BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Faktor Penyebab Terjadinya Kejahatan Penganiayaan
2. Faktor Kurangnya Penghayatan Terhadap Ajaran
Telah banyak usaha yang dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana pengaruh faktor agama terhadap timbulnya kejahatan. Akan tetapi nampaknya belum cukup bukti untuk mengetahui bahwa rendahnya nilai agama dapat mengakibatkan orang berbuat jahat.
Norma-norma yang terkandung di dalam agama (semua agama mengajarkan kebenaran dan kebaikan) dan agama itu senantiasa baik dan membimbing manusia ke arah jalan yang benar, dan menunjukkan hal-hal yang dilarang dan diharuskan, mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga jika manusia benar-benar mendalami dan mengerti tentang isi agamanya, maka ia akan senantiasa menjadi manusia yang baik pula, tidak akan berbuat hal-hal yang merugikan orang lain termasuk tindakan kejahatan. Dan sebaliknya jika agama itu tidak berfungsi bagi manusia, hanya sekedar lambang saja, maka ia tidak berarti sama sekali, bahkan iman manusia akan menjadi lemah. Kalau sudah demikian keadaannya, maka orang mudah sekali untuk melakukal hal-hal yang buruk karena sosial kontrolnya tadi tidak kuat, dan mudah melakukan tindak kejahatan.
Sehubungan dengan itu maka penulis akan memberikan gambaran tentang sebab-sebab terjadinya penganiayaan khususnya penganiayaan biasa di Kota Makassar sebagai berikut:
1. Faktor dendam 2. Faktor lingkungan
a.d.1. Faktor Dendam
Faktor dendam juga dapat merupakan salah satu penyebab terjadinya penganiayaan biasa, kalaulah dapat dikatakan bahwa dari jumlah kasus yang terjadi selama kurun waktu 3(tiga) tahun yaitu dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2013, tercatat sejumlah 36 kasus
Secara etimologi kata (Poerwadarminta 1982:240) “dendam” diartikan sebagai berikut: dendam ialah keinginan yang keras yang terkandung di hati untuk membalas kejahatan dan sebagainya.
Pada dasarnya terjadinya dendam ini disebabkan karena adanya kesalahpahaman diantara individu yang satu dengan yang lain, sehingga terjadi apa yang dikatakan konflik dan akibat dari konflik ini terjadilah dendam.
Proses terjadinya dendam seperti yang diuraikan di atas ddalh konflik yang didasarkan pada pola pikir individu yang berbeda-beda dan merupakan suatu pergeseran nilai yang mengakibatkan suatu tindakan pembalasan atau perbuatan terhadap dirinya.
Misalnya: si X memukul si Y, dan si Y tidak melakukan perlawanan pada saat itu, namun si Y menyimpan sakit hatinya itu kepada si X, sehingga timbullah rasa dendam di dalam hati si Y
yang senantiasa menuntut untuk melakukan pembalasan terhadap si X.
Menurut Brigpol Saharuddin ,SH selaku Reserse pada Polrestabes Makassar (wawancara tanggal 3 Mei 2013) bahwa, dari dua faktor yaitu: faktor dendam dan faktor lingkungan. Faktor dendam yang sangat mempengaruhi tingkat kejahatan penganiayaan yang terjadi di Kota Makassar.
Hal tersebut identik dari terpidana/warga binaan, perempuan Asia (38 tahun) salah satu terdakwa kejahatan penganiayaan yang sementara menjalani hukuman pada Lembaga Pemasyarakatan Khusus Wanita Kota Makassar (wawancara tanggal 9 Mei 2013) menyatakan bahwa:
“Saya sudah tidak tahan diperlakukan seoerti itu,selalu dia rendahkanka,mentang-mentang dia lebih kaya dari saya selaluka na ceritai ditetangga kalau ada barang baru saya beli atau darika jalan-jalan sama suamiku,maluka juga na bilangika mengutang dikoperasi baru tidak bisaka bayar.Sudah lama sekalimi saya tahan marahku”.
Dari contoh tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dendam adalah merupakan sikap batin yang senatiasa mendorong seseorang untuk melakukan tindakan pembalasan.
a.d.2. Faktor Lingkungan
Mungkin ada benarnya kalau dikatakan bahwa seorang anak dalam suasana buruk, tak beres di rumah, merupakan halangan besar bagi seorang anak untuk mencapai kedewasaan fisik. Oleh karena itu lingkungan keluarga adalah pokok utama yang
merupakan pengembangan bagi seorang anak menjadi manusia yang berkepribadian luhur.
Dengan demikian berhasil tidaknya seorang anak sangat tergantung pada lingkungan keluarga sebagai peletak dasar kepribadian. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ruth. S. Cavan (Bawengan G.W 1977 : 20) bahwa:
1. Lingkungan keluarga adalah suatu kelompok masyarakat yang pertama-tama dihadapi oleh setiap anak, oleh karena itu maka lingkungan tersebutmemegang peranan utama sebagai permulaan penglaman untuk menghadapi suatu masyarakat yang lebih luas lagi.
2. Bahwa lingkungan keluarga merupakan suatu lembaga yang bertugas menyiapkan kepentingan-kepentingan setiap hari, dan pula melakukan pengawasan terhadap anak.
3. Bahwa lingkungan keluarga merupakan kelompok pertama yang dihadapi oleh anak dan karena itu menerima pengaruh-pengaruh emosonal dari lingkungan itu. Kepuasan dan kekecewaan, rasa cinta dan benci akan mempengaruhi watak anak dalam lingkungan itu dan bersifat menentukan untuk masa-masa mendatang
Jadi seorang anak tumbuh dan berkembang berawal dari lingkungan keluarga sebagai peletak dasar kepribadian anak. Di sisi lain lingkungan keluarga dapat pula berakibat fatal bagi
seorang anak apabila terjadi keretakan keluarga atau kurangnya kasih sayang yang diberikan oleh kedua orang tuanya, sehingga lambat laun akan menimbulkan kejengkelan terhadap anak sehingga mencari persesuaian di luar rumah dengan cara melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menarik perhatian kedua orang tuanya dengan kata lain merupakan suatu perbuatan yang melanggar hokum misalnya melakukan penganiayaan.
Berhasil tidaknya seorang anak banyak ditentukan dalam lingkungan keluarga yang pada gilirannya tiba pada lingkungan sosial yang mempunyai corak dan bentuk yang beraneka ragam, apalagi anak itu telah menyesuaikan dengan lingkungan sosial dan mendapat kesenangan dan kepuasan dari lingkungan sosial, maka dapat saja anak tersebut terjerumus di dalamnya.
Dalam kaitan ini menurut Brigpol Saharuddin.,SH selaku Reserse Polrestabes Makassar (wawancara 3 Mey 2013) bahwa di Kota Makassar masih sering terjadi perkelahian antara remaja dimana berlanjut dengan penganiayaan bahkan yang menyebabkan kematian. Hal ini dapat dilihat dari jumlah 36 kasus penganiayaan yang terjadi di Kota Makassar selama kurun waktu tahun 2010 sampai dengan tahun 2012, dari keseluruhan kasus disebabkan kurangnya perhatian dikalangan orang tua terhadap anaknya, sehingga menyebabkan anak-anak itu melakukan apa yang dapat memberikan kepuasan kepada dirinya.