Berapa banyak faktor yang mempengaruhi pembelajaran, sebagaimana Saiful Bahri mengklasifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar ke dalam dua hal yaitu:
a. Faktor dari luar diri pelajar, terdiri dari dua kelompok yaitu:
1) Faktor-faktor alam, seperti keadaan cuaca, suhu, udara, dan lain sebagainya.
2) Faktor- faktor sosial, seperti suasana ribut yang dapat mengganggu konsentrasi belajar.
b. Faktor- faktor dari dalam diri pelajar, terdiri dari dua kelompok, yaitu: 1) Faktor psikologi, seperti kondisi psikologis dan kondisi panca indra. 2) Faktor fisiologis, seperti minat, bakat, kecerdasan, motivasi dan
kemampuan kognitif14
Adapun menurut Muhibbinsyah, faktor yang mempengaruhi belajar ada 3 macam, yaitu:
a. Faktor internal
Meliputi keadaan jasmani dan rohani siswa b. Faktor eksternal
Meliputi kondisi lingkungan di sekitar kita. c. Faktor pendekatan belajar
Merupakan jenis upaya yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pembelajaran.15
13 Safan Amri, Pengembangan dan Model Pembelajaran Dalam Kurikulum 2013(Jakarta: Prestasi Pustaka, 2013), cet 1. h. 29
14 Syaiful Bahri Djamarah, psikologi Belajar,(Jakarta: PT,Rieneke Cipta, 2002), cet. 1, h. 142-143
15 Safan Amri, Pengembangan dan Model Pembelajaran Dalam Kurikulum 2013(Jakarta: Prestasi Pustaka, 2013), cet 1. h. 29
Setelah melihat penjelasan-penjelasan diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa selain adanya faktor internal dan eksternal juga ada faktor yang berasal dari guru itu sendiri baik itu perhatian kepada murid atau metode pembelajaran yang diberikan oleh guru itu sendiri.
B. Aqidah Akhlak
1. Pengertian Aqidah Akhlak
Dalam pendidikan formal, aqidah akhlak menjadi sala-satu mata pelajaran yang merupakan rumpun mata pelajaran pendidikan agama Islam yang secara etimologi kata aqidah berasal dari bahasa Arab yaitu yang berasal dari kata dasar “aqoda”“ya’qidu” “aqdan” yang artinya simpul, ikatan. Sedangkan “al-aqiidatu” jama‟nya “al-aqaaid” yang berarti kepercayaan atau keyakinan.16 Dr Ibrahim Muhammad membagi pengertian aqidah kepada tiga tahap perkembangan makna, yaitu sebagai berikut:
1) Tahap pertama, kata aqidah diartikan dengan tekad yang bulat, mengumpulkan, niat, menguatkan perjanjian dan sesuatu yang diyakini dan dianut oleh manusia, baik itu benar atau batil.
2) Tahap kedua, perbuatan hati, disinilah aqidah mulai diartikan sebagai perbuatan hati sang hamba.
3) Tahap ketiga, disini aqidah telah memasuki masa kematangan dimana
ia telah tersungkur sebagai disiplin ilmu dengan ruang lingkup permasalahan tersendiri. Inilah tahap kemapanan dimana aqidah didefinisikan sebagai ilmu tentang hukum-hukum syariat dalam bidang aqidah yang diambil dari dalil-dalil mutlak dan menolak subhat serta dalil-dalil khilafiyah yang cacat.17
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aqidah adalah perbuatan hati yaitu tekad yang bulat, niat, menyakini serta menguatkan perjanjian dengan berdasarkan dalil sesuai dengan agama yang dianut oleh manusia , baik itu benar atau salah, aqidah yang bener itu satu dan kekal, ketetapan Allah yang fitrah selalu
16 Ahmad Warson Munawir, Kamus Al-Munawir Bahasa Arab Indonesia(Surabaya :Pustaka Progresif, 2002), cet 25. h. 953-954.
17 Ibrahim Muhammad bin Abdulah al-Buraikan, Pengantar Study Aqidah Islam,(Jakarta : Robbani Press, 2000),cet. ke II, h. 4-5.
bersandar kepada kebenaran selamanya. Sedangkan iman menurut istilah tauhid ialah menyakinkan akan adanya sesuatu, iman mencerminkan aqidah.
Akhlak juga bisa berarti perangai, watak, tingkah laku, dan budi pekerti. Allah berfirman : .
