• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Jenis Kelamin, Stadium Penyakit, Umur saat Diagnosis, Lama

BAB VI PEMBAHASAN

6.3 Faktor Jenis Kelamin, Stadium Penyakit, Umur saat Diagnosis, Lama

Pada penelitian ini dengan menggunakan uji korelasi Lambda didapatkan tidak ada perbedaan yang bermakna (p>0,05) antara penderita laki-laki dengan penderita wanita dengan kualitas hidup. Hasil yang sama juga didapatkan pada penelitian kualitas hidup penderita PP yang di lakukan Schrag dkk (2000) dengan metode cross sectional dari 202 pasien, tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara kedua jenis kelamin. Perbedaan jenis kelamin dalam persepsi sejahterah (well-being) dapat terjadi walaupun tidak pada semua dimensi pengukuran kualitas hidup. Keadaan ini lebih diakibatkan perbedaan jenis kelamin pada kejadian depresi (Scharg, 2001; Shulman, 2007).

Perbedaan terjadi pada kejadian depresi, wanita lebih sensitif terhadap kondisi yang menimbulkan tekanan, terutama yang berhubungan dengan anak, rumah dan status perkawinan (Afifi, 2007). Sedangkan menurut Schrag dkk (2001) depresi pada penderita PP lebih sering ditemukan pada wanita mungkin karena faktor risiko depresi pada wanita lebih besar. Jhonson (2007) perbedaan

laki-laki dan wanita adalah multidimensi akibat faktor anatomi, fisiologi, genetik dan regulasi hormon. Hal ini disebabkan karena efek estrogen pada dopamin pathway (miller dkk, 2010). Estrogen mempengaruhi banyak bagian otak. Berbagai laporan, dengan rentang dari penelitian molekular hingga studi klinis, menunjukkan potensi estrogen dalam memodulasi fungsi otak dan implikasinya pada depresi. Di hipotalamus, estrogen mempengaruhi kadar neurotransmiter yang mengatur suhu tubuh dan tidur. Perubahan neurotransmisi dopaminergik, kolinergik, GABAergik, glutamatergik, dan serotonergik melalui mekanisme yang diperantarai estrogen telah ditegakkan secara konstan ( Douma dkk, 2005 ).

Kemampuan estrogen untuk memodulasi fungsi serotonergik meningkatkan kemungkinan bahwa hormon ini berperan penting dalam mekanisme yang berhubungan dengan depresi dan terapinya. Hipotesis defisit serotonin masih menjadi teori biologis yang paling utama untuk etiologi depresi. Estrogen juga menstimulasi peningkatan signifikan pada kepadatan lokasi pengikatan 5-hydroxytryptamine 3A di korteks frontalis anterior, cinguli, dan olfaktori primer, dan pada nukleus accumbens, area-area otak yang berhubungan dengan kontrol mood, status mental, kognitif, emosi, dan perilaku.

Ini dapat membantu menjelaskan efikasi estrogen dan penyekat ambilan 5-hydroxytryptamine, seperti fluoxetine, dalam menurunkan gejala-gejala depresi dari sindrom premenstrusi. Estrogen dapat dikatakan sebagai psikoprotektan alami ( Douma dkk,2005 ). Estrogen dapat menurunkan kadar monoamine oxidase, suatu enzim yang memecah neurotransmitter seperti serotonin, dopamin, norepinefrin, dan opiat. Ketika kadar estrogen tinggi, lebih banyak dari

senyawa-senyawa kimia yang meningkatkan mood ini akan tersedia untuk bersirkulasi. Menurunnya kadar estrogen, rendahnya kadar neurotransmiter otak, seperti serotonin, sehingga dapat menginduksi depresi ( Douma dkk,2005 ).

Wanita yang telah mengalami menopause mengalami masalah antara lain merasakan pergeseran dan perubahan-perubahan fisik dan psikis yang mengakibatkan timbulnya suatu krisis dan gejala psikologis antara lain adalah depresi, murung, mudah tersinggung dan mudah jadi marah, mudah curiga, diliputi banyak kecemasan, insomia atau tidak bisa tidur karena sangat bingung dan gelisah yang akan mempengaruhi kualitas hidup pada wanita yang sudah memasuki masa menopause (Kasdu, 2004). Perubahan lain yang terjadi adalah penurunan densitas tulang dari wanita yang dihubungkan dengan jatuh dan fraktur yang akan mempengaruhi mobilitas yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas hidup (Hughes, 2001).

