• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Prestasi Belajar

2.2.1 Faktor Internal

Motivasi berasal dari kata move yang artinya “bergerak”. Motivasi adalah sesuatu yang menggerakkan atau mendorong seseorang atau kelompok orang, untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu (Irianto, 2005). Dalam proses belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik atau apa motif yang dimiliki siswa untuk berpikir dan memusatkan perhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan/menunjang belajar. Motif dapat ditanamkan kepada diri siswa dengan cara memberikan latihan- latihan/kebiasaan-kebiasaan yang kadang-kadang juga dipngaruhi oleh keadaan lingkungan. Dari uraian di atas jelaslah bahwa motif yang kuat sangat perlu di dalam belajar dan di dalam membentuk motif yang kuat tersebut dapat dilaksanakan dengan adanya latihan-latihan/kebiasaan- kebiasaan serta pengaruh lingkungan yang kuat (Slameto, 2013).

Motivasi dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu eksternal dan internal. Motivasi ekternal adalah motivasi yang berasal dari luar diri. Sedangkan, motivasi internal adalah motivasi dari dalam diri sendiri (Irianto, 2005). Menurut Habsari (2005), motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :

1. Motivasi intrinsik, yaitu bentuk dorongan belajar yang datangnya dari dalam diri seseorang dan tidak perlu rangsangan dari luar. Motivasi intrinsik umumnya terkait dengan adanya bakat dan faktor intelegensi dalam diri siswa. Anak yang berbakat dibidang matematika akan mempunyai dorongan yang tinggi untuk mempelajari ilmu ini tanpa perlu dimotivasi orang lain.meski dorongan ini berasal dari dalam diri anak tetapi setiap anak memiliki kualitas dorongan yang berbeda. Setiap anak dilahirkan dengan bakat dan intelegensi yang berbeda. 2. Motivasi ekstrinsik adalah dorongan belajar yang datangnya dari luar

diri seseorang. Misal, anak belajar dengan tekun karena hadiah yang dijanjikan orang tua. Motivasi ekstrinsik adalah bentuk dorongan belajar untuk prestasi yang diberikan oleh orang lain seperti semangat, pujian dan nasehat guru, orang tua, saudara dan orang yang dicintai. Siswa membutuhkan motivasi belajar yang tinggi dalam menghadapi setiap tugas sebagai pelajar. Motivasi belajar berpengaruh pada tingkat keberhasilan (Habsari, 2005). Berdasarkan penelitian Hamdu dan Lisa (2011) yang dilakukan di empat Sekolah Dasar dari SD Tarumanagara Kecamatan Tawang Tasikmalaya menunjukkan bahwa terdapat hubungan motivasi belajar dengan prestasi belajar. Uji hipotesis diperoleh besarnya

koefisien korelasi (r) yaitu sebesar 0,693 lebih besar dari 0,491 dengan taraf signifikan 1%. Besarnya korelasi ini berada pada rentang 0,600-0,800 dengan tingkat hubungan yang tinggi. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi siswa adalah motivasi. Dengan adanya motivasi, siswa akan belajar lebih keras, ulet, tekun, dan memiliki konsentrasi penuh dalam proses pembelajaran. Dorongan motivasi dalam belajar merupakan salah satu hal yang perlu dibangkitkan dalam upaya pembelajaran di sekolah.

2.2.1.2 Kesiapan

Kesiapan fisik dan mental penting untuk belajar. Kesiapan fisik dihubungkan dengan tingkat perkembangan dan status kesehatan fisik, sedangkan kesiapan mental mengacu pada kemampuan kognitif untuk memahami, mengasimilasi, dan menerapkan (Yuningsih dan Yasmin, 2009). Persiapan mental berkaitan dengan sikap psikis dan emosi. Mental siswa yang terganggu seperti pertentangan yang dialami dalam diri, situasi kekecewaan, frustasi, kesedihan yang dirasakan akan berdampak buruk terhadap hasil belajar siswa (Krishnawati dan Yeni, 2010).Menurut Slameto (2013), kesiapan fisik dan mental perlu diperhatikan dalam proses belajar karena jika siswa sudah memiliki kesiapan maka hasil belajarnya akan lebih baik.

