• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

B. Hasil Penelitian

2. Faktor Pendukung dan Penghambat Partisipasi Masyarakat

Negeri 15 Yogyakarta

a. SMP Negeri 8 Yogyakarta

Faktor pendukung partisipasi masyarakat dalam peningkatan mutu sekolah di SMP Negeri 8 Yogyakarta, salah satunya adalah terjalin hubungan komunikasi yang baik antara orang tua, masyarakat dan sekolah, kesadaran orang tua akan keutamaan pendidikan anak dan ketersediaan dana bagi orang tua untuk mendukung kegiatan sekolah. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Bapak NR dan Ibu ES selaku orang tua siswa kelas IX sebagai berikut:

“Pihak sekolah selalu menjalin komunikasi yang baik dengan orangtua, dan orangtua pun sangat mengapresiasi hubungan yang baik dari sekolah. Dan orangtua pasti mengutamakan pendidikan anaknya jadi tidak ada paksaan dari siapa pun dan sekolah pun sangat terbuka dalam menerima saran dari orangtua dan selalu melakukan yang terbaik bagi peningkatan mutu sekolah.” (NR/16/09/2014)

“Sebagai orang tua telah menjadi kewajibannya untuk memantau perkembangan pendidikan anak, sebab jika orang tua menginginkan anaknya berprestasi bagus maka orang tua dan sekolah harus berkerjasama dalam mendukung belajar anak di sekolah dan di rumah. Apalagi sekarang telah terdapat peraturan bahwa sekolah tidak dibolehkan memungut dana dari orang tua, maka orang tua harus mendukung dan mengawasi anak sepenuhnya.” (ES/17/09/2014)

Bapak NR juga menjelaskan hal yang sama dalam data yang peneliti peroleh terkait dengan dukungan orang tua kepada anaknya.

“Faktor pendukungnya adalah kepala sekolah selalu terbuka saat ditemui dan menerima dengan baik atas kehadiran orangtua. Ketika anak saya memperoleh nilai yang jelek di pelajaran PKn dan IPS, lalu saya langsung menemui wali kelas dan guru mata pelajaran, dan respon dari mereka sangat baik

Ibu RN juga menambahkan tentang ketersediaan dana yang dimiliki orang tua untuk membantu pelaksanaan kegiatan sekolah dapat berjalan dengan lancar. Orang tua siswa pasti ingin membantu sekolah dengan menyumbangkan dana, tetapi tidak diperbolehkan oleh pemerintah yakni berdasarkan PP No. 48 Tahun 2008. Orang tua pasti melakukan apa saja yang bersangkut paut dengan pendidikan anaknya, seperti mengantar-menjemput anak ketika mengikuti lomba dan mendukungnya agar bisa meraih prestasi.

Selain itu selaku komite sekolah Bapak SM juga mengungkapkan bahwa hubungan sekolah dan komite sekolah terjalin sangat baik. Hal ini menunjukkan adanya niat baik dan komitmen yang tinggi dari sekolah untuk selalu berkoordinasi dengan komite sekolah, dan kinerja komite sekolah sangat berperan dalam melibatkan partisipasi orang tua di semua pelaksanaan program sekolah agar selalu berjalan dengan lancar.

“Pihak sekolah termasuk kepala sekolah, jajaran guru, karyawan dan sebagainya selalu aktif untuk berkoordinasi dengan orangtua dan komite sekolah, jadi adanya komunikasi dan i’tikad yang baik serta komitmen yang tinggi dari sekolah untuk selalu berkoordinasi dengan komite sekolah demi peningkatan mutu sekolah. Sehingga komite sekolah pasti berperan sesuai dengan proporsi kerja masing-masing, namun komite sekolah tidak bisa terlibat terlalu dalam terhadap program-program yang diterapkan oleh sekolah, administrasi atau urusan sekolah lainnya.” (SM/03/09/2014)

Namun selain faktor pendukung, adapula beberapa hal yang dapat disebut faktor penghambat partisipasi masyarakat/orang tua itu sendiri. Meskipun memiliki kendala, namun bisa dikatakan tidak

memiliki sama sekali sebab lebih bersifat insidental dan tidak terjadi secara signifikan. SMP Negeri 8 Yogyakarta memiliki faktor penghambat yaitu soal pendanaan atau sumber keuangan sekolah. Sebagai sekolah menengah pertama negeri, sumber dana yang diperoleh murni berasal dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) baik dari pemerintah pusat, Provinsi DIY dan Kota Yogyakarta. Berikut kutipan wawancara dengan Bapak SM mengenai keterbatasan dana pelaksanaan kegiatan sekolah.

