BAB V PENUTUP
B. Saran
Menurut Soedarsono ada tiga fungsi primer dari seni pertunjukan diantaranya yaitu sebagai sarana ritual yang penikmatnya adalah kekuatan- kekuatan yang tidak kasat mata. Mengacu dari pendapat tersebut tolak- balak merupakan wujud upacara tradisional yang bertujuan untuk mengusir roh jahat yang mengganggu kelangsungan hidup. Salah satunya kesenian ini yang merupakan ritual penangkal malapetaka seperti wabah penyakit, menolak hama tanaman atau kegagalan panen.
c. Sarana ungkapan rasa syukur
Pementasan ini tidak lain adalah untuk mengucapkan rasa syukur atas limpahan rejeki dalam bentuk panen yang melimpah, kebahagian, kesuksesan, ataupun terhindar dari marabahaya.
d. Sarana hiburan
Kesenian yang atraktif dan dinamis adalah tontonan yang memberikan hiburan tersendiri bagi masyarakat. Untuk keperluan hiburan, kesenian ini dapat dipentaskan sesuai acara baik yang bersifat pribadi, kolektif, maupun acara kedinasan.
e. Sarana pendidikan
Kesenian tradisional dapat berfungsi untuk mengingatkan, menyarankan, mendidik dan menyampaikan pesan kepada masyarakat. Banyak nilai- nilai yang bisa kita ambil untuk dijadikan pelajaran khususnya pendidikan moral (Kussunartini, 2009: 88).
5. Mantra dalam Pertunjukan Reog
Adapun mantra yang dibacakan pawang untuk membuat pemain intrance sadar adalah sebagai berikut:
Bismillahirrohmanirrohim
“Niyatingsun semedi nutupi babahan hawa sanga. Seperlu minta srayaning kang akarya jagat.
Mugi- mugi kasirnakno kaki danyang nyai danyang kang manggon ono ing jiwa ragane ………
(sebut nama asli pemainnya) teko welas teko asih. Welas asih ana ing jabang bayine ……..
(sebut nama sipemain) kang manggon ana ing keblat sekawan lima pancer.
Awoh huma amin, mugo keparingana Kabul”.
“Niat saya berdoa untuk menutupi Sembilan hawa nafsu untuk memohon perlindungan Tuhan Yang Maha Esa. Semoga dihilangkan dari pengaruh jin dan syetan yang ada pada tubuh
…….. (sebut nama asli pemain). Datanglah rasa kasih sayang. Rasa kasih sayang di dalam jabang bayi …….. (sebut nama
pemain ) yang menempati lima penjuru. Semoga Allah
mengabulkan” (Kussunartini, 2009: 81).
C. Ibadah Anggota Kelompok Seni Reog
Suatu penilaian terhadap bagaimana hubungan Islam Jawa dengan tradisi yang lebih besar memerlukan pula penilaian terhadap sumber- sumber sejarahnya, proses Islam ditegarkan sebagai agama Jawa dan suatu pembahasan bagaimana orang Jawa menafsirkan tradisi- tradisi tekstual, mistis, dan ritual. Penafsiran- penafsiran Jawa mengenai Islam, setidaknya sejak abad ke- 16 berpusat pada persoalan yang berhubbungan dengan teologi, ritual, dan hubungan politik antara bentuk- bentuk mistis dan kesalehan Islam normatif. Proses penafsiran ini tidak memunculkan satu, tetapi beragam tipe Islam lokal Jawa (Woodward, 1999:82).