Candra (2006) menyatakan perbedaan tingkat kecemasan antara pria dan wanita terhadap aspek kehidupannya dimana wanita dikatakan memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Penelitian yang dilakukan Komoliti (2000) bahwa wanita PP yang mengalami menstruasi memperlihatkan perubahan siklus pada kemampuan motorik yang diukur dengan UPDRS namun perubahan ini tidak dihubungkan dengan level serum estrogen dan pada wanita menopause dengan PP fluktuasi estrogen tidak berhubungan langsung dengan fungsi motorik.

Desmita (2009) menyatakan integritas merupakan suatu keadaan dimana seseorang telah mencapai penyesuaian diri terhadap berbagai keberhasilan dan kegagalan dalam hidupnya. Dengan adanya penyesuaian diri terhadap berbagai

perubahan dalam aspek hidupnya, orang tua akan cenderung melakukan penerimaan terhadap keadaan dirinya. Penerimaan yang dilakukan orang tua akan berdampak pada kepuasaan terhadap dirinya, misalnya mengenai gambaran diri, harga diri, perasaan dan keadaan spiritual (Crain, 2007). Orang tua melakukan persembanyangan rutin dan beribadah bersama yang rutin, jenis kegiatan yang sama tersebut cenderung memberikan dampak yang sama pula terhadap kondisi psikologis.

Greenfield (2009) menunjukan bahwa tingkat persepsi spiritual yang lebih tinggi memiliki hubungan dengan kesejahteraan psikologis yang lebih baik. Penderita PP merasa hidupnya lebih berarti dan mereka lebih menikmati hidupnya karena mereka masih bisa berkumpul dengan pasangannya, keluarganya dan tetap menjadi bagian dari masyarakatnya. Disamping itu fungsi kognitif pada penderita PP masih baik sehingga memungkinkan dirinya tetap aktif didalam masyarakat dan tetap memelihara interaksi dengan masyarakat.

Pada penelitian ini penderita PP masih mampu beraktivitas dan bermobilisasi dengan baik, sehingga masih memungkinkan mereka untuk bekerja dan memenuhi kebutuhannya sehari-hari misalnya berpergian untuk mengikuti acara keagamaan dan berbelanja.

Pada analisa korelasi antara stadium penyakit dengan kualitas hidup, hasil uji Lambda menunjukan tidak ada perbedaan yang bermakna (p>0,05). Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Scalzo (2009) yang menyatakan stadium penyakit yang lanjut mempengaruhi kualitas hidup. Disabilitas yang berat cenderung akan membuat keterbatasan yang lebih besar bagi penderita atau

membatasi kemampuan penderita untuk mobilitas fisik yang akhirnya berhubungan dengan kualitas hidup (Karlsen, 2000; Ray, 2006; Kleiner-Fisman, 2010; Leroi dkk, 2011). Stadium lanjut berhubungan dengan kualitas hidup karena bergantung pada kemampuan fisik (Ray, 2006). Higginson (2012) menyatakan stadium lanjut (stadium 3-5 Hoenh and Yahr ) berkorelasi dengan depresi yang berat, pelayanan paliatif dan mortalitas yang mempengaruhi kualitas hidup penderita PP. Pada penelitian ini penderita PP masih bisa beraktivitas sebagaimana biasanya dilakukan penderita sebelum menderita PP tetap dapat dilakukan dengan baik.

Kegiatan berjalan di sekitar pekarangan sampai dengan jarak 500 meter dapat ditempuh tanpa hambatan berarti. Penderita pada umumnya tidak memiliki rasa rendah diri, dan bahkan cenderung terbuka akan penyakit yang dideritanya kepada masyarakat sekitar. Kondisi ini didukung dengan lingkungan hidup penderita yang tinggal di perkotaan yang sudah modern. Reaksi positif yang diperoleh dari masyarakat membuat semangat penderita PP untuk beraktifitas dan bersoasialisasi dengan lingkungan.

Emosi penderita PP pada stadium ini tetap baik, stabil dan tidak menunjukkan degradasi berarti. Eksistensi pasien Penderita PP tetap terpelihara dalam masyarakat. Aktifitas sebagaimana lazimnya dilakukan masyarakat Bali dalam menjalankan kegiatan adat maupun kegiatan agama tetap berjalan normal. Kegiatan di banjar maupun di Pura tetap dapat dilaksanakan.

Pada penelitian ini stadium yang terbanyak adalah stadium 2 dan 1 sehingga distribusi sampel tidak merata, ini mungkin dapat berkontribusi pada hasil penelitian.

Pada analisa korelasi Lambda antara umur saat diagnosis dengan kualitas hidup menunjukan tidak ada perbedaan yang bermakna (p>0,05). Hasil yang didapat pada penelitian yang dilakukan oleh Schrag dkk (2001) menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara usia saat onset dengan kualitas hidup. Keadaan ini lebih diakibatkan bahwa penderita PP yang berusia lebih muda saat onset cenderung mengalami depresi (Scalzo, 2009). Orang muda yang menderita depresi kemungkinan mengalami kesulitan yang lebih besar beradaptasi dengan penyakit degeneratif kronis.

