• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertimbangan moral

BAB II LANDASAN TEORI

B. Pertimbangan Moral

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertimbangan moral

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan moral seseorang, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Perkembangan kognitif. Menurut Kohlberg ada hubungan paralel antara tahap perkembangan kognitif dengan tahap perkembangan moral. Namun bukan berarti seseorang yang memiliki perkembangan kognitif tinggi akan memiliki tahap perkembangan pertimbangan moral yang tinggi pula. Perkembangan kognitif berhubungan erat dengan intelegensi seseorang. Seseorang yang memiliki tingkat perkembangan kognitif yang tinggi cenderung memiliki intelegensi yang tinggi pula, dengan demikian akan mempengaruhi tingginya

tahap perkembangan moral orang tersebut. Menurut Bandura (1991, dalam Berns, 1997) dan Hoffman (1970), intelegensi adalah faktor yang dapat mempengaruhi tingkat perkembangan moral seseorang.

2. Pendidikan. Pendidikan adalah prediktor yang kuat dari perkembangan penalaran moral, karena lingkungan pendidikan yang lebih tinggi menyediakan kesempatan, tantangan dan lingkungan yang lebih luas yang dapat merangsang perkembangan pertimbangan moral yang lebih tinggi (Rest, 1994).

3. Kemampuan alih peran. Kemampuan alih peran adalah kemampuan seseorang untuk menempatkan diri pada peran orang lain atau mengambil sikap dari sudut pandang orang lain, sadar akan pikiran dan perasaan orang lain. Stimulasi sosial yang mendasar untuk perkembangan pertimbangan moral adalah kesempatan alih peran melalui interaksi dan komunikasi dalam kelompok, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah, dan masyarakat. Suasana dalam keluarga yang dapat memungkinkan terjadinya dialog dan diskusi tersebut yang nantinya akan memungkinkan kesempatan alih peran. Karena dalam pola asuh seperti ini orang tua mendorong untuk adanya proses dialogis dan memberi alasan dibalik peraturan-peraturan mereka kepada anak. Sehingga anak memiliki kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan mempertimbangkan juga pendapat orang tua (Lickona, dalam Berns, 1977). 4. Timbulnya konflik moral-kognitif. Pengalaman akan konflik moral kognitif

menampilkan situasi pengambilan keputusan yang melibatkan konflik moral (Lickona, 1976).

5. Pola Asuh. Menurut Holstein (dalam Hurlock 1990), anak-anak yang terlahir di tengah-tengah keluarga yang demokrat sangat membantu anak mencapai tahap perkembangan moral yang tinggi. Hal tersebut dapat dimengerti karena salah satu ciri dari pola asuh demokratis yaitu adanya kesempatan untuk terjadinya proses dialog antara orangtua dan anak serta adanya kebebasan bagi anak untuk mengungkapkan atau mengekspresikan ide dan keinginan mereka. 6. Kepribadian. Kontrol diri dan temperamen dapat mempengaruhi

perkembangan moral seseorang. Penelitian Mischel, Shoda & Peake (1988 dalam Berns, 1977) menunjukkan bahwa anak yang memiliki kontrol diri dapat menahan keinginan untuk berbincang-bincang selama eksperimen. Anak-anak yang memiliki kontrol diri ini dinilai sebagai anak yang lebih kompeten dan memiliki tanggung jawab secara sosial sepuluh tahun kemudian pada masa remajanya.

Menurut Yusuf (2004) ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan moral, antara lain :

1. Konsisten dalam mendidik anak

Ayah dan ibu harus memiliki sikap dan perlakuan yang sama dalam melarang atau membolehkan tingkah laku tertentu kepada anak

Secara tidak langsung, sikap orangtua terhadap anak, sikap ayah terhadap ibu atau sebaliknya, dapat mempengaruhi perkembangan moral anak, yaitu melalui proses peniruan (imitasi). Sikap orangtua yang keras (otoriter) cenderung melahirkan sikap disiplin semu pada anak, sedangkan sikap acuh tak acuh atau sikap masa bodoh, cenderung mengembangkan sikap kurang bertanggung jawab dan kurang memperdulikan norma pada diri anak. Sikap yang sebaiknya dimiliki oleh orangtua adalah sikap kasih saying, keterbukaan, musyawarah (dialogis), dan konsisten.

3. Penghayatan dan pengamalan agama yang dianut

Orangtua merupakan panutan (teladan) bagi anak, termasuk disini panutan dalam mengamalkan ajaran agama. Orangtua yang menciptakan iklim yang religius, dengan cara memberikan ajaran atau bimbingan tentang nilai-nilai agama kepada anak, maka anak akan mengalami perkembangan moral yang baik

4. Sikap konsisten orangtua dalam menerapkan norma

Orangtua yang tidak meghendaki anaknya berbohong, atau berlaku tidak jujur, maka mereka harus menjauhkan dirinya dari perilaku berbohong atau tidak jujur.

