• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Pendukung dalam Pembangunan Sarana Pendidikan Kecamatan Tumpang

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

METODE PENELITIAN

4.2 Penyajian Data Fokus Penelitian

4.2.3 Faktor Pendukung dalam Pembangunan Sarana Pendidikan Kecamatan Tumpang

Menurut Widarto (2008 : 2), masyarakat Indonesia sekarang ini sedang berada dalam masa transisi dari masyarakat agraris atau masyarakat pra-industri (pre-industrial society) menuju kepada terciptanya masyarakat industri (industrial society). Masa transisi ini tertandai dengan semakin banyaknya sektor kerja yang memerlukan keterampilan vokasional secara spesifik, yaitu keterampilan yang di dalamnya mengandung kecakapan teknologi tertentu.

(a) Kemajuan Teknolgi

Arah Kebijakan dan Strategi untuk Mencapai Sasaran Strategis (SS) pada Setiap Tujuan Strategis (T) dalam Mendukung Agenda Prioritas Pembangunan 6 (Nawacita 6): Meningkatkan Produktivitas Rakyat dan Daya Saing di Pasar Internasional (Pembangunan Pendidikan). Dalam rangka meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, peningkatan kemampuan manusia dan Iptek untuk mendukung pengembangan klaster-klaster industri sangat diperlukan. Ketersediaan manusia yang terampil dan cerdas (skilled labor) merupakan modal utama untuk merintis terbangunnya proyek-proyek besar di setiap klaster industri. Untuk itu, perlu percepatan dan perluasan pembangunan SMK-SMK yang bersifat relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Relevansi ini tentunya merupakan motivasi dalam pembangunan inovasi dan peningkatan penguasaan teknologi. Oleh karena itu, arah kebijakan dan strategi yang diperlukan untuk mendorong tercapainya sasaran strategis terkait peningkatan akses, kualitas dan relevansi pendidikan menengah adalah sebagai berikut:

(1) Meningkatkan akses pendidikan menengah, dengan menerapkan strategi (i) peningkatan ketersediaan SMK di kecamatan-kecamatan yang belum memiliki satuan pendidikan menengah, melalui pembangunan Unit Sekolah Baru (USB), penambahan Ruang Kelas Baru (RKB), dan ketersediaan SMK yang mendukung pembangunan bidang maritim, pertanian, parwisata,industri manufaktur serta ekonomi kreatif; (ii) penyediaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi seluruh siswa SMK;

(iii) pemihakan pada siswa SMK yang miskin untuk dapat melanjutkan ke

pendidikan menengah melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP); (iv) peningkatan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pendidikan SMK untuk mendorong orang tua menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi; dan (v) penguatan peran swasta dalam menyediakan layanan pendidikan SMK yang berkualitas;

(2) Pembangunan taman tekno dan taman sains di kabupaten dan kota yang berfungsi sebagai, (i) pusat penerapan teknologi di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan pengolahan hasil (pasca panen), industri manufaktur, ekonomi kreatif, dan jasa-jasa lainnya yang telah dikaji oleh lembaga penelitian, swasta, perguruan tinggi untuk diterapkan dalam skala ekonomi; dan (ii) tempat pelatihan, pemagangan, pusat disseminasi teknologi, dan pusat advokasi bisnis ke masyarakat luas;

(3) Menyelaraskan bidang studi/keahlian SMK dengan kegiatan ekonomi utama di kabupaten dan kota sesuai dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi melalui: (i) pembenahan penjurusan SMK di tingkat kabupaten dan kota; (ii) pengembangan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan keunggulan komparatif daerah; (iii) penerapan KKNI untuk semua bidang kejuruan di SMK; dan (iv) peningkatan proporsi siswa SMK yang dapat mengikuti program pemagangan di industri;

