• Tidak ada hasil yang ditemukan

KENDALA DAN UPAYA YANG DILAKUKAN KEPOLISIAN RESOR ACEH TIMUR UNTUK MENANGGULANGI PENYALAHGUNAAN SENJATA API

C. Kendala Yang Dihadapi Polres Aceh Timur Dalam Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Penyalahgunaan Senjata Api Pasca Perdamaian di Aceh

4. Faktor Kurang Informasi Dari Masyarakat

Untuk kendala penegakan hukum ini guna memproses pelaku penyalahgunaan senjata api dan kepemilikan senjata api secara melawan hukum atau ilegal di wilayah hukum Kepolisian Resor Aceh Timur, dimulai dari kurangnya informasi yang diperoleh oleh Kepolisian Resor Aceh Timur dari masyarakat terhadap peredaran senjata api terutama senjata api bekas peningalan masa konflik di Aceh yang masih beredar di kalangan masyarakat.

Masyarakat di Aceh Timur merupakan salah satu faktor pendukung dari suatu penegakan hukum terhadap penyahguaan senjata api di wilayah hukum Kepolisian Resor Aceh Timur. Jika masayarakat Aceh Timur memahami betul bahwa peran mereka sangat penting untuk membantu Kepolisian Resor Aceh Timur agar bisa mengungkap kasus atau permasalahan penyalahgunaan senjata api di Aceh Timur, maka pekerjaan Kepolisian Resor Aceh Timur akan lebih baik dan mudah.

Hasil wawancara dengan Bapak Ipda J.M. Tambunan, selaku Kanit Reskrim Polres Aceh Timur di Polres Aceh Timur menjelaskan bahwa:

Kendala kurangnya informasi dari masyarakat Aceh Timur yang mau melaporkan jika mengetahui ada kelompok atau individu yang menyimpan dan memiliki senjata api pasca perdamian di Aceh saat ini dan mengetahui jika ada senjata api peningalan konflik yang di simpan di suatu tempat kepada Kepolisian Resor Aceh Timur. Dan nyatanya masyarakat Aceh Timur masih yang kurang peduli terhadap peredaran senjata api di lingkungannya, rasa takut menjadi salah satu alasan masyarakat Aceh Timur untuk tidak ikut campur dalam berperan serta bersama membantu Kepolisian Resor Aceh Timur, untuk mengungkap penyalahgunaan senjata api di Aceh Timur.72

72 Hasil Wawancara dengan Ipda J M Tambunan, selaku Kanit Reskrim Polres Aceh Timur di Polres Aceh Timur, mengenai kendal pihak Polres Aceh Timur terhadap penyalahgunaan senjata api pasca perdamaian di Aceh, yang lakukan pada tanggal 26 Juni 2018.

Menurut L. M. Friedmen terkait dengan 3 (tiga) faktor sistem hukum yang dapat mempengaruhi sistem hukum yang terdiri dari struktur hukum, substansi hukum dan budaya hukum, dibawah ini akan dijelaskan ketiga faktor tersebut sebagai berikut :

1. Hambatan terhadap struktur hukum

Sistem hukum mempunyai struktur dan terus berubah, namun bagian-bagian sistem itu berubah dalam kecepatan yang berbeda, dan setiap bagian berubah tidak secepat bagian lainnya. Ada pola jangka yang panjang yang berkesinambungan struktur sistem hukum, dengan kata lain adanya kerangka atau rangkaian, bagian yang tetap bertahan, bagian yang memberikan semacam bentuk dan batasan terhadap keseluruhan. Berbicara tentang struktur sistem hukum ini berarti di Indonesia termasuk di dalamnya struktur institusi penegak hukum (kepolisian, kejaksaan, pengadilan, atau penegak hukum lainnya). Dengan kata lain, struktur sistem hukum adalah diibaratkan sebagai mesin penggerak bagi majunya roda-roda yang hendak digerakkan.73

Struktur hukum adalah seluruh institusi hukum beserta aparat penegaknya, jadi termasuk di dalamnya kepolisian dengan polisinya, kejaksaan dengan jaksanya, pengadilan dengan hakimnya dan seterusnya.74 Aparat penegak hukum merupakan faktor penentu, karena sebagai penggerak atau pelaksana dari ketentuan peraturan

73Yesmil Anwar, Adang, Pembaruan Hukum Pidana Reformasi Hukum Pidana, Kompas Gramedia, Jakarta, 2008, Halaman 190.

