• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA A. Hirarki Hukum Islam

E. Karya-karya Isnawi

1. Faktor Hadlori ( Faktor Budaya)

Al-Quran alkarim adalah kitab bagi umat muslim dan panduan hukum mereka, dari Alqur’an dan Sunnah Nabawi hukum syariah diambil sebagai landasan yang mencakup kebaghagiaan mereka di dua alam dunia dan akhirat, Alqur’an adalah kalam Allah yang didalamnya tidak ada kebatilan baik dari sisi depan maupun dari sisi belakangnya, yang diturunkan pada hati utusan Allah yang bamat terpercaya., dengan bahasa Arab yang jelas. Alqur’an menjadi contuoh tertinggi dalam Fasohah Kefasihan dan Balaghohnya. Sebagai puncak

232 ’Ulumu al-lughoh al-‘Arabiyyah berjumlah 12 ilmu berdasarkan mukaddimah kitab ةيبرعلا ةغِّلل ةيساسلأا دعاوقلاkarangan Assayyid Ahmad Al-Hasyimi yaitu: nahwu, sharaf, ‘arudh, qowafi, matan al-lughoh, qardh, insya’, khott, bayan, ma’ani, muhadharah, isytiqaq. Assayyid Ahmad Hasyimi, al-Qowa’idu al-asasiyyah li al-lughoti al-‘arabiyyah. (Lebanon, Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, 2009) hal: 4

kalimat yang singkat dan padat dalam susunan dan setiap penjelasannya. Selama Alquran bersifat sebagai undang-undang bagi orang muslim serta sebagai pucak tertinggi atas sebuah kefasihan maka tidak heran jika umat Islam menganggapnya dengan anggapan khusus berupa kesucian, kecintaan dan kebanggaan. Begitu juga melihat bahasa Arab dengan bahasa yang suci, cinta dan kebanggaan. Karena bahasa Arab memiliki ikatan yang sangat kuat dengan Alquran sejak diturunkan. Karena bahasa arab adalah instrumen yang menghubungkan pada pemahaman hukum-hukumnya, megetahui pesona menarik dari penjelasannya.

Telah dijelaskan dalam Alquran didalam beberapa ayatnya bahwa dakwah Islam adalah dakwah kepada manusia secara kaafah keseluruhan. Tidak ada perbedaan antara orang Arab dan Ajam kecuali dengan Taqwa. Oleh karena itu orang-orang Arab berhijrah pergi dari daerahnya membuka dakwah ke negara-negara tetangganya untuk mengeluarkan manusia dari gelap dan sulitnya kehidupan dunia pada cerahnya kehidupan, dari agama yang lacur menjadi agama yang berkeadilan berasaskan Islam, dari era kegelapan menuju era terang benderang.

Implikasi dari dakwah Islam seperti ini telah membuat orang-orang Ajam berbondong-bondong masuk dalam agama Allah secara masif, hingga banyak dari golongan mereka menjalin persaudaraan dengan bangsa Arab melalui pernikahan, perdagangan dan menjadi tetangga mereka yang baik. selain beberapa faktor tersebut, kajian Alquran yang tidak membedakan bangsa Arab dan Ajam menjadi salah satu alasan utama bagi masyarakat diluar Arab untuk lebih concern dalam memahami, meneliti kajian dan isi dari Alquran sebagai kitab undang-undang bagi kelangsungan hidup umat Muslim secara kaffah. Kegiatan ini membuat sebagian dari mereka untuk mempelajari dan mendalami bahasa Arab sebagai intrument penting dalam memahami ayat-ayatnya.

Percampuran ras dan budaya antara masyarakat Arab dan Ajam secara langsung menjadi faktor utama munculnya Lahn dalam yang menyerap kedalam bahasa Arab sampai pada pemahaman Alquran itu sendiri, hal ini menimbulkan

ancaman yang bahaya pada ranah Fasohatul Qur’an kefasihan bahasa Alquran. Resiko ini ada dalam Lahn itu sendiri. Maka Lahn sudah ada dalam suara hati manusia, yaitu ketakutan atas kefasihan bahasa Alquran, kebenaran dalam penyampaiannya dan takut akan bahsa lisan Arab yang merupakan instrumen utama dalam memahami kitab Alquran. Lahn yang dimaksud disini adalah kesalahan dalam ucapan dan menyalahi kebiasaan bahasa bangsa Arab, yang dapat menghilangkan keindahan makna dan kharismanya. Hingga kadar keagungan bahsa akan hilang dari pemiliknya. Semua ini akan mengakibatkan pemahaman makna yang terbalik sepenuhnya hingga tidak sesuai dengan pembacaan yang benar dari qiro’ah yang baik dan bebas dari kesalahan.