C. Pertimbangan Moral pada Anak dengan Pola Asuh Spiritrual Parenting Dampak buruk perkembangan media massa dan teknologi sekarang ini ternyata bukan hanya terjadi pada kalangan remaja, tetapi juga sudah menyentuh anak-anak usia sekolah dasar. Di satu sisi kemajuan jaman ini memberikan

banyak kemajuan teknologi yang memungkinkan anak memperoleh fasilitas yang serba canggih. Namun di sisi lain kemajuan tersebut juga membawa dampak negatif seperti tersedianya informasi negatif yang sulit untuk dihindari, misalnya kekerasan, pornografi, konsumerisme dan lain-lain melalui berbagai media informasi tersebut. Indikator lain yang juga mengkhawatirkan pada sikap anak adalah semakin kurangnya rasa hormat terhadap orangtua, guru, dan sosok-sosok lainnya. Menurut Borba (2008) hal ini dapat disebabkan karena para orangtua melewatkan satu bagian yang sangat penting yaitu sisi moral dalam kehidupan anak.

Moralitas sendiri merupakan suatu perangkat prinsip yang membantu individu untuk membedakan mana yang benar atau yang salah, dan bertindak berdasarkan perbedaan tersebut (Martin & Colbert, 1997). Berns (1997) juga mengemukakan bahwa moralitas mencakup kepatuhan akan aturan sosial dalam kehidupan sehari-hari atau aturan personal seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain.

Perkembangan moral anak yang sesungguhnya dapat dilihat dari dua aspek yaitu perilaku moral dan pertimbangan moral. Perilaku moral adalah perilaku yang dilandasi atau dipikirkan sebelumnya oleh pelakunya, berupa alasan dan motivasi yang bernilai moral (Kurtines & Gerwitz, 1992). Sedangkan pertimbangan moral menurut Kohlberg (1995) merupakan apa yang diketahui dan dipikirkan seseorang mengenai baik dan buruk atau benar dan salah. Pertimbangan moral buka n berkenaan dengan jawaban atas pertanyaan ”apa yang baik dan buruk” melainkan terkait dengan jawaban atas pertanyaan mengapa dan

bagaimana seseorang sampai pada keputusan bahwa sesuatu dianggap baik dan buruk.

Kematangan pertimbangan moral dapat dijadikan prediktor yang baik terhadap dilakukannya tindakan tertentu pada situasi yang melibatkan moral. Memperhatikan pertimbangan mengapa suatu tindakan salah, akan lebih memberi penjelasan dari pada memperhatikan tindakan seseorang atau bahkan mendengar pernyataannya bahwa sesuatu itu salah (Duska dan Whelan, 1975). Oleh sebab itulah peneliti lebih tertarik untuk meneliti pertimbangan moral daripada perilaku moral.

Pertimbangan moral sendiri memiliki beberapa tingkatan, menurut Kohlberg (1995) dibagi menjadi tiga tingkatan yang masing-masingnya terdiri dari dua tahap. Tingkat pertama adalah prakonvensional, dimulai usia 4 sampai 10 tahun. Pada tahap ini anak tanggap terhadap aturan-aturan budaya dan ungkapan-ungkapan budaya mengenai baik dan buruk, benar dan salah. Akan tetapi hal ini ditafsirkan dari segi akibat fisik atau kenikmatan perbuatan (hukuman, keuntungan, pertukaran dan kebaikan) atau dari segi kekuatan fisik mereka yang memaklumkan peraturan dan semua label tersebut. Tingkat kedua adalah konvensional, berkisar usia 10 sampai 13 tahun. Pada tingkat ini anak hanya menuruti harapan keluarga, kelompok atau bangsa, dan dipandang sebagai hal yang bernilai dalam dirinya sendiri, tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata. Sikapnya bukan saja konformitas terhadap harapan pribadi dan tata tertib sosial, melainkan juga loyal terhadapnya dan secara aktif mempertahankan, mendukung dan membenarkan seluruh tata tertib itu serta mengidentifikasikan

diri dengan orang atau kelompok yang terlibat. Tingkat terakhir adalah pasca- konvensional, dimulai dari masa remaja awal sampai seterusnya. Banyak orang yang tidak mencapai tingkat ini, bahkan sampai seseorang dewasa. Pada tahap terakhir ini seseorang melihat konflik berdasarkan standar-standar moral yang bersifat universal, dimana penilaian universal ini dapat berasal dari keadilan, kejujuran, kesamaan hak asasi manusia, penghormatan kepada martabat manusia maupun nilai-nilai spiritualitas, untuk kemudian memberikan penilaian mereka sendiri berdasarkan prinsip-prinsip tersebut.

