• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Pendapatan

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pendapatan

Modal adalah sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasinya perusahaan yang diharapkan dapat kembali lagi. Uang masuk yang berasal dari hasil penjualan produk akan dikeluarkan lagi untuk membiayai operasi

commit to user

produksi selanjutnya. Terdapat berbagai macam pengertian modal menurut para ahli. Menurut Irawan & M. Suparmoko, dalam Ekonomika Pembangunan (1992 : 75), modal adalah semua bentuk kekayaan yang dapat digunakan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam rangka untuk menaikkan tingkat produksi, atau modal adalah barang-barang yang dapat digunakan untuk berproduksi dimasa yang akan datang.

Jika dilihat dari neraca perusahaan, dapat dilihat modal dari bentuknya, yaitu modal aktif dan modal pasif jika dilihat dari sumbernya. Modal aktif kemudian dibagi lagi menjadi aktiva lancar dan aktiva tetap.

Jenis modal menurut sumbernya dibagi menjadi (Bambang Riyanto, 1994 : 171-172) :

a) Modal asing, yaitu modal yang berasal dari luar, yang bersifat sementara sehingga modal tersebut merupakan hutang dan pada saatnya harus dikembalikan.

b) Modal sendiri, yaitu modal yang berasal dari pemilik pribadi pengusaha dan tertanam pada usaha tertentu dan digunakan untuk waktu yang tidak tentu lamanya.

Modal yang diperoleh dari pihak asing akan mempunyai konsekuensi berupa pembayaran bunga pada tiap bulannya, sehingga dengan modal ini biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh pengusaha akan meningkat.

commit to user

Besar kecilnya modal yang digunakan akan sangat berpengaruh terhadap pendapatan yang diperoleh pengusaha. Semakin banyak modal, maka semakin banyak pula input yang dapat disediakan oleh pengusaha sehingga tingkat produksi dapat dinaikkan. Tingkat produksi yang lebih tinggi memungkinkan pendapatan yang akan diperoleh pengusaha menjadi lebih besar. b. Tingkat Pendidikan

Pendidikan dan latihan merupakan salah satu faktor yang penting dalam mengembangkan sumber daya manusisa. Pendidikan dan latihan tidak saja menambah pengetahuan, akan tetapi juga meningkatkan ketrampilan bekerja, dengan demikian akan meningkatkan produktifitas.

Asumsi dasar teori human capital adalah bahwa peningkatan pendapatan seseorang dapat diperoleh salah satunya melalui peningkatan pendidikan. Setiap tambahan satu tahun sekolah berarti meningkatkan kemampuan kerja dan tingkat penghasilan seseorang, namun hal tersebut berarti menunda penerimaan peghasilan selama satu tahun karena mengikuti sekolah (Payaman J. Simanjuntak, 1985 : 58-59).

Hubungan pendidikan dan produktivitas kerja dapat terlihat dari pendapatan yang lebih tinggi pula. Tentu perbedaan tingkat pendapatan juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti pengalaman usaha, keahlian, sektor usaha, jenis usaha, lokasi usaha, dan lain-

commit to user

lain. Namun setelah diamati dalam kondisi yang sama tingkat pendapatan berbeda menurut tingkat pendidikan (Payaman J. Simanjuntak, 1985 : 66).

c. Jumlah Tenaga Kerja

Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang sangat dominan dalam kegiatan produksi, karena faktor produksi inilah yang mengkombinasikan berbagai faktor produksi yang lain guna menghasilkan suatu output. Kualitas SDM (sumber daya manusia) yang baik juga sangat diperlukan demi berlangsungnya kegiatan produksi dan mendapatkan keuntungan yang besar. Seperti pada rumus yang telah dijelaskan sebelumnya dengan fungsi produksi :

π = TR (K,L) – TC (K,L)

Dimana terlihat bahwa L (labor) yaitu tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi penting dan sangat berpengaruh terhadap keuntungan.

Pengaturan jumlah tenaga kerja berpengaruh terhadap biaya yang dikeluarkan karena semakin banyak tenaga kerja berarti biaya yang dikeluarkan perusahaan semakin besar, maka otomatis hal ini akan mengurangi keuntungan yang didapat usaha handycraft

tersebut. Beberapa pengertian tenaga kerja adalah sebagai berikut : (1) Tenaga kerja adalah sejumlah penduduk yang dapat

menghasilkan barang dan jasa, jika ada permintaan tenaga kerja dan mereka bersedia berpartisipasi dalam aktivitas

commit to user

tersebut. Tenaga kerja juga berarti penduduk usia kerja dalam arti sudah bekerja, sedang bekerja, mencari kerja, dan yang sedang melakukan kegiatan seperti sekolah, mengurus rumah tangga, dan kegiatan lainnya, namun sewaktu-waktu dapat berpartisipasai untuk bekerja jika dibutuhkan.

