• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.9 Kepatuhan

2.9.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan

Menurut Dermawanti (2015) bahwa kepatuhan pasien sebagai mana perilaku pasien sesuai ketentuan yang diberikan oleh profesional kesehatan. Orang mematuhi perintah dari orang yang mempunyai kekuasaan, tidak mengherankan ketidakpatuhan sering kali diikuti dengan beberapa bentuk hukuman. Meskipun

demikian, yang menarik adalah pengaruh dari orang yang tidak mempunyai kekuasaan dalam membuat orang mematuhi perintahnya dan sampai sejauh mana kesediaan orang untuk mematuhinya (Dermawanti, 2015).

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan adalah : a. Faktor Penderita Individu

i. Sikap atau motivasi individu ingin sembuh

Motivasi atau sikap yang paling kuat adalah dalam diri individu sendiri. Motivasi individu ingin tetap mempertahankan kesehatannya sangat mempengaruhi

perilaku penderita dalam kontrol penyakitnya.

ii. Keyakinan

Kayakinan merupakan dimensi spiritual yang dapat menjalani kehidupan.

Penderia yang berpegang teguh terhadap keyakinannya akan memiliki jiwa yang tabah dan tidak mudah putus asa serta dapat menerima keadaannya.

b. Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga merupakan bagian dari penderita yang paling dekat dan tidak dapat dipisahkan. Penderita akan merasa senang dan tenteram apabila

mendapatkan perhatian dan dukungan dari keluarga.

c. Dukungan Sosial

Dukungan sosial dalam bentuk dukungan emosional dari anggota keluarga lain merupakan faktor-faktor yang penting dalam kepatuhan terhadap program-program medis.

d. Dukungan Petugas Kesehatan

Dukungan petugas kesehatan merupakan faktor lain yang dapat mempengaruhi penerapan perilaku kepatuhan (Niven, 2002; Solarte & Barona, 2008).

Faktor lain adalah peran pemberian minum obat, kolaborasi petugas kesehatan dengan keluarga yang ditunjuk untuk mendampingi ketika penderita minum obat, juga perlu faktor yang perlu dievaluasi untuk menentukan tingkat kepatuhan dan keberhasilannya (Anyaike, et al., 2013).

Pengobatan dilakukan setiap hari dan dalam jangka panjang, sehingga kepatuhan minum obat juga sering menjadi masalah yang harus dipikirkan sejak awal pengobatan. Minum obat yang tidak rutin terbukti telah menyebabkan resistensi antibiotik yang meminum yang dapat menyebabkan kegagalan pengobatan dan memperparah kondisi penyakit (Senewe, 2002).

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian survei cross-sectional, yang didukung oleh data primer yaitu data yang diperoleh langsung melalui pengisian kuesioner pill count dan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis pasien.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 13 Desember 2017 – 17 Januari 2018 di UPT Puskesmas Belawan, Medan Belawan.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah pasien yang melakukan pengobatan tuberkulosis paru di UPT Puskesmas Belawan, Medan Belawan.

3.3.2 Sampel penelitian

Sampel penelitian adalah objek yang diteliti dan dapat mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2012).

Subjek dalam penelitian ini adalah pasien yang melakukan pengobatan tuberkulosis paru di UPT Puskesmas Belawan, Medan Belawan yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi.

Kriteria inklusi adalah :

a. Pasien yang mengidap penyakit tuberkulosis paru dan sedang melakukan pengobatan di UPT Puskesmas Belawan, Medan Belawan.

b. Pasien yang sedang menjalani pengobatan tuberkulosis paru lebih dari 2 minggu.

c. Bersedia secara sukarela menjadi responden.

Kriteria eksklusi adalah :

a. Pasien tidak dapat berkomunikasi dengan baik.

b. Pasien yang sudah selesai menjalani pengobatan.

c. Pasien tidak bersedia bekerjasama dalam penelitian.

3.4 Instrumen Penelitian 3.4.1 Sumber Data

Sumber data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah data primer berupa kuesioner yang telah diisi oleh pasien dan dengan metode pill count dengan cara menghitung sisa jumlah obat pasien.

