Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik disekitar rumah, sekolah, teman sebaya maupun masyarakat. Faktor keluarga,terutama faktor orang tua yang ikut menjadi penyebab seorang anak atau remaja menjadi penyalahguna NAPZA antara lain adalah :
a. Lingkungan Keluarga
o Komunikasi orang tua-anak kurang baik/efektif
o Hubungan dalam keluarga kurang harmonis/disfungsi dalam keluarga o Orang tua otoriter atau serba melarang
o Orang tua yang serba membolehkan (permisif)
o Kurangnya orang yang dapat dijadikan model atau teladan
o Kurangnya kehidupan beragama atau menjalankan ibadah dalam keluarga o Orang tua atau anggota keluarga yang menjadi penyalahguna NAPZA b. Lingkungan Sekolah
o Sekolah yang kurang disiplin
o Sekolah yang terletak dekat tempat hiburan dan penjual NAPZA
o Sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan diri secara kreatif dan positif
o Adanya murid pengguna NAPZA c. Lingkungan Teman Sebaya
o Berteman dengan penyalahguna
o Tekanan atau ancaman teman kelompok atau pengedar d. Lingkungan masyarakat/sosial
o Lemahnya penegakan hukum
o Situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang mendukung 3. Faktor Napza(1,4)
Banyaknya iklan minuman beralkohol dan rokok yang menarik untuk dicoba
Khasiat farmakologik NAPZA yang menenangkan, menghilangkan nyeri, menidurkan, membuat euforia/fly/stone/high/teler dan lain-lain.
Faktor-faktor tersebut diatas memang tidak selau membuat seseorang kelak menjadi penyalahguna NAPZA. Akan tetapi makin banyak faktor-faktor diatas, semakin besar kemungkinan seseorang menjadi penyalahguna NAPZA.
Gangguan Berhubungan dengan Penggunaan Zat Inhalan
Di dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSM-IV), kategori gangguan berhubungan dengan inhalan memasukkan sindrom psikiatrik yang disebabkan oleh penggunaan oleh pelarut, lem, perekat, bahan pembakar aerosol, pengencer cat, dan bahan bakar. Senyawa aktif dalam bahan inhalan tersebut adalah toluene, acetone, benzene, trichloroethylene, 1,2-dichloropropane, dan hidrokarbon berhalogen. DSM-IV secara spesifik mengeluarkan gas-gas anestetik (contoh, nitrogen oksida dan ether) dan nitrit kerja cepat (contoh, amylnitrite) dari gangguan berhubungan denan inhalan, DSM-IV mengklasifikasikannya sebagai gangguan berhubungan dengan zat lain (atau tidak diketahui)
(1).
a. Epidemiologi
Zat inhalan tersedia secara legal, tidak mahal, dan mudah didapatkan. Ketiga faktor tersebut berperan pada pemakaian inhalan yang tinggi diantara orang-orang miskin dan orang-orang muda. Pada tahun 1991, kira-kira 5 persen dari total populasi di Amerika Serikat telah menggunakan inhalan sekurangnya satu kali, dan kira-kira 1 persen pemakai sekarang ini. Di antara orang dewasa yang berusia 18-25 tahun, 11 persen pernah menggunakan inhalan sekurangnya satu kali dan 2 persen merupakan pemakai sekarang ini. Diantara pemuda yang berusia 12-17 tahun, 7 persen pernah menggunakan inhalan sekurangnya satu kali, dan 2 persen merupakan pemakai sekarang ini. Dalam suatu penelitian, terhadap pelahjar sekolah menengah ke atas, 18 persen dilaporkan telah menggunakan inhalan dalam bulan sebelumnya. Suatu data menyatakan bahwa di Amerika Serikat, pemakai inhalan lebih sering pada masyarakat di pinggiran perkotaan daripada masyarakat perkotaan(1).