74Achmad Ali, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicial Prudence), Kencana, Jakarta, 2012, Halaman 220

perundang-undangan. Sehingga diharapkan mental aparat penegak hukum sesuai dengan jiwa yang terkandung di dalam undang-undang tersebut.75

Menurut Satjipto Raharjo mengatakan bahwa pada saat ini Indonesia membutuhkan suatu tipe penegakan hukum progresif, yang harus ditekankan terlebih dahulu yaitu:

a. Dimensi dan faktor manusia pelaku dalam menegakkan hukum progresif, yang terdiri dari generasi baru profesional (hakim, jaksa, advokat) yang memiliki visi dan filsafat yang mendasari penegakkan hukum progresif.

b. Kebutuhan akan semacam membangun di kalangan akademisi, intelektual dan ilmuwan serta teorotisi ilmu hukum di Indonesia.76

Hambatan yang terdapat dalam struktur hukum tersebut antara lain sebagai berikut:

1) Kurangnya idenpendensi kelembagaan hukum.

2) Pengaturan akuntabilitas kelembagaan hukum dilakukan tidak dengan jelas baik kepada siapa atau instansi mana ia harus bertanggung jawab.

3) Kurangnya kualitas sumber daya manusia di bidang hukum, baik peneliti hukum, perancang peraturan perundang-undangan maupun penegak hukum.

4) Sistem peradilan yang tidak transparansi dan terbuka.77 2. Hambatan terhadap substansi hukum

Sistem hukum mempunyai substansi, yang dimaksud dengan substansi adalah atura, norma, dan perilaku manusia yang nyata dalam sistem hukum. Substansi

75Rena Yulia, Viktimologi Perlindungan Hukum Terhadap Korban Kejahatan, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2010, Halaman 154.

76Yesmil Anwar, Adang, Op.Cit, Halaman 197.

77 Marwan Effendy, Sistem Peradilan Pidana Tinjauan Terhadap Beberapa Perkembangan Hukum Pidana, Referensi, Jakarta, 2012, Halaman 202.

hukum dapat juga berupa produk yang dihasilkan oleh orang yang berada dalam sistem tersebut, mencakupi keputusan yang mereka keluarkan, aturan baru yang belum disusun.78

Substansi hukum, artinya isi dan ketentuan peraturan perundang-undang yang ada, dalam proses perkara pidana yang menjadi pegangan utama adalah kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang sudah diundangkan sejak tahun 1981, seiring dengan perkembangan kebutuhan hukum masyarakat dalam perjalanannya KUHAP memiliki banyak kelemahan. Meskipun sudah banyak peraturan yang bersifat khusus yang mengatur masing-masing lembaga penegak hukum, namun tetap saja ada celah-celah yang dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk bermain di dalamnya, ketidakjelasan hubungan koordinasi antar lembaga dan pengawasan kenerja penegak hukum.

Hasil wawancara dengan Bapak Ipda J.M. Tambunan, selaku Kanit Reskrim Polres Aceh Timur di Polres Aceh Timur menjelaskan bahwa :

Kendala penegakan hukum penyalahgunaan tindak pidana senjata api adalah undang-undang yang menjadi acuan Kepolisan Resor Aceh Timur untuk menindak dan memproses pelaku penyalahgunaan senjata api di wilayah Aceh Timur masih mengacu pada Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Senjata Api dan Bahan Peledak, yang mana undang-undang tersebut diangap sudah sangat ketinggalan dengan perkembangan zaman sekarang, perlu ada undang–undang yang lebih baru agar mempermudah Kepolisan Resor Aceh Timur dalam hal melakukan penegakan hukum terhadap penyalahgunaan senjata api, khususnya di wilayah Aceh Timur.79

78Yesmil Anwar, Adang, Op.Cit, Halaman 202.