Seperti lazimnya manusia yang hidup ditengah alam liar yang bebas, para penghuni pulau Jawa yang telah memiliki keyakinan tertentu seperti Hindu maupun Budha, tetapi karena mereka bersentuhan langsung dengan kekuatan alam yang kemudian secara empiris berkesan dalam alam pemikiran
mereka, maka mau tidak mau hal itu lebih berpengaruh dalam ranah teologisnya. Dari pergaulannya secara langsung dengan kekuatan alam itu timbullah pemahaman baru di kalangan orang Jawa bahwa setiap gerakan, kekuatan dan kejadian di alam ini disebabkan oleh makhluk- makhluk yang berada di sekitarnya. Anggapan adanya kekuatan alam dan roh makhluk halus ini disebut animisme. Keyakinan animisme dalam masyarakat ini, menurut penjelasan Suryono terbagi dalam dua macam yaitu: fetitisme dan spiritisme. Fititisme adalah pemujaan kepada benda- benda berwujud yang tampak memiliki jiwa atau roh, sedangkan spiritisme adalah pemujaan terhadap roh- roh leluhur dan makhluk hidup lainnya yang ada di alam.
Keyakinan semacam itu terus terpelihara dalam tradisi dan budaya masyarakat Jawa, bahkan hingga saat ini masih dapat disaksikan berbagai ritual yang jelas merupakan peninggalan jaman tersebut. Keyakinan yang
demikian dalam kepustakaan budaya disebut dengan “Kejawen”, yaitu
keyakinan atau ritual campuran antara agama formal dengan keyakinan yang mengakar kuat dikalangan masyarakat Jawa (Khalil, 2008: 45).
Keyakinan manusia yang mengarah kepada praktik mempersonifikasikan alam sebagai Tuhan (mitologi alam), mempersonifikasikan roh- roh leluhur sebagai Tuhan (annimisme), maupun meyakini benda- benda yang dianggap memiliki kekuatan magis (dinamisme), tidaklah bisa dihindari lagi. Sekalipun dalam keyakinan mereka yang paling dalam tetap mengatakan bahwa perilaku ini tidaklah berarti politeisme atau syirik, karena adanya Tuhan yang Esa, bagi mereka tidaklah disangkal. Karena
itu, manusia bisa saja menyembah benda- benda hidup, tetumbuhan, berhala, Tuhan yang ghaib, seorang manusia yang kudus atau suatu karakter yang jahat. Manusia bisa menyembah apa saja yang mereka miliki, namun dalam batin mereka tetap mampu membedakan keyakinan- keyakinan religius itu dari yang bukan religius. Sebab dorongan manusia untuk menyembah Tuhan merupakan suatu keniscayaan yang pasti (Roibin, 2009: 69).
Kesurupan merupakan ketimpangan yang menimpa akal manusia sehingga tidak dapat menyadari apa yang diucapkannya dan tidak dapat pula menghubungkan antara apa yang telah diucapkan dengan apa yang akan diucapkannya. Orang yang terkena hal ini akan mengalami kehilangan ingatan sebagai akibat dari ketimpangan pada saraf otak. Ketimpangan akal ini akan diiringi dengan ketimpangan pada gerakan- gerakan orang yang kesurupan sehingga berjalan berhuyung- huyung dan tidak dapat mengendalikan jalannya bahkan mungkin akan kehilangan kemampuan memperkirakan langkah- langkah yang seimbang bagi kedua kakinya atau menghitung jarak yang benar untuknya. Kesurupan bisa jadi karena gangguan jin dan tidak terjadi kecuali dari mereka yang berjiwa kotor, kemungkinan karena baiknya sebagai jenis manusia atau karena menimpakan gangguan kepadanya semata- mata (Abdus Salam, 1995: 81).
Inilah yang disebut sebagai pengenduran semangat dan pemalasan dari setan dengan perbuatannya. Terkadang setan melakukannya dengan bisikan (bujukan), angan- angan yang berkepanjangan, menunda- nunda ibadah, dan mengakhirkan taubat. Bagi orang yang teguh hatinya hendaknya selalu
mengetahui waktunya, bersegera dalam bertaubat, berhati- hati agar tidak menunda- nunda ibadah, dan menyesali waktu yang telah terlewati tanpa ibadah karena lengah dan lalai. Perjalanan sudah panjang namun bekalnya hanya sedikit (Abdul Hamid, 2002:55).
