• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan

Dalam penelitian ini karakteristik perusahaan yang mempengaruhi pengungkapan informasi sosial diproksikan dalam ukuran dewan komisaris,

financial leverage, ukuran perusahaan, profitabilitas dan umur perusahaan.

1. Ukuran Dewan Komisaris

Ukuran dewan komisaris adalah jumlah anggota dewan komisaris. Berkaitan dengan ukuran dewan komisaris, Coller dan Gregory (1999) dalam Sitepu (2008) menyatakan bahwa “semakin besar jumlah anggota dewan komisaris, maka akan semakin mudah untuk mengendalikan CEO dan monitoring yang dilakukan akan semakin efektif. Dikaitkan dengan

pengungkapan tanggung jawab sosial, maka tekanan terhadap manajemen juga akan semakin besar untuk mengungkapkannya”.

Dewan komisaris merupakan wakil shareholder dalam entitas bisnis yang berbadan hukum Perseroan Terbatas (PT) yang berfungsi mengawasi pengelolaan perusahaan yang dilaksanakan oleh manajemen (direksi), dan bertanggung-jawab untuk menentukan apakah manajemen memenuhi tanggung jawab mereka dalam mengembangkan dan menyelenggarakan pengendalian intern perusahaan (Mulyadi, 2002).

Dengan wewenang yang dimiliki, dewan komisaris dapat memberikan pengaruh yang cukup kuat untuk menekan manajemen agar mengungkapkan informasi Sosial lebih banyak, sehingga dapat dijelaskan bahwa perusahaan yang memiliki ukuran dewan komisaris yang lebih besar akan lebih banyak mengungkapkan sosial . Sebagai wakil dari prinsipal di dalam perusahaan, dewan komisaris dapat mempengaruhi luasnya pengungkapan tanggung jawab sosial, karena dewan komisaris merupakan pelaksana tertinggi didalam entitas. Dengan mengungkapkan tanggung jawab sosial perusahaan, maka

image perusahaan akan semakin baik (Gray et al., 1988 dalam Marzully

2012)

2. Financial Leverage

Leverage adalah perbandingan antara dana-dana yang dipakai untuk

membelanjai perusahaan atau perbandingan antara dana yang diperoleh dari ekstern perusahaan (dari kreditur-kreditur) dengan dana yang disediakan pemilik perusahaan (Makmun, 2002) dalam Felicia dan Supatmi (2011).

“Rasio leverage merupakan proporsi total utang terhadap ekuitas pemegang saham. Rasio tersebut digunakan untuk memberikan gambaran mengenai struktur modal yang dimiliki perusahaan, sehingga dapat dilihat tingkat resiko tak tertagihnya suatu utang” (Sitepu, 2008). Financial Leverage digunakan untuk melihat kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya terhadap pihak lain.

Semakin tinggi financial leverage, kemungkinan akan membuat perusahaan mengalami pelanggaran terhadap kontrak utang, maka manajer akan berusaha untuk melaporkan laba sekarang lebih besar dibandingkan laba di masa depan. Menurut Belkaoui & Karpik (1989), “dengan semakin tinggi

financial leverage (rasio utang/ekuitas) semakin besar kemungkinan

perusahaan akan melanggar perjanjian kredit sehingga perusahaan akan berusaha untuk melaporkan laba sekarang lebih tinggi”. Supaya laba yang dilaporkan tinggi maka manajer harus mengurangi biaya-biaya termasuk biaya untuk mengungkapkan informasi sosial.

3. Ukuran perusahaan

Ukuran perusahaan dapat diartikan sebagai suatu skala dimana dapat diklasifikasikan bersar kecil perusahaan dengan berbagai cara antara lain dinyatakan dalam total aktiva, nilai pasar saham dan lain-lain.

Ukuran perusahaan merupakan variabel yang banyak digunakan untuk menjelaskan pengungkapan sosial yang dilakukan perusahaan dalam laporan tahunan. Perusahaan yang lebih besar mungkin akan memiliki lebih banyak pemegang saham, berarti juga memerlukan lebih banyak pengungkapan yang

dikarenakan tuntutan dari para pemegang saham dan para analis pasar modal (Gunawan, 2000).

Jensen dan Meckling (1976), dalam agency theory menyatakan bahwa perusahaan besar memiliki biaya keagenan yang lebih besar daripada perusahaan kecil, sehingga konsekuensinya, perusahaan besar didorong untuk mengungkapkan lebih banyak tentang informasi voluntary, seperti intellectual

capital, untuk mengurangi biaya keagenan yang dikeluarkan.

Ukuran perusahaan yang besar menunjukkan perusahaan mengalami perkembangan sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat (Sujoko dan Soebiantoro, 2007) dalam Felicia dan Supatmi, di samping itu juga mendapat sorotan publik yang lebih disbanding perusahan kecil (Cooke, 1992), sehingga perusahaan besar dimungkinkan lebih banyak memiliki intellectual capital dan akan lebih banyak mengungkapkan informasi mengenai intellectual capital di dalam laporan tahunan.