Yang artinya:
dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.(QS AL-Qalam/68:4)
Dari uraian diatas jelas bahwa al-khalku mengandung arti kejadian yang bersifat lahiriyah, seperti wajah seseorang yang bagus atau jelek. Sedang kata al-khuluku atau kata jamak akhlak mengandung arti budi pekerti atau pribadi yang bersifat rohaniah, seperti sifat-sifat terpuji atau tercelah. “Rasulullah saw bukanlah tipe orang yang suka memikirkan diri
sendiri”18
Bahkan menasehati sahabatnya, Rasulullah mengandengkan antara nasehat untuk bertaqwa dengan nasehat untuk bergaul(berakhlak) yang baik kepada manusia, bahkan rasulullah diutus semata-mata untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Tapi jika memahami akhlak dengan makna yang lebih sempit, yaitu muamalat dengan sesama manusia saja, maka makna hadis diatas terfokus pada penjelasan keagungan ahklak mulia dan ketinggian kedudukannya dalam agama dalam hal ini maka hadits diatas sama dengan makna hadits
“haji adalah Arafah” dan hadits “agama adalah nasehat” bukan maksudnya
membatasi haji hanya di Arafah saja, dan membatasi agama hanya pada nasehat, tapi maksunya wukuf di Arafah adalah rukun paling agung dalam haji dan nasehat menempati posisi yang tinggi dalam agama.19
Sekarang baru dapat dipahami bahwa aqidah akhlak yang baik memiliki keutamaan yang tinggi. Karena itu sudah sepantasnya seorang muslim mengambil aqidah akhlak yang baik sebagai perhiasanya, dan karena kita hidup di dunia ini
18Qal‟ah, Muhammad Rawas, Biografi Nabi saw; Menyibak Tabir Kepribadian Agung Rasul Muhammad saw, ( Bogor: Mahabbah Pustaka, 2007) cet. I
19 Al-Audah Salman bin fahd, Kekuatan Ahklak Sang Da’I; Menyelami 6 Bekal Moral-Spritual Para Aktvitas Dakwa Mengawal Kebangkitan Islam,(Jakarta Timur: Pustaka
tidak bisa lepas dari berintraksi dengan orang lain. Dengan kata lain muslim yang baik punya aqidah akhlak baik.
Perbedaan suku, bangsa, bahasa tempat dan waktu, tidak menjadi
masalah dalam pelaksanaan syari‟at islam. Syaria‟at tetap bisa dilaksanakan sepanjang masa, juga bukan masalah laki-laki dan perempuan. Dari segi kemanusiaan laki-laki dan wanita sama saja. Kaum wanita tetap bisa mencontoh Rasulullah dari sisi beliau sebagai manusia. Khususnya dalam masalah akhlak beliau seperti Qana‟ah, harga diri,
kesederhanaan, murah hati, dermawan dan berbudi pekerti, etika dakwah dan pendidikan , hal-hal khusus menyangkut wanita yang dijelaskan Rasul lewat istri-istrinya menjadi tauladan bagi seluruh kaum wanita. Adapun kemajuan sains dan teknologi tidak menjadi masalah Dalam penerapan Syari‟at islam, karena hanya merubah sarana hidup, tetapi tidak merubah cara hidup, sehingga tidak menjadi halangan untuk tetap ittiba‟ pada rasul
di masa modern ini.20
Dari pengertian tersebut dapat kita simpulkan bahwa aqidah akhlak adalah suatu mata pelajaran yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dan menunjukan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat. Aqidah akhlak merupakan sifat yang dekat hubungannya dengan iman. Baik buruknya aqidah akhlak menjadi sala-satu syarat sempurna atau tidaknya keimanan seseorang. Orang yang beriman kepada Allah swt akan membenarkan seyakin-yakinya akan ke-Esaan Allah, menyakini bahwa Allah mempunyai sifat dengan segala sifat kesempurnaan dan tidak memiliki sifat ketidaksempurnaan atau menyerupai sifat-sifat mahluk ciptaan-Nya.
Karena itu agama Islam sangat memperhatikan soal aqidah dan akhlak. lebih dari perhatiannya terhadap hal-hal lain. Perhatiannya sampai sedemikian rupa sehingga aqidah akhlak merupakan sala-satu pelajaran pokok dan tujuan risalah Nabi Muhammad saw. Selain untuk meluruskan aqidah juga Rasul diutus itu untuk menyempurnakan akhlak.