(2) Pengertian tenaga kerja menurut PBB adalah penduduk usia 15 tahun sampai 64 tahun yang telah menghasilkan pendapatan. (3) Pengertian tenaga kerja bagi penduduk Indonesia adalah

penduduk usia 10 tahun keatas, karena pada kenyataannya penduduk Indonesai yang berusia diatas 65 tahun masih ada yang bekerja. (Aris Ananta dkk, 1988 : 21).

Adapun tenaga yang benar-benar terlibat dalam kegiatan produksi dan yang sedang mencari pekerjaan disebut angkatan kerja. Definisi dari angkatan kerja adalah bagian dari tenaga kerja yang bekerja dan menganggur atau sedang mencari lowongan kerja (Payaman J. Simanjuntak, 1985 : 3).

Dari segi pengahasilan, tenaga kerja kerajinan digolongkan dalam (Mubyarto, 1985 : 178-179) :

(1) Tenaga kerajinan sukarela, berarti anggota keluarga yang tidak dibayar.

(2) Tenaga kerajinan yang mendapat uang jajan, biasanya juga anggota keluarga yang mendapat upah sekedar sebagai imbalan jasa sukarela.

commit to user

(3) Tenaga kerja kerajinan dengan upah borongan. Biasanya dikerjakan di rumah, merupakan tahapan kerajinan ataupun seluruh proses kerajinan utuh. Dapat pula dikerjakan di bengkel kerja, bila diperlukan kontrol kualitas yang tertentu, tau pengrajin tidak mempunyai alat.

(4) Tenaga kerja dngan upah harian minim.

(5) Tenaga kerja dengan upah minim dan mendapat uang lembur bila bekerja melebihi jam tertentu atau mengerjakan jumlah potongan tertentu.

(6) Tenaga kerja yang diberi upah dan diberi makan/minum. Faktor produksi tenaga kerja merupakan faktor produksi yang penting dan harus diperhitungkan dalam proses produksi dengan jumlah yang cukup, tidak hanya dalam hal jumlah namun juga dalam hal kualitas dan macam tenaga kerja yang memadai. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan disesuaikan dengan kebutuhan pada tingkat tertentu sehingga jumlahnya optimum (Soekartawi, 2003 : 27).

d. Orientasi Pasar

Orientasi pasar merupakan salah satu bagian dari pemasaran. Pemasaran adalah kegiatan yang memberikan arah kepada seluruh aktivitas bisnis/niaga yang meliputi bauran pemasaran di mana produk (barang, jasa, dan ide) yang dipasarkan merupakan perwujudan dari konsep yang telah mengalami proses pengembangan uji coba dan

commit to user

perlu pengetahuan mengenai jenis pasar yang akan dimasuki, termasuk di dalamnya karakteristiknya. Dengan demikian dapat diketahui arah yang jelas mengenai orientasi pasar dari produk yang dihasilkan. Adapun orientasi pasar yang dimaksud untuk produk

handycraft adalah pasar dalam negeri atau domestik dan pasar ekspor

atau luar negeri. Narver dan Slater (1990) mendefinisikan orientasi pasar sebagai budaya organisasi yang mengembangkan perilaku untuk selalu menciptakan superior value bagi pelanggan.

e. Keikutsertaan dalam Asosiasi

Keikutsertaan pengusaha dalam suatu perkumpulan, asosiasi, paguyuban atau sejenisnya dirasa sangat perlu guna membantu pengusaha dalam hal menyelesaikan permasalahan yang ada. Seringkali asosiasi pengusaha bertujuan untuk membantu para pengusaha yang kesulitan dalam bidang pemasaran, teknologi, dan peraturan pemerintah atau instansi terkait.

Manfaat yang dapat diperoleh dari suatu Asosiasi antara lain : (1) Penghubung anggota di daerah dengan pusat, baik yang

berhubungan dengan instansi Pemerintah atau swasta maupun Asosiasi organisasi serta himpunan lain.

(2) Membina dan memberdayakan potensi daerah dalam menggairahkan ekspor non migas, khususnya kerajinan di daerah masing-masing.

(3) Secara aktif terlibat langsung membantu mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh pengusaha dan pengrajin

commit to user

langsung di wilayah kerjanya, seperti : bahan baku, permodalan, pemasaran, pameran, dan lain-lain.

(4) Membina hubungan baik dengan instansi terkait.

(5) Meningkatkan kemampuan para pengusaha handycraft melalui berbagai kegiatan pengembangan teknik produksi dan manajemen berupa seminar, workshop, pelatihan-pelatihan, studi banding dan lain-lain.

(6) Bekerjasama dengan Lembaga Internasional berupa technical

assistance di bidang produksi, pameran internasional dan

informasi pasar.

Dokumen terkait