3.4.2 Teknik Pengumpulan Data

Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan data primer dan sekunder.

Data primer adalah data yang diambil langsung dari responden dengan cara menghitung sisa jumlah obat yang dibawa pasien dan membagikan kuesioner kepada pasien yang berobat di UPT Puskesmas Belawan, Medan Belawan.

Kuesioner terdiri dari 2 bagian yaitu :

a. Data demografi pasien berupa biodata pasien yang terdiri dari 5 poin, yaitu nama, jenis kelamin, umur, pendidikan, dan pekerjaan.

b. Pengetahuan pasien terdiri dari 15 poin pertanyaan yang meliputi pengetahuan umum mengenai Tuberkulosis Paru, yakni pengertian, penyebab, gejala, penularan, dan pencegahan.

Data sekunder adalah data yang diambil secara tidak langsung, yaitu data yang diambil dari data yang sudah ada di tempat penelitian dengan menggunakan rekam medis pasien.

3.5 Kuesioner Kepatuhan dan Pengetahuan 3.5.1 Kuesioner Pengetahuan

Kuesioner ini menggunakan instrumen penelitian oleh Rahmah (2017).

Penilaian tingkat pengetahuan dilakukan dengan cara sebelum menentukan kategori baik dan tidak baik terlebih dahulu menentukan kriteria tolak ukur yang dijadikan penentuan skor pada setiap jawaban. Setiap jawaban yang benar diberi nilai 2 dan untuk jawaban yang salah diberi nilai 0.

Peneliti menggunakan nilai mean sebagai cut off point dalam menentukan hasil ukur yang artinya jika nilai pasien lebih rendah dari nilai mean maka

dikategorikan memiliki tingkat pengetahuan tidak baik, dan jika nilai pasien lebih dari nilai mean maka dikategorikan memiliki tingkat pengetahuan baik.

3.5.2 Pill Count

Metode pill count ini dilakukan dengan cara menghitung sisa obat yang didapatkan pasien selama terapi dalam jangka waktu tertentu. Menghitung jumlah sisa tablet secara langsung dengan menggunakan rumus :

X 100 %

Dari hasil perhitungan akan didapatkan dua kategori yaitu jika hasil perhitungan <80% termasuk kategori tidak patuh dan jika hasil perhitungan 80-100% termasuk kategori patuh (Vik dkk., 2005).

3.6 Analisis Data

Data yang diperoleh dari penelitian ini akan dianalisis secara deskriptif.

Data kuantitatif akan disajikan dalam bentuk tabel sedangkan data kualitatif akan disajikan dalam bentuk uraian. Data dianalisa menggunakan program SPSS 21.

Awalnya data dilakukan uji normalitas untuk mengetahui uji yang dilakukan. Data terdistribusi normal memakai uji parametrik dan data tidak normal memakai uji non parametrik. Uji statistik yang dilakukan dalam penelitian ini adalah chi-square (p<0,05) untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara

karakteristik pasien terhadap tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan serta uji spearman (p<0,05) untuk mengetahui adakah hubungan antara tingkat

pengetahuan terhadap kepatuhan minum obat, dengan kriteria tingkat hubungan (koefisien korelasi) antara variable berkisar antara 0,00 Sampai kurang dari 1,00, adapun criteria penafsirannya adalah :

a. 0,00 sampai 0,20, artinya hampir tidak ada korelasi.

b. 0,21 sampai 0,40, artinya korelasi rendah.

c. 0,41 sampai 0,60, artinya korelasi sedang.

d. 0,61 sampai 0,81, artinya korelasi tinggi.

e. 0,81 sampai 1,00, artinya korelasi sempurna (Raharjo, 2015).