Namun penelitian ini berbeda dengan yang dilakukan oleh Schrag (2001) yang menyatakan bahwa depresi tidak berhubungan dengan kualitas hidup karena relative bagus kognitifnya, penurunan kognitif yang ringan tidak cukup berkontribusi terhadap kualitas hidup yang rendah. Usia yang lebih tua dari saat onset penyakit terkait dengan kecacatan (Higginson, 2012). Crain (2007) menyatakan usia diatas 60 tahun lebih dapat menerima terhadap apa yang dialaminya, orang tua biasanya akan membandingkan dirinya terhadap orang lain yang sebayanya dan menderita sakit dikarenakan penyakit kronik lainnya dan menerima keadaanya sekarang.

Hasil analisa korelasi lambda lamanya sakit dengan kualitas hidup menunjukan tidak ada perbedaan bermakna (p>0,05). Pada penelitian yang dilakukan oleh Sharon dkk (2010) menemukan bahwa beratnya gangguan motorik

pada penderita PP rata-rata 5,8 tahun yang dinilai dengan menggunakan skors UPDRS. Gangguan motorik yang berat berhubungan dengan angka kejadian depresi, namun tidak mempengaruhi kualitas hidup (Scalzo, 2009).

Namun pada penelitian lain menemukan bahwa depresi sebagai prediktor kualitas hidup pada penderita PP setelah kurun waktu 8 tahun (Sharon, 2010). Lamanya sakit semula diduga dapat mempengaruhi kualitas hidup, pasien yang lebih muda onset lebih sering kehilangan pekerjaan, masalah perkawinan dan stigma dibandingkan dengan onset yang lebih tua pasien dengan PP (Schrag, 2001; Scalzo, 2009). Lou (2003) menyatakan tidak ada hubungan kelemahan dengan beratnya PP dan lamanya sakit. Ray (2006) menyatakan lamanya sakit berkorelasi dengan kualitas hidup dihubungkan dengan fluktuasi motorik, hilangnya kemanjuran L-Dopa atau efek samping Dopa. Davidson (2004) menyatakan lamanya menderita penyakit kronis tidak mempengaruhi persepsi seseorang terhadap harapan, keinginan dan motivasi.

Pada 25-30% pasien dengan L-dopa akan memberikan komplikasi motorik ataupun non motorik, 50% akan timbul setelah 5 tahun dan 80% akan timbul setelah 10 tahun (PERDOSSI, 2013). Pada penelitian ini penderita PP tidak terasing dari pergaulan hidup kemasyarakatan. Jika dihubungkan dengan usia pasien yang sudah dalam masa pensiun dan sudah tidak aktif di kantor maupun pekerjaan lainnya, membuat pengaruh positif yakni dalam kesehariannya pasien, sebagian besar waktunya berada di lingkungan rumah dan aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Ada korelasi yang signifikan antara dukungan sosial dengan kualitas hidup pada orang tua (Risdianto, 2009).

Analisa uji Lambda pada jenis pengobatan didapatkan tidak ada perbedaan yang bermakna (p>0,05). Pada penelitian ini dapat saja terjadi akibat sebaran sampel didominasi oleh penderita stadium I dan II menurut Hoehn and Yahr. Selain hal tersebut, ditemukan juga bahwa sampel penelitian cenderung mendapat terapi kombinasi pada penderita stadium awal sehingga pola pengobatan tidak berbeda antara penderita stadium ringan dan stadium berat. Pada penelitian yang dilakukan oleh Karlsen (2000) yang dilakukan selama 4 tahun menemukan hubungan yang tidak bermakna antara lamanya terapi dopaminergik dan dosis levodopa.

Namun pada kasus tertentu, jenis pengobatan yang dilakukan penderita yang menggunakan obat dengan harga terjangkau cenderung membuat penderita lebih tenang dari rasa kuatir dan kecemasan. Kondisi ini wajar disebabkan kondisi keuangan penderita yang sudah tidak produktif yang hanya mengandalkan uang pensiun atau bahkan mengharapkan bantuan dari anak-anak dan sanak saudara yang perduli.

Ketergantungan penderita terhadap jenis obat tertentu menjadikan pembelian obat menjadi pengeluaran rutin setiap bulannya. Dengan makin mahalnya obat yang harus dibeli membuat beban pemikiran penderita yang kemungkinan besar mengakibatkan terjadinya pesimisme dan penurunan kualitas hidup.

Dokumen terkait