BAB V PEMBAHASAN
C. Konstruksi Internalisasi Dakwah Nomaden Nyai Nikmah
1. Faktor Pendukung Konstruksi Dakwah Nomaden Nyai Nikmah
Berdasarkan hasil wawancara dengan Nyai Nikmah dan informan lain, faktor pendukung dan penghambat dakwah nomaden Nyai Nikmah cukup beragam. Hal tersebut baik yang diakui oleh Nyai Nikmah maupun dari penuturan para informan. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dari dakwah tersebut. Perlu kiranya mengupas terlebih dahulu bagaimana keuntungan dan kerugian dari dakwah nomaden ini. Keuntungan dan kerugian ini baik yang dirasakan oleh Nyai Nikmah sendiri sebagai pelaku dakwah, atau keluarga yang mengikuti proses pindah-pindah tersebut,
begitu juga santri-santri yang juga turut ikut merasakan pindah-pindah, hingga jama’ah yang ditempati pada saat itu ataupun jama’ah secara umum.
a. Keuntungan Berdakwah Secara Nomaden
Keuntungan yang dirasakan oleh Nyai Nikmah dengan adanya dakwah nomaden ini adalah, Nyai Nikmah semakin mendapatkan banyak teman, pengalaman, dan tentunya kuantitas jama’ah. Nyai Nikmah menuturkan bahwa apabila beliau hanya berdiam diri di suatu daerah.
Mungkin jama’ah beliau tidak sebanyak saat ini. Sehingga dengan beliau berpindah-pindah, keuntungan yang begitu tampak dirasakan adalah banyaknya jama’ah dari berbagai daerah.
Hal tersebut juga dirasakan oleh keluarga dan santri yang mengikuti beliau. Dengan seringnya berpindah-pindah. Keluarga dan santri yang mengikuti Nyai Nikmah mempunyai banyak pengalaman dengan mengetahui daerah-daerah yang mungkin dulunya tidak pernah dikunjungi. Serta juga memperbanyak teman dari berbagai daerah. Khususnya daerah-daerah yang pernah Nyai Nikmah tempati. Bahkan dari pengamatan peneliti, keuntungan yang dirasakan oleh santri Nyai Nikmah dengan berpindah-pindah salah satunya adalah jodoh. Jodoh dalam arti disini, cukup banyak santri Nyai Nikmah yang pada akhirnya menemukan jodohnya hingga menikah dengan orang sekitar dimana Nyai Nikmah hijrah tersebut. Hal tersebut merupakan keuntungan tersendiri bagi santri-santri Nyai Nikmah yang memang mayoritas perempuan yang mungkin kesulitan dalam mencari jodoh.
Keuntungan untuk jama’ah yang ditempati adalah jama’ah merasa dengan adanya Nyai Nikmah hijrah di daerah tersebut. Daerah tersebut menjadi lebih adem dan tentram. Hal ini dituturkan oleh salah seorang pengurus jama’ah Probolinggo Hj. Rofiah. Saat Nyai Nikmah menempati suatu daerah, maka suatu daerah tersebut menjadi lebih tentram. Mengingat dengan adanya Nyai Nikmah di tempat tersebut. Desa tersebut menjadi ramai dengan adanya jama’ah ibu-ibu pengajian dengan menggunakan dresscode putih-putih. Juga banyaknya tamu yang berdatangan kepada Nyai Nikmah menjadikan tersebut semakin terang dan ramai. Bahkan Hj. Rofiah juga menuturkan bahwa desa yang kemudian setelah ditempati Nyai Nikmah, terasa cukup berbeda auranya. Yang semula terasa ramai menjadi sepi karena berpindahnya Nyai Nikmah ke tempat lain.
Selain itu juga keuntungan jama’ah akan dakwah ini adalah jama’ah yang semula tidak mengenal orang dari belahan daerah lain. Dengan pengajian ini akhirnya jama’ah bisa mengenal masyarakat daerah lain. Hal ini biasa terjalin saat adanya event pengajian kubro seperti Haul Gus Nashih dimana seluruh jama’ah menyatu dalam acara tersebut.
b. Kerugian Berdakwah Secara Nomaden
Sedangkan untuk kerugian yang dialami oleh Nyai Nikmah dalam dakwah nomaden ini cukup banyak. Namun beliau menuturkan bahwa kerugian tersebut bukanlah menjadi masalah. Karena dalam setiap perjuangan pasti harus ada pengorbanan. Kerugian yang dialami oleh Nyai Nikmah dengan dakwah pindah-pindah ini adalah rasa malu yang tidak terbendung.
Banyak dari keluarga yang tidak sungkan-sungkan mempertanyakan bahkan menghina Nyai Nikmah dengan apa yang dilakukan Nyai Nikmah ini. Mereka menganggap bahwa Nyai Nikmah ini seakan tidak punya harga diri harus berpindah-pindah seperti itu. Hal tersebut begitu dirasakan saat awal-awal Nyai Nikmah melakukan dakwah nomaden ini. Karena ketika itu belum tampak hasil dari dakwah ini.
Kerugian lain yang dirasakan oleh Nyai Nikmah adalah secara fisik.
Dimana sudah bisa dipastikan bahwa berpindah-pindah sangat terasa melelahkan. Apalagi ketika harus berpindah-pindah lebih dari 10 kali. Hal tersebut diakui oleh Nyai Nikmah sebagai bentuk sebuah pengorbanan.