Tauhid yang diemban para Rasul Allah dan menjadi pusat perhatian Islam untuk diyakini dan dipelihara itu tidak akan terealisasi, akar- akarnya tidak akan tertanam dan cabang- cabangnya tidak akan memekar, kecuali bila memenuhi unsure- unsure tersebut.
1. Keikhlasan beribadat karena Allah semata.
2. Pengingkaran semua thagut dan pembebasan diri dari siapa saja yang menyembah dan mengangkat pemimpin selain Allah.
3. Penjernihan diri dari semua bentuk kemusyrikan dan tingkatanya, serta menutup celah- celah perbuatan yang dapat menjurus kepada syirik (Qardhawi, 1992: 42).
Persoalan yang terlihat dalam suatu kelompok seni tradisional reog ini mengenai pelaksanaan ibadahnya. Penulis melihat bahwa aktifitas kegiatan reog ini mempengaruhi ibadahnya, karena sepertinya mereka jarang menjalannkan shalad lima waktu. Ketika di bulan puasa yang melaksanakan shalad tarawih juga hanya sebagian saja serta puasanya tidak penuh. Untuk masalah zakat dan sodakoh Isyallah semuanya melaksanakan sesuai syariat Islam.
Selain itu juga ada kegiatan- kegiatan lainnya yang bernafaskan Islam yang dapat dilakukan, diantaranya ketika mendatangi suatu pengajian
kebanyakan yang mengikuti hanyalah orang tua saja, mungkin ada pemudanya namun hanya sebagian kecil. Disamping itu dalam membaca Al- qur‟an juga
masih banyak yang sadar untuk membacanya secara rutin dalam setiap harianya walaupu hanya beberapa ayat saja. Namun dalam hal social yang begitu dijunjung tinggi seperti mendatangi orang yang kesusahan atau takziyah, semua orang baik yang tua mau pun muda berdatangan untuk membantu atau menjalankan kewajiban untuk mengurus segala sesuatunya hingga selesai, tak luput juga selama menggelar pengajian selama tujuh hariannya.
Sehingga penulis beranggapan bahwa dalam suatu aktifitas kelompok paguyuban itu bisa mempengaruhi pelaksanaan ibadahnya dalam kehidupan sehari- hari.
BAB III
PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
A. Gambaran Lokasi Penelitian
1. Sejarah Desa Gondang Tawang
Desa Tawang dahulu berupa padang ilalang, terhampar luas dan tanahnya kering. Konon disana tinggal seorang nenek yang bernama Nyi Wono. Nyi Wono mempunyai saudara laki- laki bernama Kyai Agung Alim, yang tinggal di Jangkrian Rogomulyo. Keduanya saling berlomba untuk memperluas lahannya dengan cara membakar ilalang tersebut, sedagkan Kyai Ageng Alim memakai sabit sehingga mendapatkan lahan sempit sekali. Oleh karena itu lahan yang didapatkan Nyi Wono luas sekali, seolah- olah seperti awang- awang sehingga daerah ini dinamakan Tawang Gantungan atau Gunawang.
Suatu ketika Desa Tawang terkena musibah atau pagebluk, kemudian para sesepuh desa mengadakan ruwatan, maksud dan tujuannya ini adalah untuk membersihkan desa dari marabahaya atau musibah.
Ruwatan dilaksanakan pada hari Jum‟at Legi dan sampai sekarang upacara
adat tersebut masih diperingati dan dilestarikan yang disebut dengan nama
“bersih desa atau merti desa”.
Untuk lebih mendalami Bagaimana kondisi dan keadaan lokasi objek penelitian sehingga terwujud akan adanya kesesuaian antara realitas sosial dengan data yang menggambarkan tentang kondisi yang terjadi di
lapangan, maka perlu penulis untuk di deskripsikan profil objek penelitian berdasarkan data geografis desa Gondang Tawang Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang tahun 2015 sebagai berikut:
2. Luas dan Batas
Desa Tawang merupakan bagian dari Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. Letak geografis wilayah Kab. Semarang yang bagian tenggara berbatasan dengan Kab. Boyolali. Dilihat dari topografi, ketinggian wilayah Desa Tawang berada pada 620 m dari permukaan air laut dengan curah hujan rata- rata 176- 250 mm/tahun, serta suhu rata- rata per tahun adalah 19- 32 drajat C.
