• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Penyelidikan dan

BAB IV KINERJA KEPOLISIAN RESORT DELI SERDANG

B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Penyelidikan dan

mempengaruhi kinerja penyelidikan dan penyidikan tindak pidana korupsi oleh Polres Deli Serdang, perlu dikemukakan terlebih dahulu gambaran mengenai keadaan Personil Polres Deli Serdang secara umum maupun keadaan personil Unit III/Tipikor Sat Reskrim, yang bertanggungjawab terhadap penanganan perkara tindak pidana korupsi di wilayah hukum Polres Deli Serdang.

1. Profil Personil

a. Profil Personil Polres Deli Serdang

Secara keseluruhan kekuatan personel Polres Deli Serdang saat ini adalah sebanyak 1.112 personil. Gambaran terperinci dari jumlah personel dimaksud, terdapat dalam Tabel 3.

Tabel 3

Jumlah Personel Polres Deli Serdang Berdasarkan Jenjang Kepangkatan

Sumber : Polres Deli Serdang, 2018

Adapun jumlah personel Polres Deli Serdang berdasarkan tempat penugasan, adalah sebagaimana terlihat pada Tabel 4 di bawah ini.

Tabel 4

Jumlah Personil Polri dan PNS Polres Deli Serdang Berdasarkan Penugasan

Sumber : Bag Sumda Polres Deli Serdang, 2018

Dari data diatas menunjukkan bahwa jumlah anggota Polres Deli Serdang pada saat ini, belum dapat mengimbangi jumlah penduduk sebanyak 1.773.201 jiwa, dengan ratio perbandingan 1 : 1.590 jiwa. Hal tersebut berarti Police Ratio Polres Deli Serdang masih sangat jauh dari rasio ideal yang ditetapkan PBB yaitu 1 : 400 jiwa.

Sementara itu, ditinjau dari kualitas personel, terutama dari aspek pendidikan kejuruan (Dikjur) yang telah diikuti oleh personel Polres Deli Serdang, diperoleh data sebagaimana tercantum dalam Tabel 5 berikut ini.

Tabel 5

Data Personel yang telah mengikuti Dikjur

NO FUNGSI DIKJURDAS DIKJURLAN

1 INTELKAM 22 2

2 RESKRIM 38 5

3 LALU LINTAS 19 1

4 BINMAS 11 1

5 SABHARA 4 -

6 LAIN-LAIN 16 -

JUMLAH 110 9

Sumber : Bag Sumda Polres Deli Serdang, 2018

Berdasarkan data pada Tabel 5 di atas, maka personel yang mengikuti Pendidikan Kejuruan Dasar sebanyak 110 orang (9,8 %), dan Pendidikan Kejuruan Lanjutan sebanyak 9 orang (0,8 %). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa secara kualitas, persentase jumlah SDM yang telah mengikuti Dikjur bahkan tidak mencapai 50 %. sehingga pemahaman SDM Polres Deli Serdang mengenai fungsi dan tugasnya masing-masing, belum optimal.

b. Profil Personil Unit III/Tipikor Sat Reskrim (i) Tugas dan Fungsi

Unit III/Tipikor Sat Reskrim Polres Deli Serdang memiliki tugas dan fungsi sebagai berikut:

1. Tugas Unit III/Tipikor adalah salah satu bagian/sub dari Reskrim Polres Deli Serdang yang bertugas melakukan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana Korupsi yang terjadi di daerah hukum Polres Deli Serdang.

2. Fungsi Unit III Tipikor menyelenggarakan fungsi :

1. Penyelidikan dan penyidikan Tindak Pidana Korupsi yang terjadi di daerah hukum Polres Deli Serdang.

2. Pemberkasaan dan penyelesaian berkas perkara sesuai dengan ketentuan administrasi penyelidikan dan penyidikan Tindak Pidana korupsi.

3. Penerapan menajemen anggaran, serta menajemen penyelidikan dan penyidikan Tindak Pidana Korupsi.

(ii) Riwayat Pekerjaan Personil

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa Unit III/Tipikor Sat Reskrim Polres Deli Serdang memiliki 5 orang Penyidik dan Penyidik Pembantu, dengan data sebagai berikut:

