• Tidak ada hasil yang ditemukan

CENTURY - EARLY XX CENTURY

C. Faktor Pendorong Praktik Eksploitasi Wanita

Maraknya bisnis prostitusi baik yang berkedok kesenian lokal maupun berkedok penyalur tenaga kerja, penculikan dan penipuan didorong oleh beberapa faktor. Secara garis besar faktor tersebut disebabkan oleh permintaan akan prostitusi yang tinggi, kebutuhan wanita untuk menghidupi diri dan keluarga, dan nilai jual wanita lokal yang bersaing. Adapun penjelasan dari faktor tersebut adalah sebagai berikut.

1. Permintaan Prostitusi yang Tinggi Akibat Larangan Menikah

Larangan menikah dan membawa serta keluarga di tempat kerja menyebabkan tingkat permintaan akan prostitusi menjadi tinggi. Salah satu contohnya seperti yang terjadi di Deli, bahwa perusahaan di Deli melarang pernikahan para buruhnya. Selain itu, terdapat larangan untuk membawa serta keluarga di lingkungan industri/pertambangan. Larangan tersebut sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh pejabat Eropa. Hal itu menyebabkan banyak kuli dan pekerja kasar membutuhkan hiburan (“Prostitutie in Ned.-Indië”, dalam

Soerabaijasch Handelsblad, 30 Maret 1901). Hal inilah yang menyebabkan permintaan akan pasar prostitusi dan perdagangan wanita meningkat. Seperti halnya hukum penawaran ekonomi bahwa suplai timbul karena adanya permintaan.

Larangan menikah tidak hanya diberlakukan untuk golongan pribumi semata, tetapi juga warga kulit putih. Baik masyarakat pribumi dan kolonial sebenarnya merasa terancam jika hubungan antar-ras yang tidak diatur. Larangan menikah dengan wanita pribumi dan permintaan akan layanan seksual domestik meningkat menyebabkan pergundikan antar-ras itu disukai. Sebagian pemimpin orang-orang asing tersebut sangat “toleran” terhadap hubungan antar-ras. Kondisi demikian menempatkan perempuan pribumi dalam situasi yang dirugikan karena lemah dalam sisi hukum, dan mendapat banyak celaan masyarakat (Lin, 1998:30).

2 Kebutuhan Wanita untuk Menghidupi Diri dan Keluarga

Akademisi dari Utrecht, Kohlbrugge, meneliti prostitusi dalam kehidupan masyarakat Hindia Belanda. Ia berpendapat bahwa pada dasarnya masyarakat Hindia Belanda memiliki pandangan yang menganggap pernikahan memiliki nilai tinggi untuk melindungi moral dari perselingkuhan. Namun para pria banyak yang tergoda karena hasrat mereka yang normal sebagai lelaki (“Prostitutie in Ned.-Indië”, dalam Soerabaijasch Handelsblad, 30 Maret 1901). Perkembangan awal prostitusi di Hindia Belanda yang dianggap resmi atau sah dirancang secara terorganisir. Industri seks tersebut selama masa penjajahan Belanda semakin diperluas. Sistem perbudakan dan pergundikan tradisional kemudian disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Eropa yang berada di daerah pelabuhan Hindia Belanda. Kepuasan seksual tentara, pedagang dan utusan menjadi salah satu isu utama dalam benturan budaya asing dan menimbulkan banyak dilema bagi masyarakat pribumi maupun Eropa. Sejumlah pria lajang yang dibawa ke Hindia Belanda oleh pemerintah kolonial dan kepentingan bisnis menghasilkan permintaan akan layanan seksual domestik meningkat. Kepuasan tersebut tercapai dengan keluarga lokal yang menjual anak perempuannya maupun perempuan yang menjual diri demi mencari keuntungan materi dari orang asing (Lin, 1998:30).

Prostitusi kemudian berkembang dan dikemas dalam bentuk kesenian lokal seperti halnya ronggeng. Gerak gerik kesenian dan prostitusi ronggeng berada di bawah kontrol dan pengawasan polisi Hindia Belanda. Para ronggeng Jawa yang telah menikah hanya berprofesi sebagai penari, tidak merangkap sebagai pelacur, dan mereka menikah dengan sesama orang Jawa. Sebagian ronggeng yang belum menikah merangkap sebagai pelacur untuk memenuhi kebutuhan hidup (“Prostitutie in Ned.-Indië”, dalam Soerabaijasch Handelsblad, 30 Maret 1901).