Luas wilayahnya adalah 688,139 Ha. Adapun secara geografis, desa Tawang berbatasan dengan beberapa desa atau kelurahan disekitanya. Hal ini bersumber pada Buku Data Dasar Profil Dsn. Gondang, Ds. Tawang, Kec. Sususkan, Kab. Semarang Tahun 2015 yaitu:
No Letak Desa/ Kelurahan Kecamatan
1. Sebelah Utara Bakarejo Susukan
2. Sebelah Timur Pentur Simo
3. Sebelah Selatan Rogomulyo Kaliwungu
3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia
No Kelompok Umur Jenis Kelamin Jumlah
L P 1. 0 – 14 787 758 1545 2. 15 – 29 757 774 1531 3. 30 – 49 677 698 1375 4. 50 keatas 576 511 1087 Jumlah 2797 2741 5538
4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan
No Jenjang Pendidikan Jumlah
1. Perguruan Tinggi 94 2. SLTA 1270 3. SLTP 1332 4. SD 1075 5. Belum tamat SD 878 6. Tidak tamat SD 43 7. Tidak sekolah 846 Jumlah 5538
5. Struktur Mata Pencaharian/ Pekerjaan
No. Jenis Mata Pencaharian Jumlah
1. Petani 1077 2. Pengusaha - 3. Nelayan - 4. Buruh tani 565 5. Buruh industry 149 6. Buruh bangunan 370 7. Pedagang 355 8. PNS/ TNI 29 9. Pengangguran 30 10. Pensiunan 20 11. Lain- lain 1655 Jumlah 4249
6. Jumlah penduduk berdasarkan agama
No Agama Jumlah 1. Islam 5533 2. Kristen katolik 4 3. Kristen protestan 1 4. Hindu - 5. Budha - Jumlah 5538
7. Sarana peribadahan
No Nama tempat Jumlah
1. Masjid dan Mushola 34
2. Gereja -
3. Vihara -
4. Pura -
B. Temuan Penelitian
1. Perilaku Beribadah Kelompok Kesenian Tradisional Reog di Gondang Tawang Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang
Menurut Mas Karyono wawancara pada Tanggal 1 Desember 2015
pukul 13.00 WIB “ semua agg ota paguyuban Ngesti Budoyo ini semuanya agama Islam maka semua anggota juga melaksanakan sholad lima waktu tapi dilakukan sendiri- sendiri tidak berjama‟ah. Selain itu juga mengikuti acara penagajian yang diadakan di wilayah ini, namun peminatnya tidak begitu banyak, sering dijumpai hanya orang tuanya saja”.
Ditambahkan oleh Bapak Ngatemin wawancara pada Tanggal 1
Desember 2015 pukul 16.30 WIB “ yang terlihat para anggota juga melakukan sholat Jum‟at dan ketika di bulan puasa juga melakukan sholad
taraweh, untuk puasanya sendiri yang mengetahui hanyalah individunya masing- masing,tapi saya rasa mereka melakukannya. Ketika ada orang meninggal ereka juga bersegera datang untuk bertakziah dan mengadakan nyasinan serta tahlilan sebagian besar juga datang untuk melakukannya.
2. Aktivitas Kesenian Tradisional Reog Ngesti Budoyo
a. Sejarah Berdirinya Reog Ngesti Budoyo di Gondang Tawang Kec. Susukan Kab. Semarang
Menurut bapak Hasim wawancara pada Tanggal 20 November
2015 pukul 11.30 WIB “ Dahulu pada tahun 1965 berdirilah sebuah
Paguyupan Mego Mendung yang dibina oleh Bapak Niti Ngiso, orang yang pertama kali mengenalkan kesenian tradisional reog di daerah sini. Menurut beliau kata Mego berari awan dan Mendung berarti hujan, jadi Mego Mendung artinya awan yang meyebabkan turun hujan. Memang benar karena kesakralannya setiap pementasannya dipastikan selalu mengalami hujan. Pembuatan kuda lumpingnya pun dikhususkan hari Selasa kliwon tidak boleh hari lain.”