“Ketika belum ada PP no. 48 Tahun 2008 atau masih ada iuran sekolah, pelaksanaan kegiatan sekolah itu sangat lancar termasuk pelaksanaan kegiatan yang meningkatkan mutu sekolah itu sangat bagus dan dana selalu tersedia setiap saat. Jadi ketika sebelum PP itu diterapkan, sekolah sangat leluasa untuk mengatur dana untuk peningkatan kualitas, tapi bisa menjadi kelemahan bagi sekolah dimana pemanfaatan dana dapat tidak terkontrol dengnan baik. Ketika telah terdapat PP tersebut, maka penggunaan dana pun harus ketat, di lain pihak dalam segi manajemen, hal ini sangat bagus dalam mengelola pendanaan sekolah, namun dalam segi peningkatan mutu hal tersebut menjadi sebuah hambatan ketika masa awal diterapkan peraturan pemerintah tersebut, namun lambat laun sekolah pasti telah bisa mengatur pengelolaan dana dengan baik untuk program sekolah demi peningkatan mutu sekolah.” (SM/03/09/2014)

Selain itu, beliau juga menambahkan ada sedikit orang tua yang kurang paham dengan penggunaan dana sekolah dan program sekolah apalagi ketika terdapat publikasi media mengenai SMP Negeri 8 Yogyakarta, orang tua tersebut ikut mengkritisi pihak sekolah tanpa mengetahui fakta di lapangan.

“Ada satu atau dua orang dari pihak komite sekolah atau orangtua yang kadang-kadang mereka tidak paham dengan program sekolah, ketika terdapat publikasi di media tentang

SMP 8, mereka ikut-ikutan namun sebenarnya mereka tidak paham apa yang terjadi di lapangan. Namun itu signifikan bisa dikatakan tidak sama sekali. Pernah terjadi di tahun lalu dimana ada kesalahpahaman dari orangtua siswa tentang pemanfaatan dana yang sangat ketat, menurut perkiraan mereka, ada penyelewengan mengenai dana sekolah sehingga tidak efesien dalam penggunaannya. Misalnya pula bagi pengurus komite seperti saya sangat paham akan tujuan pelaksanaan suatu kegiatan, namun ada orangtua siswa yang salah paham terhadap kegiatan tersebut.” (SM/03/09/2014)

Faktor penghambat lainnya adalah keterbatasan waktu bagi orang tua untuk mengawasi belajar anak di rumah yang disebabkan kesibukan pekerjaan yang tidak dapat dihindarkan. Hal yang senada juga diungkapkan oleh Bapak ST:

“Ada sebagian orangtua yang kurang respek dengan pendidikan anaknya, mungkin disebabkan oleh kesibukan kerja, ada juga yang diundang ke sekolah berkali-kali tapi tetap saja tidak datang ke sekolah dengan alasan sibuk atau anaknya belum menyampaikan kepada orangtuanya.” (ST/25/06/2014)

Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa SMP Negeri 8 Yogyakarta memiliki faktor pendukung dan penghambat terhadap partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah. Adapun beberapa faktor pendukungnya adalah terjalin hubungan komunikasi yang baik antara warga sekolah, niat baik dari sekolah dan orang tua, dan kesadaran orang tua untuk mengutamakan pendidikan anak dengan mendukung semua program sekolah dan mengawasi belajar anak di rumah dan di sekolah. Sedangkan yang menjadi faktor penghambatnya adalah masih terdapat sedikit orang tua yang kurang paham mengenai pengelolaan dana dan pelaksanaan program sekolah, dan keterbatasan waktu orang tua.

b. SMP Negeri 15 Yogyakarta

Faktor pendukung partisipasi masyarakat dalam peningkatan mutu sekolah di SMP Negeri 15 Yogyakarta meliputi hubungan komunikasi antara sekolah dan orang tua yang sangat baik, keterbukaan sekolah terhadap masukan maupun kritik dari orang tua, dukungan orang tua yang kuat dalam mengawasi pendidikan anaknya sehingga selalu bersedia hadir dalam pertemuan atau kegiatan sekolah dan membantu program sekolah. Demikian informasi yang didapatkan peneliti dari hasil wawancara dengan orang tua siswa Bapak SM sebagai berikut:

“Faktor pendukung adalah sekolah sangatterbuka untuk menerima masukan/saran dari orang tua, komunikasi antara sekolah dan orang tua sangat baik dan mudah, lokasi sekolah yang dekat dengan rumah, ketersediaan biaya saat ada tarikan iuran oleh komite sekolah, dan selalu meluangkan waktu untuk mengawasi anak dalam belajar.” (SM/09/09/2014)

Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Bapak OW yang juga orang tua siswa:

“Melihat anak saya tekun dalam belajar dan disiplin di rumah dan di sekolah, sebagai orang tua, saya harus selalu mendukung anak agar bisa berprestasi dan bisa meningkatkan mutu sekolah.” (OW/10/09/2014)

Hal yang sama juga dijelaskan oleh Bapak SB sebagai kepala sekolah dalam wawancara mengenai faktor pendukung partisipasi masyarakat sebagai berikut:

