• Tidak ada hasil yang ditemukan

Risiko produksi yang terjadi dalam usaha peternakan kelinci dapat meyebabkan peternak mengalami fluktuasi produksi. Karena itu, pada penelitian ini dilakukan analisis risiko produksi dengan menggunakan model Generalized Autoregressive Conditional Heterocedasticity atau GARCH (1,1) yang sudah mengakomodasi pendugaan secara sekaligus untuk fungsi produksi rata-rata (mean production function) dan variance (variance production function).

Sebelum menggunakan model GARCH diperlukan pengujian metode analisis regresi untuk mengetahui bahwa data yang digunakan apakah mengadung masalah klasik seperti multikolinearitas, autokerelasi dan heteroskedastisitas. Berdasarkan Tabel 11. menunjukkan bahwa data yang digunakan tidak mengandung multikolinearitas karena dilihat dari nilai VIF < 10, hal ini berarti tidak terdapat hubungan linear diantara variabel independent. Jika terjadi pelanggaran multikolinear maka dilakukan penggabungan atau penghilangan variabel sampai tidak terdapat multikolinearitas. Hasil regresi dengan menggunakan Minitab14 tersebut dapat dilihat dalam Lampiran 4.

Tabel 11 Pengujian multikolinearitas antar variabel independent

Predictor Coef SE Coef T P VIF

Constant -1.897 1.377 -1.38 0.174 LNX1 0.79014 0.07594 10.41 0.000a 1.2 LNX2 0.3852 0.1761 2.19 0.033a 1.3 LNX3 0.12460 0.06236 2.00 0.051b 1.1 LNX4 -0.28508 0.077277 -3.86 0.000a 1.5 LNX5 0.1750 0.3089 0.57 0.573 1.4 LNX6 0.0278 0.1020 0.27 0.786 1.5 a

Signifikan pada taraf nyata 5%

b

Signifikan pada taraf nyata 10%

Setelah dilakukan uji variabel maka dilakukan uji lainnya untuk melihat persamaan yang dihasilkan mengandung heteroskedistisitas. Untuk melihat ada atau tidaknya heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan uji Heteroskedasticity Test: Breusch-Pagan-Godfrey, pada hasil tersebut probability Obs*R-squared > dari taraf nyata.

Selanjutnya setelah semua variabel tidak terdeteksi adanya multikolinearitas, maka dilanjutkan dengan pengujian pendugaan GARCH (1,1). Berdasarkan hasil pendugaan GARCH (1,1) yang dapat dilihat dalam Lampiran 5 menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 71.48 persen. Nilai koefisien determinasi tersebut memiliki arti bahwa sebesar 71.48 persen dari keragaman atau varians produksi dapat dijelaskan secara bersama-sama oleh model, sedangkan sisanya 28.52 persen dapat dijelaskan oleh komponen error atau fakor-faktor lain di luar model. Faktor-faktor tersebut seperti adanya ketidakpastian cuaca, gangguan hama dan penyakit. Dengan nilai R2 sebesar

71.48 persen artinya model tersebut sudah mampu menjelaskan pengaruh penggunaan input terhadap produksi dan pengaruh risiko produksi sebelumnya terhadap risiko produksi musim tertentu. Risiko produksi musim sebelumnya ditunjukkan oleh error kuadrat musim sebelumnya ( 2t-1) dan variance error

musim ( 2t-1). Sedangkan risiko produksi musim tertentu ditunjukkan oleh

variance error musim tertentu ( 2t). Selain itu, hasil pendugaan tersebut juga

menunjukkan bahwa data yang digunakan tidak mengandung autokorelasi, karena nilai statistik Durbin Watson terletak diantara 2 < DW < 4-du

Selain berdasarkan nilai koefisien determinan (R2), evaluasi model dugaan juga dilakukan uji signifikansi model dugaan dengan menggunakan uji F. Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah faktor-faktor produksi yang digunakan secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap produksi kelinci. Statistik Uji F menunjukkan bahwa nilai Prob (Fstatistic) sebesar 0.000000 yang lebih kecil dari taraf nyata α lima persen. Maka artinya model dugaan yang diperoleh secara statistik signifikan untuk memprediksi variabel dependent (Y) pada taraf nyata α, dengan kata lain semua faktor produksi yang digunakan dalam usaha ternak kelinci secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap produksi dan variance produksi kelinci pada taraf nyata lima persen.