Ditambahkan bapak Ngatemin wawancara pada Tanggal 20
November 2015 pukul 15.10 WIB “ Setelah beberapa tahun berlangsung
kesenian tradisional tersebut luntur akibat tidak ada yang melestarikannya lagi dan ditahun 2010 ini didirikan lagi dengan nama yang berbeda yakni Paguyuban Ngesti Budoyo. Menurut beliau Ngesti berarti nguri- uri atau melestarikan dan Budoyo berarti kebudayaan, sehingga Ngesti Budoyo artinya melestarikan kebudayaan yang ada.”
Pendapat bapak Roslan wawancara pada Tanggal 22 November
2015 pukul 10.40 WIB “ tujuan didirikannya kembali paguyupan tersebut
adalah untuk melestarikan kebudayaan Jawa yang pada saat itu, mengenalkan pada pemuda di desa Gondang Tawang Kecamatan
Susukan Kabupaten Semarang dengan kebudayaan tradisional Jawa. Ditambahkan oleh Bapak Bakir wawancara pada Tanggal 22 November 14.05 WIB “ Tarian yang diusung oleh paguyuban ini adalah jenis tarian
keprajuritan, pesisiran dan geng yang berasal dari daerah Sumatera.”
Dijelaskan oleh Bapak Paidi wawancara pada taggal 22
November 2015 pukul 17.15 WIB“ paguyuban ini didirikan oleh Bapak
Roslan yang memiliki bekal atau bibit tentang kesenian Reog ini dan diketuai oleh Bapak Ngatemin serta didukung oleh para remaja yang juga berkeinganan untuk melestarikan kebudayaan kesenian tradisional, melalui
musyawarah bersama di rumah ketua paguyupan tersebut.”
b. Bentuk Kesenian Reog Paguyuban Ngesti Budoyo di Gondang Tawang Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang
1) Lokasi pertunjukan
Sebagai sebuah kesenian rakyat yang menyatu dengan lingkungan, Kesenian tradisional reog biasa dipertunjukan pada lapangan terbuka atau halaman rumah orang yang mempunyai acara (memanggil) kelompok kesenian tersebut untuk acara tertentu seperti syukuran, bersih desa, tujuh belasan, sunatan dan perkawinan. Pada banyak kesempatan, kesenian tradisional reog ditampilkan di tempat-tempat terbuka seperti tanah lapang dengan tujuan agar lebih mudah berinteraksi dengan penonton.
Dikatakan oleh Mas Sidik wawancara pada Tanggal 23
November 2015 pukul 10.00 WIB “ Untuk kebutuhan pesanan,
biasanya Kesenian tradisional reog disesuaikan dengan permintaan pemesan. Pada kebanyakan acara dilakukan pada malam hari sampai dini hari. Pemilihan waktu ini oleh ketuanya dianggap tepat karena kebanyakan para pemain pada waktu siang hari memiliki kesibukan masing- masing sehingga memiliki waktu senggang di malam hari
untuk bisa mengikuti pementasan tersebut.” Ditambahkan oleh Giyono
wawancara pada tanggal 23 November 2015 pukul 13.10 WIB “ selain
itu pemilihan waktu pada malam hari pukul 21.00 WIB itu karena tidak mengganggu pelaksanaan ibadah sholad lima waktu yang dikerjakan. Kebanyakan pemetasan ini masih satu wilayah dan jarang
keluar wilayah.”
