BAB III FAKTOR – FAKTOR MASYARAKATTIDAK MENGGUNAKAN
B. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Masyarakat Tidak
Sumatera Utara Tahun 2013. B.1.Status Sosial Ekonomi.
Setidaknya ada tiga indikator yang biasa di gunakan mengukur variabel status sosial ekonomi, yaitu tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan tingkat pekerjaan. Dengan pertimbangan agar dapat di ukur maka peneliti membuat katagori dengan penilaian yang tetap dan bukan penilaian menurut individual terhadap faktor pendidikan , pekerjaan dan penghasilan dalam tingkatan seperti tinggi, sedang dan rendah.
II.7. Status Responden Berdasrkan Pendidikan Terakhir Tabel .2.7.
Data Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
No Pendidikan Jumlah Persentase
1 Tinggi 9 9.28%
2 Sedang 73 75.25%
3 Rendah 15 15.47%
Jumlah 97 100%
Sumber : Kuesioner 2013
Dari data kuesioner yang di sebarkan pada 97 orang responden maka di peroleh data responden berdasarkan pendidikan terakhir,dapat di lihat pada tabel diatas. Secara umum responden yang di peroleh adalah masyarakat yang di peroleh adalah masyarakat yang termasuk dalam katagori pendidikan sedang, yaitu masyarakat setingkat SMA dan SMP. Sedangkan yang termasuk dalam katagori pendidikan tinggi ialah yang menempuh pendidikan terakhir sampai pada perguruan tinggi seperti Diploma dan Sarjana. Begitu juga dengan katagori pendidikan rendah ialah hanya tamatan SD, bahkan tidak sekolah ataupun tidak tamat SD.
Berdasarkan dari uraian diatas menjelaskan bahwa tingginya angka masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya lebih dekat dengan pendidikan kelas menengah ataupun sedang,yang cukup memperoleh informasi dengan baik,berwawasan politik,dan memungkinkan untuk lebih kritis terhadap pemilihan Kepala Daerah dan wakil Kepala Daerah sumatera utara. Karena aspek pendidikan mampu membuat masyarakat memiliki pandangan yang luas dan menciptakan kemampuan yang lebih besar untuk mempelajari kehidupan politik serta sangat memungkinkan untuk menguasai aspek-aspek birokrasi,seperti pada saat pendaftaran maupun mempertahankan hak sebagai pemilih. Semakin tinggi
tingkat pendidikan seseorang maka semakin besar kepedulianya terhadap politik, sebaliknya semakin rendah tingkat pendidikan seseorang maka semakin kecil tingkat kepedulianya kepad politik. Namun yang terjadi adalah responden yang memiliki tingkat pendididkan sedang lebih mendominasi di bandingkan dengan responden yang memiliki tingkat pendidikan rendah dalam hal tidak menggunakan hak pilihnya ,hal ini dapat di sebabkan oleh dua faktor . Pertama
masyarakat yang ada di Kecamatan Bandar pada umumnya berpendidikan sedang yaitu setingkat SMA dan SMP sehingga mayoritas responden berpendidikan sedang. Kedua Masyarakat kecamatan bandar merupaka massa mengambang , sehingga mudah di mobilisasi khususnya mereka yang berpendidikan rendah , sedangkan responden yang berpendidikan sedang setidaknya tidak mudah di mobilisasi,karena mereka sudah memiliki pertimbangan nasional dalam menentukan pilihan politiknya, terlebih lagi bagi masyarakat berpendidikan tinggi.
Berdasarkan data yang di peroleh dari lapangan dapat di simpulkan bahwa msyarakat yang berpendidikan tinggi pada umumnya tidak menggunakan hak pilinya di pengaruhi oleh ketidak percayaan terhadap pemerintah dan calon Kepala Daerah dan wakil Kepala Daerah. Demikian juga dengan masyarakat yang berpendidikan sedang lebih cenderung di pengaruhi oleh ketidak percayaan terhadap calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, sedangkan masyarakat yang berpendidikan rendah lebih mementingkan urusan pekerjaan.
II.8. Status Responden Berdasarkan Pekerjaan Tabel .2.8.