Selain itu kerugian yang dirasakan adalah kerugian materi dan waktu.
Tidak bisa dipungkiri pula bahwa dengan berpindah-pindah seperti itu, waktu yang apabila bagi seorang pebisnis waktu adalah uang. Maka Nyai Nikmah seakan membuang waktu mudanya dengan sia-sia. Bahkan secara materi lebih banyak yang dikeluarkan ketika harus berpindah-pindah. Namun dengan sebuah konstruksi berpikir dakwah ini adalah sebuah sarana untuk tujuan kebaikan. Maka Nyai Nikmah berfikir bahwa hal tersebut bukan harus diperhitungkan menjadi sebuah kerugian.
Kerugian yang dirasakan oleh keluarganya yang dalam hal ini anaknya adalah anak Nyai Nikmah harus rela berpindah-pindah sekolah. TK dua kali namun tidak lulus pada akhirnya. Dan sekolah SD berpindah tiga kali dimana lulus di saat hijrah berada di Leces. Begitu juga dengan santri-santri
Nyai Nikmah yang juga harus terpaksa ikut berpindah-pindah. Kerugian yang dirasakan adalah disaat santri sudah mulai nyaman dengan daerah tersebut.
Namun harus ikut berpindah lagi yang mana mengharuskan mereka untuk berdapatasi lagi mulai awal.
Sedangkan untuk kerugian jama’ah khususnya jama’ah yang ditempati. Dengan Nyai Nikmah berpindah-pindah. Jama’ah yang semula merasa senang karena ditengah-tengah mereka ada Nyai Nikmah, namun harus merasa kehilangan ketika Nyai Nikmah berpindah ke daerah lain. Hal tersebut dituturkan oleh Ibu Amanis dari Karanganom yang menjelaskan bagaimana perasaan beliau saat mengetahui bahwa Nyai Nikmah akhirnya pindah dari rumahnya menuju daerah Yosowilangun pada saat itu.
c. Faktor Pendukung Dakwah Nomaden Nyai Nikmah
1. Media Dakwah
Menjadi faktor pendukung dalam sebuah dakwah adalah media dakwah. Media dakwah Nyai Nikmah mulai dari 1994 hingga saat ini adalah masih menggunakan media tradisional. Dalam arti Nyai Nikmah saat berdakwah masih menggunakan model tatap muka (face to face), serta menggunakan media microphone dan sound system pada saat-saat pengajian maupun rapat. Meskipun saat ini merupakan era digital 4.0, namun Nyai Nikmah bersikukuh dan bertahan menggunakan media tradisional. Dengan sebuah alasan bahwa beliau takut jika harus bersentuhan dengan new media.
Memang secara manfaat tidak bisa dipungkiri bahwa new media memiliki banyak manfaat khususnya dalam hal media dakwah. Namun Nyai Nikmah menuturkan kepada kami bahwa beliau merasa takut jika harus berdakwah menggunakan new media seperti facebook, Instagram atau Youtube seperti kebanyakan para da’i akhir-akhir ini. Ketakutan itu beliau ungkapkan bahwa memang Nyai Nikmah tidak begitu faham akan teknologi dan merasa enggan untuk memahaminya. Dikarenakan Nyai Nikmah merasa bahwa saat ini cukup berbahay ketika harus berdakwah di new media. Di media apapun bisa di plintir dan dimanipulasi. Nyai Nikmah takut jika saat berdakwah di media, Nyai Nikmah melakukan sebuah kesalahan dan kekhilafan yang pastinya sangat membahayakan beliau. Yang benar saja bisa jadi salah, apalagi yang salah. Oleh karenanya Nyai Nikmah merasa kurang suka ketika beliau berdakwah akhir-akhir ini kemudian ada sebuah kamera yang merekam beliau.
Alasan lain mengapa beliau tidak merasa butuh menggunakan new media adalah faktor jama’ah yang tidak mengharuskan Nyai Nikmah untuk menggunakan media tersebut. Bahkan dari beberapa pengamatan yang kami lakukan, mayoritas jama’ah Nyai Nikmah adalah ibu-ibu yang sudah berumur. Yang mana sudah tidak begitu melek teknologi, sehingga apabila Nyai Nikmah berdakwah menggunakan new media, hal tersebut dirasa kurang bermanfaat untuk para jama’ah.
Nyai Nikmah juga menuturkan bahwa media yang saat ini dirasa sudah sangat cukup. Nyai Nikmah tidak ingin dan tidak merasa perlu agar
dakwahnya bisa semakin meluas dalam arti dikenal oleh khalayak luar.
Sehingga penggunaan new media belum dibutuhkan.
2. Faktor keluarga
Faktor pendukung dakwah Nyai Nikmah adalah Nyai Nikmah merupakan seorang istri dari Gus Nashih yang memang saat itu sudah terkenal kiprah dakwahnya. Gus Nashih yang merupakan putra dari KH.
Abdul Hamid Pasuruan juga memberikan dampak yang cukup besar kepada Nyai Nikmah mudah diterima saat melakukan dakwah di beberapa tempat saat berdakwah nomaden.
Masyarakat pada umumnya tidak akan mudah menerima pendatang baru sekaligus pembaharu yang mereka tidak benar-benar kenal. Oleh karenanya dengan mereka mengenal dan mengetahui siapa Nyai Nikmah ini membuat masyarakat menerima dengan baik kedatangan dan dakwah yang dilakukan oleh Nyai Nikmah.