Akhlak Penanaman
HASIL PENELITIAN A. Umum lokasi Penelitian Gambaran
C. Faktor kendala yang dihadapi orang tua dalam pembinaan akhlak anak Setiap orang tua atau keluarga memiliki harapan dan tujuan untuk masa
depan anak, namun tak semua yang keinginan orang tua dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Semua proses yang dijalani pasrti memiliki kendala, kendala adalah penghambat yang dapat mempengaruhi hasil yang ingin dicapai.
Pada penelitiaan ini yang dilakukan di gampong Sukaramai Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh didapatkan faktor kendala yang dihadapi orang tua dalam pembinaan akhlak anak. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel dibawah ini:
Untuk melihat harapan orang tua kepada anak untuk masa depan lihat tabel dibawah ini:
Tabel 4.11Harapan untuk masa depan anak
No Aternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 Menjadi orang sukses membanggakan orang tua 26 67% 2 Menjadi anak shaleh patuh kepada orang tua 11 28% 3 Menjadi orang yang bebas bergaul dan bersikap 0 0%
4 Dan lain-lain 2 5%
Total 38 100%
Sumber : Hasil angket tahun 2016.
Berdasarkan dari tabel diatas 26 atau 67% responden menginginkan anaknya menjadi orang sukses membanggakan orang tua yang ingin menjadikan anak shaleh patuh kepada orang tua 11 atau 28% dan tidak ada yang ingin anaknya menjadi orang yang bebas bergaul dan bersikap.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keinginan orang tua agar anaknya menjadiorang sukses dan membanggakan orang tua lebih besar dibandingkan menjadi anak shaleh patuh kepada orang tua. Hal ini membuktikkan bahwa pencapaianorang tua yang diharapkan tidak seimbang karena dunia dan akhirat tidak berjalan beriringan dalam pembinaan akhlak di keluarga.
Untuk melihat apa yang dilakukan orang tua untuk mencapai tujuannya lihat tabel dibawah ini:
Tabel 4.12Cara mencapai tujuannya
No Aternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 Memberikan pengarahan tanpa pengawasan 3 8%
2 Tidak perlu melakukan apapun 6 16%
3 Memberi pendidikan, bimbingan dan motivasi 29 76%
4 Dan lain-lain 0 0%
Total 38 100%
61
Berdasarkan dari tabel diatas 3 atau 8% responden akan memberikan pengarahan tanpa pengawasan namun ada pula responden yang menjawab tidak perlu melakukan apapun sejumlah 6 atau 16% dan yang memberikan pendidikan, bimbingan dan motivasi 29 atau 76%.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang tua yang memberikan pendidikan, bimbingan dan motivasi lebih besar dari pada yang tidak melalukan apapun dan pengarahan tanpa pengawasan. Hal ini membuktikan bahwa orang tua telah menyadari pentingnya memberikan pendidikan formal dan non formal kepada anak sejak dini untuk membentuk akhlak anak.
Untuk melihat keterlibatan orang tua dalam pembinaan lihat tabel dibawah ini:
Tabel 4.13 Keterlibatan orang tua dalam pembinaan
No Aternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 Tidak, karena keterbatasan waktu 7 18%
2 Tidak, karena orang tua telah menitipkan anak
pada pendidikan formal dan non normal 1 3%
3
Ya, walaupun anak dititipkan kepada pendidikan formal dan non formal orang tua tetap memberi motivasi dan pengarahan dalam proses pembinaan
30 79%
Total 38 100%
Sumber : Hasil angket tahun 2016.