Pemakaian inhalan berjumlah 1 persen dari semua kematian yang berhubungan dengan zat dan kurang dari 0,5 persen dari semua kunjungan ruang gawat darurat yag berhubungan dengan zat. Kira-kira 20 persen kunjungan ke ruang gawat darurat oleh pemakai inhalan dilakukan oleh orang yang perusia kurang dari 18 tahun. Penggunaan inhalan diantara remaja
paling sering pada mereka yang mempunyai orangtua atau saudara kandung lainnya yang menggunakan zat yang ilegal. Penggunaan inhalan di kalangan remaja juga dihubungkan dengan gangguan onduksi atau gangguan kepribadian anti-sosial (1).
b. Neurofarmakologi
Inhalan biasanya dilepaskan ke dalam paru-paru dengan menggunakan suatu tabung, kaleng, atau kantung plastik, atau dengan suatu kain yang direndam dengan inhalan. Pemakai dapat menghirupinhalan melalui hidung atau menyedot inhalan melalui mulut. Kerja umum inhalan adalah sebagai depresan sistem saraf pusat. Toleransi terhadap inhalan tidak terjadi, walaupun gejala pemutusan inhalan biasanya sangat ringan dan tidak diklasifikasikan sebagai gangguan dalam DSM-IV(1).
Inhalan sangat cepat diserap melalui paru-paru dan cepat dikirim ke otak. Efeknya tampak dalam 5 menit dan bertahan hingga 30 menit sampai beberapa jam. Tergantung pada zat inhalan dan dosisnya. Konsentrasi darah dari banyak zat inhalan meningkat jika digunakan dalam kombinasi dengan alkohol, kemungkinan karena kombinasi untuk enzim hepatik. Walaupun kira-kira seperlima zat inhalan diekskresikan oleh paru-paru dalam bentuk yang tidak berubah, sisanya dimetabolisme oleh hati. Inhalan dalam hati dapat terdeteksi dalam darah selama 4 sampai 10 jam setelah penggunaannya, dan sampel darah harus diambil di ruang gawat darurat jika dicurigai penggunaan inhalan(1).
Inhalan menimbulkan efek farmakodinamik spesifik yang tidak dimengerti dengan baik. Karena efeknya biasanya mirip dengan efek depresan pada sistem saraf pusat (contoh etanol, barbiturat, dan benzodiazpine), beberapa peneliti menyatakan bahwa inhalan beerja melalui suatu peningkatan sistem gamma-aminobutyric acid (GABA)(1).
c. Diagnosis
Kriteria diagnosis untuk intoksikasi inhalan (1):
A. Pemakaian inhalan volatil yang disengaja dan belum lama atau pemaparan dengan inhalan volatil jangka pendek dan dosis tinggi (termasuk gas anestetik dan vasodilator kerja cepat)
B. Perilaku maladaptif atau perubahan psikologis yang bermakna secara klinis (misalnya kenakalan, penerangan, apati, gangguan pertimbangan, gangguan fungsi sosial atau pekerjaan) yang berkembang selama, atau segera setelah, pemakaian atau pemaparan dengan inhalan volatil.
C. Dua (atau lebih) tanda berikut, yang berkembang selama, atau segera setelah, pemakaian atau pemaparan dengan inhalan
(1). Pusing (2). Nistagmus (3). Inkoordinasi (4). Bicara cadel
(5). Gaya berjalan tidak mantap (6). Letargi
(7). Depresi refleks (8). Retardasi Psikomotor (9). Tremor
(10). Kelemahan otot umum
(11). Pandangan Kabur atau diplopia (12). Stupor atau koma
(13). Euforia
D. Gejala bukan karena kondisi medis umum dan tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain.
Beberapa gangguan yang berhubungan dengan inhalan (1,5) : 1. Ketergantungan dan penyalahgunaan inhalan
Sebagian besar orang mungkin menggunakan inhalan untuk jangka waktu singkat tanpa menimbulkan pola penggunaan jangka panjang yang berakibat ketergantungan dan penyalahgunaan. Namun, ketergantungan dan penyalahgunaan dapat terjadi.