Data Responden Berdasarkan Pekerjaan
No Pekerjaan Jumlah Persentase
1 Pegawai Negeri Sipil 8 8.25%
2 Wiraswasta 33 34.02%
3 Buruh/kuli 13 13.40%
4 Ibu Rumah Tangga 25 25.74%
5 Pedagang 13 13.40%
6 Mahasiswa 5 5.15%
Jumlah 97 100%
Sumber : Kuesioner 2013
Distribusi responden berdasarkan pekerjaan dapat dilihat pada tabel yang menunjukkan bahwa masyarakat di Kecamatan Bandar berada pada level menengah. Dari data diatas dapat kita lihat bahwa mayoritas responden mempunyai pekerjaan sebagai karyawan swasta dan sebagian responden ada yang bekerja sebagai pedagang, Pegawai Negeri Sipil, Ibu Rumah Tangga, Mahasiswa dan Buruh. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat di Kecamatan Bandar memiliki cukup banyak jenis pekerjaan. Dalam hal ini peneliti membagi karakteristik responden berdasarkan pekerjaan kedalam tiga katagori yaitu.
Pertama ,katagori tinggi yaitu: pekerjaan yang berkaitan langsung dengan pemerintah , seperti pegawai negeri sipil dan pensiunan PNS , Kedua, katagori sedang yakni: pekerjaan yang membutuhkan modal maupun skill serta mempunyai penghasilan, seperti wiraswasta dan pedagang . Ketiga, katagori rendah pekerjaan yang tidak membutuhkan modal maupun skill, tidak memiliki penghasilan serta tidak berkaitan langsung dengan pemerintah seperti , buruh/kuli, ibu rumah tangga dan mahasiswa, di mana pada saat penelitian tersebut dilakukan responden tersebut pada umumnya sedang berda di rumah pada saat jam kerja.
Bagi masyarakat kecamatan bandar khususnya yang bekerja di sektor informal ataupun pekerjaan yang kurang berkaitan langsung dengan kebijakn-kebijakan pemerintah, keterlibatan politik dalam pemilu justru di nilai oleh sebagian dari mereka kurang menguntungkan dan tidak ada keuntungan signifikan yang di peroleh masyarakat dalam keikutsertaan mereka dalam pemilihan . Sebab jika datang ke TPS, maka mereka kehilangan pemasukan karena tidak bekerja. Apalagi, jika keterlibatan politik kampanye, tetapi ada juga masyarakat yang mengikuti kampanye dengan harapan mendapat bantuan berupa sembako , uang dan uang transportasi. Responden beranggapan bahwa pemilihan bukan sarana penting dalam memperbaiki kondisi kesejahteraan masyarakat. Dari seluruh responden hanya empat responden saja yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil, sedangkan masyarakat Kecamatan Bandar ada sekitar 3.967 orang PNS. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku tidak memilih tampaknya tidak memilih tidak memilih dukungan oleh PNS. Rendahnya jumlah PNS yang tidak menggunakan hak pilihnya menunjukkan mereka masih antusias untuk mengikuti pemilu. dan menganggap bahwa kehadiran pemilih merupakan salah satu tolak ukur kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.Yang dimana PNS merupakan salah satu sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan kebijakan pemerintah , dan PNS juga bertanggung jawab atas kinerja pemerintah, bagaimanapun penilaian buruk terhadap pemerintah, tidak menutup kemungkinan di tujukan juga kepada aparat pemerintah atau para pegawai negeri sipil.
Berdasrkan data yang di peroleh dari lapangan dapat di simpulkan bahwa masyarakat yang memiliki pekerjaan katagori tinggi tidak menggunakan hak
pilihnya di peroleh karena ketidak percayaaan pada pemerintah, sedangkan pada masyarakat yang memiliki katagori sedang lebih cenderung di pengaruhi oleh ketidak percayaan oleh calon Kepala Daerah dan wakil kepala daerah , demikian juga masyarakat yang memiliki pekerjaan katagori rendah pada umumnya mereka berhalangan sehingga tidak bias menggunakan hak pilihnya.
II.9. Status Responden Berdasarkan Penghasilan Tabel .2.9.
Data Responden Berdasarkan Penghasilan
No Penghasilan Jumlah Persentase
1 Tinggi 6 6.19%
2 Sedang 59 60.82%
3 Rendah 32 32.99%
Jumlah 97 100%
Sumber : Kuesioner 2013
Distribusi responden berdasarkan penghasilan di bagi kedalam tiga kategori, yaitu antara lain . Pertama, kategori tinggi yaitu responden yang memiliki penghasilan di atas Rp.4000.000. Kedua , Katagori sedang yaitu responden yang memiliki penghasilan diantara Rp1000.000 - Rp 4000.000.
Ketiga , katagori rendah yaitu responden yang memiliki penghasilan di bawah Rp.1000.000.