Berdasarkan dari tabel diatas 30 responden atau 79% menjawab orang tua terlibat walaupun anak dititipkan kepada pendidikan formal dan non formal orang tua tetap memberikan motivasi dan pengarahan dam proses pembinaan namun adapula responden yang menjawab tidak karena keterbatasan waktu berjumlah 7 atau 18% dan tidak karena orang tua telah menitipkan kepada pendidikan formal dan non formal sebesar 1 atau 3%.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwaorang tua tetap memberikan pembinaan, walaupun anak dititipkan kepada pendidikan formal dan non formal serta tetap memberikan motivasi dan pengarahan dalam proses pembinaan lebih tinggi dibandingkan dengan tidak karena kertebatasan waktu dan tidak karena orang tua telah menitipkan anak kepada pendidikan formal dan non formal. Hal ini membuktikan bahwa keterlibatan orang tua dalam penerapan pembinaan masih ada walau kadang-kadang dilakukan namun orang tua tetap ikut andil untuk hal tersebut.
Untuk melihat waktu pembinaan kepada anak lihat tabel dibawah ini: Tabel 4.14 memberikan pembinaan kepada anak
No Aternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 Tidak ada 1 3%
2 Pagi hari 4 10%
3 Sore hari 0 0%
4 Malam hari 12 32%
5 Selalu, tergantung ketersediaan waktu 21 55%
Total 38 100%
Sumber : Hasil angket tahun 2016.
Berdasarkan dari tabel di atas 21 responden atau 55% orang tua selalu memberikan pembinaan tergantung dengan ketersediaan waktu, 12 responden atau 32% menjawab malam hari, 4 atau 10% menjawab pagi hari dan 1 atau 3% menjawab tidak ada.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang tua yang selalu tergantung kesedian waktu lebih besar dibandingkan malamhari, pagi hari dan yang tidak ada melakukan pembinaan kepada anak. Hal ini membuktikkan bahwa orang tua selalu berusaha memberikan pembinaan namun waktu yangterbatas menjadi hambatan terhadap penerapan pembinaan kepada anak.
63
Untuk melihat metode yang diterapkan orang tua di gampong Sukaramai Kecamata Baiturrahman Banda aceh secara garis besar orang tua tidak memahami apa itu metode dan setelah adanya penjelasan apa itu metode orang tua hanya menerapkan metode nasehat dari sebanyak 6 metode secara umum yang harusnya diterapkan.
Tabel 4.15Metode yang diterapkan
No Aternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 Keteladanan, Nasehat, Pembiasaan, Dialog,
Targhib dan Tarhib, Cerita 0 0%
2 Nasehat 34 90%
3 Nasehat dan Keteladanan 4 10%
Total 38 100%
Sumber : Hasil angket tahun 2016.
Berdasarkan dari tabel diatas ternyata kurangnya pengetahuan orang tua terhadap penerapan pembinaan metode akhlak anak sebagian responden hanya menerapkan metode nasehat saja sebanyak 90% dan 10% responden menerapkan nasehat dan keteladanan. Inipun melalui proses penjelasan tentang metode yang dilakukan oleh peneliti.
Untuk melihat yang dominan memberikan pembinaan kepada anak lihat tabel dibawah ini:
Tabel 4.16 Yang dominan memberikan pembinaan kepada anak
No Aternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 Ayah 3 8%
2 Ibu 31 82%
3 Paman/tante 0 0
4 Dan lain-lain 4 10%
Total 38 100%
Berdasarkan dari tabel diatas 31 atau 82% yang menjawab ibu lebih dominan memberikan pembinaan kepada anak, 4 atau 10% menjawab dan lain-lain dan 3 atau 8% menjawab ayah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ibu memiliki peran penting dalam memberikan penerapan pembinaan akhlak. Hal ini membuktikan bahwa sebagian besar ibu berperan pada penerapan pembinaan akhlak.
Untuk melihat cara agar anak tetap mendapatkan pembinaan walau orang tua tidak ada melakukan pembinaan kepada anak lihat tabel dibawah ini:
Tabel 4.17 Solusi agar anak tetap mendapatkan pembinaan walau orang tua tidak melakukan pembinaan
No Aternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 Berharap dari sekolah 20 51%
2 Berharap dari tempat mengaji 11 28%
3 Berharap dari lingkungan 7 18%
4 Berharap dari tempat les 1 3%
5 Dan lain-lain 0 0%
Total 38 100%
Sumber : Hasil angket tahun 2016.
