C. Hambatan-Hambatan dalam Proses Pendistribusian Zakat Fitrah di Desa
2. Faktor Internal
Pendistribusian Zakat Fitrah di Desa Paladang memerlukan data nama-nama Mustahik sebagai objek sasaran pendistruibusian Zakat Fitrah. Menurut Bapak Muh. Saleh Paseng selaku Amil Zakat bahwa tidak adanya data-data yang memadai membuat pendisribusian Zakat Fitrah tidak berjalan Efektif.47
Namun data yang diperoleh sebagai pegangan dari Amil Zakat selaku Penyelenggara Zakat Fitrah dari pengamatan/observasi menimbulkan beberapa permasalahan, salah satunya adalah Tidak meratanya pendistribusian Zakat Fitrah untuk menyentuh semua golongan yang memang layak menerima mamfaat Zakat Fitrah. Salah satu contoh adalah Ibu Halima yang termasuk golongan Fakir miskin, beliau sudah ditinggalkan suami sejak beberapa tahun lalu, dan kondisinya Ibu Halima juga sudah masuk kategori Lansia, namun belum pernah mendapatkan mamfaat dari Zakat Fitrah ketika menjelang akhir Ramadhan atau hari raya idul fitri.
Data yang diperoleh oleh amil juga tidak dicover atau dibarengi dengan data dari desa ataupun pihak terkait. Hal ini tentu menyulitkan amil dalam menyalurkan Zakat Fitrah. Di pemerintahan Desa Paladang memang belum mengatur mengenai nama-nama penerima Zakat Fitrah secara rinci, karena beberapa data-data yang dicantumkan di Kantor Desa Paladang pada saat Peneliti melakukan kunjungan adalah data-data mengenai Kelompok-kelompok rentan dan juga data mengenai nama yang belum menerima Bansos dan yang telah menerima
47 Muh Saleh Paseng, Amil Zakat, Wawancara, Di Masjid Nurul Amal Marassi, Jumat 13 Agustus 2021
52
Bansos. Data kelompok Rentan ini mencakup lansia dan sudah dalam keadaan sudah tidak produktif lagi. Kriteria Mustahik salah satunya adalah para Lansia, namun tidak semua yang masuk ke dalam kelompok Rentan diatas bisa dikategorikan sebagai Golongan mustahik disebabkan masih ada dari mereka yang masuk di kelompok rentan namun masih tercukupi kebutuhannya dari skala ekonomi.
Adapun data lain yang dicantumkan oleh pemerintah Desa Paladang adalah data masyarakat yang telah menerima Bansos dan yang belum menerima Bansos.
Sementara data tersebut mencakup nama-nama penerima BLT Dana Desa, dan juga beberapa Bansos yang menjadi program Pemerintah apalagi ditengah dampak Pandemi Covid-19 yang memukul mundur beberapa sektor, salah satunya adalah sektor Perekonomian. Pendistribusian Zakat Fitrah sebagaimana yang ditaur di pasal 25 dan pasal 26 belum sejalan dengan pelaksanaann Zakat Fitrah di Desa Paladang. Syariat islam dan prinsip Pemerataan dan Keadilan masih menjadi salah satu tujuan yang belum tercapai. Data yang tertera di Desa adalah Data mengenai Warga Desa Paladang yang termasuk dalam kelompok rentan dan juga Data warga yang menerima Bantuan Sosial, sehingga menyulitkan untuk mencapai sasaran utama Zakat Fitrah.
b. Tidak ada Insentif terhadap para Amil Zakat
Salah satu yang menjadi kendala para Amil Zakat dalam pengelolaan Zakat adalah tidak ada insentif yang diterima oleh para Amil. Bapak Kasman memberikan keterangan bahwa selama ini belum ada insentif dari Pihak terkait untuk mendukung proses pengelolaan Zakat Fitrah khususnya Pendistribusian Zakat Fitrah yang memerlukan sokongan biaya operasional.48 Bantuan insentif memang sangat dibutuhkan para Amil dan beberapa komponen pemuka agama di Desa Paladang. Mulai dari pengumpulan sampai tahap pelaporan dilakukan tanpa adanya sokongan insentif, hal ini tentu menjadi kendala yang di alami oleh para Amil Zakat. Namun para Amil Zakat memberikan terobosan dengan memberikan
48 Kasman, Amil Zakat, Wawancara, Di Masjid Nurul Amal Marassi, Rabu 11 Agustus 2021
53
mamfaat Zakat Fitrah dalam bentuk beras dan uang tunai dalam jumlah yang lebih diatas ketimbang dengan mamfaat yang diterima oleh para mustahik.
Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk terima kasih atas partisipasinya dalam pengelolaan Zakat Fitrah. Perlu perhatian yang seriuss apabila pengelolaan Zakat utamanya Zakat Fitrah apabila ingin mencapai kemaslahatan umat. Sementara masalah pembiayaan ini telah diatur di Bab IV Undang-undang Nomor 23 tahun 2011 tentang pengelolaan Zakat pasal 30,31 dan 32. Hal ini juga dapat dikatakan bahwa belum terlaksananya secara optimal isi dari pasal-pasal tersebut.
Lebih jelas lagi di Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2014 Tentang pelaksanaan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat di pasal 67,68 dan 69 perihal pembiayaan. Pasal 67 ayat 1 dicantumkan bahwa biaya operasional dibebankan pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara yang berarti semua proses yang menyangkut oprasional masuk dalam kategori pembiayaan termasuk biaya insentif dari para Amil di Desa sebagai pengelola Zakat.
Mengenai ketentuan Hak Amil telah dicantumkan dalam Peraturan Badan Amil Zakat Nasional Nomor 03 Tahun 2014 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten/kota pada ketentuan umum pasal 1 ayat 7 bahwa hak Amil adalah bagian Zakat yang digunakan untuk operasioanl BAZNAS dalam rangka menjalan tugas dan fungsi pengelolaan Zakat yang besarannya sesuai dengan ketentuan Syariah dan peraturan perundang-undangan.49
c. Kurangnya sosialiasi mengenai Teknis Pelaksanaan Zakat Fitrah
Teknis pelaksanaan merupakan hal mendasar yang sifatnya urgent untuk dilaksanakan, apalagi pengelolaan Zakat yang ada adalah memegang asas kemamfaatan sangat perlu adanya sosialiasi mengenai teknisnya. Di Paladang selama ini teknis pelaksanaan pengelolaan Zakat Fitrah sudah mengikuti alur namun lebih condong menggunakan alur pelaksanaan yang telah ada dan
49 Republik Indonesia,”Peraturan Badan Amil Zakat Nasional Nomor 03 Tahun 2014 Tentang Organisasi dan Tata Kerja BAZNAS Provinsi dan Kabupaten kota.
54
dilaksnakana secara turun temurun. Misalnya pembacaan Doa secara bersama-sama sebelum Zakat Fitrah di distribusikan kepada kaum Mustahik.
Cara menghimpun data calon mustahik, besaran jumlah yang didistribusikan yang sesuai dengan Undang-undang dan Tekhnik Pelaporan yang sampai saat ini belum ada sosialiasi yang sampai kepada para Amil dan panitia yang terlibat pengelolaan Zakat Fitrah di Desa Paladang, Kabupaten Enrekang. Sehingga beberapa alur diatas dilakukan dengan melakukan kesepakatan secara Internal dengan Amil, Tokoh agama dan para Imam Masjid. Hal ini justru mungkin bisa menimbulkan hal yang tidak sejalan dengan Undang-undang. Menurut bapak Kasman ada beberapa kebingungan yang muncul pada saat pelaksanaan Pendistribuan Zakat Fitrah. Terutama adalah Pelaporan yang sama sekali tidak ada sosialisasi mengenai cara membuat laporan dan juga blangko laporan yang tidak setiap tahun ada.50
Pelaksanaan Zakat Fitrah yang ingin dicapai adalah yang berpegang teguh pada asas yang disebutkan di pasal 2 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan Zakat. Sosialiasi yang belum menyentuh sampai kepada Amil di Desa-desa khususnya Desa Paladang seharusnya sudah dimasifkan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak Mustahik. Pelaksanaan Zakat yang terkelola dengan baik bukan hanya dapat meberdayakan masyarakat namun dapat menambah nilai ekonomi para mustahik yang bukan tidak mungkin bisa berevolusi menjadi Muzakki sebagai orang yang wajib zakat.51
d. Kurangnya Fasilitas Penunjang Pelaksanaan Zakat
Berdasarkan wawancara dengan bapak Muh Saleh Paseng sebagai salah satu Amil Zakat di Desa Paladang bahwa kurangnya Fasilitas yang diberikan oleh BAZNAS sebagai induk organisasi pengelolaan Zakat menimbulkan beberapa kendala, apalagi dalam teknis pelaksanaan pengumpulan sampai tahap pelaporan
50 Kasman, Amil Zakat, Wawancara, Di Masjid Nurul Amal Marassi, Rabu 11 Agustus 2021
51 Hendryanto, Hendryanto, Nur Taufiq Sanusi, and Musyifikah Ilyas. "PENDAYAGUNAAN ZAKAT PRODUKTIF DALAM PRESPEKTIF HUKUM ISLAM." Iqtishaduna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Ekonomi Syari'ah 2.3: 70-78.