Tabel 6

Personil Unit III/Tipikor Sat Reskrim Polres Deli Serdang

 BA POLSEK PAKKAT POLRES TAPUT, 1988

 BA RESKRIM POLRES TAPUT, 1990

 BA POLTABES MEDAN, 1992

 BA RESKRIM POLTABES MEDAN, 1995

 KANIT RESKRIM POLRES MADINA, 2006

 KASUBBAG RENBAGMIN POLRES DELI SERDANG, 2007

 PAUR DALGAR BAGREN POLRES DELI SERDANG, 2010

 KANIT RESKRIM POLRES TEBING TINGGI, 2012

 KANIT III SAT RESKRIM POLRES DELI SERDANG, 2015

 BA SAT SABHARA SINTANG POLDA KALBAR, 1995

 BA POLSEK NANG PINOH POLRES SINTANG, 1996

 BA SAT LANTAS POLRES DELI SERDANG, 2001

 BA POLSEK GALANG POLRES DELI SERDANG, 2003

 BA POLSEK SIBIRU BIRU POLRES DELI SERDANG, 2008

 UNIT III SAT RESKRIM POLRES DELI SERDANG, 2007

 BA SI PROPAM POLRES DELI SERDANG, 2014

 BA SAT RESKRIM POLRES DELI SERDANG, 2015

 UNIT III SAT RESKRIM POLRES DELI SERDANG, 2017

 BA POLRES TANJUNG BALAI, 2005

 BA SAT REKRIM POLRES TANJUNG BALAI, 2006

 BA POLRES NIAS, 2010

 PJS KANIT RESKRIM POLSEK ALASA, 2011

 BA SAT REKSRIM POLRES NIAS, 2011

 BA SAT RESKRIM POLRES DELI SERDANG, 2015

 UNIT III SAT RESKRIM POLRES DELI SERDANG, 2016

 UNIT III SAT RESKRIM POLRES DELI SERDANG, 2014

Sumber : Bag Sumda Polres Deli Serdang, 2018

Berdasarkan data pada Tabel 6 di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan.

Pertama, terdapat 2 orang personil Unit III/Tipikor Sat Reskrim Polres Deli Serdang, yang sama sekali tidak pernah mengikuti pelatihan khusus tentang seluk beluk penyidikan tindak pidana korupsi. Kedua, ada 3 orang personil yang pernah

mengikuti pelatihan dasar tentang tindak pidana korupsi, namun tanpa pelatihan lanjutan.

Mengingat karakteristik dari tindak pidana korupsi yang spesifik sebagai kejahatan luar biasa, dengan pelaku yang terdidik dan menguasai semua sumber daya termasuk kekuasaan, dan modus pidana yang demikian rumit, dengan dukungan teknologi dan jaringan yang luas, maka personil Unit III/Tipikor Sat Reskrim Polres Deli Serdang saat ini, yang hanya memiliki bekal pelatihan dasar tindak pidana korupsi, terlebih-lebih lagi yang belum memperoleh pelatihan sama sekali, yang hanya mengandalkan intuisi dan learning by doing, dalam melakukan penyelidikan tindak pidana korupsi, sangat berpotensi untuk gagal dalam pelaksanaan tugasnya.

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Unit III/Tipikor Sat Reskrim Polres Deli Serdang

Telah diuraikan secara teoritis sebelumnya bahwa efektifitas atau berhasil tidaknya penegakan hukum, tergantung tiga unsur sistem hukum, yakni struktur hukum (legal structure), substansi hukum (legal substance) dan budaya hukum (legal culture). Struktur hukum menyangkut aparat penegak hukum, substansi hukum meliputi perangkat perundang-undangan dan budaya hukum merupakan hukum yang hidup (living law) yang dianut dalam suatu masyarakat.

Telah disinggung di muka bahwa rendahnya kinerja Unit III/Tipikor Sat Reskrim Polres Deli Serdang dalam penyelidikan dan penyidikan, diduga disebabkan oleh dua hal.

Pertama, dari aspek struktur hukum berupa rendahnya kualitas aparat penegak hukum, terutama pada rendahnya kemampuan kerja atau kehandalan personil dalam melakukan penyelidikan dan penyidikan, akibat ketiadaan pendidikan kejuruan tentang seluk beluk penyidikan tindak pidana korupsi secara berjenjang dan terencana, sedemikian sehingga tidak mampu mengungkap adanya perbuatan pidana korupsi pada setiap laporan pengaduan masyarakat.

Kedua, penyebab dari aspek substansi hukum, berupa adanya ketentuan Undang-Undang Pemerintahan Daerah, tentang prosedur penanganan pengaduan masyarakat tentang adanya dugaan korupsi oleh pejabat di instansi daerah, yang patut diduga membatasi ruang gerak penyelidik untuk melakukan penyelidikan.

Untuk menguji hipotesis awal tentang penyebab rendahnya kinerja penyelidikan dan penyidikan tindak pidana korupsi oleh Polres Deli Serdang, dilakukan analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja baik secara internal maupun eksternal, melalui metode analisis SWOT (Strength, Weakness, Oppoutunities, Threats).