Dari tabel 2.9 dapat di lihat karakteristik responden berdasarkan penghasilan, diamana responden berdsarkan penghasilan berkisar Rp 1000.000 – 4000.000, diikuti oleh responden yang berpenghasilan lebih kecil dari Rp.1000.000,sisanya ialah masyarakat yang berpenghasilan lebih besar dari Rp.4000.000. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki peluang yang sama untuk terlibat dalam partisipasi politik,dimana masyarakat yang memilik penghasilan sedang ataupun rendah lebih dominan tidak memilih di
bandingkan dengan masyarakat yang berpenghasilan tinggi. Berdasarkan data yang di peroleh dari lapangan dapat di simpulkan bahwa masyarakat yang berpenghasilan tinggi dan sedang pada umumnya tidak menggunakan hak pilihnya di pengaruhi oleh ketidak percayaan pada calon kepala daerah dan wakil kepala daerah,sedangkan masyarakat yang berpenghasilan rendah cenderung di pengaruhi oleh ketidak percayaan pada pemerintah.
B.2.Faktor Sosiologis
Faktor sosiologis pada dasarnya menjelaskan bahwa karakteristik social dan pengelompokkan sosial mempunyai pengaruh yang cukup signifikan dalam menentukan perilaku pemilih .pengelompokkan sosial maupun pengelompokkan informal seperti keluarga dianggap memiliki peranan di dalam menentukan pilihan pilihan politiknya.40
II.10. Apakah Ada Pihak KeluargaYang Mempengaruhi Responden Tidak Menggunakan Hak Pilihnya
Tabel .2.10.
Jawaban Responden Apakah Ada Pihak Keluarga Yang mempengaruhi Untuk Tidak Mempergunakan Hak Pilihnya.
No Jawaban Responden Jumlah Persentase
1 Ada 3 3.10%
2 Tidak Ada 94 96.90%
Jumlah 97 100%
Sumber: Kuesioner 2013
Keluarga merupakan tempat di mana seseorang bertumbuh dan berkembang, sehingga keluarga sangat memberikan pengaruh besar bagi seseorang untuk bertindak dan memberikan sikap pada semua gejala yang ada. Keluarga memberikan kontribusi yang sangat besar bagi pendidikan maupun perkembangan sosiologis seseorang.
40
Pada tabel 2.10 menjelaskan bahwa sangat sedikit responden yang mendapat pengaruh oleh pihak keluarga yang mempengaruhi ialah suami terhadap istrinya.Tetapi pada umumnya responden menyatakan bahwa tidak ada pihak keluarga yang mempengaruhinya untuk tidak menggunakan hak pilihnya, hal ini menjelaskan bahwa perilaku tidak memilih di tentukan oleh referensi individual sekaligus membuktikan bahwa kehidupan keluarga di kecamatan Bandar cukup bebas dalam menentukan sikap politiknya.
Pada umumnya, motivasi yang mendasari kegiatan politik seseorang sangat bervariasi termaksuk dalam menentukan untuk tidak memilih, motif ini bias di sengaja atau tidak di sengaja,rasional atau emosinal, yang di ilhami psikologis atau sosial, diarahkan dari dalam diri sendiri atau dari luar dan di pikirkan atau tidak di pikirkan 41. Maka pihak keluarga dapat di katakana hampir tidak memberikan pengaruh dalam hal tidak menggunakan hak pilih, melainkan lebih di pengaruhi oleh faktor psikologis yakni faktor kekuatan dari dalam individu sebagai faktor yang menentukan pilihan-pilihan politiknya.
41
B.3.Sistem Politik
Konsep sistem di sini tidak semata-mata dalam pengertian prosedur dan aturan main , tetapi lebih mengarah pada kebijakan pemerintah dan kinerjanya dalam mengimplementasikan berbagai kebijakan tersebut.
II.11. Apakah Responden Dapat Mempercayai Pemerintah Bisa Dapat Melakukan Perubahan Kearah Yang Lebih Baik ?
Tabel .2.11.
Jawaban Responden Apakah Percaya Pemerintah Dapat Membawa Perubahan Kearah Yang Lebih Baik
No Jawaban Responden Jumlah Persentase
1 Percaya 23 23.71%
2 Kurang percaya 25 25.78%
3 Tidak percaya 49 50.51%
Jumlah 97 100%
Sumber : Kuesioner 2013
Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa sebagian responden menyatakan percaya terhadap pemerintah dapat membawa perubahan yang lebih baik, artinya ialah bahwa mereka masih menaruh harapan kepada pemerintah sebagai agen pembawa perubahan tetapi yang terjadi adalah pemerintah belum bias dapat di percaya sehingga mereka tetap saja tidak menggunakan hak pilihnya, dan tidak tertutup kemungkinan mereka cukup puas dengan keadaan yang ada.