3.7 Prosedur Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan dengan prosedur seperti berikut : a. Menyiapkan kuesioner penelitian yang akan diisi oleh responden.

b. Meminta surat permohonan izin Dekan Fakultas Farmasi USU kepada Dinas Kesehatan Medan untuk melakukan penelitian dengan responden di UPT Puskesmas Belawan, Medan Belawan.

c. Meminta surat izin Dinas Kesehatan Medan untuk melakukan penelitian dengan responden di UPT Puskesmas Belawan, Medan Belawan.

d. Menghubungi Kepala Puskesmas tersebut untuk mendapatkan izin melakukan penelitian.

e. Membagikan kuesioner penelitian kepada responden dan menghitung sisa jumlah obat yang dibawa pasien.

f. Mengumpulkan data penelitian.

g. Mengolah data penelitian.

h. Menganalisis data dan informasi yang diperoleh sehingga didapatkan kesimpulan dari penelitian.

3.8 Definisi Operasional

Definisi operasional yang dilakukan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3.1

Variabel Definisi Operasional

Cara

Ukur Alat Ukur Hasil Pengukuran

Umur Total lama

f. 65-69 tahun

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan antara karakteristik dari pasien (jenis kelamin, usia, pendidikan, dan pekerjaan) dengan tingkat pengetahuan dan kepatuhan pasien, serta melihat hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap kepatuhan minum obat pada pasien.

4.1 Data Demografi

Data demografi pasien terdiri dari jenis kelamin, umur, pendidikan, dan pengetahuan.

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pasien Tuberkolosis Paru Berdasarkan Karakteristik Pasien

Demografi Pasien Jumlah Pasien Persentase (%) Jenis Kelamin

Demografi Pasien Jumlah Pasien Persentase (%)

Penggunaan Obat

a. RHZE 24 48

b. RH 26 52

Total 50 100

Berdasarkan Tabel 4.1 menunjukkan frekuensi pasien tuberkulosis paru berdasarkan jenis kelamin adalah lebih banyak diderita oleh laki-laki yaitu sebanyak 36 orang atau (72%) dibandingkan dengan jumlah penderita tuberkulosis paru pada perempuan sebanyak 14 atau (28%). Hal ini dikarenakan sebagian besar laki-laki merokok pada setiap harinya, sehingga laki-laki banyak menderita penyakit tuberkulosis paru.Merokok dapat menurunkan daya tahan dari paru-paru sehingga relatif akan mudah terkena tuberkulosis paru (Depkes RI,2011).

Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh berbagai macam umur dari responden maka dikelompokkan menjadi enam kelompok, dan rentang usia yang paling tinggi menderita tuberkulosis paru adalah kelompok umur 45 - 54 tahun sebanyak 15 orang (30%).Hal ini dapat disebabkan karena pada kelompok umur tersebut masyarakat dengan tingkat sosial rendah cenderung lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah untuk melaksanakan aktivitas sehinggadengan kondisi lingkungan yang kurang baik maka dapat menjadi faktor pendukung untuk seseorang terpapar penyakit tuberkulosis (DepkesRI, 2011) dan tingkat atau derajat penularan penyakit ini tergantung banyaknya basil tuberkulosis dalam sputum, virulensi atas, basil dan peluang adanya pencemaran udara dari batuk, bersin dan berbicara keras (Naga, 2012).

Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa frekuensi rata-rata atau nilai rata-rata pasien tuberkulosis paru berdasarkan yang

dan terendah adalah Perguruan Tinggi sebanyak 1 orang. Berdasarkan jenis pekerjaan dilihat dari karakteristik responden maka, dapat diperoleh hasil bahwa penderita tuberkulosis paru di Upt Puskesmas Belawan paling banyak diderita oleh wiraswasta yaitu sebanyak 24 orang (48%). Berdasarkan obat yang digunakan, maka obat yang paling banyak digunakan yaitu RH (Rifampisin, Isoniazid) sebanyak 26 orang (52%) yang merupakan tahap lanjutan dari pengobatan tuberkulosis paru dan dengan melakukan pengobatan tahap awal yaitu RHZE (Rifampisin, Isoniazid, Pirazinamid, dan Etambutol ) sebanyak 24 orang (48%) di Upt Puskesmas Belawan Kota Medan.