2. Intoksikasi Inhalan
Keadaan intoksikasi inhalan sering ditandai dengan apati, penurunan fungsi sosial dan okupasional, daya nilai terganggu, serta perilaku impulsif atau agresif, dan dapat disertai mual, anoreksia, nistagmus, refleks terdepresi, dan diplopia. Pada dosis tinggi dan pajanan jangka panjang, status neurologis pengguna dapat berlanjut menjadi stupor dan tidak sada, dan seseorang mungkin kemudian menjadi amnesik selama periode intoksikasi.
d. Gambaran klinis
Pada dosis awal, inhalan dapat menyebakan disinhibisi serta dapat menimbulkan perasaan euforia dan eksitasi serta sensasi mengambang yang menyenangkan. Dosis tinggi inhalan dapat menyebabkan gejala psikologis ketakutan, ilusi sensorik, halusinansi, serta distorsi ukuran tubuh. Gejala neurologis dapat mencakup bicara cadel, penurunan kecepatan bicara, dan ataksia (1,5).
Biasanya, penggunan inhalan adalah relatif singkat dalam kehidupan sesenan baheorang. Orang tersebut menghentikan aktivitas menggunakan zat atau pindah ke zat lain. Identifikasi penggunaan inhalan pada seorang remaja adalah indikasi bahwa remaja tersebut harus mendapatkan konseling dan pendidikan tentang masalah umum penggunaan zat. Adanya diagnosis penyerta gangguan konduksi atau gangguan kepribadian anti sosial harus mengarahkan dokter untuk menilai situasi dengan mendalam karena adanya peningkatan kemungkinan bahwa remaja tersebut akan menjadi semakin terlibat dalam penggunaan zat. Tetapi pada sebagian besar orang dengan penyalah gunaan inhalan adalah orang lanjut usia dan cacat yang memerlukan intervensi sosial yang nyata sebagai bagian dari pendekatan pengobatan(1).
Intoksikasi inhalan biasanya tidak memerlukan perhatian medis dan bisa sembuh spontan. Namun, efek intoksikasi seperti koma, bronkospasme, larigospasme, aritmia jantung, trauma atau luka bakar memerlukan tindakan cepat. Penanganan agresif terhadap penyulit yang mengancam nyawa bersama dengan penatalaksanaan konservatif intoksikasi sudah cukup memadai(1,5).
Gangguan Berhubungan dengan Penggunaan Alkohol
Alkohol merupakan substansi yang paling banyak digunakan di dunia, dan tidak ada obat lain yang dipelajari sebanyak alkohol. Dari segi kimiawi, alkohol merupakan suatu senyawa kimia yang mengandung gugus OH. Alkohol dalam masyarakat umum mengacu kepada etanol atau grain alkohol. Etanol dapat dibuat dari fermentasi buah atau gandum dengan ragi(1).
Istilah alkohol sendiri pada awalnya berasal dari bahasa Arab “Al Kuhl” yang digunakan untuk menyebut bubuk yang sangat halus yang biasanya dipakai untuk bahan kosmetik khususnya eyeshadow. Sejak 5000 tahun yang lalu alkohol digunakan sebagai minuman dengan berbagai tujuan, seperti sarana untuk komunikasi transedental dalam upacara kepercayaan dan untuk memperoleh kenikmatan(1).
Alkohol bersifat depresan terhadap sistem saraf pusat dengan menghambat aktivitas neuronal. Ini berakibat hilangnya kendali diri dan mengarah kepada keadaan membahayakan diri sendiri maupun orang disekitarnya. Diperkirakan alkohol menjadi penyebab 25% kunjungan ke Unit Gawat Darurat rumah sakit.1 Alkohol dapat menyebabkan komplikasi yang serius dalam menangani dan mengobati pasien trauma. Interaksi antara alkohol dengan obat lainnya dapat terjadi, sehingga harus diperhitungkan secara hati-hati penggunaannya
dalam obat, operasi, maupun obat anestesi. Akibat penggunaan alkohol dapat muncul masalah kesehatan lainnya seperti gangguan hati, cardiomyopati, gangguan pembekuan darah, gangguan keseimbangan cairan, hingga ketergantungan terhadap alkohol. Ini akan menyebabkan perlunya pertimbangan yang lebih matang dalam menangani pasien dengan Alkohol(1).