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Ternak Kelinci Faktor-faktor produksi yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari enam variabel, yaitu indukan (X1), pakan hijauan (X2), pakan konsentrat (X3), obat-obatan (X4), tenaga kerja (X5), dan luas kandang (X6). Analisis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kelinci dapat dijelaskan berdasarkan hasil pendugaan persamaan fungsi produksi rata-rata (mean production function). Hasil pendugaan tersebut dapat dilihat dalam Tabel 12.

Tabel 12 Hasil pendugaan persamaan fungsi produksi rata-rata ternak kelinci di Desa Gunung Mulya tahun 2013

Variabel Koefisien Std. Error z-Statistik Peluang

C -1.749566 0.790171 -2.214161 0.0268a Indukan (X1) 0.809979 0.038440 21.51447 0.0000a Pakan hijauan (X2) 0.396848 0.037631 3.315537 0.0009a Pakan konsentrat (X3) 0.140397 0.050712 2.768518 0.0056a Obat-obatan (X4) -0.266816 0.051076 -5.223947 0.0000a Tenaga kerja (X5) 0.076093 0.223670 0.340202 0.7337 Luas kandang (X6) 0.022858 0.072071 0.317152 0.7511 a

Signifikan pada taraf nyata 5%

Tabel 12 menunjukkan bahwa masing-masing faktor produksi memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap produksi kelinci. pengaruh tersebut dapat dilihat berdasarkan peluang dan tanda parameter koefesien hasil pendugaan persamaan fungsi produksi.

Indukan (X1)

Hasil pendugaan parameter persamaan fungsi produksi rata-rata menunjukkan bahwa variabel indukan memiliki tanda positif, hal ini menandakan bahwa sesuai dengan hipotesa, semakin banyak indukan yang digunakan dan dimiliki oleh peternak maka produksi kelinci akan semakin meningkat. Nilai koefesien parameter penggunaan indukan bernilai positif sebesar 0.809979, artinya jika terjadi penambahan indukan sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi anakan kelinci sebesar 0.809979 persen dengan asumsi semua variabel lain tetap (cateris paribus). Berdasarkan nilai peluangnya variabel indukan mempunyai nilai peluang sebesar 0.0000. Nilai peluang tersebut berada di bawah taraf nyata satu persen sehingga variabel indukan berpengaruh nyata terhadap produksi kelinci.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, proses perkawinan dapat dilakukan tiap pagi dan malam dengan cara memasukan kelinci betina ke kandang pejantan. Setelah perkawinan dianggap berhasil kelinci betina dikembalikan lagi ke kandangnya hingga sampai melahirkan. Satu indukan kelinci yang masih dalam umur reproduksi (1-3 tahun) mampu menghasilkan anakan kelinci 6-8 ekor per kelahiran bahkan ada beberapa peternak responden yang pernah mengalami kelahiran sebanyak 10 ekor anakan dan tidak jarang juga dijumpai kelahiran yang kurang dari empat ekor anakan kelinci dikarenakan faktor umur indukan kelinci yang tidak muda lagi dan gizi induk yang kurang.

Umumnya peternak responden tidak mengetahui umur pasti indukan kelinci yang mereka miliki. Jika indukan kelinci sudah beberapa kali melahirkan di bawah empat ekor anakan berarti kelinci tersebut sudah tua dan nantinya akan dijual oleh peternak dan digantikan dengan indukan yang baru dengan cara pembesaran indukan sendiri atau membeli dari peternak lain. Sehingga jika semakin banyak peternak kelinci memiliki indukan betina maka produksi anakan kelinci yang akan dihasilkan pun akan semakin banyak.