79 Hasil Wawancara dengan Ipda J M Tambunan, selaku Kanit Reskrim Polres Aceh Timur di Polres Aceh Timur, mengenai kendal pihak Polres Aceh Timur terhadap penyalahgunaan senjata api pasca perdamaian di Aceh, yang lakukan pada tanggal 27 Juni 2018.

Ada 2 (dua) langkah reformasi yang harus ditekankan dalam hal ini, yaitu sebagai berikut:

a. Mengadakan inventarisasi secara menyeluruh terhadap seluruh peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia secara hirarkis, yang merupakan peraturan tertinggi sampai kepada peraturan yang terendah.

b. Melakukan identifikasi dan kemudian diklasifikasikan untuk menentukan dan memilah peraturan perundang-undangan yang substansial termasuk bersifat menindas atau represif, atau bersifat responsif.80

Masalah kebijakan penegakan hukum yang menjadi permasalahan yang sungguh nyata sehingga penghambat jalannya hukum, yaitu:

1. Antara sistem atau aparatur.

Secara umum yang sering dipermasalahkan apa penyebab buruknya penegakan hukum kita, sistem atau orang (aparatur). Sistem yang diartikan sebagai pola hubugan yang bakuantar fungsi-fungsi dalam proses peradilan atau disebut juga dengan struktur memang sangat mempengaruhi kinerja aparatur penegak hukum. Pada diri aparatur yang tetap melekat adala hakekat kemanusiaan yakni selalu ada kecenderungan berbuat menyimpang selama sistemnya memungkinkan untuk itu. Perilaku demikian tidak benar tetapi sebagaimanapun adalah manusiawi.

Untuk itula dibutuhkan satu sistem yang standar dan terukur. Adalah jujur untuk mengatakan bahwa sistem peradilan kita dewasa ini tidak dapat diandalkan karena masih loop-holes. Sebab struktur sistem peradilan yang kita jalanka dewasa ini

80Yesmil Anwar, Adang Loc.Cit.

masih penerusan dari zaman kolonial karena belum pernah ada satu putusan politik untuk melakukan pembaruan yang sangat mendasar sesuai kebutuhan. Masalahnya adalah adanya pertemuan sestem yang rapuh dan aparatur yang harus menghidupi diri sendiri dari jabatan itu. Pada saat yang sama, secara tidak langsung adanya legitimasi untuk menghidupi diri sendiri dari jabatan itu.

Dengan demikian, pelayanan publik menjadi bahasa yang tidak relevan.

Setiap perbuatan aparatur penegak hukum harus dihargai sebagaimana jasa dalam dunia profesi. Dengan kata lain, akibat sistem yang demikian menjadi terjadinya proses demoralisasi dalam diri aparatur sehingga ia tidak akan pernah menjalankan peranannya sebagaimana diharapkan kecuali ada pembayaran jasanya yang pasti.

Akibatnya, diterima atau tidak, aparatur penegak hukum telah menjadi bagian dari masalah hukum itu sendiri. Dan komplikasinya sudah cukup jauh maka akibat-akibat yang bersifat pencegahan tanpa amputasi tidak akan menghasilkan apapun.

Keadaannya sudah sangat mendasar sehingga yang diperlukan adalah tindakan konkrit yang sifatnya darurat. Artinya, tindakan yang dapat dilakukan dalam jangka waktu pendek tapi mendasar dan berhubungan dengan pengangkatan, pergantian orang-orang dan pembinaannya.