Kesiapan mental yakni bagaimana pandangan siswa terhadap mata pelajaran juga mempengaruhi dirinya dalam menerima materi pelajaran tersebut. Pandangan tersebut dapat diperoleh siswa melalui orang tua, guru,

ataupun lingkungannya. Bila orang tua sangat menekankan siswa untuk memperhatikan pelajaran matematika saja, maka akan membuat anak pada akhirnya mengabaikan dan menyepelekan (menganggap enteng) pelajaran lainnya (Sumiatin dkk, 2010). Menurut penelitian Darso (2010), dapat diketahui bahwa ada pengaruh antara kesiapan mental belajar siswa terhadap prestasi belajar. Kesimpulan dari penelitian tersebut yaitu koefisien untuk variabel kesiapan belajar siswa memiliki hubungan yang erat pada

taraf signifikansi α = 0,05.

2.2.1.3 Karakteristik Siswa

Karakteristik siswa yang akan dibahas dalam penelitian ini antara lain yaitu usia anak, jenis kelamin, dan uang saku. Berikut penjelasan dari masing-masing karakteristik tersebut.

a. Usia Anak

Ada dua pengertian mengenai usia yaitu usia kronologis dan usia biologis. Usia kronologis adalah usia menurut kalender, sedangkan usia biologis ditentukan oleh kondisi otak (IKAPI, 2008). Sesuai ketentuan badan kesehatan dunia (WHO), batasan usia anak sekolah adalah 6 sampai 12 tahun. Pada usia tersebut, anak sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang cukup penting. Effendy (1997), membagi anak usia sekolah menjadi tiga kelompok, yakni :

1. Pra remaja (usia 7-12 tahun) 2. Remaja (13-21 tahun) 3. Dewasa muda (19-21 tahun)

Berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan tersebut, pada usia tersebut anak sangat memerlukan kecukupan gizi (Muaris, 2010). Hal ini disebabkan di usia ini aktivitas anak semakin meningkat sehingga seringkali anak mengalami kurang gizi.

Salah satu penyebab kekurangan gizi pada anak adalah ketidakcukupan konsumsi makanan dan hal tersebut biasanya disebabkan oleh dua hal. Pertama, anak melupakan waktu makan selama di sekolah maupun setelah berada di rumah. Kedua, biasanya anak sekolah seringkali mengonsumsi makanan berupa jajanan yang secara gizi umumnya berkualitas rendah. Jika kondisi ini tidak segera ditanggulangi akan berdampak pada penurunan prestasi belajar anak (Nadesul, 2007).

Dalam hal belajar, anak usia sekolah adalah orang-orang yang tekun. Mereka berusaha keras untuk mengembangkan keterampilan mereka, baik di dalam maupun di luar kelas. Orang tua dapat membantu anak usia sekolah dengan memberi dukungan dan dorongan dalam tugas sekolah mereka. Lewat prestasi mereka, anak-anak usia sekolah mengembangkan rasa percaya diri yang sehat (Lighter, 1999).

Usia anak dapat mempengaruhi prestasi anak, dimana usia anak terutama usia 6-8 tahun masih dalam tahap pengenalan tentang proses belajar dan ia masih menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitarnya. Anak usia 6-8 tahun masih suka bermain, namun ia menghendaki prestasi yang baik. Pada usia ini anak biasanya lebih mengandalkan intelegensinya, dimana intelegensi juga mempengaruhi prestasi belajar. Usia anak sangat berperan dalam kematangan dan pembentukan intelegensi. Semakin

bertambahnya usia anak intelegensinya akan semakin matang (Maghfuroh, 2014).

b. Jenis kelamin

Jenis kelamin adalah istilah yang mengacu pada status biologis seseorang, terdiri dari tampilan fisik yang membedakan antara pria dan wanita, misalnya struktur genetik, (kromosom seks), hormon seks, organ kelamin interna dan genitalia eksterna (Henderson dan Kathleen, 2001). Secara fisik, laki-laki dan perempuan berbeda ini dapat dilihat dari identitas jenis kelamin, bentuk dan anatomi tubuh serta komposisi kimia dalam tubuh. Perbedaan anatomis biologis dan komposisi kimia dalam tubuh oleh sejumlah ilmuan dianggap berpengaruh pada perkembangan emosional dan kapasitas intelektual masing-masing (Ekawati dan Shinta, 2011).