Mengikuti persyaratan yang dikemukakan Piaget untuk suatu Teori Perkembangan Kognitif, adalah sangat jarang terjadi kemunduran dalam tahapan- tahapan ini. Walaupun demikian, tidak ada suatu fungsi yang berada dalam tahapan tertinggi sepanjang waktu, juga tidak dimungkinkan untuk melompati suatu tahapan, setiap tahap memiliki perspektif yang baru dan diperlukan, dan lebih komprehensif, beragam, dan terintegrasi dibanding tahap sebelumnya. Namun meskipun perkembangan kognitif anak melewati tahapan yang tetap, usia anak dalam mencapai tahapan perkembangan moral tertentu dapat berbeda-beda.

Faktor-faktor penentu utama mengapa sejumlah orang mencapai tahap perkembangan pertimbangan moral yang berbeda antara lain banyaknya pengalaman dan keanekaragaman pengalaman sosial, kesempatan untuk mengambil sejumlah peran dan berjumpa dengan sudut pandang orang lain. Faktor-faktor penentu lainnya mengapa sejumlah orang mencapai tahap perkembangan pertimbangan moral yang berbeda antara lain : perkembangan kognitif, pendidikan, kemampuan alih peran, pola asuh serta kepribadian.

Freud (dalam Sigelman & Rider, 2003) berasumsi bahwasanya anak pada umumnya memiliki tingkat moralitas yang masih rendah, dimana anak kurang memiliki superego, dan pada dasarnya dipenuhi oleh id, maka dari itu mereka bertindak sesuai dengan kebutuhan diri mereka, terkecuali orangtua dapat mengontrol mereka. Orangtua berkontribusi sangat besar dalam perkembangan moral anak, dimana anak menginternalisir standar moral orangtua jika mereka ingin berperilaku sesuai moral, bahkan ketika tidak ada figur otoritas yang hadir untuk mendeteksi dan menghukum mereka.

Selain faktor keluarga, dalam hal ini pola asuh orang tua, hal lain yang juga mempengaruhi perkembangan moral adalah agama. Kohlberg (1995) menyatakan bahwasanya perkembangan moral itu merupakan produk, pertama- tama dari keluarga dan yang kedua dari agama. Secara formal agama sering dihubungkan atau bahkan dianggap sama dengan spiritualitas, disebutkan bahwa agama adalah perwujudan dari spiritualitas manusia (Bustomi, 2007). Spiritualitas sendiri adalah kepercayaan akan adanya kekuatan nonfisik yang lebih besar daripada kekuatan diri, suatu kesadaran yang menghubungkan manusia langsung dengan Tuhan. Spiritualitas sebagai dasar bagi tumbuhnya harga diri, nilai-nilai, moral dan rasa memiliki serta memberi arah dan arti pada kehidupan (Doe, 1998).

Melihat peran orang tua dan agama yang cukup besar, maka orang tua memiliki tanggung jawab untuk memilih metode pengasuhan yang dapat menjawab tantangan keluarga masa kini, yang kemudian memunculkan alternatif pilihan pola asuh, diantaranya yaitu pola pengasuhan spiritual, pola asuh yang memprioritaskan Tuhan dan ajaran Ilahiyah dalam kehidupan keluarga yang

disebut spiritual parenting. Nashori (2006) juga menyatakan bahwasanya gagasan tentang peran orangtua dalam meningkatkan spiritualitas termasuk konsep Tuhan pada diri anak diwadahi oleh konsep spiritual parenting. Gagasan umumnya adalah mengakrabkan konsep Tuhan kepada anak-anak sejak usia dini.

Pengasuhan dengan cara spiritual parenting mengajarkan bahwasanya setiap kejadian bisa dijadikan momentum yang baik untuk mendidik, dengan cara melibatkan anak berdiskusi dan berpikir dalam mempelajari segala kejadian. Hal ini akan mendorong anak untuk merefleksikan apa yang telah dikatakan atau diperbuatnya. Dengan terbiasa melibatkan anak berdiskusi, akan membantu anak untuk bisa berpikir pada tahapan yang lebih tinggi.

Manfaat spiritual parenting menurut Rachman (2002) antara lain bisa mengasah kepekaan dan keterhubungan manusia dengan Tuhan dalam pengertian universal. Manfaat lain adalah mendidik kepekaan kepada transendensi, nilai- nilai, moral, dan akhlak mulia. Dengan pola pengasuhan seperti ini diharapkan penurunan kualitas moral yang kerap terjadi pada anak zaman ini dapat dihindari. Anak diharapkan memiliki pertimbangan moral yang baik untuk dapat memilih mana yang benar dan salah, baik dan buruk.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pertimbangan moral pada anak dengan pola asuh spiritual parenting adalah merupakan apa yang diketahui dan dipikirkan seorang anak mengenai baik dan buruk atau benar dan salah, pada anak yang dididik dengan pola asuh spiritual parenting, yaitu pola asuh yang menempatkan Tuhan pada urutan tertinggi, dalam sikap dan perilaku, yang diterapkan oleh orang tua dalam berinteraksi dengan anak, meliputi cara

orang tua memberikan perhatian serta tanggapan atau aturan-aturan dan hukuman terhadap anaknya.

Dokumen terkait