Pakan Hijauan (X2)

Pakan hijauan merupakan pakan utama dari ternak kelinci. Variabel pakan hijauan memiliki nilai peluang di bawah taraf nyata satu persen, yaitu sebesar 0.0009. Hal ini menandakan bahwa pakan hijauan merupakan variabel yang berpengaruh nyata terhadap produksi kelinci. Jika dilihat dari nilai koefisien variabel pakan hijauan memiliki nilai positif dan bernilai 0.396848. Hal ini menunjukkan semakin banyak pakan hijauan yang digunakan maka produksi kelinci akan semakin meningkat, sehingga sesuai dengan hipotesa jika setiap penambahan pakan hijauan satu persen maka akan meningkatkan produktivitas kelinci sebesar 0.396848 persen (cateris paribus).

Pakan hijauan sebagai makanan pokok bagi kelinci lazim diberikan oleh peternak kelinci tradisional. Pakan hijauan dibutuhkan oleh kelinci karena mengandung serat. Pakan hijauan yang diberikan seperti rerumputan dan daun- daunan yang ada di lingkungan sekitar peternak. Rerumputan yang diberikan untuk kelinci berbeda dangan rerumputan yang diberikan kepada sapi dan kambing. Rerumputan yang baik bagi kelinci adalah rerumputan yang kecil dan halus sehingga tidak melukai mulut kelinci ketika sedang mengunyahnya. Dedaunan yang biasa diberikan oleh peternakan adalah daun-daun umbian. Pakan hijauan yang berupa rumput dan daunan sebelum diberikan kepada kelinci biasa

dilayukan dulu oleh para peternak untuk mengurangi kadar air yang terdapat pada pakan tersebut. Menurut Sarwono (2010), proses pelayuan selain untuk mempertinggi kadar serat kasar, juga dapat menghilangkan getah atau racun yang dapat menimbulkan kejang-kejang atau mencret.

Kelinci termasuk hewan yang aktif waktu malam hari sehingga pakan waktu malam diberikan lebih banyak. Malam hari, peternak memberikan pakan hijauan tersebut kepada kelinci. Peternak responden dalam memberikan pakan hijauan tidak pernah mengukur berapa jumlah yang diberikan kepada tiap ekor kelinci tetapi hanya dibagi rata saja sesuai dengan jumlah kelinci yang dimiliki. Umumnya satu ekor kelinci dapat memakan 8 ons-1.5 Kg pakan hijauan (Sarwono 2010). Kelinci dengan pakan dan gizi yang terpenuhi dengan baik akan meningkatkan tingkat reproduksinya.

Mengingat peternak menggunakan program intensif, maka kecukupan pakan hijauan sebagai pakan utama sangat dibutuhkan oleh kelinci. Jika tidak, maka kelinci akan kekurangan gizi dan air susu yang dihasilkan untuk anak- anaknya akan berkurang dan dapat menyebabkan keguguran. Karena pada program ini, induk kelinci dikawinkan kembali setelah melahirkan dan akan mengalami masa laktasi yang berat karena pada waktu yang bersamaan induk kelinci sedang bunting. Bahkan kelinci juga dapat mengalami stress jika pakan yang diasupnya tidak mencukupi kebutuhannya.

Pakan Konsentrat (X3)

Pakan konsentrat adalah bahan pakan dengan nutrisi tinggi. Konsentrat dalam peternakan kelinci berfungsi untuk meningkatkan nilai gizi pakan dan mempermudah penyediaan pakan. Dalam proses produksi ternak kelinci di lapangan, peternak responden menggunakan konsentrat sebagai makanan tambahan dan makanan pengganti di saat sulit mendapatkan hijauan yang baik ketika musim hujan.

Variabel pakan konsentrat memiliki tanda koefisien positif. Hal ini menandakan bahwa semakin banyak pakan konsentrat yang diberikan maka produksi kelinci akan semakin meningkat. Jika dilihat dari nilai koefisennya sebesar 0.140397, artinya setiap penambahan pemberian pakan konsentrat sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi kelinci sebesar 0.140397 persen (cateris paribus). Berdasarkan dengan nilai peluangnya, variabel pakan konsentrat memiliki nilai peluang sebesar 0.0056. Nilai peluang variabel pakan konsentrat di bawah satu persen, hal ini menandakan bahwa variabel pakan konsentrat berpengaruh nyata terhadap produksi kelinci.

