• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor pendukung dan penghambat Peningkatan Kecerdasan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Faktor pendukung dan penghambat Peningkatan Kecerdasan

tersebut maka akan meningkat pula kecerdasan spiritual peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler keagamaan (Rohis) di SMK Negeri 1 Pangkep.

D. Faktor pendukung dan penghambat Peningkatan Kecerdasan Spiritual

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor yang menjadi pendukung kegiatan peningkatan kecerdasan spiritual melalui kegiatan ekstrakurikuler keagamaan rohis yaitu:

a. Faktor lingkungan sekolah

Pengaruh lingkungan sekolah sangat berperan dalam membentuk akhlak peserta didik. Peran lingkungan sangat penting bagi peserta didik terlebih lingkungan pertemanan di lingkungan sekolah atau di luar sekolah yang mereka pilih. Akhlak yang terbentuk dari pribadi peserta didik tergantung pada teman dilingkungan mereka, itu sebabnya faktor lingkungan sangat berpengaruh dan menjadi pendukung peningkatan kecerdasan spiritual jika mereka benar dalam bergaul di lingkungannya.

b. Faktor lingkungan keluarga

Salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam faktor pendukung peserta didik dalam kegiatan peningkatan kecerdasan spiritual keagamaan (Rohis) di sekolah ialah faktor dukungan dari keluarga. Lingkungan keluarga atau orang tua adalah hal yang mendasar sebagai faktor pendukung dikarenakan orang tua adalah dorongan pertama dan dukungan pertama bagi peserta didik untuk melakukan kegiatan yang positif, melalui dukungan dari keluarga untuk mengikuti kegiatan peningkatan kecerdasan spiritual rohis, peserta didik akan merasa terbantu untuk melakukan kegiatan keagamaan tersebut untuk meningkatkan nilai iman dan taqwanya tanpa ragu.

c. Antusias Peserta didik

Minat serta motivasi peserta didik itu sendiri juga berperan penting dalam faktor pendukung dalam kegiatan ekstrakurikuler keagamaan (Rohis) di sekolah.

Sebagaimana pada hasil wawancara kepada peserta didik anggota rohis an.

Anugrah yang mengatakan : "kalau saya pribadi untuk faktor pendukung dari

motivasi diri sendiri karena hanya kita yang bisamembuat kemauan dari diri sendiri”

Dengan niat yang ikhlas dari peserta didik untuk mengikuti kegiatan peningkatan kecerdasan spiritual rohis mereka akan semangat dalam mengikuti kegiatan-kegiatan rohani, ikhlas dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat membantu dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, memudahkan langkahnya untuk selalu beribadah, serta membantu membetuk peserta didik dalam berakhlak mulia.

2. Faktor Penghambat Peningkatan Kecerdasan Spiritual

Adapun faktor penghambat kegiatan ekstrakurikuler rohis sesuai dari hasil wawancara penulis dengan Pembina Rohis Ibu Patmawati:

“kurangnya beberapa sarana sekolah misalnya ketika siswa ingin melaksanakan kegiatan rohis ada peralatan yang kurang yaitu proyektor, kemudian di sekolah kami sestem full day school maka tidak jarang kegiatan rohis bertabrakan dengan kegiatan belajar mengajar. Ketika kegiatan dilakukan di hari libur orang tua siswa khawatir anaknya pulang terlambat atau setelah magrib.”81

Kemudian dilanjutkan lagi kepada ketua rohis SMK Negeri 1 Pangkep mengatakan bahwa:

“Faktor penghambatnya yaitu 1. pembina jarang ikut dalam kegiatan, tetapi tetap mendukung berjalannya kegiatan. 2. Karena adanya virus corona jadi banyak kegiatan-kegiatan rohis yang terkendala. 4. Kurangnya prasarana atau fasilitas misalnya LCD, Sound system, laptop.”82

Sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor penghambat dari kegiatan peningkatan kecerdasan spiritual melalui ekstrakurikuler keagamaan rohis yaitu:

a. Sarana sekolah belum memadai

81 Patmawati, Guru SMK Negeri 1 Pangkep, wawancara oleh penulis, tanggal 11 Oktober 2021

82 Nur Hikma Hakim, ketua Rohis, wawancara oleh penulis, tanggal 01 November 2021

Sarana sekolah merupakan aset penting bagi peserta didik selain dari fungsi yang diperlukan sebagai tempat bersosialisasi juga dapat menjadi tempat peserta didik untuk melakukan aktifitas kegiatan ekstrakurikuler mereka. Jika sarana sekolah belum memadai maka aktifitas peserta didik bisa saja terhambat oleh keadaan, misalnya akan diadakannya rapat seluruh pantia ekstrakurikuler keagamaan (Rohis) tetapi ruangan rapat tidak disediakan maka otomatis peserta didik akan menunda kegiatan tersbut sampai mereka mendapatkan ruangan yang kosong.

b. Padatnya jam pelajaran sekolah

Peserta didik kadang disibukkan oleh jam pelajaran yang padat, hal yang wajar bagi peserta didik yang menempuh pendidikan jenjang sekolah tingkat kejuruan, dengan demikian padatnya jam pelajaran sekolah menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat kegiatan ekstrakurikuler peserta didik, selain dari susahnya meluangkan waktu untuk kegiatan ekstrakurikuler keagamaan peserta didik juga sibuk dalam membagi waktu dalam mengerjakan tugas kelas.

c. Kekhawatiran orang tua

Kekhawatiran orang tua menjadi salah satu faktor penghambat peserta didik untuk mengik uti kegiatan ekstrakurikuler keagamaan (Rohis) di sekolah hal ini disebabkan karena peserta didik yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah akan meluangkan waktu kosongnya pada kegiatan yang diadakan disekolah sehingga membuat peserta didik pulang diakhir waktu sekolah berbeda dengan peserta didik yang tidak mengikuti ekstrakurikuler disekolah, mereka akan pulang diwaktu jam pulang. Hal itulah yang mendasari orang tua khawatir ketika peserta didik mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

62 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan temuan di lapangan, maka hasil penelitian yang berjudul

“Peningkatan Kecerdasan Spiritual Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Keagamaan (Rohis) di SMK Negeri 1 Pangkep” dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Proses pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler keagamaan di SMK Negeri 1 Pangkep berlangsung tiap minggu dengan kegiatan yang ditetapkan oleh pengurus ekstrakurikuler keagamaan (Rohis) seperti Tadarrus Al-quran, pemberian materi dan tanya jawab seputar Islam, penyetoran hafalan Al-quran Juz 30, dan infaq sedekah setiap hari jumat..

2. Proses peningkatan kecerdasan spiritual melalui kegiatan ekstrakurikuler keagamaan (rohis) sudah terlaksana dengan baik dengan adanya kegiatan-kegiatan mingguan ekstrakulikuler keagamaan (Rohis) merupakan suatu proses dari peningkatan kecerdasan spiritual secara tidak langsung memberikan dorongan peserta didik untuk menjauhi hal-hal yang bersifat negatif, dan upaya yang dilakukan dalam peningkatan kecerdasan spiritual peserta didik dengan berbagai aspek yaitu aspek pendekatan diri kepada Allah swt, aspek ibadah yaitu ibadah sholat, tadarrus Al-quran, infak dan sedeqah, aspek akhlak, dan pemberian materi seputar Islam.

3. Faktor yang mendukung pembentukan kecerdasan spiritual ialah dari faktor lingkungan sekolah, faktor lingkungan keluarga, dan kemauan dari pribadi peserta didik itu sendiri, adapun faktor penghambat pembentukan kecerdasan spiritual peserta didik SMK Negeri 1 pangkep ialah sarana sekolah belum memadai, padatnya jam pelajaran sekolah, kekhawatiran orang tua, dan kurangnya kekompakan antara siswa dan siswi.

