BAB 3 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3.3 Faktor-Faktor Yang menjadi kendala Dalam Penegakan Perda
melalui : Teguran Minimal 3 kali peneguran, Surat Peringatan, pendekatan secara persuasif, dan langah alternatif paling terakhir yaitu penyitaan barang jualan/dagangan atau penertiban secara paksa hingga pemberian sanksi pidana. Namun, demikian Polisi Pamong Praja Kota Makassar juga mengalami dilema antara penegakan Peraturan Daerah dan di satu sisi adalah faktor kemanusiaan dan hidup yang layak bagi para pedagang kaki lima ini. Berdasarkan hal tersebut Polisi Pamong Praja Kota Makassar sangat mengharapkan Kerjasama yang baik dari pedagang kaki lima itu sendiri yaitu saling mendukung antara satu sama lain khususnya kepada para pedagang kaki lima ini agar menempati lokasi berjualan yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Makassar.
3.3 Faktor-Faktor Yang menjadi kendala Dalam Penegakan Perda
perundang-undangan yang mengatur suatu perbuatan yang dimintai pertanggungjawaban hukum kepadanya.
Tabel 5
Sosilisasi Peraturan Daerah Nomor 10 tahun 1990
Pilihan Kategori Jawaban Frekuensi Presentase (%)
a. sangat sering 3 6
b. sering 5 10
c. kadang-kadang 15 30
d. tidak pernah 27 54
Jumlah 50 100
Sumber : Hasil Pengelahan Angket Februari 2017.
Berdasrkan data di atas 54% pedagang kaki lima di kota makassar khusnya di Kecamatan Ujung Pandang, Kecamatan Panakukang, Kecamatan Mariso dan Kecamatan Tamalate tidak pernah mendapatkan sosialisasi terkait Peraturan Daerah nomor 10 tahun 1990 Tentang Pembinaan Pedadang Kaki Lima di Kota Makassar, dan 46% pernah mendapatkan sosialisasi meskipun dengan frekuensi dan kategori jawaban yang berbeda.
Menurut Pagar Alam selaku Kepala Bidang Operasional Satuan Polisi Pamong Praja Kota Makassar, terkait masalah sosialisasi (rabu, tanggal 10 Mei 2017).
“Terkait masalah sosialisasi Peratutan Daerah tentang pembinaan pedagang kaki lima sosialisasi kami lakukan perkecamatan dengan mengundang para pedagang kaki lima perkecamatan tersebut dengan cara perwakilan sekitar 40 pedagang dikarenakan bangunan atau lokasi yang
dijadikan tempat sosialisasi tidak tidak memadai jika mengundang semua pedagang perkecamatan tersebut”.
Satuan Polisi Pamong Praja yang memberikan sosialisasi mengenai Peraturan daerah Nomor 10 tahun 1990 patut diberikan apresiasi meskipun dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya mengalami kendala karena kurangnya prasarana dalam hal ini tempat untuk melakukan sosialisasi secara langsung kurang memadai untuk menampung para pedagang kaki lima perkecamatan.
2. Perizinan
Penetapan perizinan sebagai salah satu instrumen hukum dari pemerintah yaitu untuk mengendalikan kehidupan masyarakat agar tidak menyimpang dari ketentuan hukum yang berlaku serta membatasi aktifitas masyarakat agar tidak merugikan orang lain.
Dengan demikian, perizinan lebih merupakan instrumen pencegahan atau berkarakter sebagai preventif instrumental.
Pasal 3 Peraturan Daerah Nomor 10 tahun 1990 Tentang Pembinaan Kaki Lima menegaskan bahwa “Setiap pedagang kaki lima yang berdagang/berusaha, harus mendapat izin dari Kepala Daerah.
Kemudian dalam Pasal 4 Ayat (3) bahwa “dalam rangka pembinaan setiap pedagang kaki lima harus terdaftar dan mendapatkan izin dari Kepala Daerah. Lebih lanjut dijelaskan bahwa untuk mendapatkan izin dari Kepala Daerah, pedagang kaki lima perlu memenuhi beberapa persyaratan Untuk mendapatkan izin berdagang/berusaha, pedagang
kaki lima harus memenuhi syarat sebagai pedagang kaki lima antara lain tidak mempunyai tempat usaha tetap, modal kecil-kecil dan terdaftar sebagai pedagang kaki lima yang dibuktikan dengan kartu pendaftaran.