Seolah- olah beliau membatasi tugas kerisalahan hanya untuk aqidah akhlak. jika kita memahami aqidah akhlak sebagai muamalah kamu bersama Allah dan bersama manusia, inilah hakikat agama yang utuh, bagaimana kamu bermuamalah
20 Syekh Abdurahman al-Bagdadi, Rosulullah saw tidak merayakan maulid,( Jakarta Timur: Insan Press, 2008), cet. I, h. 11.
dengan sang khalik? Bagaimana kamu beribadah kepada-Nya, meng-Esakan-Nya, dan menjauhi apa yang membuat-Nya murka? Bagaimana kamu bermuamalah dengan sesama mahkluk?
Dan masuk dalam kategori makhluk adalah Malaikat, para Nabi, orang-orang shaleh dan kaum kerabat yang memilki hak untuk dicintai dan dikasihi. Juga masuk dalam kelompok makhluk adalah syetan, orang-orang kafir, orang fasik dan munafik. Akhlak itu sendri bukanlah perbuatan, melainkan gambaran bagi jiwa yang tersembunyi. Oleh karena itu dapatlah disebutkan bahwa akhlak itu adalah nafsiah(bersifat kejiwaan)atau maknawiyah(sesuatu yang abstrak).dan bentuknya yang kelihatan kita namakan muamalah(tindakan) atau suluk(prilaku). Maka akhlak adalah sumber dan prilaku adalah bentuknya21.
Dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa aqidah akhlak ialah sumber dari segala perbuatan yang sewajarnya, yakni tidak dibuat-buat. dan perbuatan yang dapat kita lihat sebenarnya adalah merupakan gambaran dari sifat-sifat tertanam dalam jiwa..
Secara garis besar ruang lingkup aqidah akhlak dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu aqidah akhlak kepada Allah swt, aqidah akhlak kepada sesama manusia dan aqidah akhlak kepada alam semesta..
2. Hubungan antara Aqidah dan Akhlak
Kedudukan aqidah akhlak kehidupan manusia menempati tempat yang penting, sebagai individu masyarakat dan bangsa. Yaitu merupakan sendi agama disisi Tuhan. Bukanlah sekedar mengetahui bahwa kebenaran itu adalah mulia dan kedustaan adalah hina. dan bukan pula sekedar mengetahui bahwa ikhlas itu sesuatu yang agung sedangkan tipu daya sesuatu kehancuran. Akan tetapi akhlak yang dituntut yaitu reaksi jiwa dan apa-apa yang mempengaruhinya untuk melakukan apa yang patut dilakukan dan meninggalkan apa yang tidak patut dilakukan.
Akhlak dengan pengertian inilah yang menjadi benteng pelaksanaan syari‟at.
Ia adalah tempat bertahan bagi orang-orang yang benar-benar muslim. Juga akhlak yang demikian itu merupakan penyempurnaan iman.
Pentingnya sebagai seorang muslim yang memikul tanggung jawab untuk saling menasehati dalam kebaikan. Maka amat penting bagi setiap muslim memahami akhlak terpuji dalam pergaulan remaja. masa remaja adalah masa peralihan seseorang dari usia anak-anak kepada usia dewasa.
Disamping sifat dan amal lahir, juga akhlak meliputi sifat dan amal batin, yaitu yang dilakukan oleh anggota batin manusia, yakni hati. Seseorang yang benci melihat temannya karena lebih kaya dari padanya, adalah orang yang tidak berakhlak. Bila ia seorang yang berakhlak tinggi seharusnya ia merasa senang akan nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Dan manakalah ia ingin mendapat yang demikian, maka ia harus berusaha dengan jalan dan cara yang halal. Orang dapat dikatakan berakhlak tinggi, bila anggota lahir dan batinya bersih dari penyakit-penyakit akhlak dan kuman-kuman yang merusak budi pekerti. Makin kuat aqidah seseorang makin tinggi akhlaknya.
3. Tujuan Pembelajaran Aqidah Akhlak di MA
Kurikulum Madrasah Aliyah membagi mata pelajaran ke dalam 5 kelomopk, yaitu:
a) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia
b) Kelompok mata pelajaran kewarganegaan dan kepribadian c) Kelompok mata pelajaran pengetahuan dan teknologi d) Kelompok mata pelajaran estetika
e) Kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga dan kesehatan
Adapun tujuan mata pelajaran agama dan akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriaman dan bertaqwa kepada Allah swt serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup estetika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Serta meningkatkan keimanan siswa-siswi agar adanya kesadaran untuk berakhlak mulia.dan menjadi muslim yang selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt. Dari pengertian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa tujuan dari pembelajaran Aqidah akhlak adalah memberikan pengetahuan kepada siswa-siswinya akan hal yang harus diimani, mengamalkan akhlak yang baik,menjauhi
akhlak yang buruk dan memberikan bekal kepada siswa untuk menjalani hidup dikemudian hari.