Pada umumnya responden merasa pesimis atau kurang percaya bahkan tidak percaya sama sekali pemerintah dapat membawa perubahan kearah yang lebih baik, pemerintah di anggap tidak mempunyai pengaruh , terutama pengaruh dalam kehidupan seseorang,karena kegagalan pemerintah di dalam menjalankan tugas-tugasnya,dan janji-janji politik yang belum terpenuhi oleh pemerintah kepada masyarakat,serta kinerja pemerintah yang sagat mengecewakan masyarakat , sehingga kekecewaan inilah yang dapat meningkatkan rasionalitas
masyarakat dalam melihat realitas politik sekaligus sebagai penyadaran politik bagi masyarakat yang dapat meningkatkan ketidak percayaan terhadap pemerintah dalam membawa perubahan yang lebih baik, angka ini cukup tinggi dan sangat mengkhawatirkan,karena dapat mengancam delegitimasi pemerintah kapan saja,sehingga dapat di tarik kesimpulan bahwa ketidak percayaan terhadap pemerintah mempengaruhi masyarakat tidak menggunakan hak pilihnya.
II.2. Apakah Pemerintah Sudah Melakukan Sosialisasi Politik Kepada Masyarakat ?
Tabel .2.12.
Jawaban Responden Apakah Pemerintah Sudah Melakukan Sosialisasi Politik Kepada Masyarakat
No Jawaban Responden Jumlah Persentase
1 Sudah 58 59.80%
2 Belum 25 25.77%
3 Tidak Tahu 14 14.43%
Jumlah 97 100%
Sumber: kuesioner 2013
Sosialisasi politik merupakan proses mentransformasikan budaya politik,norma-norma, hak dan kewajiban dari generasi ke generasi berikutnya, dalam hal ini sosialisasi politik yang di lakikan dapat berupa informasi mengenai pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Sumatera Utara,diantaranya mengenai tata cara mencontreng, kapan pemilu diadakan dan siapa saja yang akan menjadi kandidat.
Tabel 2.12 menunjukkan bahawa sebagian responden tidak mengetahui sosialisasi politik yang di lakukan oleh pemerintah,mereka beralasan ketidak percayaan pada pasangan kepala daerah dan Wakil Kepala Daerah menyebabkan mereka tidak menggunakan hak pilihnya. Selain itu responden yang mengatakan pemerintah belum melakukan sosialisasi politik kepada masyarakat tidak
menggunakan hak pilihnya. Sebab minimnya perolehan informasi mengenai pemilihan umum dapat mengesampingkan rasionalitas seseorang dalam menentukan pilihan politiknya.
Minimnya sosialisasi politik terhadap masyarakat tidak hanya dialami masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya tetapi juga di alami oleh masyarakat yang menggunakan hak pilihnya,dimana saat penelitian di lakukan banyak di jumpai masyarakat yang menggunakan hak pilihnya dalam hal ini memilih Gatot Pujo Nugroho beranggapan bahwa semua kepala daerah dan wakil kepala daerah sama saja, buktinya walaupun memilih Gatot Pujo Nugroho tidak juga membawa perubahan , tutur salah seorang masyarakat. Artinya adalah lebih dari satu tahun pemilu selesai dilaksanakan, masih ada masyarakat yang tidak mengetahui siapa yang menjadi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang merupakan pemenang dalam pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Sumatera Utara tahun 2013. Hal ini semakin membuktikan bahwa masih minimnya informasi politik yang di peroleh oleh masyarakat.
Walaupun masyarakat mengetahui informasi mengenai pemilu,seperti yang dinyatakan oleh lebih dari separuh responden bahwa pemerintah sudah melakukan sosialisasi politik kepada masyarakat,tetapi responden masih tetap tidak menggunakan hak pilihnya dengan alasan tidak percaya pada pasangan calon Kepala Daerah dan Wakil Daerah. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat sangat apatis terhadap perilaku politiknya dan menarik diri dari dunia politik serta tidak mau tahu dengan kegiatan politik. Maka di tarik kesimpulan sosialisasi
politik yang dilakukan pemerintah tidak mempengaruhi masyarakat tidak menggunkan hak pilihnya.
B.Sistem Pemilihan Umum
Sikap tidak memilih juga berkaitan dengan persepsi dan evaluasi terhadap sistem dan penyelengaraan pemilihan umum.