3) Yang ada dalam pertunjukan a. Sajen
Dalam pertunjukan kesenian tradisional reog yang saya lihat pertunjukan terakhir pada Tanggal 4 Oktober 2015 pukul 21.00 WIB terdapat benda- benda yang digunakan yaitu sesajen, diantaranya:
Kembang setaman(berbagai macam bunga yang ada disekitar)
Kemeyan
Dupa tumpeng
Dupa sunduk
Menyan madu
Telur ayam kampong
Berbagai macam buah- buahan khususnya kelapa muda
Pupus pisang rojo
Linting (rokok yang diracik sendiri)
Benda-benda tersebut diletakan pada sebuah nampan berukuran sedang yang terbuat dari anyaman bambu, yang kemudian diletakan pada sebuah meja di depan panggung alat musik tepatnya di pojokan sebelah kanan.
Dikarenakan kesenian ini berhubungan dengan hal- hal yang gaib maka sesajen tersebut digunakan agar hal- hal yang gaib itu tidak mengganggu pemainnya.
b. Kostum atau busana
Dalam paguyuban tersebut ada beberapa kostum yang dimiliki para pemain reog, pemain musik, pengawas serta pawang. Yang terlihat dalam pertunjukan terakhir itu pemain music menggunakan baju yang bercorak batik berwarna abu- abu, untuk pawangnya menggunakan baju hitam dan celana hitam dilengkapi iket kepala berwarna hitam pula. Untuk pengawas atau panitia menggunakan kaos hitam yang bercorak kuda lumping.
Untuk pemain reognya sendiri memiliki beberapa corak kostum yang setiap pertunjukan bisa menggunakan corak yang berbeda. Diantaranya yang berwarna merah corak bunga, warna
hitam dengan motif bunga warna merah muda dan ada yang warna hijau, ada pula yang berwarna kuning. Sedang untuk jenis celananya berwarna hitam tanggung panjangnya dibawah lutut dan menggunakan setagen dan dibalut kain bercorak batik berwarna hitam putih dilengkapi kain sari berwarna merah muda, serta tidak lupa menggunakan ikat kepala batik hitam putih.
c. Pemain musik
Para pemain musik dalam paguyuban tersebut kebanyakan dari desa sebelah namun sudah bergabung dengan paguyuban kesenian ini, karena orang- orang yang di desa tersebut kurang mahir dalam memainkan musik baru beberapa saja.
Pada paguyuban ini ada 6 orang yang menempati pemain musik yang dilakukan secara bergantian di antaranya, posisi kendhang, posisi saron, posisi demung, posisi gong.
Terkadang dalam memainkan musik tersebut dikalaborasikan atau dipadukan dengan mengundang orgen tunggal dan menambah satu atau dua penyayi dari luar daerah.
d. Penonton
Biasanya pihak penyelenggara telah mengaturnya sejak pagi hari, seperti menyiapkan tempat, menyusun alat musik dan sajen serta mengadakan peralatan pengeras suara.
Sebelum pertunjukan dimulai dilakukan doa bersama terlebih dahulu kepada Tuhan agar dilancarkan pertunjukannya, kemudian
para pemain musik sudah memainkan alat musiknya untuk memanggil penonton. Para penonton pertunjukan terdiri dari berbagai lapisan usia, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa sampai orang tua. Biasanya posisi dari penonton mengelilingi area pertunjukan yang sudah diberi batas. Tidak kurang dari satu desa ini menyaksikan pertunjukan tersebut belum lagi ditambah dengan warga lain atau pemuda- pemuda disekitar desa.
Terbukti dengan tidak sepinya penonton yang datang dalam pertunjukan itu untuk menyaksikan kesenian tradisional reog yang dalam adegan kesurupan.
e. Pedagang
Dengan adanya pertunjukan tradisional reog ini memberikan beberapa keuntungan, terutama bagi para pedagang yang mengetahui pertunjukan tersebut. Sehingga menambah suasana menjadi lebih semarak lagi.
Bagi penonton anak- anak yang datang menyaksikan pertunjukan itu, mereka cenderung untuk membeli makanan ringan atau minuman segar. Sehingga pedagang ini juga bisa menjadi daya tarik penonton untuk menyaksikan kesenian tradisional reog di desa tersebut.
