• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PELAKSANAAN DZIKIR ISTIGHASAH SEBAGAI METODE DAKWAH DI PONDOK PESANTREN AL-FADLLU

B. Analisis Faktor Penghambat dan Pendukung Dzikir Istighasah sebagai Metode Dakwah

2. Faktor Pendukung dalamn Pelaksanaan Dzikir Istighasah

a. Istighasah yang diikuti oleh masyarakat umum juga bisa membantu meningkatkan keimanan, jamaah yang mengikutinya dapat mengintrospeksi diri, memohon ampun, dan meminta kemudahan dalam kehidupannya.

b. Majelis ini diikuti oleh masyarakat dari berbagai daerah, jadi bisa sebagai sarana silaturahim antar jamaah yang mengikuti.

c. Adanya dzikir istighasah di Pondok Pesantren Al-Fadllu wal-Fadlilah bisa dijadikan sarana wali santri untuk mengikuti pengajian dengan KH. Dimyati Rois dan juga sarana rutin mengunjungi putra-putrinya yang menyantri disana. Sesuai pernyataan dari jamaah yang berhasil diwawancarai penulis, bapak M dari Pekalongan mengaku mengikuti dzikir istighasah karena KH. Dimyati Rois, “saya mengikuti istighasah kesini bersama keluarga menjenguk adik yang kebetulan santri di pesantren ini, dan juga ikut ngaji atau bermunajat kepada Allah melalui majelis ini” (wawancara dengan jamaah, Kamis tanggal 15 Januari 2015 jam 22.10 WIB). Banyak yang seperti bapak M

96

tersebut mengikuti dzikir istighasah ini juga dijadikan kesempatan untuk bertemu dengan anak-anak atau saudara yang sedang nyantri di Pondok Pesantren Al-Fadllu wal-Fadlilah, para jamaah pengajian ini banyak yang sudah mengenal KH. Dimyati Rois sebagai kiai salaf yang berilmu tinggi.

d. Dzikir istighasah yang diadakan oleh KH. Dimyati Rois menjadikan ladang rizki bagi masyarakat sekitar Pondok Pesantren Al-Fadllu wal-Fadlilah, para warga yang letak rumahnya strategis menjajakan makanan, minuman, aksesoris, dan koran bekas untuk alas duduk jamaah yang berada di luar ruangan. Berdasarkan pemaparan ibu S yang rumahnya tidak jauh dari lokasi, “Alhamdulillah, dengan adanya istighasah seperti saya mendapat berkahnya juga dengan berjualan air mineral yang hampir setiap jamaah membutuhkannya” (wawancara Kamis tanggal 19 Februari 2015 jam 20.10 WIB).. Karena rumahnya yang strategis menjadi jalan utama dilewati para jamaah, para warga memanfaatkan hal ini untuk meraih rizki.

e. KH. Dimyati Rois merupakan tokoh agama yang berkepribadian sederhana dan mempunyai pengetahuan tentang ilmu agama yang tinggi menjadi daya tarik tersendiri bagi jamaah untuk mengikuti dzikir istighasah. Banyak jamaah yang mengakui bahwa mengikuti dzikir istighasah ini karena beliau seorang tokoh agama yang berilmu tinggi diyakini sebagai perantara mendekatkan diri kepada Allah.

97

A. Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan pada bab-bab sebelumnya dan dari penelitian yang dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pertama, banyak kegiatan dakwah yang terdapat di Pondok Pesantren Al-Fadllu wal-Fadlilah salah satunya pelaksanaan dzikir istighasah. Dakwah bisa dilakukan oleh siapa saja dan dengan menggunakan metode apapun, begitu juga dengan KH. Dimyati Rois yang melaksanakan dzikir istighasah setiap malam Jumat Kliwon di pondok pesantrennya.

Metode dakwah yang digunakan dalam dzikir istighasah adalah metode bil-hikmah, karena penggunaan teori al-hikmah dalam dakwah semata-mata dapat dilakukan da’i dengan pertolongan Allah secara langsung atau melalui utusan-Nya. Proses pelaksanaan dzikir istighasah terdapat dalam penggalan ayat 125 QS. An-Nahl, yang berbunyi:

          

Artinya: “sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”.

98

KH. Dimyati Rois menyeru kepada siapa saja untuk bersama-sama melaksanakan dzikir istighasah bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sarana menambah rasa iman, pengabdian dan kematangan cita-cita hidup, serta sarana pengendalian diri, pengendalaian nafsu yang sering menjadi penyebab kejahatan. Namun dalam hal ini Allah lebih mengetahui jamaah yang mengikuti dzikir istighasah dengan khusyuk, dan Allahlah yang pantas memberi hidayah pada jamaah dzikir istighasah karena Allahlah yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa.

Kedua, dalam pelaksanaan dzikir istighasah terdapat hambatan dan dukungan baik dari jamaahnya maupun sistem pelaksanaannya, penulis menyimpulkan hambatan-hambatan dan dukungan dzikir istighasah:

Hambatan dalam pelaksanaan dzikir istighasah ini adalah: 1. Tempatnya yang kurang kondusif

2. Pelaksanaanya yang kurang efektif 3. Fasilitas yang diberikan kurang nyaman

4. Gangguan sound system terkadang tidak terdengar jelas 5. Terdapat jamaah yang ngantuk atau ngobrol sendiri

Faktor pendukung dzikir istighasah 1. Sarana meningkatkan keimanan 2. Sarana silaturahim antar jamaah 3. Kunjungan rutin wali santri

4. Meraih rizki bagi warga sekitar

5. Pribadi KH. Dimyati Rois yang menarik B. Saran-saran

1) Jamaah disediakan tempat yang lebih nyaman lagi, karena banyak juga jamaah yang diluar ruangan sebaiknya dipasang tenda-tenda agar saat hujan para jamaah tidak kebingungan.

