• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Proses Ekstraks

TINJAUAN PUSTAKA

2.2 DAUN SIRSAK ( Annona muricata Linn )

2.4.2 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Proses Ekstraks

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ekstraksi, diantaranya: 1. Suhu

Kelarutan bahan yang diekstraksi dan difusivitas biasanya akan meningkan dengan meningkatnya suhu, sehingga diperoleh laju ekstraksi yang tinggi. Pada beberapa kasus, batas atas untuk suhu operasi ditentukan oleh beberapa faktor, salah satunya perlu menghindari reaksi samping yang tidak diinginkan [27]. 2. Ukuran partikel

Semakin kecil ukuran partikel, semakin besar luas bidang kontak antara padatan dan solven, serta semakin pendek jalur difusinya, yang menjadikan laju transfer massa semakin tinggi [27].

3. Faktor solven

Faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan pelarut adalah [28] : a) Jumlah fitokimia yang akan diambil

b) Tingkat ekstraksi

c) Keanekaragaman senyawa ekstrak yang berbeda d) Keanekaragaman senyawa ekstrak penghambat e) Kemudahan penanganan selanjutnya dari ekstrak f) Toksisitas pelarut dalam proses bioassay

Pilihan pelarut dipengaruhi oleh zat atau senyawa apa yang akan diambil atau diekstrak, karena produk akhir akan mengandung sisa pelarut, dimana pelarut tersebut harus tidak beracun dan tidak boleh mengganggu hasil tersebut [28]. 4. Variasi metode ekstraksi biasanya tergantung pada [29]:

a) Panjang periode ekstraksi, b) Pelarut yang digunakan, c) pH pelarut,

d) Suhu,

e) Ukuran partikel dari jaringan tanaman f) Rasio bahan baku/pelarut

2.5 ASETON (C3H6O)

Aseton adalah keton yang paling penting yang berupa cairan volatil (titik didih 56oC) dan mudah terbakar. Aseton adalah pelarut yang baik untuk senyawa organik banyak digunakan sebagai pelarut pernis, lak dan plastik. Aseton bercampur dengan air dalam segala perbandingan. Sifat ini digabungkan dengan volatilitasnya membuat aseton sering digunakan sebagai pengering alat – alat gelas laboratorium [12]. Struktur acetogenin akan berubah pada suhu di atas 60 oC [30]. Oleh karena itu dengan metoe sokletasi yang menggunakan media pemanas diperlukan pelarut yang memiliki titik didih dibawah suhu 60 oC. Salah satu syarat pelarut yang baik adalah selektivitas pelarut tersebut terhadap zat yang akan diekstrak. Sifat fisika kimia zat aktif acetogenin yaitu memiliki nilai log P sebesar 7,71 yang menunjukkan bahwa acetogenin bersifat non polar [31].

Kepolaran suatu senyawa dapat dilihat dari angka tetapan dielektrik . Konstanta dielektrikum semakin besar maka sifat kepolaran dari suatu zat tinggi begitu juga sebaliknya semakin kecil nilai konstanta dielektrikum suatu zat maka sifat kepolarannya semakin rendah . Berikut akan ditampilkan deret eluotropik menurut Stahl untuk setiap zat pada suhu 25 oC [31].

Tabel 2.3 Deret Eluotropik Pelarut [31]

Pelarut Tetapan Dielektrik Viskositas

n-heksan Heptana Siklo-heksana Karbon tetraklorida Benzen Klorofom Eter (Dietil eter) Etil Asetat Piridin Aseton Etanol Metanol Air 1,890 1,924 2,023 2,238 2,284 4,806 4,34 6,02+ 12,3+ 20,7+ 24,30+ 33,62+ 80,37+ 0,326 0,409 1,02 0,969 0,652 0,580 0,233 0,55 0,974 0,316+ 1,2 0,597 1,005

Peneliti terdahulu banyak menggunakan etanol dan metanol sebagai pelarut dalam ekstraksi senyawa acetogenin dari tanaman sirsak ini. Dapat dilihat dari tabel di atas bahwa nilai konstanta dielektrik aseton lebih kecil dibandingkan etanol maupun metanol sehingga dapat disimpulkan bahwa aseton merupakan pelarut yang kurang polar sehingga dapat dengan baik mengekstrak acetogenin dari sampel.