4.2 Pengetahuan dan Kepatuhan Pasien Tentang Tuberkulosis Paru

Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat gambaran distribusi skor penilaian mengenai pengetahuan pasien, tentang tuberkulosis paru, pertanyaan terdiri dari 15 pertanyaan dan kepatuhan pasien tentang tuberkulosis paru, pertanyaan terdiri dari 8 pertanyaan.

Tabel 4.2 Distribusi Data Pengetahuan Pasien Tentang Tuberkulosis Paru

Skor Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)

6 1 2

Mean (rata-rata) dari pengetahuan pasien tuberkulosis di UPT Puskesmas Belawan, Medan Belawan sebesar 18,71. Peneliti menggunakan nilai mean sebagai cut off point dalam menentukan hasil ukur (Rahmah, 2017).

Tabel 4.3 Kategori Pengetahuan Pasien Tentang Tuberkulosis Paru

Pengetahuan Tentang TB Paru Frekuensi Persentase (%)

Baik 40 80

Tidak Baik 10 20

Total 50 100

Berdasarkan Tabel 4.4 diatas bahwa skor penilaian pengetahuan responden tentang tuberkulosis yang mendapat skor lebih tinggi dari nilai mean(18,71) sebanyak 40 orang (80%) yaitu berpengetahuan baik dan responden yang mendapat skor kurang dari nilai mean(18,71) sebanyak 10 orang (20%) yaitu berpengetahuan tidak baik.

Hasil dari jawaban kuesioner dan wawancara diketahui bahwa pengetahuan pasien tentang tuberkulosis paru adalah 80% baik, hal ini dikarenakan petugas puskesmas selalu memberikan pengarahan dan pengetahuan tentang penyakit tuberkulosis dan pengobatannya kepada penderita tuberkulosis paru.

Menurut penelitian yang dilakukan Arifandi (2016), di peroleh hasil bahwa tingkat pengetahuan 70,22% tergolong baik dan 29,78% tergolong tidak baik. Penelitian yang dilakukan Junita (2012), diperoleh hasil pengetahuan pasien

yang tergolong baik 77,5% dan 22,5% tergolong tidak baik. Penelitian yang dilakukan oleh Rahmah (2017), diperoleh hasil pengetahuan pasien yang tergolong baik sebanyak 57,8% dan 42,10% tergolong tidak baik dari hasil penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pasien dengan tingkat pengetahuan baik. Hal ini juga sesuai dengan hasil yang di peroleh peneliti dalam penelitian.

Sumber pengetahuan penderita selain didapat dari petugas Puskesmas, juga didapat melalui sumber baik sumber informasi yang berasal dari pemerintah maupun informasi yang berasal dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Informasi tersebut dapat berupa penyuluhan, maupun brosur-brosur yang memuat tentang informasi yang terkait dengan penyakit tuberkulosis agar dapat melakukan pengobatan secara maksimal, informasi juga bisa didapatkan melalui media elektronik seperti televisi, radio, dan surat kabar, bahkan internet.

4.3 Perilaku Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Tuberkulosis Paru

Hasil dari penelitian ini memberikan gambaran distribusi skor penelitian perilaku kepatuhan minum obat pasien TB paru di UPT Puskesmas, Medan Belawan.

Tabel 4.4 Distribusi Tingkat Kepatuhan Pasien dalam Minum Obat Nilai Kepatuhan Berdasarkan

metode Pill Count

Frekuensi Persentase (%)

Patuh 50 100

Total 50 100

Berdasarkan hasil analisis deskriptif dari data perilaku kepatuhan minum obat di UPT Puskesmas Belawan, Medan Belawan dengan menggunakan metode pill count menunjukkan hampir semua responden mempunyai tingkat kepatuhan minum obat patuh sebanyak 50 pasien dari 50 responden atau setara dengan (100%). Menurut Pameswari, dkk (2016), ada beberapa hal yang menyebabkan pasien tuberkulosis paru tidak mengkonsumsi obat yaitu obat TB paru harus dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang, penderita akan merasakan sembuh karena berkurang atau hilangnya gejala penyakit setelah menjalani terapi 1-2 bulan atau lebih sehingga penderita malas untuk meneruskan pengobatan kembali, serta efek samping yang ditimbulkan oleh obat tuberkulosis paru tersebut.