Jogiyanto, pada pokoknya mengemukakan bahwa analisis SWOT digunakan untuk menilai kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan dari sumber-sumber daya yang dimiliki organisasi, dan kesempatan-kesempatan eksternal dan tantangan-tantangan yang dihadapi. Tujuan utama analisis SWOT

adalah mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang berpengaruh kepada performa organisasi.121

Faktor internal tersebut terdiri dari kekuatan (strength) dan kelemahan (weaknesses). Kekuatan (streghts) adalah sumber daya yang dimiliki organisasi yang dapat mendukung organisasi untuk mencapai tujuan, sedangkan kelemahan (weaknesses) adalah hal penghambat yang berasal dari internal organisasi yang dapat menggangu upaya pencapaian tujuan organisasi.

Faktor eksternal organisasi adalah kondisi lingkungan yang dinamis yang mempengaruhi keberadaan organisasi tersebut dalam mencapai tujuan. Faktor eksternal itu terdiri dari peluang (oportunities) dan ancaman (threats). Peluang (oportunities) merupakan hal di luar organisasi yang apabila dimanfaatkan dengan baik akan membawa manfaat bagi organisasi untuk mencapai tujuan. Sedangkan ancaman (threats) merupakan hal di luar organisasi yang dapat memberikan hambatan bagi organisasi dalam mencapai tujuan.122

Adapun analisis SWOT terhadap pelaksanaan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana korupsi di Polres Deli Serdang adalah sebagaimana terlihat dalam table 7 di bawah ini:

121Jogiyanto, Sistem Informasi Strategik untuk Keunggulan Kompetitif, (Yogyakarta:

Penerbit Andi Offset, 2005), hlm. 17.

122Ibid.

Tabel 7

Analisis SWOT Pelaksanaan Penyelidikan dan Penyidikan Tindak Pidana Korupsi di Polres Deli Serdang

Faktor Internal

Kekuatan (S) Kelemahan (W)

1. Tersedianya anggaran penyidikan yang cukup besar yaitu sebanyak Rp 208.071.000,- per tahun untuk menyidik perkara tindak pidana korupsi. Jumlah ini lebih besar daripada anggaran penyidikan yang diberikan untuk menangani kasus pidana biasa. Dengan dana yang diberikan tindak pidana korupsi sangatlah cukup untuk digunakan membiayai operasional penyidikan tipikor.

2. Tersedia sarana dan prasarana yang mendukung penyidikan tindak pidana korupsi seperti komputer, printer, internet, ATK, dan kendaraan untuk mobilitas.

1. Kebanyakan personil tidak memi-liki kemampuan yang handal dalam penyelidikan dan penyidikan tindak pidana korupsi. Hal itu terjadi karena minimnya pelatihan yang terencana dan berkelanjutan tentang seluk beluk penyidikan tindak pidana korupsi, sebagai kejahatan luar biasa, dengan modus yang rumit dan pelaku yang terdidik, menguasai berbagai sumber daya termasuk kekuasaan, dan didukung oleh teknologi canggih dan jaringan kerja yang luas. Hal itu menyebabkan personil Unit III/Tipikor Sat Reskrim, tidak memahami bagaimana langkah penanganan tindak pidana korupsi, bahkan mereka belum memahami dengan baikmodus-modus pidana korupsi, dan perbuatan pidana yang ada di dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

2. Kurang lancarnya komunikasi dan koordinasi dengan aparat pengawas internal pemerintah (APIP), LPSE, LPJK, BPKP dan BPK. Belum terciptanya hubungan konstruktif antar lembaga yang dapat memotong jalur birokrasi, membuat langkah penyidikan menjadi berjalan lambat.

3. Adanya budaya kerja yang baik, dimana anggota tidak ragu untuk melaksanakan lembur kerja, apabila sedang menangani perkara yang membutuhkan atensi penanganan.

3. Tidak adanya rencana penyelidikan/

penyidikan yang bersifat kompre-hensif yang membuat langkah kerja Unit III/Tipikor tidak terencana dan tereksekusi dengan baik.

Faktor Eksternal

Peluang (O) Ancaman (T)

1. Adanya Undang-Undang Keter-bukaan Informasi Publik yang mewajibkan lembaga untuk memberikan keterbukaan informasi terhadap masyarakat secara umum. Hal ini menyebabkan dapat diketahuinya anggaran Pemerintah Daerah dan

pertanggung jawaban

penggunaannya oleh semua pihak sehingga tidak ada lagi anggaran yang dapat ditutup-tutupi keberadaannya.

2. Kepedulian masyarakat terhadap anggaran pembangunan mening-kat seiring dengan meningmening-katnya kecerdasan masyarakat, sedemikian sehingga Laporan Pengaduan Masyarakat tentang adanya dugaan korupsi oleh penye-lenggara negara juga meningkat.