Kebutuhan rata-rata pelet atau pakan konsentrat untuk kelinci dewasa dapat mencapai 100-140 gram per hari (Manshur 2009). Namun yang terjadi di lapangan adalah pepara peternak hanya baru mampu menyediakan setengah kebutuhan pakan konsentrat untuk kelinci selain itu, pemberian pakan konsentrat tidak dilakukan setiap hari sehingga kebutuhan nutrisi kelinci menjadi kurang. Peternak responden memberikan pakan konsentrat yang berbentuk pelet ini sesuai dengan kemampuan peternak sendiri karena harga pakan konsentrat yang dirasa belum cukup ekonomis bagi peternak.

Obat-obatan (X4)

Penyakit yang biasa menyerang kelinci adalah kudis (scabies), mencret, cacingan, pneumonia, dan kembung. Obat-obatan yang digunakan pada peternakan kelinci, yaitu Ivomec dan Biosan. Ivomec merupakan obat yang digunakan untuk mengobati penyakit kudis (Scabies) sedangkan Biosan adalah vitamin yang digunakan untuk meningkatkan kekebalan tubuh kelinci. Penyakit kudis atau scabies merupakan penyakit yang menyerang telinga terlebih dahulu kemudian hidung dan kaki kelinci. Penyakit ini sering meyerang kelinci saat musim hujan dan kandang dalam keadaan lembab. Penyakit ini dapat menyebabkan kelinci gelisah dan dapat membuat nafsu makan berkurang karena kelinci merasa sangat gatal. Dalam keadaan kandang yang lembab dan curah hujan yang tinggi, penyakit ini mudah menular kepada kelinci lainnya.

Untuk penyakit lainnya seperti mencret, kembung, dan pneumonia, peternak tidak dapat berbuat banyak karena kelinci memiliki daya tahan tubuh yang rendah sehingga ketika mengidap penyakit tersebut dalam waktu dua hari kelinci akan mati. Namun untuk langkah pencegahan, peternak memberikan vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh kelinci sehingga tidak cepat mati.

Berdasarkan pengamatan di lapang, pemberian dosis obat-obatan tidak berdasarkan berat badan kelinci, tetapi sebanyak 0.1 ml/ekor. Idealnya dosis pemberian obat-obatan berdasarkan bobot badan, yaitu 0.1 ml/kgBB. Selain itu, dalam penyimpanan obat dan alat suntik dinilai masih kurang steril, dikhawatirkan akan menimbulkan penyakit baru bagi kelinci. Sehingga hal ini dapat menjadikan variabel obat-obatan menjadi variabel yang dapat menurunkan produksi.

Berdasarkan hasil pendugaan fungsi produksi rata-rata variabel obat- obatan mempunyai nilai peluang sebesar 0.0000. Hal ini menunjukkan variabel obat-obatan berpengaruh nyata atau signifikan terhadap produksi kelinci karena berada di bawah taraf nyata satu persen. Selain itu, jika melihat nilai parameter dan besaran koefisien variabel obat-obatan memiliki nilai negatif sebesar 0.266816. Artinya jika terjadi penambahan obat-obatan sebesar satu persen maka produksi kelinci akan menurun sebesar -0.266816 persen (cateris paribus).

Tenaga Kerja (X5)

Variabel tenaga kerja mempunyai nilai parameter positif dalam persamaan fungsi produksi rata-rata, artinya jika semakin banyak tenaga kerja yang digunakan maka produksi akan semakin meningkat. Nilai koefisien parameter variabel tenaga kerja bernilai positif sebesar 0.076093, artinya jika terjadi penambahan tenaga kerja sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi sebesar 0.076093 persen dengan asumsi semua variabel lain tetap (cateris paribus). Namun, variabel tenaga kerja tidak berpengaruh nyata terhadap produksi karena berdasarkan hasil pendugaan persamaan fungsi produktivitas rata-rata menunjukkan bahwa variabel tenaga kerja mempunyai nilai peluang sebesar 0.7337.