Menurut Ali, dkk (2015), berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan yaitu tingkat kemiskinan, persediaan obat terganggu, jarak tempat tinggal yang jauh dari layanan kesehatan, salah persepsi tentang pengobatan, toksisitas obat, migrasi atau perubahan tempat tinggal, lingkungan sosial, alkohol, dan faktor psikologis.

Menurut Penelitian yang dilakukan Junita (2012), didapatkan hasil bahwa tingkat kepatuhan pasien dalam minum obat 67,6% tergolong patuh dan 32,4%

tergolong tidak patuh. Penelitian yang dilakukan oleh Rahmah (2017), didapatkan hasil bahwa tingkat kepatuhan pasien dalam minum obat sebanyak 89,5%

lakukan oleh pameswari, dkk (2016) diperoleh hasil bahwa tingkat kepatuhan pasien dalam minum obat adalah 55,6% tergolong patuh 33,33% tergolong cukup patuh dan 11,11% tergolong tidak patuh dari hasil penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pasien dengan tingkat kepatuhan dalam obat yang tergolong tinggi lebih dominan dari pasien tidak patuh dengan tingkat kepatuhan dalam minum obat yang tergolong rendah. Hasil ini sesuai juga dengan hasil yang diperoleh peneliti dalam penelitian.

4.4 Hubungan Karakteristik Pasien Tuberkulosis Dengan Tingkat Pengetahuan

Hasil analisis menunjukkan ada tidaknya hubungan antara setiap karakteristik pasien tuberkulosis paru dengan tingkat pengetahuan mengenai tuberkulosis. Pada analisis ini, dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji chi-square .

Tabel 4.5Hasil Analisis Hubungan Karakteristik Pasien Tuberkulosis Paru Dengan Tingkat Pengetahuan (n=50)

Umur

Berdasarkan tabel 4,5, untuk kategori jenis kelamin, diperoleh nilai signifikansi adalah 0,613 untuk kategori umur, diperoleh nilai signifikansi 0,654 untuk kategori pendidikan terakhir dan pekerjaan diperoleh nilai signifikansi 0,193 dan 0,322. Nilai tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikansi antara karakteristik pasien dengan tingkat pengetahuan. Namun dilihat dari nilai persentase terdapat perbedaan pada setiap kategori dengan

perbedaan nilai persentase yang cukup jauh, yaitu pada kategori umur semakin besar umur maka semakin tinggi tingkat pengetahuannya, tetapi terjadi penurunan pada umur 65-69 tahun . Hal tersebut dapat dikarenakan faktor penuaan, begitu juga pada kategori pendidikan, semakin tinggi pendidikan pasien maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuannya, pada kategori pekerjaan,pelajar mempunyai nilai tingkat pengetahuan baik dengan persentase 100%.Sehingga dapat disimpulkan bahwa karakteristik pasien (jenis kelamin, umur, pendidikan, dan pekerjaan) tidak mempengaruhi tingkat pengetahuan.

4.5 Hubungan Karakteristik Pasien Tuberkulosis Paru Dengan Tingkat Kepatuhan Minum Obat

Hasil analisis menunjukkan ada tidaknya hubungan antara setiap karakteristik pasien tuberkulosis paru dengan tingkat pengetahuan mengenai tuberkulosis. Pada analisis ini, dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji chi-square .

Tabel 4.6 Hasil Analisis Hubungan Karakteristik Pasien Tuberkulosis Paru Dengan Tingkat Kepatuhan, Pill Count (n=50)

Variabel

Umur

Berdasarkan Tabel 4,6 untuk kategori jenis kelamin, diperoleh nilai signifikansi adalah 0,837, untuk kategori umur, diperoleh nilai signifikansi adalah 0,339, untuk kategori pendidikan terakhir diperoleh nilai signifikansi adalah 0,589, untuk pekerjaan diperoleh nilai signifikansi 0,283. Nilai signifikansi (p<0,05) tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara karakteristik pasien dengan tingkat kepatuhan minum OAT di UPT Puskesmas

Belawan, Medan Belawan. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya Rahmah (2017), diperoleh untuk kategori jenis kelamin, di peroleh nilai signifikansi adalah 0,625, untuk kategori umur, diperoleh nilai signifikansi adala 0,679, untuk kategori pendidikan terakhir diperoleh nilai signifikansi adalah 0,945, untuk pekerjaan diperoleh nilai signifikansi adalah 0,660.