II.13. Apakah Responden Pernah Mengikuti Kampanye Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah ?
Tabel .2.13.
Jawaban Responden Apakah Pernah Mengikuti Kampanye Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daearah
No Jawaban Responden Jumlah Persentase
1 Ya 20 20.62%
2 Tidak 77 79.38%
Jumlah 97 100%
Sumber : kuesioner :2013
Tabel 2.13 menunjukkan bahwa mayoritas responden mengatakan tidak pernah mengikuti kampanye yang di lakukan oleh calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah . Hal ini berarti rendahnya ketertarikan masyarakat untuk mengenal lebih dekat calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Sebab ada anggapan dengan mengikuti kampanye maka aktifatas sehari-hari masyarakat akan terganggu,maka tidak heran jika jumlah masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya sangat besar, serta membuktikan bahwa para calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah kurang berhasil melakukan kampanye. Walaupun ada masyarakat yang mengikuti kampanye, mereka tidak secara khusus tertarik untuk mengenal lebih dekat dan mengetahui visi dan misi dari calon kepala daerah Sumatera Utara, artinya mengikuti kampanye tersebut di lakukan bukan semata – mata karena ingin memperoleh informasi mengenai calon Kepala Daerah dan wakil Kepala Daerah,tetapi mereka secara tidak sadar
termaksud kedalam hirarki partisipasi politik berupa partisipasi dalam rapat umum,demonstrasi dan kampanye.Tetapi pada umumnya mereka mengikuti
kampanye karena mengharapkan keuntungan materi, seperti uang
transportasi,kaos,sembako dan lain sebagainya. Hampir tidak ada dari mereka yang datang dengan sendirinya. Mengikuti kampanye atau tidak ternyata itu sama saja,dimana mereka tetap saja tidak menggunakan hak pilihnya yang lebih di pengaruhi oleh ketidakpercayaan pada calon Kepala Daerah dan wakil Kepala Daerah.
II.14. Apakah Responden Perlu Mengikuti Pemilu? Tabel .2.14.
Jawaban Responden Apakah Perlu Mengikuti Pemilu
No Jawaban Responden Jumlah Persentase
1 Perlu 75 77.32%
2 Tidak Perlu 22 22.68%
Jumlah 97 100%
Sumber :Kuesioner 2013
Dari tabel diatas dapat di lihat bahwa mayoritas responden mengatakan perlu untuk mengikuti pemilihan umum,dan sisanya mengatakan tidak perlu mengikuti pemilihan umum. Melihat perbandingan tersebut masyarakat pada umumnya beranggapan bahwa masih perlu untuk mengikuti pemilu. Sebab pemilihan umum merupakan syarat dalam kehidupan demokrasi khusunya dalam menentukan pemimpin serta suatu harapan dan kepercayaan terhadap pemimpin yang terpilih melalui proses pemilihan umum yang demokratis dapat memperbaiki situasi dan keadaan politik, ekonomi, sosial budaya dan lainya,jadi yang menjadi masalah bukan terletak pada pemilihan umum tetapi lebih cenderung pada ketidak percayaan terhadap calon Kepala Daerah dan wakil Kepala Daerah yang menjadi pesrta dalam pemilu.
Di samping itu, bagi responden yang mengatakan tidak perlu lagi untuk mengikuti pemilihan umum, mereka teralienasi dan termajinalkan dalam proses politik sehingga menarik diri atau menghindarkan diri untuk tidak terlibat dalam proses pemilihan umum. Sebab ada anggapan bahwa siapapun calon kepala daerah dan wakil kepala daerah tidak akan dapat membawa perubahan yang lebih baik yang dapat di rasakan langsung oleh masyarakat. Hal ini lebih di pengaruhi oleh ketidak percayaan terhadap pemerintah serta sejarah “track record” para calon Presiden,calon Kepala Daerah maupun calon legislatif yang di anggap hanya membawa angin segar,tetapi ketika sudah duduk dan memiliki kekuasaan , para calon tersebut hanya memperjuangkan kepentingan pribadi dan golongannya, sehingga dapat di katakan bahwa politik tidak mempunyai arti apappun bagi mereka. Anggapan ini dapat diterima sebab partisipasi politik akan lebih banyak di jalankan apabila partisipasi itu dianggap lebih perlu dan lebih memadai, dengan demikian berarti bahwa lebih sedikit partisipasi politik apabila para warga menganggap partisipasi tersebut kurang perlu ataupun kurang efektif 42
Berdasarkan Tabel 2.14 dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat masih menganggap perlu untuk mengikuti pemilihan umum khususnya dalam menentukan pimpinan yang dapat memperbaiki situasi dan keadaan politik, ekonomi,sosial budaya dan lainya, jadi yang menjadi masalah bukan terletak pada perlu tidaknya mengikuti pemilu,tetapi lebih cenderung pada ketidak percayaan terhadap calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang menjadi peserta pemilu.