Untuk tenaga kerja yang digunakan, umumnya peternak responden melakukan usaha ternak kelinci sendiri tanpa mendapatkan bantuan dari pekerja lain karena umumnya peternak masih dapat mengelola sendiri. Menurut Manshur, 2009, untuk skala ternak 50-150 ekor bahkan mungkin hingga 200 ekor masih bisa dikerjakan oleh satu orang secara full time, jika lebih di atas itu

membutuhkan tenaga kerja tambahan. Berdasarkan pengamatan di lapang, kegiatan yang membutuhkan tenaga kerja dalam proses produksi kelinci adalah dalam mengawinkan kelinci, membersihkan kandang kelinci, memberikan obat ketika kelinci sakit, mencarikan rumput, dan memberikan pakan. Umumnya peternak responden dalam bekerja tidak membutuhkan waktu yang lama. Tiap pagi peternak membutuhkan waktu untuk mengawinkan kelinci, memberikan makan pagi, dan mencari rumput hingga siang, baru pada sore harinya peternak kembali masuk ke kandang untuk menyiapkan makan malam kelinci. Karena itu, pada siang harinya peternak kelinci dapat mengerjakan pekerjaan lainnya.

Berdasarkan hasil tersebut di atas, semakin banyak waktu kerja yang digunakan maka akan meningkatkan produktsi kelinci. Hal ini sesuai dengan kondisi di lapangan bahwa peternak yang sering membersihkan kandang kelinci tiap hari produksi kelincinya lebih tinggi dibandingkan dengan peternak yang jarang membersihkan kandang. Hal ini terjadi karena dengan kandang yang kotor dapat menimbulkan banyak penyakit dan menjadi lingkungan yang tidak sehat bagi kelinci maupun peternak sehingga dapat menyebabkan produksi menurun. Luas Kandang (X6)

Peternak membudidayakan kelinci dalam kandang dengan beraneka ragam ukuran dan bentuk. Kandang-kandang kelinci umumnya berbentuk baterai, yaitu kandang yang tersusun bertingkat sehingga tidak membutuhkan lahan yang besar dalam membudidayakan kelinci. kandang kelinci yang baik adalah kandang yang memiliki sirkulasi udara yang baik, bersih, dan memiliki penampungan kotoran kelinci. Dengan sirkulasi yang baik, bau amoniak yang berasal dari kencing kelinci akan keluar dan tidak mengendap dalam kandang. Selain itu, kandang yang terjaga kebersihannya dari sisa pakan dan kotoran akan membuat kelinci sehat dan nyaman untuk ditinggali. Sebaliknya, jika kandang kotor, banyak sisa pakan dan kotoran akan dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi kelinci karena kelinci termasuk hewan dengan tingkat pencernaan yang rentan sehingga daya tahan tubuhnya lemah.

Berdasarkan hasil pendugaan fungsi produksi rata-rata, variabel luas kandang mempunyai nilai parameter positif, artinya jika semakin luas kandang yang digunakan maka produksi akan semakin meningkat. Nilai koefisien parameter variabel luas kandang bernilai positif sebesar 0.022858, artinya jika terjadi penambahan luasan kandang sebesar satu persen maka akan meningkatkan produksi sebesar 0.022858 persen dengan asumsi semua variabel lain tetap (cateris paribus). Namun, variabel luasan kandang tidak berpengaruh nyata terhadap produksi karena berdasarkan hasil pendugaan persamaan fungsi produktivitas rata-rata menunjukkan bahwa variabel luasan kandang mempunyai nilai peluang sebesar 0.7511. Dengan luasan kandang yang lebih besar berarti dapat menampung kelinci lebih banyak, sehingga diperlukan tenaga ekstra untuk menjaga kebersihan kandang.