Usaha untuk mencukupi kebutuhan keluarga selain dengan menggantungkan diri pada matapencaharian sebagai ronggeng, para wanita juga ada menjual diri ke huwelijksmakelaar

untuk menjadi binih moedah (istri muda). Mereka berasal dari keluarga tidak mampu para petani di buitenzorg (Bogor). Dari hasil penjualan wanita tersebut, keluarga bisa mendapatkan sekitar ƒ 130, - sedangkan huwelijksmakelaar mendapatkan ƒ 75 (“De moord

in de Museomlaan” dalam Soerabaijasch Handelsblad, 12 November 1932). Besaran uang yang dibayarkan dari hasil penjualan wanita membuat keluarga tergiur untuk mem-perdagangkan wanita.

3 Nilai Jual Wanita Lokal yang Bersaing

Wanita lokal terutama Wanita Jawa memiliki “nilai jual” yang lebih rendah jika dibandingkan dengan daerah lain. Wanita Jawa dijadikan komoditas yang potensial dalam praktik perdagangan wanita karena “nilai jual” yang bersaing. Dalam praktik perdagangan wanita, gadis-gadis Jepang dan Cina memiliki nilai jual yang jauh lebih mahal, mencapai lebih dari ƒ. 1.200, -. Gadis-gadis dari Jawa memiliki “nilai jual” yang berkisar di bawah harga tersebut. Para wanita tersebut mau diperjualbelikan karena terlilit hutang yang tidak bisa dilunasi, sehingga mereka menjadi budak eksploitasi seksual (“Prostitutie in Ned.-Indië”, dalam Soerabaijasch Handelsblad, 30 Maret 1901).

Sesuai dengan thesis yang dikemukakan Donna M. Hughes, bahwa di tempat-tempat di mana prostitusi berkembang, merekrut perempuan lokal untuk mengisi rumah bordil tidak akan cukup untuk memenuhi permintaan pasar prostitusi di daerah tersebut, sehingga mucikari harus membawa korban prostitusi dari tempat lain (Huges, 2004). Di sisi lain, perempuan Sumatra memegang teguh adat dan budaya serta agama, sehingga perekrutan wanita lokal Sumatra dalam bisnis prostitusi sangat sedikit (“Sumatra’s Moraal toestanden daar gunstiger dan op Java?” dalam Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 9 Januari 1937).Para pebisnis prostitusi justru harus merekrut wanita dari luar daerah (dari Jawa) karena margin nilai jual dan kriteria lainnya yang sesuai dengan kebutuhan prostitusi di Sumatra (“Prostitutie in Ned.-Indië”, dalam Soerabaijasch Handelsblad, 30 Maret 1901).

III. PEBISNIS EKSPLOITASI WANITA DAN SINDIKATNYA A. Pebisnis Eksploitasi Wanita dan Cara Kerjanya

Pebisnis eksploitasi wanita di Jawa tidak didominasi orang Belanda saja, tetapi pada perkembangannya orang-orang Jawa dan orang Timur asing (warga Cina dan Keturunan) juga ambil bagian dalam bisnis tersebut. Pebisnis eksplotasi wanita memanfaatkan permintaan akan wanita pemuas nafsu dari ronggeng tidak hanya menari untuk menghibur masyarakat, tetapi juga menjadi pelacur. Kebutuhan hiburan bagi buruh (pekerja tambang) di wilayah pertambangan merupakan pasar potensial yang harus digarap serius bagi pebisnis prostitusi (Spiller, 2010:87). Prostitusi ronggeng banyak ditemukan di wilayah Sumatra dan Jawa melibatkan orang pribumi (sebagian besar keturunan Cina-Jawa), warga Eropa dan warga Cina sebagai mucikari dan induk semang.19

19 Seperti yang diberitakan dalam beberapa surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch dan De Sumatra post tahun 1920-30an.

Bisnis prostitusi/eksploitasi wanita di rumah bordil (wilayah Sumatra dan Malaka) melihat pada pelakunya antara lain pelacur “Badan taukeh”, pelacur “badan Sendiri”.Pelacur sebagai pekerja prostitusi Badan taukeh melaku-kan manajemen bisnis sendiri. Pelacur badan taukeh menyisakan sekitar 30% dari pendapatan untuk pemilik rumah bordil. Pendapatan pelacur badan taukeh sekitar ƒ 10per malam, dan pemilik rumah bordil mendapatkan sekitar ƒ2, 40- ƒ3. Jika dalam semalam pelacur tidak mendapat pelanggan, pelacur tidak perlu membayar pemilik

rumah bordil. Pemilik rumah bordil menyediakan rumah bordil dengan fasilitas listrik, dilengkapi dengan tempat tidur, meja, empat bangku dan kadang-kadang meja rias dengan cermin. Uang yang diberikan pada pemilik rumah bordil tidak termasuk jasa babu, uang rokok, pakaian, dan lain lain (“Velerlei, De Chineesche prostitutie”, dalam De Sumatra post 3 April 1918).