Menurut Marpaung (2009), “secara umum perusahaan besar akan mengungkapkan informasi lebih banyak daripada perusahaan kecil. Hal ini karena perusahaan besar akan menghadapi resiko politis yang lebih besar dibanding perusahaan kecil”. Perusahaan besar pasti akan menghadapi persaingan ketat dari perusahaan besar lainnya. Hal tersebut menekan perusahaan untuk menghasilkan produk yang lebih berkualitas, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan konsumen. Selain itu, untuk mendukung peningkatan produk tersebut perusahaan juga harus meningkatkan

tanggungjawab sosialnya agar kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan tetap terjaga.

Ukuran perusahaan ikut menentukan tingkat kepercayaan investor. Semakin besar perusahaan, semakin dikenal masyarakat yang berarti semakin mudah untuk mendapatkan informasi mengenai perusahaan, karena perusahaan yang berukuran lebih besar cenderung mendapat pengawasan dari masyarakat dan memiliki public demand akan informasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan kecil sehingga akan mengungkapkan lebih banyak informasi. Kemudahan dalam mendapatkan informasi akan meningkatkan kepercayaan investor dan mengurangi faktor ketidakpastian.

4. Profitabilitas

Menurut Marpaung (2009) “profitabilitas yaitu mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba”. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menghitung rasio profitabilitas, antara lain rasio margin laba kotor; rasio margin laba bersih; rasio pengembalian aktiva; rasio pengembalian atas ekuitas; earning per share ; basic earning power ;

contribution margin ; dan productivity ratio.

Hackston & Milne (1996) menemukan tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat profitabilitas dengan pengungkapan informasi sosial, sedangkan Belkaoui & Karpik (1989) mengatakan bahwa dengan kepeduliannya terhadap masyarakat (sosial) manajemen menghendaki untuk membuat perusahaan menjadi profitable. Apabila perusahaan semakin menunjukkan kepeduliannya kepada masyarakat kemungkinan kepercayaan

masyarakat terhadap perusahaan akan semakin meningkat. Oleh sebab itu, masyarakat yang menjadi konsumen yang akan membeli maupun menggunakan produk yang dihasilkan perusahaan menjadi lebih percaya kepada perusahaan sehingga dapat meningkatkan laba perusahaan apabila konsumen juga bertambah.

Menurut Sembiring (2005) dalam Sirait (2011):

Penelitian ilmiah terhadap hubungan profitabilitas dan pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan memperlihatkan hasil yang sangat beragam. Akan tetapi Donovan dan Gibson (2000) menyatakan bahwa berdasarkan teori legitimasi, salah satu argumen dalam hubungan antara profitabilitas dan tingkat pengungkapan tanggung jawab social adalah bahwa ketika perusahaan memiliki tingkat laba yang tinggi, perusahaan (manajemen) menganggap tidak perlu melaporkan hal-hal yang dapat mengganggu informasi tentang sukses keuangan perusahaan. Sebaliknya, pada saat tingkat profitabilitas rendah, mereka berharap para pengguna laporan akan membaca ”good news” kinerja perusahaan, misalnya dalam lingkup sosial, dan dengan demikian investor akan tetap berinvestasi di perusahaan tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa profitabilitas mempunyai hubungan yang negatif terhadap tingkat pengungkapan tanggung jawab social perusahaan.

5. Umur perusahaan

Widiastuti (2002) dalam Felicia dan Supatmi (2011) menyatakan bahwa umur perusahaan dapat menunjukkan bahwa perusahaan tetap eksis dan mampu bersaing. Umur perusahaan yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah lamanya perusahaan mulai listing (first issue) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga tahun terjadi penelitian.

Menurut Marwata (2001), perusahaan yang berumur lebih tua memiliki pengetahuan yang lebih mendalam tentang kebutuhan konstituennya akan

informasi mengenai perusahaan. Oleh karena itu, older firms akan cenderung mengungkapkan informasi yang lebih lengkap, termasuk intellectual capital

disclosure, karena pengungkapan informasi yang rinci dapat memberikan

nilai tambah bagi perusahaan sehingga dapat menarik perhatian masyarakat luas. Namun sebaliknya, menurut Barnes dan Walker, 2006 (dalam Felicia dan Supatmi, 2011) perusahaan yang umur listing-nya di bursa efek lebih muda akan berupaya untuk mendapatkan tambahan modal dengan semakin banyak mengungkapkan informasi perusahaan termasuk intellectual capital. Pernyataan ini membuktikan bahwa salah satu manfaat yang didapatkan dari mengungkapkan informasi intellectual capital adalah biaya modal yang rendah.

Penelitian Suhardjanto dan Wardhani (2009) menyatakan bahwa umur perusahaan bukanlah merupakan variabel prediktor yang baik dalam pengungkapan intellectual capital. Begitu juga dengan penelitian Amalia (2005), yang menyatakan bahwa umur perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap luas pengungkapan informasi sukarela yang dilakukan. Namun penelitian Susanto (dalam Amalia, 2005) terhadap 98 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta tahun 1990 menemukan bahwa umur perusahaan berpengaruh signifikan terhadap luas pengungkapan informasi sukarela yang dilakukan.

Dokumen terkait