4. Tujuan dan Fungsi Aqidah Akhlak
Seperti yang telah dijelaskan sebelum ini, bahwa akhlak adalah karakter yang melekat dalam jiwa manusia baik karena bawaan maupun karena kebiasaan. Karakter tersebut ada yang positif dan ada yang negatif. Atau ada yang terfuji dan ada yang tercela. Itulah sebabnya dalam ilmu akhlak diklasifikasikan dalam dua kelompok, yaitu akhlak terpuji atau mulia(al-akhlak karimah)dan akhlak tercela(al-akhlak madzmumah).22
a. Tujuan aqidah akhlak
Aqidah dan Akhlak terpuji merupakan karakter yang mesti kita miliki dan menghiasi jiwa kita. Sebaliknya, aqidah akhlak tercela adalah karakter yang mesti kita hindari. Adapun tujuan akhlak dalam buku terjemahan khuluqul Qur‟an yaitu: Hendak menciptakan manusia sebagai mahluk yang tinggi dan sempurna. Dan membedakan dari mahluk-makhluk lainnya. Akhlak hendak menjadikan manusia berakhlak baik, bertindak tanduk yang baik terhadap manusia, terhadap sesama mahluk dan terhadap sesama Tuhan. Sedangkan pelajaran akhlak atau ilmu akhlak bertujuan mengetahui perbedaaan-perbedaan sifat manusia yang baik maupun yang jahat, agar manusia dapat memegang teguh sifat yang baik dan menjauhkan diri dari sifat yang jahat, sehingga terciptalah tata tertib dalam pergaulan masyarakat, tidak saling membenci, curiga- mencurigai antara satu dengan yang lainnya, tidak ada perkelahian dan peperangan atau bunuh membunuh sesama hambah.23
Tujuan aqidah akhlak ialah hendak menciptakan manusia sebagai makhluk yang tinggi dan sempurna. Dan membedakan dari makhluk-makhluk yang lain. Aqidah akhlak yang baik itu tidak dapat dibentuk hanya dengan pelajaran, dengan instruksi-instruksi dan larangan-larangan sebab tabiat jiwa untuk menerima keutamaan-keutamaan itu tidak cukup seorang guru mengatakan kerjakan ini dan jangan kerjakan itu. Menanamkan sopan santun yang berbuah sangat memerlukan pendidikan yang panjang dan harus ada pendekatan yang lestari.
22 M.Imam Pamungkas, Akhlak Muslim Modern, h. 49.
23Anwar masy‟ari, Akhlak al-Quran(terjemah khulukul Qur’an),( Surabaya: PT Bina Ilmu, 2014) h. 10
b. Fungsi Aqidah Akhlak
Sedangkan fungsi aqidah dan akhlak mulia(akhlaqul karimah) dalam kehidupan adalah sebagai buah dari tujuan diciptakanya manusia, yaitu beribadah kepada Allah swt. Karena itu akhlak mulia merupakan buah dari aktivitas ibadah kepada Allah swt. Tanpa buah yakni aqidah akhlak mulia ini, ibadah hanya merupakan upacara dan ritual tanpa makna.24
Pendidikan itu tidak akan sukses melainkan harus diusahakan dengan contoh dan teladan yang baik. Seorang yang berprilaku jahat tidak mungkin meniggalkan pengaruh yang baik dalam jiwa orang di sekelilingnya. Pengaruh yang baik itu hanya akan diproleh dari pengamatan mata terus menerus, lalu semua mata mengagumi sopan santunnya. Disaat itulah orang akan mengambil pelajaran, mereka akan mengikuti jejaknya dengan penuh kecintaan yang tulus..
5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Aqidah Akhlak
Sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi prilaku seseorang, tetapi disini akan disebutkan sebagiannya saja yang dipandang paling dominan. Dari jumlah faktor tersebut dapat kita klasifikasikan kedalam dua bagian yaitu:
1) Faktor- faktor dari dalam diri yaitu:
a) Faktor psikologi, seperti kondisi psikologis dan panca indra
b) Faktor fisiologis, seperti minat, bakat, kecerdasan,motivasi dan kemampuan kognitif.
