BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Stres
2.1.6. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Stres Kerja
1) Tipe kepribadian.
Menurut Andrew Goliszek (2005), dalam buku manajemen stres terdapat tiga tipe kepribadian yaitu kepribadian tipe A, tipe B dan tipe AB. Kepribadian tipe AB merupakan kebanyakan orang yang memiliki sebagian tipe A dan sebagian tipe B. Sebagian karena mengetahui cara berelaksasi serta tidak terlalu agresif dan kompetitif.
Kepribadian tipe A rentan (vulnerable) yang disebut A Type Personality
dengan pola perilaku Type A Behavior Pattern. Individu dengan tipe ini memiliki resiko tinggi mengalami stres, dengan ciri-ciri kepribadian sebagai berikut :
a. Cita-citanya tinggi (ambisius). b. Suka menyerang (agresif)
c. Suka bersaing (kompetitif) yang kurang sehat. d. Banyak jabatan rangkap.
e. Emosional, yang ditandai dengan mudah marah, mudah tersinggung, mudah mengalami ketegangan, dan kurang sabar.
f. Terlalu percaya diri (over confident) g. Self control kuat.
h. Terlalu waspada.
i. Tindakan dan cara bicaranya cepat dan tidak dapat diam (hiperaktif). j. Cakap dalam berorganesasi (organisatoris).
k. Cakap dalam memimpin (leader).
l. Tipe kepemimpinan otoriter.
m. Bekerja tidak mengenal waktu (workaholic). n. Bila menghadapi tantangan senang bekerja sendiri. o. Disiplin waktu yang ketat.
p. Kurang rileks dan serba terburu-buru. q. Kurang atau tidak ramah.
s. Mudah empati, tetapi mudah bersikap bermusuhan. t. Sulit dipengaruhi.
u. Sifatnya kaku (tidak fleksibel).
v. Pikiran tercurah ke pekerjaan walaupun sedang libur. w. Berusaha keras agar segala sesuatunya terkendali.
Kepribadian tipe B yang kebal (immune) yang di sebut B Type Personality
dengan pola perilaku type B Behavior Pattern. Individu dengan tipe ini kebal terhadap stres, yang ciri-ciri kepribadiannya sebagai berikut :
a. Cita-cita atau ambisinya wajar. b. Berkompetisi secara sehat. c. Tidak agresif.
d. Tidak memaksakan diri.
e. Emosi terkendali, yang ditandai dengan tidak mudah marah, tidak mudah tersinggung, penyabar, dan tenang.
f. Kewaspadaan wajar. g. Self control wajar. h. Self confident wajar. i. Cara bicara tenang.
j. Cara bertindak tenang dan dilakukan pada saat yang tepat. k. Ada keseimbangan waktu bekerja dan istirahat.
l. Sikap dalam memimpin maupun berorganisasi akomodatif dan manusiawi. m. Mudah bekerja sama (kooperatif).
o. Bersikap ramah. p. Mudah bergaul.
q. Dapat menimbulkan empati untuk mencapai kebersamaan (mutual benefit).
r. Bersikap fleksibel, akomodatif, dan tidak merasa dirinya paling benar. s. Dapat melepaskan masalah pekerjaan ataupun kehidupan di saat libur. t. Mampu menahan dan mengendalikan diri.
Kepribadian tipe AB seperti kebanyakan orang mempunyai sebagian karakteristik tipe A dan sebagian lagi tipe B. Hal ini dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman sehingga meningkatkan dirinya dalam upaya berelaksasi. Kepribadian tipe AB mempunyai perilaku yang baik karena hal itu memungkinkan seseorang untuk mencapai sasaran, termotivasi dan produktif. Selain itu seseorang dapat melakukan apapun yang dilakukan orang dengan tipe A tanpa harus merasa bermusuhan, agresif, tidak sabar atau merasa terancam. (Andrew Goliszek, 2005). Kepribadian tipe AB dapat mencapai setiap yang diinginkan sekaligus mempertahankan ketenangan diri dan bersikap rileks adalah sesuatu hal yang dapat kita pelajari.