2) Pelaksanaan dzikir istighasah akan lebih efektif lagi ditambah dengan ceramah atau mauidhah hasanah.

3) Fasilitas yang diberikan lebih sempurna kalau jamaah diberikan selembaran teks yang akan dibaca dalam pelaksanaan dzikir istighasah tersebut, karena orang awam yang baru mengikuti tidak semuanya langsung mengerti apa yang dibacanya. Selain dibaca saat pelaksanaan tersebut jamaah juga bisa mengamalkannya sendiri saat beribadah di rumah masing-masing.

C. Penutup

Puji syukur dengan mengucap alhamdulillahi Robbil’aalamiin dengan segala nikmat-Nya, skripsi dengan judul “Dzikir Istighasah sebagai Metode Dakwah pada Jamaah Pengajian di Pondok Pesantren Al-Fadllu wal-Fadlilah Kaliwungu Kendal” dapat terselesaikan. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan dan pembahasan skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan sarannya dari berbagai pihak. Semoga

100

skripsi ini bermanfaat bagi pribadi penulis dan pembaca, khususnya dalam ilmu Bimbingan dan Penyuluhan Islam dan ilmu dakwah.

Al-Albani, S. Muhammad Nashiruddin. (2008). Shahih Targhib wa at-Tarhib. Jakarta: Pustaka Sahifa.

Ali, A. dan Muhdlor, A. Zuhdi. (1998). Kamus Kontemporer Arab-Indonesia. Yogyakarta: Multi Karya Grafika.

Amin, S. Munir. (2009). Ilmu Dakwah. Jakarta: Amzah.

Anshori, H. (1983). Pemahaman dan Pengamalan Dakwah. Surabaya : Al-Ikhlas.

Arikunto, S. (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Putra.

Ash-Shiddieqy, T. M. Hasbi. (2002). Pedoman Dzikir dan Doa. Semarang: PT Pustaka Rizki Putra.

Aziz, M. Ali. (2004). Ilmu Dakwah. Jakarta: Kencana.

Bastaman, H. Djumhana. (2011). Integritas Psikologi dengan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bukhori, B. (2008). Dzikir al-Asma al-Husna: Solusi atas Problem Agresivitas Remaja. Semarang: Syiar Media Publishing.

Dzikron, A. (1989). Metodologi Dakwah, Semarang: Fakultas Dakwah Press IAIN Walisongo.

Fatihuddin. (2010). Tentramkan Hati dengan Dzikir. Jakarta: Delta Prima Press.

Harahap, K. Amru dan Dalimunthe, R. Pahlevi. (2008). Dahsyatnya Doa dan Dzikir. Jakarta: Qultum Media.

Ilham, M. Arifin. (2004). Mendzikirkan Mata Hati. Depok: Intuisi Press. Ilahi, W. dan Munir, M. (2006). Manajemen Dakwah. Jakarta: Kencana. Moleong, L. J. (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remadja

Karya.

Mubarok, A. (2014). Psikologi Dakwah. Malang: Madani Press.

Mufid, A. Syafii, (1985). Zikir sebagai pembinaan kesejahteraan jiwa. Surabaya: Bina Ilmu.

Muhibbuddin, M. (2012). Terapi Hati. Yogyakarta: Buku Pintar.

Muriah, S. (2000). Metodologi Dakwah Kontemporer. Yogyakarta: Mitra Pustaka.

Nasution, M. (2002). Menuju Ketenangan Batin. Jakarta: Gema Insani.

Nawawi, I, (2005). Kitab: Al-Adzkaarun Nawawiyyah Khasiat Dzikir dan Do’a terjemah Bachrun Abu Bakar dan Anwar Abu Bakar, Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Saputra, W. (2011). Pengantar Ilmu Dakwah. Jakarta; Rajawali Pers.

Sholeh, M. dan Musbikin, M. Imam. (2005). Agama Sebagai Terapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sunarto, A. dkk. (1993). Tarjamah Shahih Bukhari Jilid VIII. Semarang: CV. Asy. Syifa.

Suryabrata, S. (1995). Metode Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Syakir, S. Ahmad. (2014). Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 4). Jakarta:

Darus Sunah.

Syukur, A. (2012). Kuberserah. Jakarta: Noura Books. Umari, B. (1993). Sistematika Tasawuf. Solo: Romadloni. Wawancara dengan jamaah, Kamis tanggal 15 Januari 2015. Wawancara dengan jamaah, Kamis tanggal 19 Februari 2015. Wawancara dengan pengasuh, Kamis tanggal 8 Januari 2015.

Wawancara dengan pengurus pondok pesantren, Kamis tanggal 19 Januari 2015.

Ya’kub, H. (1992). Publistik Islam Teknik Dakwah dan Leadership. Bandung: Diponegoro.

Dokumen terkait