Mengidentifikasi permasalahan yang dapat timbul akibat penggunaan alkohol pada pasien yang memerlukan pembedahan pada saat perioperatif merupakan suatu tantangan bagi dokter, terutama ahli bedah dan anestesi. Setelah diiidentifikasi, masalah pada pasien dapat ditangani dengan lebih efektif untuk meningkatkan outcome dari pembedahan dan mengurangi efek samping yang dapat terjadi(1).
Epidemiologi
Sekitar 14 juta warga Amerika termasuk dalam kriteria alkoholism, membuatnya sebagai peringkat ketiga penyakit yang memerlukan kunjungan ke psikiater dan menghabiskan lebih dari 165 miliar dolar amerika setiap tahunnya akibat penurunan produksi kerja, kematian, dan biaya pengobatan langsung. Diantara mereka 10% wanita dan 20% pria termasuk dalam kriteria penyalahgunaan alkohol, sedangkan 3-5% wanita dan 10% pria dimasukkan dalam ketergantungan alkohol(1).
Usia 13-15 tahun merupakan usia yang berisiko dimana pada usia tersebut remaja mulai menjadi peminum. Pengkonsumsi alkohol terbanyak berkisar pada usia 20-35 tahun.2 Penelitian pada sebuah sekolah di Amerika menunjukkan bahwa siswa kulit putih mengkonsumsi alkohol terbanyak, siswa kulit hitam merupakan peminum yang paling sedikit, dan siswa Hispanic berada diantaranya. Survey memfokuskan kepada masalah yang dihadapi oleh 4.390 siswa dimana hampir 80% dilaporkan menjadi peminuman saat pesta. Lebih dari 50% mengaku Alkohol menyebabkan mereka merasa sakit, kehilangan sekolah maupun pekerjaan, ditahan polisi, atau mengalami kecelakaan lalu lintas(1).
Pria dilaporkan mengkonsumsi alkohol lebih banyak dibandingkan wanita. Wanita mulai mengkonsumsi alkohol lebih lambat dibandingkan pria. Namun wanita lebih cepat menjadi alkoholik karena rendahnya kadar air dalam tubuh dan tingginya lemak pada wanita dibandingkan pria.2 Karena tingginya kadar alkohol, wanita memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan alkohol seperti cirosis, cardiomiopaty, dan atropi otak(1).
Kimiawi Alkohol
Dalam kimia, alkohol (atau alkanol) adalah istilah yang umum untuk senyawa organik apa pun yang memiliki gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada atom karbon, yang ia sendiri terikat pada atom hidrogen dan/atau atom karbon lain.3 Rumus kimia umum alkohol adalah CnH2n+1OH. Alkohol dapat dibagi kedalam beberapa kelompok tergantung pada bagaimana posisi gugus -OH dalam rantai atom-atom karbonnya. Kelompok-kelompok alkohol antara lain alkohol primer, sekunder, dan tersier. Titik didih alkohol meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah atom karbon(1).
Alkohol murni tidaklah dikonsumsi manusia. Alkohol sering dipakai untuk menyebut etanol, yaitu minuman yang mengandung alkohol. Hal ini disebabkan karena memang etanol yang digunakan sebagai bahan dasar pada minuman tersebut, bukan metanol, atau grup alkohol lainnya. Bahan ini dihasilkan dari proses fermentasi gula yang dikandung dari malt dan beberapa buah-buahan seperti hop, anggur dan sebagainya(1).
Setiap Negara memiliki aturan yang membahas kadar alkohol dalam darah yang masih ditolerir demi keamanan bersama. Kadar alkohol dalam darah atau Blood Alkohol Concentration (BAC) digunakan sebagai satuan ukur intoksikasi alkohol untuk tujuan hukum maupun medis. BAC dihitung dengan membandingkan massa tubuh per volume. Jumlah alkohol yang dikonsumsi tidak dapat di hitung dengan BAC, karena bervariasi terhadap berat badan, jenis kelamin, dan lemak tubuh. Namun secara umum diperkirakan bahwa satu gelas alkohol yang tidak menyebabkan mabuk (contohnya 14 gram (17,74 ml) ethanol berdasarkan standar amerika) akan meningkatkan ± 0,02-0,05% BAC dalam 1,5 sampai 3 jam berikutnya(1).