Tabel 6
Pedagang Kaki Lima yang Memiliki izin
Pilihan Kategori Jawaban Frekuensi Presentase (%)
a. Kecamatan o 0
b. Kelurahan 31 62
c. Dinas Perizinan 0 0
d. tidak Punya 19 38
Jumlah 50 100
Sumber : Hasil Pengelahan Angket Februari 2017.
Berdasarkan data di atas 62% pedagangang kaki lima memiliki surat izin usaha yang dikeluarkan oleh Kelurahan dan 38%
pedagang kaki lima tidak memiliki surat izin usaha.
Menurut Edwar Supriawan selaku Kepala Bidang Penegakan Perundang-Undangan Daerah Satuan Polisi Pamong Praja Kota Makassar (senin, tanggal 20 Februari 2017).
“jadi keberadaan pedagang kaki lima yang ada di kota Makassar keberadaannya itu belum ada yang memiliki izin dalam menjalankan usahanya sebagaimana yang tertulis pada Perda Nomor 10 Tahun 1990, oleh karena itu pada tahun 2017 ini akan terealisasi adanya pemusatan pedagang kaki lima disetiap kecamatan. Dari pihak pemerintah kota telah mengintruksikan kepada pemerintah kecamatan untuk melakukan sosialisasi terkait masalah pegurusan izin tempat usaha untuk mendaftar dalam program pemusatan
pedagang kaki lima perkecamatan, jadi di tahun 2017 ini keberadaan pedagang kaki lima dapat tertata dengan baik.
Untuk saat ini belum ada pedagang kaki lima yang memiliki surat izin tenpat usaha karena bagaimana mungkin diberikan izin jika keberaannya tersebut melanggar aturan yang ada.
Jadi terkait masalah izin yang dikeluarkan oleh pihak kelurahan itu sifatnya hanya sementara dan dapat dikatakan hanya izin lisan saja yang dimana ketika sewaktu-waktu dibutuhkan atau diharuskan harus dibongkar maka harus dibongkar”.
Menurut Reskianto Muliana Hafid selaku Kepala Seksi Pelanggaran Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Makassar (rabu, tanggal 3 Mei 2017).
“surat yang dikeluakan oleh pihak pemerintah kelurahan adalah surat keterangan ijin usaha yang memiliki masa berlaku selama 1 tahun dan setelah itu pedagang kaki lima dapat meminta surat rekomendasi untuk mengurus surat izin tempat usaha di dinas penanaman modal dan perizinan terpadu satu pintu kota makassar”.
Keberadaan pedagang kaki lima yang ada di kota Makassar belum ada yang memiliki surat izin dalam menjalankan usahanya sebagaimana yang tertulis dalam Perda nomor 10 tahun 1990, izin yang selama ini yang dimiliki oleh pedagang kaki lima hanya berupa surat izin keterangan usaha yang dikeluarkan oleh pemerintah kelurahan yang memiliki jangka waktu selama satu tahun.
3. Koordinasi
Koordinasi Dengan Instansi Terkait adalah salah satu faktor penting dalam hal penegakan Perda nomor 10 tahun 1990 Kota Makassar, dimana diharapkan agar koordinasi antar isntansi terkait dpat berjalan secara baik dan secara harmonis. Dalam hal koordinasi
untuk program yang dikeluarkan oleh satuan polisi pamong praja Kota Makassar misalnya melakukan kerjasama dengan Pemerintah Kecamatan hal Penataan dan pembinaan Pedagang kaki lima di kota Makassar.
Menurut Pagar Alam selaku Kepala Bidang Operasional Satuan Polisi Pamong Praja Kota Makassar, terkait masalah sosialisasi (rabu, tanggal 10 Mei 2017).
“jadi masalah koordinasi tidak ada, selama ini menjadi wewenang kecamatan untuk mengurus wilayahnya sendiri, misalnya melakukan pembinaan pedagang kaki lima yang ada dikecamatannya, satuan polisi pamong praja di pusat tidak mengurus lagi pedagang kaki lima yang ada dikecamatan akan tetapi dapat meminta kepada kami jika akan melakukan penggusuran atau pembongkaran lapak yang dianggap sangat meresahkan, tetapi selama tahun ini belum ada permintaan kekami untuk melakukan penggusuran.