B. Implikasi

Setelah penulis mengemukakan beberpa kesimpulan, maka dalam uraian ini penulis dapat menyampaikan implikasi penelitian tentang peningkatan kecerdasan spiritual melalui kegiatan ekstrakurikuler keagamaan (rohis) di SMK Negeri 1 Pangkep. Dengan adanya penelitian ini diharapkan:

1. Bagi Guru

Diharapkan bagi guru terutama guru Pendidikan Agama Islam selalu memberi pengajaran dan motivasi tentang pentingnya kecerdasan spiritual terhadap peserta didik serta memotivasi tentang pentingnya kegiatan ekstrakurikuler keagamaan sekaligus memantau jalannya kegiatan tersebut agar berjalan lancar sesuai yang diinginkan.

2. Bagi peserta didik

Diharapkan peserta didik lebih semangat untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler keagamaan (rohis) dan memotivasi diri untuk mengembangkan kecerdasan spiritual.

3. Dengan selesainya penulisan skripsi ini, diharapkan berguna bagi pembaca dan bagi peneliti selanjutnya kiranya dapat melakukan penelitian serupa dengan latar belakang yang berbeda dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan kecerdasan spiritual.

64

DAFTAR PUSTAKA

Ari Ginanjar, Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ, (Jakarta: Arga Publishing) 2007.

Akhmad Muhaimin Azzet, mengembangkan Kecerdasan Spiritual Bagi Anak (Cet 1; Yogyakarta: Katahati)2010.

Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani Press) 1995

Ari Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual,

Arief Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta:

Ciputra Pers) 2002.

Danah, Zohar dan Ian Marshall. SQ:MemanfaatkanKecerdasan Spiritual dalam Berfikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan. (Bandung:

Mizan), 2002

Pasiak. SQ: Antara Neurosains dan Al-Qur’an. (Bandung: Mizan). 2002.

Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual Dalam Berfikir Integralistik dan Holistik Untuk Memaknai kehidupan, (Bandung:

Mizan) 2002.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Idonesia, (Jakarta: Balai Pustaka), 1989.

Departemen Agama RI, Kegiatan Ekstrakulikuler Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum Madrasah,( Jakarta: Ditjen Kelemabgaan Agama Islam), 2004.

Departemen Agama RI, Basic Kompetensi Guru, (Jakarta: Ditjen Kelembagaan Agama Islam), 2002.

Eka Prihatin, Teori Administrasi Pendidikan, (Jakarta: Alfabeta), 2011.

Fatah Syukur, Manajemen Pendidikan Berbasis Madrasah (Semarang:

Pustaka Rizki Putra) 2011.

Indah Konsyiah, Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Teras), 2012.

Marshall, Ian. SQ:MemanfaatkanKecerdasan Spiritual dalam Berfikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan. (Bandung: Mizan), 2002.

Muzayyin Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara) 2011.

Munif Chatib, Sekolah Anak-Anak Juara Berbasis Kecerdasan Jamak dan Pendidikan Berkeadilan, (Bandung: Kaifa) 2012.

Monty P. Satiadarma dan fadelis E. Mendidik Kecerdasan.

(Jakarta:Pustaka Populer Obor). 2003.

M. Quraish Shihab, Tafsir Misbah Pesan Kesan dan Keserasian Al-Quran (Jakarta: Lentera Hati) 2009.

Pedoman Pelaksana Stimulasi, Deteksi dan Interfensi Dini Tumbuh Kembang Anak ( Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia) 2005.

Redaksi Sinar Grafika, UU SISDIKNAS NO. 20 Tahun. 2003, (Jakarta:

Sinar Grafika) 2003.

Rusman, Manajemen Kurikulum, (Jakarta: Rajawali Pers), 2009.

Suryo Subroto, Proses Belajar Mengajar di Seolah, (Jakarta: PT. Rineka Cipta), 2002.

Suryosubroto, Proses Belajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta), 2002.

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan (Jakarta:

Rineka Cipta) 2002.

Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam, (Surabaya: Elkaf) 2006.

Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidiksn Nasional (SISDIKNAS), (Jakarta:Citra Umbara) 2003.

Toto Tasmara, Kecerdasan Rohaniah (Transcendental Intelligence).

(Jakarta: Gema Insani) 2001.

Zakiyah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang) 2005.

LAMPIRAN 2

Dokumentasi

Dokumen terkait