Menurut Bastable (2002), mengemukakan bahwa anak perempuan memperoleh nilai rata-rata yang lebih tinggi dari anak laki-laki, terutama di tingkat sekolah dasar. Hal ini disebabkan karena kinerja skolastik anak perempuan lebih stabil, kurang berfluktuasi dibandingkan dengan kinerja anak laki-laki.

c. Uang saku

Orang tua yang memberikan uang saku pada anak biasanya bertujuan agar anak belajar bagaimana mengelola uang misalnya dengan menabung. Namun, seringkali anak menghabiskan uang sakunya dengan membeli jajanan makanan yang tinggi glukosa tetapi rendah nilai gizinya. Graha (2007) mengatakan bahwa kebiasaan mengonsumsi jajanan makanan seperti

permen dan makanan manis lainnya yang mengandung banyak glukosa buatan akan mengganggu konsentrasi anak dalam belajar.

Makanan jajanan siswa banyak mengandung bahan yang berbahaya yang dapat menganggu kesehatan. Seperti halnya yang dikatakan olehSutomo dkk (2010), makanan jajanan mengandung bahan kimia berbahaya seperti pewarna makanan untuk membuat warna makanan mencolok sehingga disukai siswa dan bahan pengawet. Selain itu menurut Utomo (2005), siswa yang senang jajan akan terancam kekurangan gizi karena komposisi zat gizi dalam makanan jajanan biasanya tak seimbang, atau malah tak bergizi sama sekali.

Berdasarkan penelitian Astuti (2012), dapat diketahui bahwa penggunaan uang saku berpengaruh positif baik secara simultan maupun parsial terhadap prestasi belajar. Umardami (2011) mengkategorikan tiga kategori uang saku anak sekolah antara lain rendah (< Rp 2.000), sedang ( Rp 2.000-Rp 5.000), dan tinggi (> Rp5.000).

2.2.1.4 IMT/U

IMT/U adalah salah satu indeks antropometri untuk menilai status gizi secara langsung pada anak usia 5-18 tahun. Kemenkes (2010) membagi IMT/U menjadi lima kategori, antara lain :

Tabel 2.1

Status Gizi Berdasarkan IMT/U

Kategori IMT/U Sangat kurus <-3 SD Kurus -3 SD s/d -2 SD Normal -2 SD s/d 1 SD Gemuk >1 SD s/d 2 SD Obesitas >2 SD

Terdapat dua jenis status gizi, yaitu gizi normal dan gizi salah (malnutrisi). Malnutrisi adalah keadaan klinis yang disebabkan oleh diet yang tidak tepat atau tidak mencukupi. Manutrisi merupakan kategori penyakit yang mencakup: kekurangan gizi (undernutrition), obesitas dan berat badan lebih (overweight), serta kekurangan nutrien mikro (micronutrients deficiency, yang dikenal juga dengan “hidden hunger”) (Ardika, 2014).

Siswa dengan SDM yang berkualitas dicirikan sebagai manusia yang cerdas, produktif dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas sekolahnya. Salah satu cara mewujudkannya adalah dengan memenuhi kebutuhan zat gizi agar status gizi siswa normal. Apabila siswa kekurangan gizi akan mengurangi kemampuan dan konsentrasi belajar siswa. Kekurangan zat gizi pada siswa akan berdampak pada aktifitas siswa di sekolah antara lain sluggishness (lesu), mudah letih/lelah, hambatan pertumbuhan, kurang gizi pada masa dewasa, dan penurunan prestasi di sekolah (Masdewi dkk, 2011).