2) Kondisi kerja
1. Menurut Cooper (1983) sumber stres antara lain :
a. Lingkungan kerja : Kondisi kerja yang buruk berpotensi menyebabkan pekerja mudah sakit, mengalami stres, dan menurunkan produktivitas
kerja. Lingkungan yang kurang nyaman, misalnya panas, berisik, sirkulasi udara kurang, membuat peker muda menderita stres.
b. Overload : Overload dapat dibedakan menjadi kuantitatif dan kualitatif. Dikatakan overload secara kuantitatif, bila target kerja melebihi kemampuan pekerja yang bersangkutan, akibatnya mudah lelah dan berada dalam keteganggan tinggi. Overload kualitatif, bila pekerja memiliki tingkat kesulitan atau kerumitan yang tinggi.
c. Deprivational stres : Istilah deprivational stres diperkenalkan oleh George Every dan Daniel Girdano (1980), yaitu pekerjaan yang tidak lagi menantang atau menarik begi pekerja. Akibatnya timbul berbagai keluhan seperti kebosanan, ketidakpuasan dan sebagainya.
d. Pekerjaan berisiko tinggi: Adalah pekerjaan yang beresiko tinggi dan berbahaya bagi keselamatan.
2. Charles, A dan Shanley F. (1997), dalam buku psikologi untuk perawat, menemukan lima sumber stres dalam keperawatan, antara lain :
a. Beban kerja berlebihan, misalnya merawat terlalu banyak pasien,
mengalami kesulitan dalam mempertahankan standar yang tinggi, merasa tidak mampu memberi dukungan yang dibutuhkan teman sekerja, dan menghadapi keterbatasan tenaga.
b. Kesulitan menjalin hubungan dengan staf lain, misalnya mengalami konflik dengan teman sejawat, mengetahui orang lain tidak menghargai sumbangsih yang dilakukan, dan gagal membentuk tim kerja dengan staf.
c. Kesulitan dalam merawat pasien kritis, misalnya kesulitan menjalankan peralatan yang belum dikenal, mengelola prosedur atau tindakan baru, dan bekerja dengan dokter yang menuntut jawaban dan tindakan cepat.
d. Berurusan dengan pengobatan/perawatan pasien, misalnya bekerja
dengan dokter yang tidam memahami kebutuhan sosial dan emosional pasien, terlibat dalam ketidak sepakatan pada program tidakan, merasa tidak pasti sejauh mana harus memberi informasi pada pasien atau keluarga, dan merawat pasien sulit atau tidak bekerjasama.
e. Merawat pasien yang gagal untuk membaik, misalnya pasien lansia, pasien yang nyeri kronis, dan pasien yang meninggal selama merawat. 3. Davis dan Newstrom dalam (Margiati, 1999), stres kerja disebabkan adanya
tugas yang terlalu banyak. Banyaknya tugas tidak selalu menjadi penyebab stres, akan menjadi sumber stres bila banyaknya tugas tidak sebanding dengan kemampuan baik fisik maupun keahlian dan waktu yang tersedia bagi pekerja. Setiap pekerja mempunyai kemampuan normal menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya. Kemampuan berkaitan dengan keahlian, pengalaman, dan waktu yang dimiliki. Dalam kondisi tertentu, terutama bagi perawat seringkali berhadapan dengan pekerjaan dengan waktu yang terbatas, akibatnya, perawat dikerja waktu untuk menyelesaikan tugas.
5. Lesley Towner (2002), menyatakan setiap orang dimanapun mereka berada dalam suatu organisasi, adalah suatu sumber stres bagi orang lain. Karena kita tidak bisa mengontrol sepenuhnya apa yang dilakukan orang lain, apa
yang mereka katakan, bagaimana mereka berperilaku, bagaimana mereka bereaksi. Kita semua bersifat individual, masing-masing bersifat uniq. Dan semua orang memiliki rentang kendali yang terbatas pada hidup kita.
6. Caron Grainger (1994), menyatakan bahwa menghadapi kematian dan pasien yang sekarat, bersikap baik pada orang yang mungkin tidak anda suakai, berbicara dengan kerabat yang menderita merupakan sumber stres kerja.