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Variance Produksi Ternak Kelinci

Analisis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi variance produksi kelinci dapat dijelaskan berdasarkan hasil pendugaan persamaan fungsi variance produksi (variance production function). Hasil pendugaan persamaan fungsi variance dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13 menunjukkan masing-masing faktor produktivitas memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap variance produksi kelinci. pengaruh tersebut dapat dilihat berdasarkan tanda parameter koefisien pendugaan persamaan fungsi variance dan nilai peluangnya. Pengaruh dari masing-masing faktor produksi tersebut akan dijelaskan secara rinci, sebagai berikut:

Tabel 13 Hasil pendugaan persamaan fungsi variance produksi pada ternak kelinci di Desa Gunung Mulya, Kabupaten Bogor tahun 2013.

Variabel Koefisien Std. Error z-Statistik Peluang

Konstanta 0.133533 0.131977 1.011786 0.3116

Error kuadrat musim sebelumnya ( 2t-1)

0.050549 0.083580 0.604801 0.5453 Variance error musim

sebelumnya (σ2t-1) 0.174117 0.288213 0.640126 0.5458 Indukan (X1) -0.027948 0.009165 -3.049455 0.0023a Pakan hijauan (X2) 0.008631 0.019694 0.438273 0.6612 Pakan konsentrat (X3) -0.016330 0.011283 -1.447268 0.1478b Obat-obatan (X4) -0.011241 0.010656 -1.054882 0.2915 Tenaga kerja (X5) 0.004825 0.035142 0.137299 0.8908 Luas kandang (X7) -0.016315 0.01333 -1.223681 0.2211 a

Signifikan pada taraf nyata 5%

b

Signifikan pada taraf nyata 20%

Indukan (X1)

Berdasarkan hasil pendugaan persamaan fungsi variance produksi kelinci menunjukkan bahwa variabel indukan mempunyai tanda parameter negatif. Artinya dengan semakin banyak indukan yang digunakan dalam proses produksi maka varians produksi akan semakin menurun sehingga variabel indukan merupakan faktor yang dapat mengurangi risiko (risk reducing factors). Nilai koefisien parameter penggunaan indukan bernilai negatif sebesar -0.027948. Artinya jika terjadi penambahan indukan sebesar satu persen maka akan meningkatkan varians produktivitas anakan kelinci sebesar -0.027948 persen dengan asumsi semua variabel lain tetap (cateris paribus). Variabel indukan berpengaruh nyata terhadap varians produksi, dimana variabel indukan mempunyai nilai peluang sebesar 0.0023. Dengan demikian, variabel indukan menjadi faktor yang dapat mengurangi risiko produksi. Variabel indukan menjadi faktor yang dapat mengurangi risiko diduga karena banyaknya kelinci yang dimiliki oleh peternak dapat menghasilkan kemungkinan anakan lebih banyak.

Pakan Hijauan (X2)

Pada usaha ternak kelinci, semakin banyak penggunaan pakan hijauan maka varians produksi kelinci akan meningkat. Hal tersebut ditunjukkan dengan tanda parameter koefisien variabel pakan hijauan yang bertanda positif dan bernilai 0.008631. Arti dari nilai tersebut, yaitu jika terjadi penambahan pakan hijauan sebesar satu persen maka akan meningkatkan varians produksi kelinci sebesar 0.008631 persen (cateris paribus). Jika taraf nyata sebesar 20 persen, maka variabel pakan hijauan tidak berpengaruh nyata terhadap varians produksi kelinci karena nilai peluang variabel tersebut sebesar 0.6612.

Berdasarkan hasil persamaan pendugaan varians produksi tersebut, pakan hijauan merupakan faktor yang dapat menimbulkan risiko (risk inducing factors). Pakan hijauan merupakan pakan utama dari kelinci ternak. Pemberian pakan tersebut sudah mencukupi kebutuhan serat kelinci. Demikian dengan hasil pendugaan produksi rata-rata, bahwa semakin banyak pakan hijauan yang diberikan maka akan meningkatkan produksi. Adapun penduga yang dapat mengakibatkan variabel pakan hijauan tidak berpengaruh nyata terhadap varians produksi kelinci, yaitu karena pakan hijauan yang diberikan oleh peternak umumnya hanya diletakkan di lantai kandang sehingga sisa pakan hijauan yang tidak habis dimakan akan susah dibersihkan dan menjadi sampah yang menumpuk di dalam kandang. Sisa pakan hijauan yang menumpuk itu, dapat menjadi sumber penyakit karena kotoran kelinci pun juga akan tertahan oleh tumpukan sisa pakan tersebut. Karena itu, penting diperhatikan mengenai sanitasi atau kebersihan kandang.