(4) Meningkatkan relevansi pendidikan kejuruan dengan kebutuhan dunia kerja untuk meningkatkan kesiapan siswa memasuki dunia kerja, dengan cara (i) penguatan kecakapan akademik siswa SMK, seperti matematika,

pemecahan masalah dan bahasa untuk memenuhi kebutuhan industri yang mensyaratkan penguasaan keterampilan dasar; (ii) peningkatan kesiapan siswa pendidikan menengah untuk memasuki pasar kerja; (iii) pemberian insentif baik finansial maupun nonfinansial untuk mendorong industri dalam penyediaan fasilitas magang; serta (iv) pengembangan kurikulum yang diselaraskan dengan kebutuhan lapangan kerja berdasarkan masukan dari dunia usaha/dunia industri.

Kemajuan Teknolgi mempengaruhi apa yang diinginkan masyarakat dapat dihadirkan oleh sekolah menengah kejuran swasta dimana masyarakat dapat memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah menengah kejuruan karena perkembangan teknologi yang semain dinamis dan semakin maju. Berikut wawancara dengan Pak Agus Moch. Yasin selaku kepala sekolah SMK Diponegoro:

“Siswa pasti melihat gedung dan fasilitas dahulu sehingga pembangunan SMK juga harus bagus untuk kepentingan jangka panjang Baik guru dan yayasan sudah baik Alhamdulillah Jurusan yang ada bagus dan setiap jurusan selalu terpenuhi”

Kemajuan teknologi jika tidak diiringi dengan fasilitas dan gedung yang baik maka sekolah tidak akan dipilih oleh masyarakat. SMK Diponegoro mengetahui hal tersebut sehingga dengan jurusan yang ada didukung oleh fasilitas yang memadai. Selanjutnya bagaimana di SMK Multimedia berikut hasil wawancara dengan Pak Agung Priambodo selaku kepala sekolah SMK Multimedia:

“Di SMK Multimedia . membuka jurusan yang sudah punya angket dan angket diminati oleh masyarakat contohnya Bisnis Marketing, Keperawatan, Farmasi bisa dikatakan jurusan abadi, dan sekarang terdapat jurusan baru yaitu Pariwisata dan Perhotelan”

Perkembangan masyarakat terkait jurusan yang ada harus memenuhi kebutuhan saat ini dan keinginan masyarakat sehingga dapat terpenuhi jurusan tersebut. SMK multimedia menawarkan berbagai macam jurusan yang dapat dipilih oleh masyarakat sesuai keinginan mereka. Selanjutnya wawancara dengan Bu Saulina selaku kepala sekolah SMK Galaxy berikut hasil wawancara:

“SMK Galaxy berusaha membuat jurusan yang beda akan tetapi secara tidak sadar ada jurusan yang ujungnya sama, bukan ingin menyaingi tetapi SMK Galaxy bersinergi daripada bersaing dan juga jurusan sudah sesuai dibutuhkan masyarakat”

SMK Galaxy berusaha menghadirkan jurusan yang sesuai dengan apa yang dibuthkan masyarakat ada jurusan yang sama dengan sekolah lain namun itu adalah ketidaksengajaan yang terpenting adalah bagaimana dapat menghadirkan kebutuhan masyarakat.

(b) Pertambahan Tenaga Kerja

Arah dan Kebijakan Strategi Nasional dari sisi lingkungan strategis, Indonesia mempunyai peluang untuk dapat menikmati “bonus demografi”, yaitu percepatan pertumbuhan ekonomi akibat berubahnya struktur umur penduduk yang ditandai dengan menurunnya rasio ketergantungan (dependency ratio) penduduk non-usia kerja kepada penduduk usia kerja. Perubahan struktur ini

memungkinkan bonus demografi tercipta karena meningkatnya suplai angkatan kerja (labor supply), tabungan (saving), dan kualitas manusia (human capital). Di Indonesia, rasio ketergantungan telah menurun dan melewati batas di bawah 50%

pada tahun 2012 dan mencapai titik terendah sebesar 46,9% antara tahun 2028 dan 2031. Indonesia mempunyai potensi untuk memanfaatkan bonus demografi baik secara nasional maupun regional khususnya kawasan ASEAN. Apabila tidak didukung dengan kebijakan yang tepat, bonus demografi tidak akan dapat diraih.