2) Faktor-faktor dari luar diri pelajar yaitu:
a) Faktor-faktor alam, seperti keadaan cuaca, suhu, udara dan lain-lain.
b) Faktor-faktor social, seperti suasana rebut yang dapat mengganggu konsentrasi belajar.25
Dilihat dati bermacam-macam faktor di atas bahwa pembentukan akhlak tersebut akan mudah dipengaruhi oleh faktor-faktor yang ada disekitar masyarakat kita tersebut, untuk itu harus diperhatikan pembentukan akhlak anak dari baerbagai faktor tersebut.
6. Mata pelajaran aqidah akhlak
24 M Imam Pamungkas, Akhlak Muslim Modern;membangun karakter generasi muda,(Bandung: Marja,2012) cet. 1, h. 120.
25 Syaiful Bahri Jamarah, Psikologi Belajar,(Jakarta: PT Rieneke Cipta, 2002),Cet. I, h. 142-143
Adapun mata pelajaran aqidah akhlak sebagaimana yang terdapat dalam kurikulum madrasah 2004 adalah:
Mata pelajaran aqidah akhlak adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal memahami dan menghayati serta mengimani Allah swt dan merealisasikan dalam prileku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari melalui kegiatan bimbingan,pengajaran dan latihan ,penggunaan pengalaman, keteladanan dan pembiasaan dalam kehidupan masyarakat yang majemuk dalam bidang Agama.26
Adapun pembelajaran materi aqidah akhlak kelas XI MA diantaranya seperti dijabarkan dalam buku aqidah akhlak karya Toto Edidarmo sebagai berikut: Semester I kelas XI:
Bab 1 Ilmu kalam
A. Pengertian ilmu kalam
B. Ruang lingkup dan fungsi ilmu kalam C. Hubungan ilmu kalam dengan ilmu lainnya
D. Penerapan ilmu kalam dalam mempertahankan aqidah Bab 2 Aliran-aliran dan tokoh-tokoh ilmu kalam
A. Latar belakang berdirinya ilmu kalam
B. Asal-usul munculnya aliran dalam ilmu kalam C. Masalah yang diperdebatkan dalam ilmu kalam D. Aliran- aliran dan tokoh-tokoh dalam ilmu kalam
1. Aliran mu‟tazilah
Riwayat dan tentang asal usul sebutan Mu‟tazilah ada tiga, yang kesemuanya bermuara arti kata “I‟tazala” yang artinya memisahkan diri, menjauhkan diri, atau
menyalahi pendapat orang lain. Alira ini dibagi menjadi dua yaitu mu‟tazilah basrah dan mu‟tazilah baqdad.tokoh-tokohnya yaitu Washil bin „Atha, Al-„Allaf,
AL-Jubba‟I dan lain-lain.
Pokok-pokok ajaran Mu‟tazilah ada lima yaitu:
26 Depag RI, Kurikulum 2004, Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam, Jakarta: h.21-22
a. Tauhid terkait hal ini mu‟tazilah berpendapat bahwa tidak mengakui sifat -sifat Allah, alquran menurutnya adalah mahluk, Allah diakhirat tidak dapat dilihatoleh mata kepala manusia
b. Keadilan Allah; semua orang percaya akan keadilan Allah, tetapi mu‟tazilah memperdalam arti keadilan serta menentukan batas-batasnya.
c. Jajnji dan ancaman;bahwa Allah tidak akan mengingkari janji-Nya; member pahala kepada orang yang berbuat baik, dan menimpakan azab kepada orang yang berbuat dosa.
d. Posisi diantara dua posisi;
e. Amal ma‟ruf nahi mungkar; lebih bayak berkaitan dengan fiqih.
2. Aliran asy‟ariyah
Aliran ini dibawa oleh Abu Hasan bin Ismail Al-Asy‟ari hingga usia 40 tahun ia menganut paham mu‟tazilah sehingga pada akhirnya ia memisahkan diri 3. Aliran maturidiyah
Nama aliran maturidiyah diambil dari nama pendirinya yaitu Abu Mansur Muhammad bin Muhammad Al-Maturidi, ia bermazhab Hanafi, ada bebrapa pendapat Al-Maturidi yaitu:
a. Kewajiban mengetahui tuhan
b. Kebaikan dan eburukan menurut akal c. Hikmah dantujuan perbuatan Allah
4. Aliran syi‟ah
Adalah golongan umat islam yang terlalu mengagungkan keturunan Nabi.mereka menyakini hanya keturunan Nabi yang lebih berhak untuk menjadi khalifah sepeninggal Nabi.