Berdasarkan dari tabeldi atas responden yang berharap dari sekolah 20 atau 51%, berharap dari tempat mengaji 11 atau 28%, berharap dari lingkungan 7 atau 18 %, berharap dari tempat les 1 atau 3%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang tua yang berharap dari sekolah lebih besar dibandingkan dengan tempat mengaji, lingkungan, dan tempat les. Hal ini membuktikan bahwa orang tua juga memberi pendidikan formal pada anak.
Untuk melihat faktor yang mempengaruhi ketidaksempatan orang tua dalam memberikan pembinaan kepada anak lihat tabel dibawah ini:
65
Tabel 4.18 Faktor yang mempengaruhi ketidaksempatan orang tua dalam memberikan pembinaan kepada anak
No Aternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 Kesibukan bekerja 34 89%
2 Kurang percaya diri 3 8%
3 Kurang ilmu 1 3%
4 Dan lain-lain 0 0%
Total 38 100%
Sumber : Hasil angket tahun 2016.
Berdasarkan dari tabel diatas faktor yang mempengaruhi ketidaksempatan orang tua dalam memberikan pembinaan kepada anak adalah kesibukan bekerja sejumlah 34 atau 89%, kurang percya diri 3 atau 8% , kurang ilmu 1 atau 3%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi ketidaksempatan orang tua dalam memberikan pembinaan kepada anak kesibukan bekerja lebih mendominasi dibandingkan dengan kurang percaya diri dan kurang ilmu. Hal ini membuktikan bahwa orang tua memiliki waktu yang sedikit untuk pertemu dengan anak sehingga penerapan pembinaan akhlak anak menjadi tidak maksimal.
Untuk melihat komunikasi orang tua dengan pihak pendidikan fomal dan non formal lihat tabel dibawah ini:
Tabel 4.19 Komunikasi orang tua dengan pihak pendidik
No Aternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 Ada 12 32%
2 Tidak 8 21%
3 Kadang-kadang 18 47%
Total 38 100%
Berdasarkan dari tabel diatas orang tua yang ada melakukan komunikasi dengan pihak pendidikan formal dan non formal sebesar 12 atau 32% yang tidak melakukan komunikasi dengan pihak pendidikan formal dan non formal sebesar 8 atau 21% dan yang kadang-kadang melakukan komunikasi dengan pihak pendidikan formal dan non formal sebesar 18 atau 47%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwaorang tua yang hanya terkadang melakukan komunikasi dengan pihak pendidikan formal dan non formal lebih tinggi dibandingkan dengan yang ada melakukan dan tidak melakukan komunikasi. Hal ini membuktikkan bahwa orang tua tidak terlalu mementingkan komunikasi dengan pihak pendidikan formal dan non formal dikarenakan orang tua telah mempercayai sepenuhnya kepada pihak pendidikan formal dan non formal di setai juga dengan adanya kesibukan kerja yang menajadi faktor kurangnya komunikasi antara orang tua dan pihak pendidik formal dan non formal.
Untuk melihat pengawasan orang tua disaat anak beraktivitas di lingkungan pergaulan tempat dia berada lihat tabel dibawah ini:
Tabel 4.20 Pengawasan orang tua saat anak beraktivitas
No Aternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 Tidak ada 3 8%
2 Ada 16 42%
3 Kadang-kadang 19 50%
Total 38 100%
67
Berdasarkan dari tabel diatas orang tua yang kadang-kadang melakukan pengawasan saat anak beraktivitas dilingkungan pergaulan dia berada sebesar 19 atau 50%, yang ada melakukan pengawasan sebesar 16 atau 42%, dan yang tidak melakukan pengawasan sebesar 3 atau 8%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang tua yang terkadang melakukan pengawasan disaat anak beraktivitas ditempat dia berada lebih tinggi dibandingkan dengan yang ada dan tidak ada melakukan pengawasan. Hal ini membuktikkan bahwa orang tua kurang memperdulikan lingkungan pergaulan anak.