Bahkan, hal itu dapat menimbulkan berbagai dampak yang tidak diinginkan misalnya konflik sosial, pengangguran dan kriminalitas. Untuk memitigasi hal ini, pemerintah menentukan kebijakan dalam memanfaatkan bonus demografi untuk lima tahun ke depan sebagai berikut:

1. Memperluas pendidikan menengah universal;

2. Meningkatkan pelatihan keterampilan angkatan kerja melalui kualifikasi dan kompetensi, memperbanyak lembaga pelatihan, dan relevansi pendidikan dengan pasar kerja;

3. Meningkatkan kewirausahaan dan pendidikan karakter pemuda; dan 4. Melakukan pendalaman kapital dan pendidikan tenaga kerja

Selanjutnya menurut Pramono, 2009: 43-44. Tenaga kerja (manpower) adalah seluruh penduduk dalam usia kerja (berusia 15 tahun atau lebih) yang potensial dapat memproduksi barang dan jasa. Dengan adanya pertumbuhan penduduk otomatis pertambahan tenaga kerja semakin banyak dan saat ini perkembangan industry dituntut memiliki pekerja yang memiliki kualitas dan

sekolah menengah kejuruan mampu menghasilkan lulusan yang diakui oleh industry saat ini. Berikut adalah wawancara dengan Pak Agus Moch. Yasin kepala sekolah SMK Diponegoro:

“Insyaallah dari jumlah siswa banyak wali murid yang melihat tidak hanya keterampilan pertambahan siswa yang terus bertambah dan keterampilan dan kurikulum sudah banyak dan yang penting adalah generasi qur’ani yang bagus”

Dengan semakin majunya teknologi SMK Diponegoro tidak hanya menghadirkan jurusan yang bagus akan tetapi berusaha memberi fasilitas yang dapat meningkatkan kulaitas lulusan mereka. Selain itu, menambahkan keahlian khusu qur’ani untuk menarik minat orang tua agar menyekolahkan anaknya di SMK Diponegoro. Selanjutnya bagaimana di SMK Multimedia berikut hasil wawancara dengan Pak Agung Priambodo selaku kepala sekolah SMK Multimedia:

“Pertambahan penduduk dan pertambahan tenaga kerja membuat siswa telah lulus SMP pilihan SMA atau SMK, seiring bertambahnya siswa tidak semua orang tua mampu menyekolahkan anaknya ke SMA dimana nantinya setelah SMA akan kuliah, akan tetapi dengan adanya SMK Multimedia setelah siswa lulus SMK sudah siap kerja”

Dengan bertambahnya penduduk dan tenaga kerja membuat SMK lebih menarik ketimbang SMA dimana SMK karena tidak semua orang tua mampu menyekolahkan anak ke SMA yang dimana nantinya akan masuk kuliah butuh biaya lagi. SMK Multimedia merupakan SMK yang mencetak lulusan yang siap kerja. Selanjutnya wawancara dengan Bu Saulina selaku kepala sekolah SMK Galaxy berikut hasil wawancara:

“Faktor pendukung mulai dari masyarakat melalui semacam angket terbuka apakah mereka menerima, apakah gedung akan berguna dan rata-rata jawaban masyarakat membutuhkan dan responnya bagus”

SMK Galaxy melalui angket terbuka menawarkan kepada masyarakat apakah masyarakat akan menerima mereka mengingat SMK Galaxy paling baru, dan ternyata SMK Galaxy dibutuhkan oleh masyarakat seiring pertumbuhan penduduk dan tenaga kerja.

4.2.4 Faktor Penghambat dalam Pembangunan Sarana Pendidikan