Farmakokinetik Alkohol
Absorpsi
Setelah diminum, alkohol kebanyakan diabsorpsi di duodenum melalui difusi. Kecepatan absorpsi bervariasi, tergantung beberapa faktor, antara lain (1);
a. Volume, jenis, dan konsentrasi alkohol yang dikonsumsi. Alkohol dengan konsentrasi rendah diabsorpsi lebih lambat. Namun alkohol dengan konsentrasi
tinggi akan menghambat proses pengosongan lambung. Selain itu, karbonasi juga dapat mempercepat absorpsi alkohol.
b. Kecepatan minum, semakin cepat seseorang meminumnya, semakin cepat absorpsi terjadi.
c. Makanan. Makanan memegang peranan besar dalam absorpsi alkohol. Jumlah, waktu, dan jenis makanan sangat mempengaruhi. Makanan tinggi lemak secara signifikan dapat memperlambat absorpsi alkohol. Efek utama makanan terhadap alkohol adalah perlambatan pengosongan lambung.
d. Metabolisme lambung, seperti juga metabolisme hati, dapat secara signifikan menurunkan bioavailabilitas alkohol sebelum memasuki sistem sirkulasi.
Distribusi
Alkohol didistribusikan melalui cairan tubuh. Terdapat perbedaan komposisi tubuh antara pria dan wanita, dimana wanita memiliki proporsi cairan tubuh yang lebih rendah dibandingkan pria, meskipun mereka memiliki berat badan yang sama. Karena itu, meskipun seorang wanita dengan berat badan yang sama, mengkonsumsi alkohol dalam jumlah yang sama dengan pria, wanita tersebut akan memiliki kadar alkohol darah yang lebih tinggi(1).
Metabolisme
Metabolisme primer alkohol adalah di hati, dengan melalui 3 tahap. Pada tahap awal, alkohol dioksidasi menjadi acetaldehyde oleh enzim alkohol dehydrogenase (ADH). Enzim ini terdapat sedikit pada konsentrasi alkohol yang rendah dalam darah. Kemudian saat kadar alkohol dalam darah meningkat hingga tarap sedang (social drinking), terjadi zero-order kinetics, dimana kecepatan metabolisme menjadi maksimal, yaitu 7-10 gram/jam (setara dengan sekali minum dalam satu jam). Namun kecepatan metabolisme tersebut sangat berbeda antara masing-masing individu, dan bahkan berbeda pula pada orang yang sama dari hari ke hari(1).
Tahap kedua reaksi metabolisme, acetaldehyde diubah menjadi acetate oleh enzim aldehyde dehydrogenase. Dalam keadaan normal, acetaldehyde dimetabolisme secara cepat dan biasanya tidak mengganggu fungsi normal. Namum saat sejumlah besar alkohol di
konsumsi, sejumlah acetaldehyde akan menimbulkan gejala seperti sakit kepala, gastritis, mual, pusing, hingga perasaan nyeri saat bangun tidur(1).
Tahap ketiga merupakan tahap akhir, terjadi konversi gugus acetate dari koenzim A menjadi lemak, atau karbondioksida dan air.6 Tahap ini juga dapat terjadi pada semua jaringan dan biasanya merupakan bagian dari siklus asam trikarbosilat (siklus Krebs). Jaringan otak dapat mengubah alkohol menjadi asetaldehid, asetil koenzim A, atau asam asetat(1).
Pada peminum alkohol kronis dapat terjadi penumpukan produksi lemak (fatty acid). Fatty acis akan membentuk plug pada pembuluh darah kapiler yang mengelilingi sel hati dan akhirnya sel hati mati yang akan berakhir dengan cirrosis hepatis(1).