55
yang membutuhkan beberapa fasilitas penunjang. Ada beberapa hal yang menurut narasumber dibutuhkan untuk kelangsungan pengelolaan Zakat Fitrah. Seperti kerangka pelaporan dan lembaran infaq yang dua tahun belakangan ini habis sementara masih ada beberapa Muzakki yang belum menerima lembaran sebagai bukti telah membayarkan infaq kepada Amil Zakat.
e. Belum ada Fasilitas Sarana dan Prasarana Jaringan
Hal mendasar juga yang menjadi faktor penghambat Pendistribusian Zakat Fitrah di Desa Paladang adalah belum ada sarana jaringan yang memungkinkan Amil dan Muzakki untuk berkomunikasi secara intens menjelang pelaksanaan Zakat Fitrah. Penyampaian mengenai waktu dan besaran Zakat Fitrah pun masih memamfaatkan Masjid sebagai sarana untuk melakukan pengumuman tentang kapan pembayaran Zakat Fitrah dilaksanakan. Pengumuman yang hanya dilakukan satu kali saja sebelum pelaksanaaan Zakat Fitrah tentu saja tidak efektif, karena tidak semua masyarakat bisa secara serentak mendengar pengumuman yang dilakukan oleh Amil.
Problematika yang dihadapi ini sudah terjadi sejak pertama kali Desa Paladang memisahkan diri dari Desa Pasang tahun 2007. Sejak tahun itu juga Desa Paladang sama sekali belum tersentuh baik jaringan seluler maupun jaringan Internet. Bukan hanya persoalan penyampaian yang menghambat, namun juga pendistribusian mamfaat Zakat Fitrah , komunikasi dengan mustahik juga tidak berjalan mengenai kapan Zakat Fitrah disalurkan ke kediaman masing-masing golongan Mustahik. Tahap pelaporan juga secara keseluruhan dilakukan secara manual karena belum ada fasilitas jaringan untuk melakukan pelaporan secara Daring. Masalah belum adanya sarana dan prasarana jaringan ini membuat beberapa masyarakat yang ingin mengeluarkan Zakat Fitrah tidak mengetahui bahwa dihari yang telah ditentukan pelaksanaan Pendistribusian Zakat Fitrah akan dilakukan menjelang hari raya idul fitri.
Apalagi dua tahun terakhir pelaksanaan Pendistribusian Zakat Fitrah tetap berjalan berdampingan dengan situasi Pandemi Covid-19 yang sangat berdampak ke semua sektor, khususnya Zakat. Informasi yang ada pun para Amil Tidak
56
mengetahui karena keterbatasan akses jaringan. Panduan-panduan mengenai Zakat Fitrah juga sulit untuk diakses oleh Amil Zakat di Desa Paladang, Kabupaten Enrekang.
f. Jumlah yang membayarkan Zakat Fitrah Dominan Beras dibandingkan Uang Tunai
Penyampaian awal sebelum pelaksanaan Zakat Fitrah adalah jenis dan ukuran benda dan uang tunai yang akan dibayarkan. Beras sebanyak 3,5 liter per orang dan apabila ingin dibayarkan dengan uang tunai adalah senilai Rp 35, 000. Setelah penghitungan dilakukan yang selalu dominan jumlahnya adalah beras dibandingkan jumlah uang tunai. Para Amil ingin menjadikan beras yang banyak ini menjadi uang tunai namun terkendala karena tidak ada agen ataupun pembeli yang ingin mengambil barang zakat dalam jumlah yang cukup besar.