Menurut Edwar Supriawan selaku Kepala Bidang Penegakan Perundang-Undangan Daerah Satuan Polisi Pamong Praja Kota Makassar (senin, tanggal 20 Februari 2017).
“memang masalah koordinasi selama ini terkait masalah pengawasan terhadap pedagang kaki lima yang tersebar di sudut-sudut kota makassar masih kurang, ini dikarenakan masih terbatasnya sarana dan prasarana yang kami miliki belum memadai, namun berdasarkan intruksi oleh walikota kami di perioritaskan menertibkan para pedagang kaki lima yang berjualan di tempat ruang publik misalnya di tempat pariwisata anjungan pantai losari, nah ini telah terealisasi sudah cukup lama hingga saat ini, kami menugaskan beberapa anggota kami tempatkan untuk bertugas secara bergantian, terutama pada minggu pagi di jalan penghihur dari jam 6 pagi hingga jam 10”.
Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa masalah koordinasi dalam menegakkan Perda Nomor 10 Tahun 1990 belum berjalan dengan baik terutama pedagang kaki lima yang berjualan disudut-sudut kota makassar dikarenakan masih kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki Satuan Polisi Pamong Praja kota Makassar.
4. Kesadaran pedagang kaki lima
Pemerintah dan masyarakat merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Olehnya itu, ketika Pemerintah berkeinginan untuk melakukan pembinaan dan penataan seharusnya pedagang kaki lima ikut berkontribusi tetapi karena kurangnya kesadaran pedagang terhadap aturan yang mengikatnya dalam menjalankan usaha sehingga seringkali pedagang kaki lima bertolak belakang dengan pemerintah dan aturan.
Menurut Pagar Alam selaku Kepala Bidang Operasional Satuan Polisi Pamong Praja Kota Makassar, terkait masalah sosialisasi (rabu, tanggal 10 Mei 2017).
“sering kali kami memberikan sosialisasi kepada pedagang kaki lima dan melakukan peneguran namun seolah-olah mereka tidak mengindahkan terutama masalah kebersihan tempat berjualan mereka namun ada juga pegagang kaki lima yang kami lihat telah mengikuti dengan apa yang kami anjurkan misalnya menjanga kebersihan dan jangan berjualan diatas trotoar tetapi hanya berjalan beberapa minggu saja. Memang meskipun kami telah melakukan upaya untuk melakukan pembinaan namun kembali lagi kepada kesadaran pedagang kaki lima tersebut, inilah yang kami anggap sebagai hal utama sagat sulit untuk mengubah
pola fikir masyarakat yang berperofesi sebagai pedagang kaki lima, namun jika telah dianggap terlalu meresahkan kami tedak akan mentolelir lagi kami akan melakukan pembonggkaran dan penyitaan barang dagangannya”.
Kesadaran pedagang kaki lima akan hak dan kewajiban menjadi faktor utama dalam penegakan Perda Nomor 10 Tahun 1990, himbauan dan pembinaan yang dilakukan oleh pihak Satuan Polisi Pamong Praja tidak akan ada artinya jika tidak mendapat dukungan serta kerjasama yang baik dari pedagang kaki lima.
BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada Bab 3 yang menyajikan hasil peneltian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan:
1. Penerapan Sanksi pidana terhadap pelanggar Peraturan Daerah Nomor 10 tahun 1990, untuk saat ini belum ada yang diberikan sanksi berat (kurungan maupun denda) namun hanya sebatas pemberian sanksi administrasi berupa peringatan/ teguran dan penertiba saja.
2. Faktor-faktor yang menjadi kendala dalam penegakan Perda nomor 10 tahun 1990 yaitu sebagai berikut :1) Kurangnya sosialisasi Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 1990 Tentang Pembinaan Pedagang Kaki Lima, 2) koordinasi tidak berjalan dengan baik, 3) mudahnya menerbitkan izin dan 4) tingkat kesadaran hukum pedagang kaki lima yang masih rendah.