5. Aliran khawarij
Khawarij ini timbul setelah perang shiffin antara Ali dan Muawiyah. Golongan khawarij adalah pengikut Ali.
6. Aliran murji‟ah
Aliran ini timbul di damaskus pada akhir abad pertama hijrah. Dinamai
murji‟ah karena sesuai dengan makna istilah tersebut menunda atau
berbuat dosa besar hingga matinya tidak juga tobat, orang itu belum dapat kita hukumi sekarang, terserah atau ditunda kita kembalikan saja urusannya kepada Allah swt.
7. Aliran jabaryah
Golongan ini adalah gerakan yang menentang qodariyah. Pendirinya yaitu Jham bin Shafwan. Kadang-kadang jabariyah ini dinamakan golongan Jahamiyah. Hala ini berawal dari perkataan Jaham. Bahwa manusia adalah dalam keadaan terpaksa, tidak bebas.
a) Teologi baru dalam islam b) Teologi tranformatif
c) Yaitu teologi yang berusaha menggerakkan rakyat dibawa untuk merubah dirinya dan berperan dalam perubahan social yang mendasar
d) Teologi pembebasan
Teologi ini merupakan suatu usaha kontekstualisasi ajaran-ajaran dan nilai keagamaan pada masalah kongkrit disekitarnya.
Bab 3 Akhlak pada diri sendiri dan orang lain A. Pengertian akhlak
1. Akhlak kepada Allah 2. Akhlak kepada orang lain 3. Akhlak terhadap diri sendiri B. Akhlak berpakaian
1. Pengertian dan pentingnya akhlak berpakaian 2. Bentu-bentuk akhlak berpakain
3. Nilai-nilai positif akhlak berpakain 4. Membiasakan akhlak berpakaian C. Akhlak berhias
1. Pengertian dan pentingnya akhlak berhias 2. Bentu-bentuk akhlak berhias
3. Nilai-nilai positif akhlak berhias 4. Membiasakan akhlak berhias D. Akhlak perjalanan
1. Pengertian dan pentingnya akhlak perjalanan 2. Bentu-bentuk akhlak perjalanan
3. Nilai-nilai positif akhlak perjalanan 4. Membiasakan akhlak perjalanan E. Akhlak bertamu dan menerima tamu
1. Pengertian dan pentingnya akhlak bertamu dan menerima tamu 2. Bentu-bentuk akhlak bertamu dan menerima tamu
3. Nilai-nilai positif akhlak bertamu dan menerima tamu 4. Membiasakan akhlak bertamu dan menerima tamu.27
7. Ruang lingkup
a. Ruang lingkup
Ruang lingkup yang tercantum dalam kurikulum Madrasah aliyah yaitu:
1) Hubungan Manusia dengan Allah
Hubungan ini disebut dengan hubungan vertical, yaitu hubungan antara Manusia dengan Khaliqnya yang mencakup dari segi aqidah, yang meliputi ; Iman kepada Allah swt, Iman kepada Malaikat-Nya, Iman kepada Kitab-Kitab-Nya,Iman kepada Rasul-rasul-Nya, Iman kepada hari akhir, Iman kepada Qodha dan Qadhar-Nya.
2) Hubungan Manusia dengan sesama Manusia
Materi yang dipelajari meliputi akhlak dalam pergaulan hidup sesama manusia, kewajiban membiasakan berakhlak yang baik terhadap diri sendiri dan orang lain, serta menjauhi akhlak yang buruk. 28
Adapun ruang lingkup materi aqidah akhlak di Kelas XI MA antara lain dijabarkan oleh buku aqidah akhlak karya Toto Edidarmo
Sesuai dengan materi bahwa Aqidah itu yang bersifat Ilahiyah dan Akhlak itu yang bersifat Insaniyah. Ruang lingkup pendidikan aqidah
27 Toto Edi Darmo ,MA, Aqidah Akhlak Madrasah Aliyah Kelas XI, (Semarang: PT Karya Toha Putra, 2009), Cet I,h. v
28Depag RI, Kurikulum 2004, Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam, Jakarta: h. 24
akhlak di Madrasah Aliyah meliputi; Akhlak kepada Allah, Akhlak kepasa orang lain dan Akhlak terhadap diri sendiri.29
29 Toto Edi Darmo ,MA, Aqidah Akhlak Madrasah Aliyah Kelas XI, (Semarang: PT Karya Toha Putra, 2009), Cet I,h. 56
BAB III