“Faktor pendukung adalah orang tua memberi masukan/saran terhadap sekolah dalam pertemuan dan sekolah pun terbuka terhadap sikap orang tua tersebut. Sebab sekolah merupakan milik masyarakat termasuk orang tua, bukan milik kepala

sekolah ataupun guru dan warga sekolah lainnya.Dengan memiliki siswa yang banyak maka orang tua siswa pun banyak pula, sehingga sekolah dapat memilih orang tua mana yang berpotensial dalam memahami kebijakan sekolah dengan baik. Kemudian, adanya partisipasi orang tua terhadap pendidikan anak di sekolah, membuat tugas sekolah pun menjadi lebih ringan, sebab orang tua membantu dan mengawasi anak dalam belajar. Sebenarnya tugas guru dan sekolah sama untuk mengarahkan anak untuk berprestasi dan memperoleh pendidikan dengan baik.” (SB/03/09/2014)

Bapak NB guru BK juga mengungkapkan hal yang sama: “Peran partisipasi orang tua sangat baik dalam membantu kerja sekolah dan orang tua juga bersedia membantu untuk menyumbang dan mengontrol sesuaidengan kemampuan, kebutuhan, dan kerelaan orang tua, sehingga tidak ada paksaan dari sekolah. Sekolah juga sangat terbuka dalam menerima masukan dari orang tua, sekolah juga berkomunikasi baik dengan orang tua melalui telepon dan surat. Agar banyak orang tua yang aktif menghubungi pihak sekolah.” (NB/02/09/2014) Berdasarkan penjelasan di atas, keberadaan faktor-faktor pendukung partisipasi masyarakat tentu memiliki pengaruh besar dalam keberhasilan pendidikan di sekolah. Namun selain faktor pendukung, adapula beberapa hal yang disebut sebagai faktor penghambat partisipasi masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah itu sendiri. Faktor penghambat yang dihadapi SMP Negeri 15 Yogyakarta antara lain sebagian orang tua kurang memahami program sekolah, kesibukan orang tua yang membuat kurang mengawasi belajar anak dan jarang hadir dalam pertemuan dan membantu kegiatan sekolah. Sebagaimana data yang peneliti peroleh dari wawancara dengan Bapak SM sebagai berikut:

“Faktor penghambat adalah kekurangan waktu yang ada sebab sering bersamaan dengan kegiatan lainnya, lokasi rumah juga

jauh dari sekolah, dan fasilitas yang kurang di rumah.” (SM/09/09/2014)

Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Bapak OW:

“Faktor penghambat adalah kekurangan waktu luang disebabkan saya sering mempunyai kegiatan yang bersamaan dengan pertemuan di sekolah.” (OW/10/09/2014)

Selain itu, faktor penghambat partisipasi orang tua menurut Bapak NB sebagai berikut:

“Kegiatan sekolah luar biasa sangat banyak sehingga komunikasi yang terjalin antara sekolah dan orangtua sangat terbatas. Mengatur waktu untuk mengadakan pertemuan antara sekolah dan orang tua termasuk sulit dan terbatas.Kesibukan orangtua dan masyarakat yang membuat mereka tidak mempunyai waktu. Serta ketidaktahuan orang tua akan gambaran apa yang harus mereka lakukan terhadap sekolah. Dan keseganan orang tua dalam memberi kritik dan saran kepada sekolah. Terkait dengan dana, ketika ada kegiatan yang bersifat insidental, maka ada hambatan dalam pengadaan pembiayaan, sebab sekolah tidak boleh mengajukan dana di pertengahan tahun ajaran namun sebelum awal tahun ajaran baru.” (NB/02/09/2014)

Kemudian Bapak NB juga menambahkan terkait dengan sebab terjadinya hambatan dalam berpartisipasi bagi orang tua.

“Banyak orang tua yang lepas tanggung jawab dalam mengawasi belajar anak namun hal tersebut pasti terbentur keadaan seperti kesibukan orang tua dan dilakukan dengan tidak sengaja. Ada orang tua dari kalangan ekonomi lemah, yang mengharuskan mereka berkerja dari pagi sampai malam, dan ketika pulang ke rumah, mereka telah merasa capek dan langsung tidur, sehingga mereka hanya sempat mengingatkan anak untuk belajar.” (NB/02/09/2014)

Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa SMP Negeri 15 Yogyakarta memiliki faktor pendukung dan penghambat dalam meningkatkan mutu sekolahnya. Adapun beberapa faktor

tua yang sangat baik, keterbukaan sekolah terhadap masukan maupun kritik dari orang tua, dukungan orang tua yang kuat dalam mengawasi pendidikan anaknya sehingga selalu bersedia hadir dalam pertemuan atau kegiatan sekolah dan membantu program sekolah. Sedangkan yang menjadi faktor penghambatnya adalah orang tua kurang memahami program sekolah, kesibukan orang tua yang membuatnya kurang mengawasi belajar anak dan jarang hadir dalam pertemuan dan membantu kegiatan sekolah.

3. Upaya Pihak Sekolah Mengatasi Hambatan dari Partisipasi

Dokumen terkait