Kemunculan awal dari Lahn ini sudah terjadi pada masa Rasulullah, diriwayatkan bahwa ada seorang sahabat yang melakukan Lahn dihadapan beliau, kemudian Rasulullah bersabda: berilah petunjuk kepada saudaramu karena ia telah tersesat.233 Kasus Lahn seperti ini terjadi beberapa kali dalam riwayat yang berdeda, hingga pada masa Sayyidina Umar bin Khottob Ra ketika berjalan menuju satu kaum yang tidak pandai dalam memanah, kemudian Umar menegur mereka, kaum tersebut menjawab :

kami adalah kaum yang terpelajar نيملعتم موق انا ( dengan bahsa yang salah menurut kaidah i’rob).

Lalu Umar berpaling dan marah : demi Allah kesalahan pada lisan kalian itu lebih besar daripada kesalahan pada lemparan panah kalian. Saya mendengar dari Rasulullah Saw bersabda :

هناسل نم حلصأ اٍرما الله محر Allah memberi kasih sayangnya kepada orang yang memperbaiki lisan “bahsanya”.

Riwayat kedua menceritakan seorang sekertaris dari sahabat Abu Musa Alasyari menulis surat untuk Sayyidina Umar Ra dengan grammar I’rob yang salah pada kalimat Abu yang harusnya dibaca Jer Abi, menjadi Rafa’ : وبأ نم

233 Marotibun Nahwiyyin hal 22.

ىسوم , kemudian Sayyidina Umar membalas surat Abu Musa disertai peringatan keras untuk sekertarisnya :

ةنس هٍطع رخأو اطوس كبتاك برضاف . دعب امأ ,كيلع ملاس Salam untukmu, Amma ba’du: pukullah sekertarismu satu pecutan dan akhirkanlah pemberian “gajinya” satu tahun. 234

Riwayat ketiga diceritakan pada masa Sayyidina Umar Ra bahwa seorang A’robi Arab pedalaman yang membacakan ayat Alqur’an dihadapan Umar. Kemudian seseorang membaca surat Al-Baro’ah :

هلوسرو نيكرشملا نم ٍيرب الله نإ Dengan membaca jer kalimat wa Rosuluh sehingga menyalahi arti yang sesungguhnya. Sayyidina Umar marah dan berkomentar : Jika kamu membacanya begitu ( dengan mengejerkan kalimat Rasulullah) maka Allah lepas diri dari Rasulullah. Dan jika Allah berlepas diri dari Rasulullah, itu termasuk kesalahan besar. Sungguh Allah dan Rasulnya lah yang lepas tanggung jawab dari orang-orang musrik. Kemudian Umar meyarankan agar tidak membaca Alqur’an kecuali ia harus mengerti dengan ilmu bahasa. Hingga akhirnya Umar dalam satu riwayat menyuruh Abu Aswad untuk menyusun ilmu Nahwu.

Hasan albasri pernah secara tidak sengaja mengucapkan kata-kata yang terdapat Lahn, beliau langsung beristighfar, kemudian beliau ditanya mengapa? Barang siapa telah salah dalam berbahasa Arab maka ia telah berdusra kepada orang Arab, dan siapa yang berdusta maka ia telah melakukan amalan yang buruk. Kemudian beliau membacakan ayat alqur’an

.اميحر اباوت الله دجب الله رفغتسي مث هسفن ملظي وأ اٍوس لمعي نم Artinya:Barangsiapa beramal buruk atau mendzalimi dirinya kemudian ia memintakan ampun kepada Allah, maka niscaya Allah maha penerima taubat dan belas kasihan. (QS: An-Nisa:110.)