Penelitian Sa’adah dkk (2014) yang dilakukan di Sekolah Dasar Negeri Guguk malintang Kota Padangpanjang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar. Pada uji analisis chi

square, didapatkan p = 0,020 (p < 0,05) untuk status gizi wasting dan p = 0,005 (p < 0,05) untuk status gizi stunting. Selain itu, penelitian Legi (2012) yang dilakukan di Sekolah Dasar Negeri Malalayang Kecamatan Malalayang Manado juga menunjukkan adanya hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar siswa dengan nilai p=0,00, nilai tersebut lebih kecil

dari α 0,05.

Status gizi yang baik dapat terjadi apabila siswa mengonsumsi makanan yang bergizi. Menurut Anwar (2008) dalam Legi (2012) mengatakan bahwa pengaruh makanan terhadap perkembangan otak, apabila makanan tidak cukup mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan dan keadaan ini berlangsung lama akan menyebabkan perubahan metabolisme dalam otak, akibatnya otak tidak mampu berfungsi normal. Pada keadaan yang lebih berat dan kronis, kekurangan gizi menyebabkan pertumbuhan badan terganggu sehingga badan lebih kecil dibandingkan dengan siswa yang normal. Jumlah sel dalam otak berkurang dan terjadi ketidakmatangan dan ketidaksempurnaan organisasi biokimia dalam otak. Keadaan ini berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan anak. Anak yang menderita kurang gizi mempunyai Intelligence Quotient (IQ) 11 point lebih rendah dibandingkan rata-rata anak yang tidak kurang gizi.

2.2.1.5 Intelegensi

Setiap manusia hidup mempunyai kemampuan intelegensi. Kemampuan intelegensi adalah kemampuan untuk berpikir secara kognitif yang mempengaruhi kemampuan seseorang menggunakan logika, misalnya kemampuan menghitung dan menggunakan teknologi. Setiap orang ketika

melakukan aktivitas selalu melibatkan intelegensi, walaupun proporsi penggunaan intelegensinya berbeda-beda antara satu pekerjaan dan pekerjaan lainnya (Hutapea dkk, 2008). Menurut Gardner (1993) dalam Nofrianto (2008), kriteria intelegensi meliputi suatu kemampuan seseorang, baik dalam unsur pengetahuan maupun keahlian yang menunjukkan kemahiran dan keterampilan untuk memecahkan persoalan dan kesulitan yang ditemukan dalam hidupnya.

Intelegensi atau tingkat kecerdasan dasar seseorang memang berpengaruh besar terhadap keberhasilan belajar seseorang. Seseorang yang mempunyai intelegensi jauh di bawah normal akan sulit diharapkan untuk mencapai prestasi yang tinggi dalam proses belajar. Namun, intelegensi bukan merupakan satu-satunya faktor penentu keberhasilan belajar seseorang. Intelegensi itu hanya merupakan salah satu faktor dari sekian banyak faktor sebab seseorang yang intelegensinya tinggi tidak akan bisa mencapai prestasi belajar yang baik jika tidak ditunjang faktor-faktor lain yang juga menentukan keberhasilan belajar seperti kemauan, kerajinan, waktu atau kesempatan, dan fasilitas belajar (Hakim, 2005).

Hal tersebut juga sejalan dengan pernyataan Slameto (2013) bahwa intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat intelegensi rendah. Walaupun demikian, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi belum pasti berhasil dalam belajarnya. Hal ini disebabkan karena belajar adalah suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor yang

mempengaruhinya, sedangkan intelegensi adalah satu faktor diantara faktor yang lain. Jika faktor lain itu bersifat menghambat/berpengaruh negatif terhadap belajar, akhirnya siswa gagal dalam belajarnya.Penelitian Budiarta dkk (2014) yang dilakukan di Desa Pengeragoan Kecamatan Perkutatan, hasil analisis diperoleh bahwa kecerdasan intelektual berkontribusi signifikan terhadap prestasi belajar yakni Fhitung=6537,38> Ftabel=4,03. Dari hasil analisis tersebut juga diperoleh bahwa kecerdasan intelektual berkontribusi sebesar 86,49% terhadap prestasi belajar.

Dokumen terkait