Berbeda halnya dengan pelacur ‘badan sendiri’ yang memiliki hutang kepada penjaga rumah bordil. Hutang besar yang ditanggung pelacur pada pemilik rumah bordir menyebabkan pelanggan prostitusi membayar langsung pada pemilik rumah bordil. Sisa dari pembayaran cicilan hutang biasanya dikembalikan sebulan sekali. Pelacur badan sendiri rawan ditipu oleh pemilik rumah bordil. Cicilan pembayaran hutang pelacur tersebut dikenakan tingkat bunga sebesar 5% perbulan. Pemilik rumah bordil terkadang menjerat pelacur dengan persyaratan pelunasan hutang yang tidak rasional, sehingga pelacur tersebut tidak pernah bisa melunasi hutangnya. Jika pelacur badan Sendiri mendapatkan ƒ 10 per malam, maka yang diterima ƒ 40.- per bulan. 30%- 40%. dibayarkan kepada penjaga rumah bordil, dan ditambah pembayaran hutang. Para pelacur juga kadang dipaksa untuk melayani pelanggan, dan sering dipukuli oleh para pekerja rumah bordil (“Velerlei, De Chineesche prostitutie”, dalam De Sumatra post 3 April 1918).

Pelacur yang bekerja di rumah bordil tersebut sebagian besar merupakan orang-orang keturunan Cina maupun orang Cina. Wanita keturunan yang bekerja sebagai pelacur di Sumatra dan Malaka juga sebagian berasal dari Jawa. Pemilik rumah bordil sendiri sebagian besar adalah warga Cina. Orang-orang Cina sering menyewakan rumah mereka dengan harga tinggi digunakan sebagai rumah bordil. Pengusaha prostitusi tersebut juga sering meminjamkan uang kepada para pelacur dengan bunga tinggi. Selain itu pinjaman dengan bunga tinggi juga diberikan pada pekerja lainnya di rumah bordil, untuk pembelian pelacur baru atau untuk biaya lainnya. Pinjaman inilah yang menyebabkan pelacur tidak bisa keluar meninggalkan rumah bordil (“Velerlei, De Chineesche prostitutie”, dalam De Sumatra post 3 April 1918).

Pebisnis eksploitasi wanita di daerah pertambangan juga dilakukan oleh orang keturunan Cina dan Cina-Jawa. Mereka menyediakan pelacur untuk kuli dan juga orang orang Eropa.20

20 Seperti di Deli, pria keturunan Cina Jawa menjadi mucikari untuk menyuplai kebutuhan seks para kuli (“Een moord”, dalam Algemeen Handelsblad, 21 Juli 1912).

ket: Ronggeng penghibur buruh di Bagan-siapiapi bersama orang-orang Eropa. Sumber Ronggeng-danseressen, vermoedelijk te sinemba bij Bagan-siapiapi, 1939, koleksi kitlv.nl

Selain menyediakan pelacur, para pebisnis eksploitasi juga memperdagangkan wanita dengan menjadi huwelijksmakelaar21 (makelar pernikahan). Sesuai dengan pendapat Bascom Johnson, huwelijksmakelaar di Hindia Belandamenyediakan wanita hasil merayu wanita muda (dari Jawa) untuk menikah dengan orang kaya (orang-orang Eropa dan orang–orang Cina yang kaya) (“Nederl.-Indie De Handel In Vrouwen en Meisies” dalam Soerabaijasch Handelsblad, 14 Agustus 1931). Huwelijksmakelaar menjanjikan wanita-wanita untuk menjadi binih moedah (istri muda) orang kaya. Dari hasil penjualan wanita tersebut, keluarga bisa mendapatkan sekitar ƒ130, - sedangkan huwelijksmakelaar mendapatkan ƒ75. Perdagangan wanita oleh huwelijksmakelaar terkadang mendapat pertentangan dengan keluarga wanita yang diperdagangan karena tidak terpenuhinya kesepakatan harga (“De moord in de Museomlaan” dalam Soerabaijasch Handelsblad, 12 November 1932).