2.6 FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy)

FTIR merupakan teknik yang digunakan untuk menentukan jumlah senyawa atau molekul secara kualitatif dan kuantitatif baik organik maupun non organik pada sampel padat, cairan maupun gas. Meskipun relatif mahal tetapi dapat digunakan pada sampel yang berupa padatan dalam bentuk kristal, mikrokristal, amorf ataupun film. Sampel dianalisa dengan menggunakan skala mikro sampai kilometer dan permukaan preparasi yang terbaru yang diperlukan untuk memberikan hasil yang tajam (curam) agar hasil dari uji dapat dilihat dengan baik dan tepat. Teknik IR yang digunakan dapat menentukan elemen elemen kecil seperti C dan H [32].

Gambar 2.4 FTIR Shimadzu [34]

IR adalah salah satu teknik analisa yang sangat penting dalam dunia sains saat ini, karena kelebihannya dapat digunakan untuk jenis sampel apapun baik cairan maupun padatan [33]. Tipe FTIR yang digunakan adalah Shimadzu dengan optik yang sederhana namun dapat memberikan informasi gugus ataupun senyawa yang rumit sekalipun dengan akurasi panjang gelombang yang tinggi. Analisa dengan menggunakan Shimadzu sampel tidak perlu dipreparasi terlebih dahulu . Prinsip kerja dari FTIR Shimadzu adalah dimana sampel dikontak dengan sebuah prisma untuk memberikan biasan terhadap material, yang di transmisi melalui sinar inframerah, sinar inframerah yang terbentuk dari sudut sampel yang lebih besar daripada sudut kritis ( yang menginduksi refleksi total). Lampu yang benar-benar tercermin oleh antarmuka antara sampel dan prisma diukur untuk mendapatkan spektrum inframerah [34].

Beberapa keuntungan utama dari FT-IR selama teknik dispersif meliputi [35]: a) Kecepatan : Karena semua frekuensi diukur secara bersamaan, sebagian besar pengukuran oleh FT-IR dibuat dalam hitungan detik bukan beberapa menit, kadang-kadang disebut sebagai Felgett Advantage.

b) Sensitivitas : Sensitivitas secara dramatis ditingkatkan dengan FT-IR untuk banyak alasan. Detektor dipekerjakan jauh lebih sensitif, peletakan optik jauh lebih tinggi (disebut sebagai keuntungan Jacquinot) yang menghasilkan tingkat kebisingan yang jauh lebih rendah, dan scan cepat memungkinkan coaddition beberapa scan untuk mengurangi kebisingan pengukuran acak

c) Kesederhanaan teknik : Cermin bergerak di interferometer adalah satu- satunya bagian dalam instrumen yang bergerak secara kontinu, dengan demikian ada sedikit kemungkinan kerusakan mekanis.

d) Internal dikalibrasi : Instrumen ini menggunakan laser HeNe sebagai panjang gelombang internal yang kalibrasi standar (disebut sebagai keuntungan Connes). Instrumen ini adalah mengkalibrasi-diri dan tidak perlu dikalibrasi oleh pengguna.

Dengan demikian Fourier Transform Infrared (FT-IR) teknik yang telah memberikan kemudahan dalam menggunakan spektroskopi inframerah yang memungkinkan pengembangan terhadap banyak sampel, dan teknik baru yang dirancang untuk mengatasi masalah yang menantang dari teknologi lama. Hal ini telah membuat penggunaan analisis inframerah hampir tak terbatas [34].

Keberadaan suatu senyawa atau gugus dalam spektrum ditandai dengan bilangan gelombang tertentu sesuai dengan standar. Berikut akan ditampilkan beberapa panjang gelombang yang menandakan keberadaan acetogenin pada tabel 2.4 berikut :

Tabel 2.4 Daftar Panjang Gelombang Suatu Senyawa dan Gugus Fungsi [36] Range (cm-1) dan intensitas Grup dan Kelas

3420 – 3250 3100 – 2400 2990 – 2850 1870 – 1830 1780 – 1760 1750 – 1730 1700 – 1510 1375 – 1275 1280 – 1150 740 – 720

- OH dalam alkohol dan fenol - OH dalam asam karboksilik

CH3 – CH2 alipatik C=O dalam  lakton C=O dalam  lakton C=O dalam  lakton C=O dalam lactam

THF (CH2def) C – O – C lakton CH2 dalam hidrokarbon

BAB I

PENDAHULUAN

Dokumen terkait