4.6 Hubungan Pengetahuan Pasien Tentang Tuberkulosis Paru dengan Perilaku Kepatuhan Minum Obat

Berdasarkan uji statistik yang dilakukan dengan uji Spearman didapat hasil koefisien korelasi 0,142 dengan nilai koefisien korelasi antara 0,00 sampai 0,20 yang artinya hampir tidak ada korelasi antara tingkat pengetahuan dengan tingkat kepatuhan pasien dalam minum obat.

Grafik hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan tingkat kepatuhan minum obat pasien tuberkulosis paru dengan hampir tidak ada korelasi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Atik (2010), diperoleh hasil bahwa tidak terdapat

0

hubungan antara tingkat pengetahuan pasien dengan tingkat kepatuhan pasien dalam minum obat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Arifandi (2016) diperoleh hasil bahwa tidak terdapat adanya hubungan tingkat pengetahuan pasien dengan tingkat kepatuhan pasien minum obat anti tuberkulosis paru dan pada penelitian yang dilakukan Rahmah (2017) diperoleh hasil bahwa tidak terdapathubungan antara tingkat pengetahuan dengan tingkat kepatuhan minum obat pasien tuberkulosis paru.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan :

a. Karakteristik pasien (jenis kelamin, umur, pendidikan, dan pekerjaan) tidak mempengaruhi tingkat pengetahuan pasien.

b. Karakteristik pasien (jenis kelamin, umur, pendidikan dan pekerjaan) tidak mempengaruhi tingkat kepatuhan pasien dalam minum obat.

c. Tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan pasien dalam minum obat. Nilai koefisienmenunjukkan hampir tidak ada kolerasi yaitu 0,142.

5.2 Saran

Kepada peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian terhadap analisis hubungan tingkat pengetahuan terhadap kepatuhan minum obat pada pasien TB paru di pelayanan kesehatan lainnya di kota Medan, agar dapat menjadi perbandingan dan menggambarkan tingkat pengetahuan terhadap kepatuhan minum obat pada pasien TB paru di kota Medan.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, L, C., Al-Tawfiq, J., Ba-Essa, E., Alwin, A.R., (2015). Low Rate of

Noncompliance to Antituberculosis Therapy Under The Banner of Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) Strategy and Well Organized Retrieval System: A Call for Implementation of This Strategy at All DOTS centers in Saudi Arabia. Pan African Medical Journal. Hal. 1-5.

Anyaike, C., Musa, O.L., Babatunde, O.A., Bolarinwa, O.A., Durowade, K.A., dan Ajayi, O.S. (2013). Adherence to Tuberculosis Therapy in Unilorin Teaching Hospital, Ilorin, North-Central Nigeria. Internasional Journal of Science, Environment and Technology. Halaman 1441,1443.

Arifandi. (2016). Analisis Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Helvetia Kota Medan. Skripsi. FF USU. Medan. Hal 26-33, 46-47.

Atik, A. (2010) Hubungan Pengetahuan Penderita Tentang Tuberkulosis Paru Dengan perilaku Kepatuhan Minum Obat di Puskesmas Curug Tangerang.

Skripsi. Universitas Esa Unggul. Halaman 71.

Bagiada, I.M., Primasari N.L.P. (2010). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Ketidakpatuhan Penderita Tuberkulosis Dalam Berobat di Poliklinik DOTS RSUP Sanglah Denpasar. Jurnal Penyakit Dalam.

11:158-163.

Depkes, RI (2005). Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Cetakan ke-1. Edisi ke-2. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Halaman 6-7.

