Dan sebutlah nama Tuhanmu pagi dan petang , (Ingatlah kepada Tuhan setiap saat dengan hati dan lisan)
ASPEK-ASPEK PENDIDIKAN DALAM SURAT AL-INSAN DAN APLIKASINYA DALAM BINGKAI PENDIDIKAN ISLAM
B. Aplikasi Pendidikan Dalam Surat al-Insan Ayat 24- 24-26 Dalam Bingkai Pendidikan Islam
5. Faktor Lingkungan
Lingkungan salah satu faktor pendidikan yang dapat menetukan corak pendidikan Islam yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap perkembangan anak didik. Lingkungan yang dimaksud disini adalah lingkungan yang berupa keadaan sekitar yang mempengaruhi pendidikan anak.
Pengaruh lingkungan terhadap anak didik dapat memberi dampak positif dan dapat pula negatif. Dikatakan positif jika lingkunngan itu memberi dorongan terhadap keberhasilan proses pendidikan, dan dikatakan negatif jika lingkungan itu menghambat keberhasilan proses pendidikan.
Menurut Zuhairini, lingkungan yang dapat memberi pengaruh terhadap anak didik ini, dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu:
1. Lingkungan yang acuh tak acuh terhadap agama.
Peserta didik memiliki sikap dan kemauan yang beragam. Adakalanya peserta didik merasa keberatan terhadap pendidikan agama, dan ada kalanya menerima agar sedikit dapat mengetahui masalah itu.
2. Lingkungan yang berpegang teguh kepada tradisi agam tetapi tanpa keinsyafan batin, biasanya lingkungan yang demikian itu menghasilkan anak-anak beragama yang secara tradisional tanpa kritik, atau dia beragam secara kebetulan.
3. Lingkungan yang mempunyai tradisi agama dengan sadar dan hidup dalam lingkungan agama.
Bagi lingkungan yang kurang kesadarannya, anak-anak akan mengunjungi tempat-tempat ibadah jika ada dorongan dari orang tua, tetapi tidak kritis dan tidak dapat bimbingan, sedangkan bagi lingkungan agama yang kuat, kemungkinan hasilnya akan lebih baik, dan bergantung kepada baik buruknya pimnpina dan kesempatan yang diberikan.98
Demikianlah faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam upaya mencapai kelancaran dan keberhasilan dalam melaksanakan proses pendidikan, terutama pendidikan Islam.
98
Zuhairini, et. Al., Filsafat Pendidikan Islam,(Jakarta: Bumi Aksara, 1995), cet. Ke-2, h. 175
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari berbagai uraian yang penulis paparkan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa perintah-perintah yang Allah SWT telah tetapkan dalam kandungan surat al-Insan ayat 24-26, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa:
1. Surat al-Insan memiliki tiga tema sentral yang mengacu pada nilai-nilai pendidikan, pertama aspek pendidikan kesabaran. Hampir seluruh keadaan dan situasi yang dihadapi manusia membutuhkan kesabaran, maka kita dituntut memiliki sifat sabar tersebut. Sejak sedini mungkin sifat sabar harus bias ditanamkan dalam hati anak didik agar kelak mereka dapat menghadapi segala cobaan dan fenomena hidup ini dengan penuh kesabaran. Kedua, Aspek pendidikan dzikir. Dzikir merupakan salah satu upaya mengenalkan kepada anak didik akan ke-Esa-an Allah SWT. Sehingga secara tidak langsung akan menimbulkan keimanan yang mendalam terhadap perkembangan jiwa anak didik. Dengan demikian perkembangan jiwanya tidak mudah terkontaminasi dengan perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan dirinya dan merusak imannya. Dan
ketiga, Aspek pendidikan shalat malam (qiyamul lail). Tujuan dari pendidikan shalat malam ialah salah satu upaya untuk mendidik manusia (anak didik) untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah dan meninggalkan sifat-sifat yang tercela,
sehingga dengan demikian setiap amaliah yang dilakukanny itu semata-mata hanya untuk mengharap keridhaan Allah SWT.