Pakan Konsentrat (X3)

Pakan merupakan faktor produksi utama dalam proses produksi kelinci. Pada keadaan di lapangan peternak responden memberikan pakan konsentrat hanya sebagai pakan pengganti dan tambahan untuk menambah kebutuhan nutrisi induk kelinci. Berdasarkan hasil pendugaan persamaan fungsi varians produksi kelinci, penggunaan pakan konsentrat mempunyai tanda parameter negatif sehingga semakin banyak pakan konsentrat yang diberikan maka akan mengurangi varians produksi kelinci. Sementara itu, jika taraf nyata sebesar 20 persen, maka variabel pakan konsentrat berpengaruh secara nyata terhadap varians produksi karena nilai peluang dari variabel konsentrat sebesar 0.1478.

Jika dilihat berdasarkan hasil tersebut, maka variabel pakan konsentrat merupakan faktor yang menurunkan risiko (risk reducing factors). Pakan konsentrat diperlukan indukan kelinci untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Semakin banyak pakan yang bermutu baik dikonsumsi oleh induk kelinci maka produksi air susu induk kelinci pun juga akan banyak sehingga anak kelinci tidak akan mengalami kematian karena kekurangan air susu induk kelinci. Karena itu, perlu diperhatikan dalam hal pemberian takaran pakan konsentrat untuk induk kelinci. Kebutuhan pakan konsentrat 100-140 gr per ekor per hari.

Obat-obatan (X4)

Variabel obat-obatan yang terdiri dari Ivomec dan Biosan, berdasarkan hasil persamaan pendugaan varians produksi kelinci, variabel obat-obatan mempunyai tanda parameter negatif. Hal ini menunjukkan bahwa variabel tersebut merupakan faktor yang dapat mengurangi risiko (risk reducing factors),

namun jika dilihat dari nilai peluangnya, variabel obat-obatan tidak secara nyata dapat mengurangi risiko karena taraf nyata variabel tersebut di atas taraf nyata 20 persen, yaitu hanya sebesar 0.2915.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, pendugaan variabel obat-obatan dapat menjadi faktor yang dapat mengurangi risiko karena dengan penggunaan obat-obatan dapat menyembuhkan dan meningkatkan kekebalan tubuh kelinci. namun, adapun faktor penduga variabel obatan-obatan tidak secara nyata berpengaruh terhadap varians karena penyimpanan botol obat dan alat suntik yang tidak steril. Penyimpanan alat suntik yang tidak steril dan dipakai berulang kali oleh peternak dapat menambah masalah kesehatan pada induk kelinci maupun anakan kelinci. Pemakaian alat suntik dianjurkan untuk sekali pemakaian. Karena itu, perlu diperhatikan dalam hal penyimpanan dan penggunaan obat dan alat suntiknya agar tidak terjadi masalah kesehatan yang lebih buruk yang dapat menyebabkan produksi kelinci akan menurun.

Tenaga Kerja (X5)

Tenaga kerja adalah faktor produksi yang pasti ada dalam setiap proses produksi. Dalam proses produksi kelinci, tidak banyak membutuhkan tenaga kerja, cukup satu orang saja, yaitu pemilik ternak dapat mengelola sendiri. Berdasarkan hasil pengujian persamaan pendugaan varians produksi kelinci, variabel tenaga kerja merupakan faktor yang dapat menimbulkan risiko (risk inducing factors). Hal ini dapat dilihat dari nilai parameter yang bertanda positif.

Dokumen terkait