Depkes, RI. (2007). Pharmeceutical Care untuk Penyakit Tuberkulosis. Jakarta:

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hal. 4, 8-10, 12, 14-19, 23-27, 38-55, 75-78.

Depkes, RI. (2011). Strategi Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta:

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hal 40.

Dermawanti. (2015). Hubungan Komunikasi Interpersonal Petugas Kesehatan Terhadap Kepatuhan Pasien Menjalani Pengobatan TB Paru di Puskesmas

Sunggal Medan Tahun 2015. Majalah FKM USU. Medan. Halaman 19, 20.

Hatta, Gemala R. (2011). Pedoman Manajemen Informasi Kesehatan di Sarana pelayanan Kesehatan. Jakarta : Universitas Indonesia.

Junita, F. (2012). Hubungan Pengetahuan dan Sikap Dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis pada pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Kecematan Jatinegara Tahun 2012. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Medistra Indonesia. Hal 4-10.

Kartasasmita, C. (2009). Epidemiologi Tuberkulosis. Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Padjadjaran. Halaman 124-125.

Kemenkes RI (2005). Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Tuberkulosis. Jakarta:

Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Kemenkes RI. (2011). Laporan Situasi Terkini Perkembangan Tuberkulosis di Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Kjeldsen J.L., Bjerrum L., Herborg H., Knudsen P., Rossing C., & Sondergaard B.

(2011). Predictive validity of a medication adherence measure in an outpatient setting.

Lubis, H. (2011). Badan-Badan Kecil Berbentuk Oval Gelap di Dalam Kelompokkan Makrofag dan Bercak-Bercak Gelap: Dua Struktur Terabaikan Dalam Diagnosa Limfadenitas Tuberculosis.

http://repository.usu.ac.id. Di akses tanggal 10 Februari 2016.

Notoatmodjo. (2005). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Halaman 25.

Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan.. Jakarta: PT Asdi Mahasatya. Hal. 115.

Pameswari, P., Halim., dan Yustika, L. (2016). Tingkat Kepatuhan Penggunan Obat pada Pasien Tuberkulosis di Rumah Sakit Mayjen H.A . Thalib Kabupaten Kerinci. Jurnal Sains Farmasi dan Klinis. Hal 117-120.

Pusadatin. (2015). Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI:

Tuberkulosis. Buletin Kesehatan. Halaman 1-2.

Raharjo. (2015). Uji Koefisien Korelasi. http//www.konsistensi.com/2015/02/uji-koefisien-korelasi-spearman-dengan.html. Diakes pada 01 Januari 2017.

Rahmah. (2017). Analisis Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Teladan Kota Medan. Skripsi. FF USU. Medan. Hal 26-33, 47-53..

Safri, F., Tintin.S., dan Elida, U. (2013). Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Minum Obat Pasien TB Paru Berdasarkan health belief model Di Wilayah Kerja Puskesmas Umbulsari, Kabupaten Jember.

Program Studi Pendidikan Ners Universitas Airlangga: Jurnal. Halaman 13.

Senewe, F. (2002). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Berobat Penderita Tuberkulosis Paru di Puskesmas Depok. Buletin Penelitian Kesehatan. Halaman 31, 35, 38.

Tjay, T. (2007). Obat-Obat Penting, Khasiat Dan Penggunaannya Dan Efek-Efek Sampingnya. Jakarta: Elex Media Komputindo. Halaman 154.

Widayanti. (2006). Pengobatan Tuberkulosis Pedoman untuk Progam-Progam Nasional. Jakarta: Hipokrates.

Vik, S.A., Maxwell, C.J., Hogan, D.B., Patten, S.B., Johnson, J.A., Slack, L.R., 2005. Assesing medication adherence among older person older person in community setting. The Canadian Journal of Clinical Pharmacology.

Vol. 12, No. 1, p 152-164.

WHO. (2013). Global Tuberculosis Report. France: World Health Organization.

Lampiran 1. Surat Penunjukkan Dosen Pembimbing II dan Judul Penelitian

Dokumen terkait