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Wilkinson menunjukkan bahwa konsentrasi alkohol dalam darah (BAC) setelah mengonsumsi secara cepat berbeda pada setiap orang. Selain itu, jika sejumlah alkohol di konsumsi dalam jangka waktu yang lama, BAC menjadi lebih rendah.8 Dibawah ini ditunjukkan konsentrasi alkohol dalam darah setelah beberapa jam. 100 mg% merupakan konsentrasi alkohol dalam darah yang masih di ijinkan pada beberapa negara, sedangkan BAC 50 mg% merupakan kadar aman yang masih diperbolehkan untuk mengemudikan kendaraan(1).
Farmakodinamik Alkohol
Alkohol lebih banyak bekerja pada sistem saraf, terutama otak. Pada otak, alkohol mengakibatkan depresi yang menyerupai depresi akibat narkotik, kemungkinan melalui gangguan pada transmisi sinaptik, dimana impuls saraf akan mengalami inhibisi. Terjadi pembebasan pusat otak yang lebih rendah dari kontrol pusat yang lebih tinggi dan inhibisi(1).
a. Efek pada sistem GABA
Alkohol menimbulkan efek seperti kerja GABA-A dengan berinteraksi dengan GABA-A reseptor, namun melalui tempat yang berbeda dari tempat berikatannya GABA ataupun benzodiazepine. Interaksi ini akan mengaktifkan neuron DA di sistem mesolimbik. Akibatnya muncul efek sedatif, anxiolytic, dan hyperexcitability(1).
b. Efek pada sistem Dopamin dan Opioid
Alkohol tidak bekerja secara langsung pada reseptor DA, namun secara tidak langsung dengan meningkatkan kadar DA pada sistem mesocorticolimbic. Peningkatan ini memiliki efek terhadap penguatan efek alkohol dalam tubuh. Interaksi alkohol dengan sistem opioid juga tidak langsung dan mengakibatkan pengaktifan sistem opioid. Interaksi ini bersifat menguatkan (kemungkinan melalui reseptor MU). Sistem opioid juga terlibat dalam munculnya kecanduan alkohol(1).
c. Efek terhadap sistem lain (NMDA, 5HT, stress hormone)
Alkohol menghambat reseptor NMDA, tidak dengan berikatan langsung pada glutamate binding site, namun dengan mengubah jalan glutamate menuju tempatnya berikatan pada reseptor (allosteric effect). Interaksi ini juga memfasilitasi munculnya efek sedatif/hypnotic alkohol, seperti halnya neuroadaptation(1).
Sistem serotonin juga berperanan dalam farmakologi alkohol. Meskipun mekanisme kerja belum jelas, namun membantu dalam pelepasan DA. Peningkatan kadar serotonin pada sinap menurunkan pengambilan alkohol(1).
Konsumsi alkohol akut juga memiliki efek terhadap hypothalamic-pituitary axis, kemungkinan dengan melibatkan hormone CRF (corticotrophin releasing factor). Kerja pada tempat ini kemungkinan mendasari efek penekanan stress pada alkohol(1).
Interaksi Alkohol dengan Obat
Terdapat dua tipe interaksi alkohol dan obat lain, yaitu interaksi farmakokinetik, dimana alkohol mempengaruhi efek obat, dan interaksi farmakodinamik, alkohol mengubah efek obat, umumnya di sistem saraf pusat (contoh : sedasi). Interaksi farmakokinetik umumnya terjadi di hati, dimana alkohol dan banyak obat-obatan di metabolisme, kebanyakan oleh enzim yang sama. Pada alkohol dosis akut (sekali minum atau beberapa kali minum setelah beberapa jam) dapat menghambat metabolisme obat dengan berkompetisi dengan menggunakan enzim metabolisme yang sama. Interaksi ini akan memperpanjang dan
mengubah kemampuan obat, berpotensi meningkatkan risiko terjadinya efek samping obat. Pada peminum alkohol kronis (dalam jangka waktu lama), alkohol akan mengaktifkan enzim metabolisme. Ini akan menurunkan dan mengurangi efek kerja obat. Setelah enzim diaktifkan, mereka akan selalu ada meskipun tanpa adanya alkohol, mempengaruhi metabolisme beberapa obat selama beberapa minggu setelah penghentian konsumsi alkohol(1).