2. Adapun pandangan para mufassir tentang surat al-Insan ayat: 24-26, pada umumnya mereka memberikan pandangan yang sama dalam menafsirkan ayat tersebut. Karena di dalam tiga ayat ini tersimpan sebuah hakikat yang sangat besar dari hakikat-hakikat dakwah imaniah. Yaitu suatu hakikat bagaimana seharusnya para juru dakwah mengajak mereka ke jalan keimanan yang sebenarnya. Rasulullah SAW, menghadapi kaum musyrikin dengan mengajak mereka kepada agama Allah yang Esa. Akan tetapi, beliau tidak hanya menghadapi persoalan akidah semata yang ada di dalam jiwa mereka. Akan tetapi persoalan yang dihadapi Rasulullah pada saat itu, adalah kondisi lingkungan yang meliputi akidah dan sikap hidup mereka. Inilah yang membuat mereka menentang ajakan (dakwah) Rasulullah yang sedemikian keras. Penentangan yang begitu keras yang dilakukan oleh orang-orang kafir bukan hanya dalam bentuk fisik dan physikis, tetapi kilauan dunia pun dilakukan oleh mereka terhadap Rasulullah dengan syarat beliau mau berhenti dari dakwahnya. Jadi pada hakikatnya ayat ini merupakan modal dasar bagi para juru dakwah agar tidak melupakan prinsip dasar dari ayat tersebut, yakni selalu bersikap sabar dan tidak melupakan ibadah baik yang bersifat mahdhah ataupun ghair mahdhah serta zikir sebagi pengingat kita akan kebesaran dan pertolongan Allah SWT. Disamping itu ayat ini melarang seorang mukmin, apalagi kalau ia sebagai pemimpin ummat ataupun pendidik jangan sampai tergiur akan kesenangan duniawi yang ditawarkan oleh
orang-orang yang penuh dosa dan maksiat, dengan tujuan hendak mematikan gerakan dakwah.
3. Aplikasi pendidikan kesabaran. Untuk mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran diperlukan sebuah metode yang tepat, pendidikan kesabaran dapat teraplikasikan dengan menggunakan metode Qishah Qurani dan Nabawi, metode
Ibrah, dan Mau’idzah. Aplikasi pendidikan dzikir. Untuk dapat mengaplikasikan pendidikan zikir ini, metode yang paling tepat untuk digunakan adalah metode keteladan (pemberian contoh). Yaitu hendaknya seorang guru memberikan contoh dalam berzikir, yaitu dengan mengajak para siswa/anak didik untuk melakukan shalat berjamaah yang kemudian diikuti dengan berdzikir secara bersama-sama. Jika hal ini dilakukan secara terus menerus maka siswa akan terbiasa melakukannya baik dalam keadaan shalat berjamaah ataupun sendiri. Disamping metode keteladanan, seorang guru juga dapat menggunakan metode
targhib wa tarhib, yaitu dengan cara menampilkan ayat-ayat al-Quran yang mengilustrasikan kelompok orang-orang yang lupa kepada Tuhannya dan kelompok orang-orang yang mendapat ketentraman dari Tuhannya. Sehingga dengan demikian siswa dapat memilih kelompok mana yang dianggap baik dan yang buruk untuk dirinya. Aplikasi pendidikan shalat malam (qiyamul lail). Sebagai aplikasinya, metode yang dapat diterapkan adalah targhib dan tarhib yakni dengan mengungkapkan data empirik tentang orang-orang yang mengabaikan perintah shalat serta membandingkannya dengan orang-orang yang mengerjakan shalat. Dari data tersebut para siswa diharapkan dapat
mengidentifikasi ciri-ciri kedua kelompok manusia yang melaksanakan dan melanggar perintah Allah tersebut. Guru perlu membimbing dengan sungguh-sungguh agar para siswa dapat menemukan fakta bahwa orang-orang yang enggan melaksanakan perintah Allah hidupnya di dunia sengsara. Sebaliknya orang-orang yang menaati perintah Allah kehidupannya di dunia bahagia.
B. Saran
Kepada para peminat studi ini, kajian semacam ini sangat perlu untuk terus dapat dilakukan sebagai upaya untuk memberikan sumbangsih pemikiran dan untuk dapat mengembangkan dan memperkaya khazanah intelektual Islam, khususnya studi-studi ke-Islam-an.
Kajian ini merupakan kajian parsial (juz’i), yang lingkup bahasannya sebatas pada surat al-Insan, menjadikan bahasan ini sangat begitu sempit. Oleh karena itu sangat diharapkan bagi siapa saja yang berminat untuk dapat mengembangkan dan menuliskan sebuah bahasan kajian tafsir topical (maudhu’i), sekitar topik ini.