melalui pembiasaan, dan melalui pengalaman-pengalaman kongkrit.
a. Pendidikan melalui Teladan.
Ini adalah salah satu teknik pendidikan yang efektif dan sukses. Mengarang buku mengenai pendidikan adalah mudah begitu juga menyusun suatu metodologi pendidikan, kendatipun hal itu membutuhkan ketelitian, keberanian dan pendekatan yang menyeluruh. Namun hal itu masih tetap hanya akan merupakan tulisan diatas kertas, tergantung diatas awang-awang, selama tidak terjamah menjadi kenyataan yang hidup didunia nyata, bila tidak bisa menjamah manusia yang menterjemahkannya, dengan tingkah laku, tindak-tanduk, ungkapan-ungkapan rasa, dan ungkapan-ungkapan pikiran: menjadi dasar-dasar dan arti suatu metodologi. Hanya bila demikianlah suatu metodologi akan berubah menjadi suatu gerakan, akan menjadi suatu sejarah. Diperlukanlah teladan. Oleh karena itulah Allah mengutus Muhammad s.a.w. untuk menjadi tauladan buat manusia.
b. Pendidikan melalui Nasehat.
Didalam jiwa terdapat pembawaan untuk terpengaruh oleh kata-kata yang didengar. Pembawaan itu biasanya tidak tetap, dan oleh karena itu kata-kata harus diulang-ulang. Nasehat yang berpengaruh, membuka jalannya kedalam jiwa secara langsung melalui perasaan. Dalam pendidikan nasehat saja tidaklah cukup bila tidak dibarengi dengan teladan dan perantara yang memungkinkan teladan itu diikuti dan diteladani.
c. Pendidikan melalui Hukuman.
Bila teladan tidak mampu, dan begitu juga nasehat, maka waktu itu harus diadakan tindakan tegas yang dapat meletakkan persoalan ditempat yang benar. Kecenderungan pendidikan modern sekarang memandang tabu hukuman itu, memandang tidak layak
disebut-sebut. Tetapi generasi muda yang ingin dibina tanpa hukuman itu; di Amerika, adalah generasi muda yang sudah kedodoran, meleleh, dan sudah tidak bisa dibina lagi eksistensinya. Tindakan tegas itu adalah hukuman. Hukuman sesungguhnya tidaklah mutlak diperlukan. Ada orang-orang yang teladan dan nasehat saja sudah cukup, tidak perlu lagi hukuman dalam hidupnya. Tetapi manusia itu tidak sama seluruhnya. Diantara mereka ada yang perlu dikerasi sekali-kali.
d. Pendidikan melalui Cerita.
Cerita mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan. Bagaimanapun persoalannya, cerita itu pada kenyataannya sudah merajut kaki manusia dan akan tetap mempengaruhi kehidupan mereka. Islam menyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi cerita itu, dan menyadari pengaruhnya yang besar terhadap perasaan. Oleh karena itu Islam mengeksploitasi cerita itu untuk dijadikan salah satu teknik pendidikan.
e. Pendidikan melalui Kebiasaan.
Kebiasaan, sebagaimana sudah kita singgung, menduduki kedudukan yang sangat istimewa di dalam kehidupan manusia. Islam mempergunakan kebiasaan itu sebagai salah satu teknik pendidikan. Lalu ia mengubah seluruh sifat-sifat baik menjadi kebiasaan, sehinga jiwa dapat menunaikan kebiasaan itu tanpa terlalu payah, tanpa kehilangan banyak tenaga, dan tanpa menemukan banyak kesulitan.
f. Menyalurkan Kekuatan.
Diantara banyak teknik Islam dalam membina manusia dan juga dalam memperbaikinya adalah mengaktifkan kekuatan-kekuatan yang tersimpan didalam jiwa dan tubuh dari diri dan tidak memendamnya kecuali bila potensi-potensi itu memang terpuruk untuk lepas.
g. Mengisi Kekosongan.
Bila Islam menyalurkan kekuatan tubuh dan jiwa ketika sudah menumpuk, dan tidak menyimpannya, karena penuh resiko. Maka Islam sekaligus juga tidak senang pada kekosongan. Kekosongan merusak jiwa, seperti halnya kekuatan terpendam juga rusak, tanpa adanya suatu keadaan istimewa. Kerusakan utama yang timbul oleh kekosongan adalah habisnya kekuatan potensial itu untuk mengisi tersebut. Seterusnya orang itu akan terbiasa pada sikap buruk yang dilakukannya untuk mengisi kekosongan itu.