2. Arah kebijakan hukum.

Pengaruh politik dan ekonomi yang belum stabil dan dewasa ini mengakibatkan arah kebijakan hukum ikut tidak menentu. Padahal pembaruan sistem peradilan yang dirancang dan diimplementasikan secara konsisten memerlukan proses yang intens dan tenang sehingga mendapatkan rancangan yang

sesuai dengan kebutuhan rasa keadilan kita. Namun dengan keadaan poliitik di mana masing-masing petinggi di negeri ini adalah ketua partai politik menjadi mereka semua sibuk untuk mempersiapkan pertarungan dalam pemilu mendatang.

Padahal perubahan hukum harus melalui undang-undang. Mahkamah Agung yang dalam beberapa hal bisa menjadi faktor mendorong melalui putusan-putusannya atau nasihat (fatwa) juga tidak bisa diharapkan.

3. Pembusukan hukum.

Proses peradilan ada sebagian orang yang secara diam-diam memanfaatkan keadaan itu dengan cara memfasilitasi agar tetap dengan keadaan penegakan hukum yang rapuh. Dengan kata lain, ada yang melakukan pembusukan secara aktif. Misalnya, buruknya peradilan tela digunakan untuk meghindari peradilan sehingga kewajibannya bisa dibayar rendah. Satu proses peradilan yang panjang dan hasilnya tidak bisa diramalkan berdasarkan fakta-fakta yang ada tela menjadi alasan yang dibesar-besarkan mengapa peradilan perlu dihindari. Padahal dalam beberapa hal sulitnya penyelesaian di peradilan ada indikasi justru diciptakan agar tidak ditempuh. Dengan begitu maka penyelesaian satu masalah menjadi banyak tergantung pada “pesakitan” atau yang “berulang”.81

Penghambat terlaksananya suatu proses penegakan hukum serta pelaksanaan perundang-undang tersebut. Oleh kerena itu dapatlah dikatakan, bahwa penegakan hukum bukanlah semata-mata kerena berarti pelaksanaan perundang-undangan,

81Luhut M.P. Pangaribuan, Hukum Acara Pidana Suarat Resmi Advokat di Pangadilan, Papas Sinar Sinanti, Jakarta, 2013, Halaman 72-75.

walaupun didalam kenyataan di Indonesia kecenderungannya adalah demikian, sehingga pengertian law enforcement begitu populer. Selain itu, ada kecenderungan yang kuat untuk mengartikan penegakan hukum sebagai pelaksanaan keputusan-keputusan hakim.82

Menurut Soerjono Soekanto menyatakan masalah penegakan hukum bukan semata-mata pelaksanaan perundang-undangan saja, sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu :

1) Faktor hukumnya sendiri.

2) Faktor penegakan hukum, yaitu pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum.

3) Faktor sarana atau fasilitas dan prasarana yang mendukung penegakan hukum.

4) Faktor masyarakat, yaitu faktor lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan.

5) Faktor kebudayaan, yaitu sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.83

Proses penegakan hukum, sebenarnya bukan terjadi pada tahap aplikasi pelaksanaannya saja, tetapi harus dimulai dari tahap formulasi atau pembuatan undang-undang. Hal ini penting karena dalam tahap ini dirumuskan semua kebijakan yang terkandung dalam suatu undang-undang atau kata lain tahap ini merupakan tahap perumusan politik hukum dari undang-undang.

Bekerjanya sistem peradilan pidana adalah sebagai upaya untuk pencegahan kejahatan, hal ini erat kaitannya dengan sistem peradilan pidana sebagai suatu sistem, yang di dalamnya mempunyai fungsi kontrol sosial dan pemeliharaan sosial. Sebagai

82 Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum, Rajawali Pers, Jakarta, 2010, Halaman 7.

83Ibid, Halaman 8.

suatu sistem, sistem peradilan pidana terdiri dari unsur substansi hukum, struktur hukum dan budaya hukum. Oleh karena itu pembaharuan sistem peradilan pidana harus meliputi pembaharuan unsur substansi hukum, struktur hukum dan juga budaya hukum.

D. Upaya Yang Dila kukan Polres Aceh Timur Dalam Mengatasi Kendala