Menurut bapak Muh Saleh Paseng sebagai salah satu Amil bahwa beras ingin mayoritas diuangkan karena kebutuhan akan uang tunai lebih besar mamfaatnya dibandingkan dengan beras, walaupun beras juga sebagai makanan pokok yang menjadi makanan sehari-hari warga di Desa Paladang, Kabupaten Enrekang.52
Yang menjadi pertimbangan lain adalah apabila jenis Zakat Fitrah didistribusikan dengan menggunakan uang tunai memudahkan para Amil Zakat dalam melakukan penyaluran sampai ke tangan Mustahik. Hal ini mengurangi resiko terjadinya ketimpangan-ketimpangan diantara para golongan Mustahik yang bukan tidak mungkin akan menimbulkan kecemburuan social di dalam kehidupan bermasyarakat. Uang tunai menurut bapak Muh Saleh Paseng akan memberi kebebasan kepada masing-masing Mustahik untuk melakukan pemenuhan kebutuhan sesuai dengan tingkat kebutuhan dan selera pada aspek pemenuhan ekonomi.
Namun tidak diatur secara detail di dalam ketentuan Undang-undang pengelolaan Zakat mengenai hal diatas, tentu saja akan menimbulkan kebingungan-kebingungan di kalangan Amil Zakat di Desa Paladang.
52 Muh Saleh Paseng, Amil Zakat, Wawancara, Di Masjid Nurul Amal Marassi, Jumat 13 Agustus 2021
57
g. Kesibukan masing-masing Muzakki yang berbeda-beda.
Desa paladang adalah desa dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Profesi yang berbeda-beda ini juga menjadi hambatan dalam pendistribusian Zakat Fitrah di Desa Paladang. Penyampaian informasi pada awalnya sudah ada ketetapan mengenai waktu pelaksanaan, besaran Zakat Fitrah dan beberapa hal yang sudah terkait dengan Zakat Fitrah.
Muzakki tidak semuanya bisa hadir bersamaan secara serentak di waktu yang telah ditentukan oleh Panitia sebelumnya.
Hal ini tentu menyulitkan Amil Zakat dalam menghimpun dan mengumpulkan benda Zakat. Efektifnya Pendistribusian Zakat Fitrah akan sangat bergantung pada proses pengumpulannya dan juga sasaran utama Zakat Fitrah yakni Mustahik. Alasan Karena kesibukan yang berbeda-beda tentu harus ditoleransi juga oleh Amil Zakat karena memang berdasarkan pengamatan bahwa kesibukan-kesibukan tersebut juga menjadi ladang penghasilan dan penghidupan bagi masyarakat di Desa Paladang. Menurut bapak kasman bahwa hal yang paling menghambat dalam proses pendistribusian Zakat Fitrah adalah pada saat musim panen raya tiba dan bertepatan dengan hari pengumpulan benda Zakat Fitrah, Amil sulit untuk melakukan pengumpulan muzakki di masjid-masjid akibat dari bertepatan dengan panen raya di Desa Paladang. Mata pancaharian mayoritas berladang dan bertani yang menuntut masyarakat di Desa Paladang untuk melakukan pemenuhan kebutuhan hasil dari pertanian yang sudah sejak dulu merupakan menjadi sumber penghidupan masyarakat dengan sistem pertanian tradisional yang telah mendarah daging.
Semua hambatan yang ada pada saat pendistribusian Zakat Fitrah tentu perlu diperhatikan agar kedepannya pengelolaannya bisa berjalan efektif dan berjalan sesuai dengan tujuan dan prinsip utama yang dipegang oleh substansi Hukum Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat. Yang buka lain dengan tujuan mencapai Kemaslahatan ummat dan keselarasan di kalangan mustahik.
h. Budaya masyarakat
58
Adat dan kebiasaan masyarakat yang masih menggunakan metode yang dari dulu digunakan selain memiliki nilai positif juga memiliki dampak terutama pengelolaan Zakat Fitrah. Masih ada sebagian masyarakat yang jumlahnya lumayan banyak membayarkan Zakat Fitrah selain dari Amil yang ada , sehingga membuat pengumpulan Zakat Fitrah secara Keseluruhan tidak optimal, hal ini tentu juga akan memunculkan dualisme dalam hal pengelolaan Zakat. Karena Zakat yang terintegrasi adalah Zakat yang mengikuti apa yang telah diatur sebelumnya baik di dalam Undang-undang maupun di dalam ketentuan Syariat Islam. Budaya masyarakat ini juga mempengaruhi potensi Zakat yang diterima oleh Panitia Zakat yang ada di Desa Paladang.
59 BAB V