Sejumlah golongan obat dapat menimbulkan interaksi dengan alkohol, termasuk obat anestesi, antibiotic, antidepresan, antihistamin, barbiturate, benzodiazepine, histamine H2 receptor antagonis, muscel relaxan, obat penghilang nyeri golongan non narkotik, antiinflamasi, opioid, dan warfarin(1).
Obat Anestesi
Obat-obatan anestesi diberikan mengawali pembedahan untuk membuat pasien tidak nyeri dan tenang. Konsumsi alkohol secara kronik meningkatkan dosis propofol yang diperlukan untuk menurunkan kesadaran pasien. Konsumsi alkohol dalam jangka lama akan meningkatkan risiko kerusakan hati oleh pemakaian gas anestesi seperti enflurane dan halotan(1).
Antikoagulan
Warfarin berfungsi untuk memperlambat pembekuan darah. Adanya konsumsi alkohol akut mengubah kemampuan warfarin, menyebabkan pasien berpeluang mengalami pendarahan yang mengancam nyawa. Konsumsi alkohol secara kronik menurunkan kerja warfarin, menimbulkan gangguan pembekuan darah(1).
Antidepressant
Alkohol meningkatkan efek sedasi dari tricyclic anti-depressant seperti amitriptyline, menurunkan kemampuan yang diperlukan dalam mengemudi. Konsumsi alkohol kronic meningkatkan kerja beberapa tricyclic dan menurunkan kerja tricyclic lainnya. sebuah substansi kimia yang disebut tyramine terdapat dalam beberapa bir dan wine, berinteraksi dengan beberapa antidepresan, seperti monoamine oxidase (MAO) inhibitor menyebabkan peningkatan tekanan darah yang berbahaya(1).
Obat seperti diphenhydramine dapat digunakan untuk menangani gejala alergi dan insomnia. Alkohol bersifat meningkatkan efek sedasi pada antihistamin. Obat ini menyebabkan kelebihan sedasi dan nyeri kepala pada orang tua. Efek kombinasi dengan alkohol akan sangat signifikan berbahaya pada kelompok ini(1).
Penghilang rasa nyeri golongan narkotik
Obat golongan ini digunakan untuk nyeri sedang hingga berat. Yang termasuk dalam golongan ini antara lain morfin, codein, propoxyphene, dan meperidine. Kombinasi alkohol dengan opioid meningkatkan efek sedasi kedua substansi tersebut, meningkatkan risiko kematian akibat overdosis. Satu dosis alkohol dapat meningkatkan kemampuan kerja propoxyphene, dan meningkatkan efek samping sedasi. opioid merupakan agen yang memiliki efek seperti opium (sedatif, penghilang nyeri, dan euphoria) yang digunakan untuk pengobatan. Overdosis alkohol dan opioid sangat berbahaya karena mereka dapat menurunkan reflek batuk dan fungsi pernafasan, sehingga berpotensi untuk terjadinya regurgitasi maupun sumbatan jalan nafas(1).
Penghilang Nyeri golongan non-Narkotik
Aspirin paling sering dipergunakan oleh orang tua. Beberapa obat jenis ini dapat menyebabkan pendarahan lambung dan menghambat pembekuan darah. Alkohol dapat memperparah efek ini. Orang tua yang mencampurkan alkohol dengan aspirin dalam dosis besar tanpa resep dokter memiliki risiko lebih besar untuk mengalami pendarahan lambung. Aspirin juga meningkatkan kerja alkohol. Konsumsi alkohol secara kronis mengaktifkan enzim yang mengubah acetaminophen menjadi substansi kimia yang dapat menyebabkan kerusakan hati, meskipun acetaminophen dipergunakan dalam kadar therapeutic. Efek ini dapat terjadi dengan 2,6 gr acetaminophen yang diberikan pada pengkonsumsi alkohol berat(1).
Sedatif dan Hipnotik
Interaksi farmakodinamik antara dosis kecil diazepam denga alkohol telah diteliti dengan menggunakan double blind randomized study. Diazepam yang diberikan sebanyak 5