3.Sistem lelang saat ini yang meng-gunakan sistem pendaftaran LPSE, dimana peserta lelang mendaftarkan dokumen lelang ke portal LPSE membuat terekamnya data elektronik, sehingga dapat

1. Adanya ketentuan Pasal 385 Un-dang-Undang Pemerintahan Daerah, yang kemudian diperjelas dengan Arahan Presiden Kepada Para Kapolda dan Kajati seluruh Indonesia, pada tanggal 17 Juli 2017, dan Surat Telegram (ST) Kabareskrim Polri Nomor:

ST/247/VIII/2016/ Bareskrim Tanggal 24 Agustus 2016 Hal Pengaduan Masyarakat tentang Dugaan Tindak Pidana Korupsi, yang ditindaklanjuti oleh serangkaian ST Kapolda Sumatera Utara, antara lain Nomor:

ST/225/II/2017, yang berpotensi menghambat/mengurangi/ langsung dipergunakan sebagai dasar untuk mengundang klarifikasi pejabat di daerah maupun di pusat yang diadukan.

b. Setelah pengaduan masyarakat diterima, agar melakukan

koor-dijadikan sebagai alat bukti pendukung.

dinasi dengan APIP untuk dila-kukan pemeriksaan sesuai kewenangan APIP. Jika ditemu-kan bukti adanya kesalahan administratif, penanganan selan-jutnya diserahkan kepada APIP.

c. Jika diterima hasil APIP yang memenuhi unsur pidana, agar dilakukan koordinasi terlebih dahulu dengan BPK maupun BPKP untuk melaksanakan audit/mendapatkan Laporan hasil Pemeriksaan (LHP) atau audit investasi (AI) terhadap objek yang diadukan.

d. Apabila dari hasil audit ditemu-kan kerugian negara, agar ter-lebih dahulu memberikan waktu kepada pejabat yang diadukan untuk mengembalikan kerugian negara, dalam waktu 60 hari.

e. Apabila telah ada pengembalian kerugian negara, maka penyelidikan tidak ditingkatkan kepada penyidikan.

Dengan adanya ketentuan tersebut di atas, maka apabila ada pengaduan masyarakat, Kepolisian menyam-paikan kepada APIP dan setelah itu bersikap “menunggu bola” dari APIP. Apabila ada indikasi pidana, Kepolisian juga belum bisa bertindak, selain meminta audit kepada BPK atau BPKP, kemudian memberi waktu kepada pejabat untuk mengembalikan kerugian negara dimaksud. Setelah dikembalikan maka proses penanganan perkara dihentikan.

Merujuk pada analisis SWOT di atas, maka rendahnya kinerja Polres Deli Serdang dalam penyelidikan dan penyidikan terhadap tindak pidana korupsi, disebabkan oleh beberapa faktor. Diantara beberapa faktor penyebab tersebut, terdapat 2 faktor yang paling menonjol, dimana 1 faktor berasal dari kelemahan (weakness) yang datang dari dalam institusi Polri sendiri, dan 1 faktor lainnya dari ancaman (threat), yang datang dari luar institusi Polri. Kelemahan yang datang dari dalam institusi Polri, adalah karena kebanyakan personil belum memiliki kemampuan yang handal dalam penyelidikan dan penyidikan tindak pidana korupsi.

Hal itu terjadi karena minimnya pelatihan yang terencana dan berkelanjutan tentang seluk beluk penyidikan tindak pidana korupsi, sebagai kejahatan luar biasa, dengan modus yang rumit dan pelaku yang terdidik, menguasai berbagai sumber daya termasuk kekuasaan, dan didukung oleh teknologi canggih dan jaringan kerja yang luas. Hal itu menyebabkan personil Unit III/Tipikor Sat Reskrim, tidak memahami bagaimana langkah penanganan tindak pidana korupsi, bahkan mereka belum memahami dengan baik modus-modus pidana korupsi, dan perbuatan pidana yang ada di dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sementara faktor eksternal yang mempengaruhi rendahnya kinerja Polres Deli Serdang dalam penyelidikan dan penyidikan tindak pidana korupsi, berasal dari ancaman (threat), yakni adanya ketentuan Pasal 385 Undang-Undang Pemerintahan Daerah, yang kemudian diperjelas dengan Arahan Presiden kepada

Para Kapolda dan Kajati seluruh Indonesia, pada tanggal17 Juli 2017, dan Surat Telegram (ST) Kabareskrim Polri Nomor: ST/247/VIII/ 2016/ Bareskrim Tanggal 24 Agustus 2016 Hal Pengaduan Masyarakat tentang Dugaan Tindak Pidana Korupsi, yang ditindak-lanjuti oleh serangkaian ST Kapolda Sumatera Utara, antara lain Nomor: ST/225/II/2017.

Keberadaan peraturan perundang-undangan tersebut, secara nyata akan sangat berpotensi menghambat/ mengurangi/memperlambat penyeesaian perkara pidana korupsi oleh pihak Kepolisian, terutama Polres Deli Serdang.

C. Pemecahan Masalah Peningkatan Kinerja Penyelidikan Dan Penyidikan