4) Tahap-tahap Pertunjukan
Dalam sebuah pertunjukan kesenian reog sering kali masih dalam satu wilayah, biasanya telah ada kesepakatan antara kelompok
kesenian dengan pemesan mengenai waktu dan tempat pertunjukan. Tempat pertunjukan yang disediakan oleh pemesanan seperti di halaman rumahnya, akan mempermudah rombongan kesenian dalam menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pertunjukan, namun rombongan kesenian ini juga terjun langsung untuk mempersiapkan segala sesuatuya karena masih satu wilayah, seperti halnya dalam menyusun arena pertunjukan, menyusun alat pengeras suara, persiapan penari dalam berpakaian dan tata rias, persiapan pemusik dalam berpakaian dan menata alat gamelan dan persiapan pawang dalam mengantisipasi jalannya pertunjukan.
Pada hari yang telah ditentukan, seluruh anggota kelompok berkumpul di rumah orang yang telah memesan atau yang mempunyai hajad, kelompok kesenian tersebut mepersiapkan segala sesuatunya. Tahap persiapan pertunjukan dilakukan selama kurang lebih satu sampai dua jam. Pada tahap ini para penari mempersiapkan kebutuhannya sendiri seperti memakai kostum tari dan berdandan , pemusik menyusun gamelan di lapangan berikut alat pengeras suaranya ,dan setelah itu berpakaian untuk pertunjukan, sedang pawang menyiapkan sesajen yang telah ditentukan.
Setelah itu, masih dalam tahap persiapan para penari menyusun properti kuda-kudaan di tengah area pertunjukan dengan posisi berbaris ke belakang dan berdiri berpasangan. Setelah itu
pawang akan membakar kemenyan dan membaca mantra-mantra jawa, yang berbunyi :
“Assalamualaikum
Ya Nini Dayang, Kiki Danyang
Seng manggoni kawasan iki
Aku jalok sawap pandonganne
Yo, yo.
ya Allah, ya Allah
Aku dikongkon bukak gelanggang iki
Biso podo selamat kabeh
Wong seng main jarang
semberani iki
Kabeh sak enengi
Ya yo, ya Allah, ya Allah.
Ya Nini Dayang, Kiki Danyang
Seng manggone awang-awangan
Seng jenenge Jaran Semberani
Aku njalok turun semurup
Supoyo seng main Jaran Semberani iki
Podo selamet kabeh
Yo yo.
Bi `s-mi `llahi `r-rahmani `r-rahim
Kadimu kananku, kan juga naiiranya empat
Ojo merosak, ojo membinasa ahli kumpulan aku.”
Kemudian meletakkan sesaji di tempat-tempat seperti dekat properti tari dan sekitar arena pertunjukan. Ritual tersebut bertujuan untuk membuka pintu gaib melainkan bukan untuk mengundangnya.
Dijelaskan Bapak Ngatemin wawancara pada Tanggal 20 November 2015 pukul 15.10 WIB, “ Pada tahap berikutnya yaitu
tahap pertunjukan diawali dengan masuknya penari ke arena pertunjukan dan mengambil posisi di sebelah kuda yang terbuat dari anyaman bambu dan membentuk formasi dan garis vertikal dengan satu penari di depan sebagai pemimpin yang memegang cambuk untuk aba-aba”. Ditambahkan bapak Bakir wawancara pada Tanggal 22 November 2015 pukul 14.05 WIB,“ Mereka menari dengan
iringan lagu dan setiap perubahan gerak ditandai dengan suara cambuk dan pada awal tarian penari melakukan gerak sembahan jengkeng ke empat arah yaitu depan, samping kanan, belakang dan samping kiri. Gerak ini dilakukan di samping untuk menghormati penonton yang melingkari arena pertunjukan juga untuk menghormati para roh-roh halus yang diyakini sudah hadir di sekitar mereka. Di tengah- tengah tarian sang pawang akan memberikan minuman berupa kembang ke masing- masing penari.