Hasan basri sangat hati-hati dalam masalah ini, sehingga ia meyamakn hukum antara lahn dan dusta karena keduanya sama-sama amalan buruk yang

234 Morotibun Nahwwin 23

jika dilakukan sepatutnya untuk beristighfar. Ikatan ini sangat kuat karena menyatukan antara bahasa Arab dan Alquran. Menjaga bahasa Arab adalah menjaga Kefasihan Alquran, menjaga Alquran dituntut untuk menjaga bahasa Arab sebagai instrumen memahami hukum-hukum Alquran dan mengetahui rahasia-rahasia I’jasnya.

Sayyidina Umar Ra sangat menganjurkan masyarakatnya untuk mempelajari bahasa Arab dan memahami hukum-hukumya. Ia berkata:

يبرعلا اوملعت ةٍورملا يف ديزت و لوقعلا تبثت اهنإف ة

Pelajarilah ilmu-ilmu bahasa Arab karena ia dapat menguatkan akal dan menambah marwah, Sayyidina Umar Ra dalam satu riwayat memukul anak-anaknya karena melakkan Lahn dan tidak memukul mereka karena kesalahan.

Malik bin Anas berkata :

اهيلح مكتنسلأ اوعنمت لاف ناسللا يلح بارعلإا I’rob adalah penghias lisan maka janganlah larang lisan-lisan kalian dari penghiasnya.

Keterangan hadis Nabi dan ucapan sahabat hingga tabiin dan tabiit tabiin tersebut menyatakan dengan tegas seperti apa pengaruh Lahn terhadap bahasa, sehingga membuat orang merasa dihina. Selain itu sebagai bukti akan keutamaan i’rob, dan kesucian yang diliputi oleh bahasa Arab, yang tak lain menjadi bukti akan kesucian Alquran karim dan ketakutan akan fasohah-nya, karenanya sangat urgen untuk membuat satu kajian khusus dari ilmu baru yang sanggup merawat kefasihan bahasa ini, dan menjaga nas-nas Alquran dari bahaya lahn. Faktor ini juga para ahli dan pemilik ghiroh semangat yang tinggi meletakkan dasar-dasar awal atas ilmu baru, ilmu yang dengannya standar kefasihan bisa didapatkan saat terjadi penghianatan “kesalahan” yang bersifat naluri. Dangan ilmu ini juga para pelajar bahasa Arab dapat banyak mengambil faidah, ia adalah ilmu Nahwu. 2. Faktor Qaumi (Nasionalisme)

Berbeda dengan fokus faktor pertama dari munculnya ilmu nahwu adalah kebersamaan saling memilki antara orang Arab dan Ajam dalam satu asas Islam,

bahwa bahasa Arab Fasih adalah intsrumen memahami hukum-hukum Alquran, maka faktor kedua ini lebih concern kepada masyarakat Arab secara khusus.

Para penjaga kajian-kajian bahasa Arab dari meraka tidak lain adalah penjaga fanatismenya dari ancaman terbengkalai dan punahnya bahasa Arab. Dan para penjaga kebanggaan dari salah satu kebanggan masyarakatnya. Karena bahasa Arab adalah bahasa masyarakatnya, bahasa yang menggambarkan sebuah tujuan dan maksud-maksudnya.

Proses Ini adalah program pembentukan keahlian semenjak masa anak-anak, usia muda hingga menjadi spesialis sang ahli sampai masa tua dan mewujudkan impian mereka. Dalam menjaga bahasa Arab, tujuan utama mereka bukan hanya untuk sebuah kefasihan dan keindahan semata, bukan pula untuk disebut sebagai orang yang memiliki keindahan ucapan dan perasaan yang lembut, melainkan karena ia memang bahasanya, dan bahsa masyarakatnya. Maka harus ada perlawanan terhadap arus Lahn yang mewabah tersebar dan dikenal luas. Faktor inilah yang menjadi landasan pembentukan kaidah-kaidah dan batasan yang dapat mengontrol bahasa Arab. agar senantiasa berkilau indah dan murni. Ketika dua faktor budaya dan masyarakat menyatu maka sudah selazimnya untuk meletakkan rencana-rencana awal pada ilmu Nahwi Arobi.

BAB lV PEMBAHASAN

Dokumen terkait