.
42
B.5.Indentifikasi Partai Politik
II.Apakah Responden Merupakan Anggota Partai? Tabel .2.15.
Jawaban Responden Apakah Anggota Partai Politik
No Jawaban Responden Jumlah Persentase
1 Ya 7 7.22%
2 Tidak 90 92.78%
Jumlah 97 97%
Sumber : kuesioner 2013
Dari tabel 2.15 dapat di lihat bahwa responden yang merupakan anggota partai politik hanya sebagian kecil saja sedangkan reponden yang tidak anggota partai politik merupakan persentase terbesar. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat kecamatan bandar kurang tertarik untuk terjun dalam dunia politik khususnya menjadi anggota partai politik. Jika dilihat dalam katagori partisipasi politik yang di kembangkan oleh Milbarth dan Geol, maka masyarakat kecamatan Bandar cenderung termaksud kedalam katagori partisipan apatis, ialah orang yang tidak berpartisipasi dan menarik diri dari proses politik,seperti tidak menggunakan hak pilih,sedangkan pada hirarki partisipasi politik mereka termaksuk dalam hirarki partisipasi dalam diskusi politik informal minat umum dalam politik. Sebab pada saat penelitian dilakukan banyak responden khususnya laki-laki di jumpai di kedai kopi, mereka menyebutnya dengan istilah lapo (lapangan politik) yang setidaknya topik pembicaraan mereka tidak jarang juga membahas kehidupan politik nasional bahkan maupun perpolitikan daerah, tidak bisa dipungkiri hal ini akibat semakin bebasnya memperoleh informasi dan sangat berbeda jika dibandingkan pada zaman orde baru, artinya masyarakat semakin cerdas,cermat,dan rasional dalam menentukan pilihan politik yang terbaik menurutnya. Sehingga menurut saya calon Kepala Daerah dan wakil Kepala
Daerah seharusnya pintar dan berkualitas khususnya dalam mencari simpati dari masyarakat,dengan memanfaatkan pertimbangan rasionalitas masyarakat tersebut.
Namun tidak dipungkiri bahwa sebagian kecil masyarakat kecamatan Bandar juga terjun dalam dunia politik,hal ini terbukti bahwa ada juga responden yang merupakan anggota politik,mereka tergolong dalam katagori partisipan gladiator,mereka secara aktif terlibat dalam proses partisipasi politik, seperti komunikator, spesialis mengadakan kontak tatap muka,aktifis partai dan pekerja kampanye,serta aktifis masyarakat. Sedangkan pada hirarki partisipasi politik mereka termaksuk dalam hirarki keanggotaan pasif suatu organisasi politik.
Di samping itu, Mayoritas responden yang menyatakan bahwa mereka merupakan anggota partai politik adalah merupakan anggota dari partai PDIP yang mengusung salah satu calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, hanya dua orang responden saja yang menrupakan anggota partai buruh,sebagian besar dari mereka beralasan tidak percaya pada calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah sehingga mereka tidak menggunakan hak pilihnya.
II.16. Apakah Partai Politik Sudah Melakukan Rekruitmen Politik Terhadap Kandidat Yang Di Usung ?
Tabel .2.16.
Jawaban Responden Apakah Partai politik Sudah Melakukan Rekruitmen Politik Terhadap Kandidat Yang Di Usung
No Jawaban Responden Jumlah Pertsentase
1 Sudah 18 18.56%
2 Belum 43 44.33%
3 Tidak Tahu 36 37.11%
Jumlah 97 100%
Rekruitmen politik yang di lakukan oleh partai politik merupakan langkah awal bagi rekruitmen pejabat publik oleh masyarakat melalui pemilihan umum. Oleh karena itu partai politik dalam menentukan siapa yang akan diusungnya dalam suatu pemilihan umum sebaiknya melakukan rekruitmen politik secara demikratis, terbuka dan professional. Dimana salah satu fungsi partai politik ialah sebagai rekruitmen politik dalam proses pengisian jabatan politik melalui mekanisme demokrasi dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender .